Jagad X Code, Hiphopdiningrat, Menjadikan Jogja Istimewa

Dewi Aichi – Brazil

 

Aku jatuh cinta dengan film Jagad x Code ketika akhir Februari 2009 sempat menonton di Amplaz (Ambarukma Plaza)-Jogja. Film dengan latar kota Jogja, dan didominasi dengan bahasa Jawa khas Jogja. Beberapa saat kemudian  ketika online, aku sempat menganjurkan Josh Chen untuk menonton film humor ini. Tapi belum ada waktu jawabnya.

Salah satu kontributor Baltyra Taufikul tau betul dengan film ini, ayo Fik ceritakan peranmu di sini he he..! Ya…kalau ingat Kali Code, kita ingat Taufikul yang kecintaannya terhadap tempat ini tak perlu diragukan lagi.

Yang belum melihat film Jagad x Code, baiklah akan aku ceritakan sedikit mengenai film ini. Film yang menceritakan sebuah kejujuran tiga anak muda pengangguran yang tinggal di kampung Kali Code Yogyakarta.

Mereka Jagad (Agus Ringo Rahman), Bayu (Mario Pratama) dan Gareng (Opie Bahtiar) berusaha mewujudkan keinginannya masing-masing. Jagad ingin membelikan mesin cuci bagi ibunya, Bayu ingin mempunyai sendiri lapak jualan buku dan majalah, sementara Gareng ingin membuat salon kecil buat Menik adiknya.

Persoalannya adalah, mereka itu anak-anak nganggur yang tidak punya uang untuk mewujudkan keinginannya. Kelucuan film ini muncul ketika persoalan sampai ke masalah flashdisk. Ketiga pemuda itu tidak tau apa itu flashdisk. Padahal mereka bisa mendapatkan duit banyak, kalau saja mereka bisa menemukan flashdisk itu.

Dari sini kemudian akan menghadirkan Butet Kertaradjasa, Djaduk Ferianto, Didi Nini Thowok, juga Marwoto dan Yati Pesek. Kelucuanpun sangat memukau dengan bahasa khas Jogja. Agus Ringgo yang bukan orang Jogja sangat tepat memerankan sebagai pemuda kampung Jogja.

Lokasi mengambil di Kali Code, pasar Ngasem, dan sekitar Malioboro. Semua kenal Kali Code, yang merupakan kampung yang dijadikan oleh Romo Mangun sebagai konsep perbaikan kampung. Kini sebuah museum Romo Mangun telah berdiri tepat di ujung kampung ini.

Aku jatuh cinta dengan film ini, karena disamping ada ikatan emosi dengan kota Jogja, juga maraknya film-film bergenre seks dan horor yang tidak bermutu. Film ini menggambarkan kehidupan  masyarakat kelas bawah, kejujuran, sekaligus membuat terbahak-bahak.

Beberapa hari yang lalu aku sempat tergelitik dengan video dari youtube yang dishare oleh  Abhisam DM. Bukan yang pertama kali aku melihat video itu, tapi sudah sejak maraknya hip hop khas Jawa Jogja, aku melihat video itu. Dari grup musik rap Rotra, Jahanam dan Kill The DJ.  Kemudian lahirlah JHF (Jogja Hip Hop Foundation), yang digawangi oleh Muhammad Marzuki. Saking sukanya aku dengan rap rap Jawa Jogja ini, ketika diadakan konser di Jakarta, aku pesan kepada sepupuku untuk menontonnya, karena aku ingin diceritakan langsung olehnya.

Show mereka yang diawali dengan film dokumenter Hip Hop Diningrat, yang hampir 90% menggunakan bahasa Jawa Jogja. Baru setelah menyaksikan film berdurasi sekitar 1 jam itu, show musik rap atau hip hop berbahasa Jawa Jogja itu beraksi. Musik musik rap Jawa yang selama ini aku hanya bisa melihatnya melalui youtube, memang sangat asik dinikmati. Tidak kalah dengan Eminem maupun Rihanna yang musiknya aku sukai juga “love the way you lie”atau “Rude Boy”.

Mencermati kata demi kata, lagu-lagu rap berbahasa Jawa Jogja ini sebenarnya penuh makna, sederhana, dan merupakan cermin kehidupan sehari-hari. Lirik-liriknya juga banyak mengambil dari serat centhini maupun mantra tradisional. Hip hopnya sangat Njawani. Jogja banget maksudku. Tetapi bagi teman-teman yang tidak mengerti dengan bahasa Jawa, nikmati saja ritme musiknya, dengan unsur gamelan yang sangat pas dan apik, enak didengar. Yakin, tidak kalah dengan group Black Eyed Peas dan Lady Gaga.

Aku kurang tau apakah film Hip Hop Diningrat diputar di bioskop Indonesia atau hanya di Jogja saja. Aku mencari di youtube hanya ada sepotong sepotong, yang menampilkan orang-orang bule yang terkesima dengan hip hop berbahasa Jawa tersebut.

Film ini berkisah tentang pengalaman Marzuki, pendiri Jogja Hip Hop Foundation, bersama teman-temannya memelopori rap berbahasa Jawa. Mulai pertunjukan-pertunjukan di kampung-kampung Jogja, seperti Angkringan Hip Hop, di Taman Ismail Marzuki (Jakarta), bahkan di Esplanade (Singapura), hingga kehidupan pribadi mereka. Para rapper juga diwawancarai dengan obrolan yang santai, tak dibuat-buat. Terkadang ada keluguan yang menjadikan film ini lucu dan tidak membosankan.(sumber: tempointeraktif.com-Merapal mantra Rap Jogja). http://www.tempointeraktif.com/hg/musik/2011/03/21/brk,20110321-321666,id.html

Dari sekian musik mereka, semuanya enak didengar, seperti musiknya Jahanam yang berjudul “Tumini, atau Cintamu Sepahit Topi Miring, Ayo Ngising, Mbayar SPP”. Juga musiknya Rotra dengan musiknya” Ngelmu Pring”. Satu lagi rap yang biasa banget kelakuan orang kampung, judulnya “Paijo”.

Terakhir adalah lagu rap gabungan dari Jahanam, Rotra, dan Kill The DJ, lagu rap yang sangat apik dengan video-video yang merupakan dokumentasi peristiwa unjuk rasa damai masyarakat Jogja yang ngga rela Jogja diutak atik oleh pusat. Ini lagu hasil kompilasi 2010. Perpaduan antara rap, hip hop dan gamelan, serta tampilan-tampilan peristiwa masyarakat Jogja di akhir tahun 2010.

Jogja Istimewa

Ditulis dan aramsemen oleh Kill the DJ dan Balance

Rapper Crew: Ki Jarot(Kill the DJ, Jahanam, Rotra)

Produksi: JHF

 

Holopis kuntul baris holopis kuntul baris
Jogja Jogja tetap istimewa
Istimewa negerinya istimewa orangnya
Jogja Jogja tetap istimewa
Jogja istimewa untuk Indonesia

Rungokno iki gatra seko Ngayogyakarta
Negeri paling penak rasane koyo swargo
Ora peduli donyo dadi neroko
Neng kene tansah edi peni lan mardiko

Tanah lahir tahta, tahta untuk rakyat
Dimana rajanya bersemi dikalbu rakyat
Demikianlah singgasana bermartabat
Berdiri kokoh untuk mengayomi rakyat

Memayu hayuning bawono
Seko jaman perjuangan nganti merdiko
Jogja istimewa bukan hanya daerahnya
Tapi juga karena orang-orangnya

Tambur wis ditabuh,suling wis muni
Holopis kuntul baris ayo dadi siji
Bareng poro prajurit lan senopati
Urip? Utowo mati manunggal kawulo gusti? Mukti.

Menyerang tanpa pasukan
Menang tanpa merendahkan
Kesaktian tanpa ajian
Kekayaan tanpa kemewahan

Tenang bagai ombak, gemuruh laksana Merapi
Tradisi hidup ditengah modernisasi
Rakyatnya njajah deso milang kori
Nyebarake seni lan budi pekerti

Elingo kabare Sri Sultan Hamengkubuwono Kaping IX
Sak duwur-duwure sinau kudune tetep wong Jowo
Diumpamakke kacang kang ora ninggalke lanjaran
Marang bumi sing nglairake dewe tansah kelingan

Ing ngarso sung tulodo
Ing madya mangun karso
Tut wuri handayani
Holupis kuntul baris ayo dadi siji

Sepi ing pamrih rame ing gawe
Sejarah neng kene wis mbuktekake
Jogja istimewa bukan hanya tuk dirinya
Jogja istimewa untuk Indonesia

 

Melongok sedikit dan mengutip ke blognya Kill the DJ:

Bait pertama merupakan ucapan Soekarno untuk memberikan apresiasi setinggi-tingginya terhadap kraton dan rakyat Yogyakarta dalam perjuangan kemerdekaan.

Bait kedua artinya:  “dengarlah ini untaian kata dari Yogyakarta, Negeri paling nyaman seperti surga, tidak peduli dunia sudah jadi neraka, di sini kami selalu nyaman dan merdeka”

Bait ketiga: “Semangat tahta Sultan HB IX yang kemudian ditambahi oleh anaknya Sultan HB X dalam jumenengan (diangkat menjadi raja).

Memayu hayuning bawana

“ Visi Kraton Yogyakarta yang dicangangkan oleh HB I, artinya; membuat bumi menjadi indah, atau dalam Islam; Islam rahmatal lil alamin”

Tenang bagai ombak gemuruh laksana Merapi merupakan puisi dari WS Rendra.

Elingo sabdane Sri Sultan Hamengkubuwono kaping sanga
Sak duwur-duwure sinau kudune dewe tetep wong Jawa
Diumpamakne kacang kang ora ninggal lanjaran
Marang bumi sing nglahirake dewe tansah kelingan”
“ik ben een blijf in de allereerste plaats javaav”, dalam bahasa Indonesia Sultan HB IX menerangkan seperti ini; “setinggi-tingginya aku belajar ilmu barat, aku adalah dan bagaimanapun jua tetap Jawa”. Tercantum dalam buku Tahta Untuk Rakyat.

Bait kedua dari bawah: “inilah konsepsi social movement Jawa yang dipopulerkan oleh bapak pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara; “yang di depan memberi contoh, yang di tengah memberi dorongan, yang di belakang memberi semangat, jika ingin mulia harus dengan usaha”

Dan bait terakhir merujuk kembali ke ungkapan Soekarno, bahwa sejarah sudah membuktikan.

Lagu ini mendapatkan penghargaan langsung dari Keraton Yogyakarta Hadiningrat, dengan mengutus pegawai keraton menyampaikan piagam penghargaan ke rumah JHF. Sesungguhnya, tradisi justru akan terus menemukan ruang eksistensinya ketika mampu bersinggungan dengan kekinian.

Raja dan rakyat Jogja , duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Semoga lagu Jogja Istimewa menjadi penyemangat sekaligus pengingat akan nilai-nilai kerakyatan.

 

 

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

40 Comments to "Jagad X Code, Hiphopdiningrat, Menjadikan Jogja Istimewa"

  1. Dewi Aichi  31 August, 2012 at 08:57

    Iyaaaaaa…mas Agung..mantap lagunya…we are from Jogja he he..

  2. Dewi Aichi  31 August, 2012 at 08:54

    Mas Agung…wakssss…..aku ketinggalan berita, langsung mau nyari lagunya ahhhh…..

    Soimah sangat menyenangkan he he…..

  3. agung "Masopu"  31 August, 2012 at 08:46

    @ mbak Dewi Aichi
    lah aku weruh grup iki gara2 Soimah
    Terus dulen nang web-e rolling stone INdonesia disugi lagu sing judule SOng Of Sabdatama
    Uenak pisan lagune

  4. Dewi Aichi  31 August, 2012 at 08:08

    Mba Tri….iyaaa…wah ngga nyangka..dulu waktu nonton, blom kenal mba Tri…trus gimana mba dia…masih main film?

  5. triyudani  31 August, 2012 at 07:02

    wah senang ada penggemar film “Jagad x Code ” karena salah satu pemainnya, mas Opi Bachtiar adalah sepupu suami.

  6. Lani  10 May, 2011 at 22:31

    DA : Lani: mas Didik barusan ke amrik lagi, trus pulang, trus ada acara di Jogja village sama Amron. rumahnya deket godean to? suk tak parani he he…
    +++++++++++

    ya, aku dikasih tau karo koncoku bhw mas DIDIK barusan melawat ke Amerika lagi……..slisipan karo diriku yg mabur ke Kona…..wah jiaaaaaaaan adoh2 malah kepancal……gelooooooo aku……..klu gak aku bakal temuin dia……

  7. Dewi Aichi  10 May, 2011 at 21:26

    Sil..ceritanya ya?

    Linda….ngapain ajaaaaa? Sumuk memang, tapi kalau ke desa desanya, meski sumuk, tapi semilir lhooooo..aku trus mbayangin dirimu berhip hop Lin…gimana ya gayamu ha ha..

  8. Linda Cheang  10 May, 2011 at 19:45

    wah, aku kelewatan “mengacau” di sini, hehehe. Tapi Jogja memang wokeh, KECUALI : sumuknya! mana tahan!

  9. SU  6 May, 2011 at 10:17

    DA: Melodi memori jaman baheula

  10. Dewi Aichi  5 May, 2011 at 21:38

    Silvia…wah…ternyata punya melodi memori di Jogja ya? Kalau aku harus nih, mudah mudahan tahun ini, atau mungkin tahun depan setelah bulan Februari , liburan sekolah anak sih bulan Juni ,

    Hennie, aku juga ngga hobby sih deengan film film, kalau yang bener bener heboh aja kadang penasaran, seperti Rio….ternyata memang lucu, aku cuma nonton berdua sama anakku di cinema 3d. Lagian Brasil banget filmnya he he..

    Pak DJ, wooooo….yo jelas tooooo…ngga dikasih tulisan gudeg Jogja, wong wis neng kotane ha ha…aduh ngakak nih aku….bene Pak DJ, nanti tunggu undangan makan gudeg dari BU Gucan, kalau mantu .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.