Senja di Chao Phraya (16)

Endah Raharjo

 

Bab 3: Menghalau Mendung Langit Jogja (7)

Serupa tarikan nafas, beberapa minggu berlalu tanpa terasa, berjalan begitu saja sambil sesekali meninggalkan jejak berupa kenangan yang tersimpan dalam ingatan. Sejak akhir September, matahari sering lupa melintasi langit Jogja, digantikan mendung yang tak bosan datang, terutama selepas siang.

Sejak minggu ketiga Oktober, status Merapi ditingkatkan dari waspada menjadi siaga. Berbagai berita dengan foto-foto yang mengkhawatirkan setiap hari muncul di halaman depan koran lokal dan nasional. Posko-posko mulai didirikan. Penduduk yang berada di kawasan rawan bencana lapis pertama berangsur-angsur diungsikan.

Bersama koleganya dan beberapa LSM lokal, Laras mulai menggalang relawan. Email untuk mencari bantuan mulai dikirimkan. Para pegiat kemanusiaan yang di tahun 2006 juga terlibat dalam pengungsian penduduk lereng Merapi tahu, meskipun posko-posko pengungsian dan jalur-jalur evakuasi sudah disiapkan, tidak ada jaminan bila evakuasi akan lancar. Dalam setiap penanganan bencana alam, selalu ada hambatan yang sama sekali di luar nalar manusia dan tak bisa diperkirakan sebelumnya. Para relawan harus siap menerima kejadian yang tak diharapkan. Apalagi kali ini perilaku Merapi sulit diprediksi, para pawangnya kesulitan mengantisipasi.

Meskipun sedang bertugas di pedalaman Myanmar dan kesulitan menghubungi Laras, setiap hari Osken mengikuti perkembangan aktifitas Merapi. Seorang koleganya di kantor perwakilan Jakarta menggunakan fasilitas kantor untuk membantu menyampaikan informasi.

Sementara teman dan kerabatnya yang tidak tinggal di Jogja hampir setiap hari rajin menanyakan kabar. Termasuk Mila yang sehari bisa lima-enam kali menelponnya, mencocokkan berita yang ia lihat di TV dengan yang sebenarnya terjadi di lapangan.

“Laras, tiketmu, visamu dan semua keperluanmu udah siap.” Melalui telpon Mila memberi kabar tentang perkembangan rencana keberangkatan mereka ke Amerika. “Ada baiknya kamu datang ke Jakarta lebih awal. Rabu. Tanggal 3. Bisa, kan? Atau kamu ngungsi aja sekalian ke sini…” bujuk Mila hati-hati. Ia tidak ingin terkesan mau mengatur temannya itu, karena ia percaya Laras tahu apa yang dilakukannya.

“Nanti malam aku telpon balik, ya. Ini sedang koordinasi ngurus pengungsi Merapi. Tadi pagi luncuran awan panas sampai di ujung atas Kinahrejo. Radius aman diperluas jadi 10 kilometer. Pengungsi di posko atas harus dipindah ke bawah.” Laras terburu-buru.

“Oke. Take your time. Good luck. Nanti malam kita bicara lagi.” Mila menutup telpon sambil berdoa agar luncuran awan panas tidak semakin jauh ke bawah. Laras tinggal di lereng Merapi, kira-kira 18 kilometer dari puncaknya.

Orang tua Laras telah diungsikan ke Bandung, di rumah keluarga si bungsu. Meskipun mereka tinggal di kota, jauh dari puncak Merapi, namun adik-adik Laras tidak mau mengambil resiko. Mereka bisa sekalian berlibur dan melepas rindu pada cucunya yang lain. Sebenarnya si bungsu mengharapkan kakak sulungnya beserta Mega dan Angka mau ke Bandung juga.

“Kasihan kalau mereka ketinggalan pelajaran, sekolah dan kampus  masih berjalan seperti biasa. Kami baik-baik saja.” ujar Laras seraya meyakinkan adiknya.

***

“Sepertinya tidak bagus, Laras. Kenapa kalian tidak ke kota saja, ke rumah orangtuamu?” Melalui speaker laptop suara Osken terdengar sangat khawatir. Ia telah berada di Yangon, tengah merasakan betapa tidak mudah menyikapi bencana dengan tenang bila itu mengenai orang-orang yang dicintainya. “Sulfur dan silica tidak baik untuk alergimu, Laras. Please… at least put on a mask. Promise me….” Osken tidak setegar bila sedang menghadapi masyarakat di wilayah konflik atau bencana. Rupanya, semua hal itu lebih mudah dikatakan daripada dilakukan.

“Kamu tidak perlu nervous, kami baik-baik saja. Kami tahu apa yang harus kami lakukan. Semua barang-barang dan dokumen penting sudah kami masukkan koper.” Laras terdengar tenang, “Kalau kamu di sini, kamu akan tahu kalau kami baik-baik saja. Kecuali….” Suara Laras terhenti.

“Ya? Kecuali?”

“Kalau gunung itu meletus sempurna, mungkin pulau Jawa bisa sirna,” Laras tertawa.

That’s not funny!” Osken bersungut-sungut, mematikan webcam pertanda tidak suka.

“Maaf, aku cuma bercanda…. Look, it’s kind of distressful here. Can’t you just relax and cheer me up? There’s nothing to worry about so far. It’s all under control…. Please….

Di ujung sana Osken menghela nafas, menyadari ulahnya yang konyol. “I am sorry. I don’t mean to be grumpy. Ini karena aku sangat mencintaimu. Aku tidak mau terjadi hal buruk padamu dan anak-anakmu sementara aku tidak bisa membantu… karena aku jauh.” Suaranya bergetar. “Aku kangen kamu, Laras.”

Hening. Keduanya berusaha saling merengkuh meskipun terpisah begitu jauh. Pada saat-saat seperti ini, kehadiran fisik menjadi amat berarti. Rasa hangat yang menentramkan ketika tubuh mereka saling merapat, sentuhan lembut yang mengurangi kegelisahan hati… semua itu tak bisa tergantikan oleh lubang kecil kamera dan microphone pengantar suara.

Mengakhiri obrolan lewat Skype malam itu, Osken berjanji akan melakukan sesuatu. Ia juga sudah mencatat data paspor Laras dan dua anaknya. Ia mengerti bagaimana media massa bekerja, foto-foto yang mereka tampilkan sengaja dipilih yang paling mengerikan. Orang cenderung penasaran dengan penderitaan yang dialami orang lain. Namun Osken tidak ingin menganggap remeh keadaan. Ia tahu Merapi punya sejarah erupsi yang panjang dengan tingkat kerusakan beragam.

Keesokan paginya, Osken menghubungi koleganya di kantor perwakilan Jakarta, memintanya membantu melakukan beberapa hal.

“Jangan kuatir, Elsa, saya tahu mengapa kalian tidak turun ke sana. Tolong emailkan nomor rekeningmu, ya. Saya akan transfer dari Bangkok. Lusa saya sudah tiba di sana. Dari sini agak repot.”

Elsa adalah administrator senior di kantor perwakilan Jakarta yang sering dimintai tolong untuk mengurus keperluan para tenaga ahli senior. Bahkan bila masa kontrak mereka sudah habis, Elsa masih tetap bersedia menolong dengan senang hati. Karena kebaikan hatinya, ia punya banyak teman dimana-mana.

“Santai saja, Osken,” ucap Elsa menenangkan, “Apa saya perlu menelpon Laras?”

“Jangan,” tukas Osken cepat, “Tolong siapkan saja semua. Terima kasih banyak, Elsa. Saya tidak tahu bagaimana jadinya tanpa kamu,” lewat telepon Osken menyampaikan pelukan sayang untuk perempuan yang sudah dikenalnya belasan tahun itu.

Osken tahu kalau aid agency tempatnya bekerja tidak membentuk tim khusus untuk membantu para korban letusan Merapi. Mereka hanya mengirimkan tim ad hoc untuk tahap tanggap darurat saja, mengawal distribusi bantuan sambil melakukan assessment seperlunya. Pemerintah Indonesia tidak menetapkan bencana erupsi Merapi sebagai bencana nasional. Kebijakan itu mempengaruhi sikap lembaga-lembaga kemanusiaan dalam menentukan tindakan. Meskipun sudah sangat paham bahwa misi kemanusiaan sarat dengan muatan politik, Osken masih saja merasa frustrasi. Ia yakin tidak sendiri, para pekerja kemanusiaan, terutama yang di lapangan, tak jarang menangis di dalam hati saat tahu apa yang mestinya dilakukan, namun tak ada tindakan karena ketiadaan dukungan kelembagaan. Tak jarang mereka bekerja atas inisiatif sendiri, menggalang dukungan personal dari orang-orang yang peduli.

***

Selasa, 26 Oktober 2010, beberapa menit selepas pukul 5 sore, empat seismograf di pos-pos pengamatan Merapi mencatat amplitudo getaran yang sangat lebar hingga jarumnya terlepas berkali-kali. Saat itu kabut tebal menyelimuti puncak Merapi. Para petugas pos itu selain ketakutan juga merasa tak berdaya, mereka tak mampu melihat apa yang terjadi di sana. Kantor pusat pengamatan Merapi memerintahkan mereka segera meninggalkan pos untuk menyelamatkan diri karena arah letusan Merapi tak bisa dipantau lagi.

Kesesokan harinya, baru diketahui ada puluhan orang menjadi korban awan panas yang saat itu meluncur sejauh 9 kilometer. Kawasan bahaya dan terlarang untuk dihuni diperlebar hingga radius 15 kilometer. Hari-hari berikutnya, ribuan pengungsi membanjiri pos-pos pengungsian. Tak kurang dari 40 ribu jiwa harus segera dievakuasi. Mereka tersebar di empat kabupaten; Klaten, Magelang, Boyolali dan Sleman. Ribuan relawan dikerahkan mulai dari masyarakat umum, mahasiswa hingga anggota TNI. Ratusan truk disiagakan di titik-titik strategis, siap mengangkut warga yang tak punya kendaraan untuk menuju pos pengungsian. Tugas para relawan bertambah berat karena di tiap desa ada saja penduduk yang menolak meninggalkan rumah.

Laras dan dua orang teman sesama relawan senior berusaha mengatur distribusi air bersih dan bantuan jamban portable. Kalau urusan ini sampai terabaikan, diare dan berbagai penyakit lain akan menjadi ancaman baru bagi para pengungsi.

***

Menjelang pukul 9 malam, Laras baru saja masuk rumah ketika ponselnya berdering. Sebuah nomer tanpa nama. Siapa, ya?

“Osken!” Teriak Laras begitu mendengar suara si penelepon di seberang sana. Ia sama sekali tidak menduga kalau Osken telah tiba di Jakarta.

How are you, darling?” Seru Osken gembira mendengar suara kekasihnya. Ia baru tiba dari Bangkok dan belum lama memasuki kamar hotel. “I am watching the news on TV!” Matanya mengikuti siaran langsung seputar letusan Merapi di sebuah TV swasta. Di layar terlihat puluhan pengungsi diangkut dengan truk di selang-seling situasi desa yang terbakar habis, lengkap dengan bangkai sapi yang belum sempat dievakuasi.

“Katanya bandara Jogja ditutup untuk sementara. Aku akan naik kereta besok malam. Ada yang harus kuselesaikan di sini siangnya. Okay?”

“Aku harus cepat-cepat mandi, badanku penuh debu,” kata Laras setelah mereka puas saling bertukar cerita. Laras meyakinkan Osken bahwa ia dan anak-anaknya baik-baik saja.

Osken meminta Laras menelponnya bila terjadi sesuatu. Kalau saja tidak ada hal penting yang harus ia urus di Jakarta, saat itu juga Osken ingin segera melompat ke dalam kereta api atau bus yang bisa membawanya ke Jogja.

Sebelum berangkat tidur, Laras menelpon pos ronda di ujung jalan. Para lelaki  di kampungnya sudah seminggu bergiliran jaga di sana. Mereka akan memukul kentongan bila terjadi sesuatu. Malam itu, Mega dan Angka tidur di kamar ibunya, masing-masing meletakkan ponsel di samping bantal. Sebelum memejamkan mata, Laras mengingatkan anak-anaknya untuk berdoa.

*****

 

 

9 Comments to "Senja di Chao Phraya (16)"

  1. Endah Raharjo  8 May, 2011 at 17:40

    Halo teman2 tercinta yang manis hati… maaf saya baru nengok, ya. Terima kasih banyak atas komentar. @JC: Iya, nih, ternyata waktunya kok bener2 barengan sama Merapi ya… jadi pengin memasukkan dalam cerita. Semoga nanti bukan sad ending Om Pas… Lani, beneran memang ya, saya juga suka ngerasain gitu… gak mantep kalo bukan aslinya wuahahahahahaaa…. Ayo, Pak Djoko dan Kornel dan semuaaaa… kapan2 main ke Jogja

  2. Lani  4 May, 2011 at 22:51

    KORNEL hehehe salah lagi OSKEN……..jgn dibolak-balik nanti kudu nylameti ganti2 nama org hahahaha

  3. Kornelya  4 May, 2011 at 20:10

    Ketulusan cinta diuji sa’at orang yang kita cintai mengalami kesusahan. Go Oksen go, she is the one. Hahaha.

  4. Djoko Paisan  4 May, 2011 at 15:17

    Kembali mengenang Jogja yang paling Dj. kangeni….
    Terutama Malioboro dan gudegnya…hhhhhmmm…!!!!

  5. Lani  4 May, 2011 at 11:50

    akiiii buto…….kamu skrng punya hobby baru ya?????? ngintili aku trs……makane bokongku jd tambah abot digondeli wakakakak……..mmg kalimat yg ada di artikel ini sgt amat bermakna sekali buatku………..ER hehehe ya to?????

  6. J C  4 May, 2011 at 11:32

    Endah, wah, yang episode 16 ini penekanannya lebih ke Merapi dan sekitarnya ya…hhhhmmmm…pembaca sedikit teralih dengan konflik yang sudah mulai terbangun di episode-episode sebelumnya…

    mmg peralatan secanggih apapun tak bs kehadiran secara nyata……..hehe

    Ckckckckck…memang dasar Ratu Gemblung, kalimat ini sungguh bermakna banyak sekali…

  7. Lani  4 May, 2011 at 11:17

    ER……..hadooooooooh……yah begitulah…….mmg peralatan secanggih apapun tak bs kehadiran secara nyata……..hehe

  8. [email protected]  4 May, 2011 at 11:10

    kok…. ceritanya… sepertinya…. sad ending =)

  9. Lani  4 May, 2011 at 11:05

    satuuuuuuuuuu

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.