Si Oesrek-oesrek, si Enyut-enyut, si Oepjek-oepjek, si Tuyul dan dukanya tinggal seorang diri kalau sedang sakit

Nunuk Pulandari

 

Ceritera tentang betapa menyenangkannya dan alangkah tidak enaknya tinggal di Luar Negeri sudah sering terbaca. Tetapi kalau  tinggal seorang diri di LN, sebagai mahasiswa dan sakit pula…..Alangkah sedih dan menderitanya…Dan alangkah  cemas serta khawatirnya  para orang tua yang berada di belahan dunia timur nun jauh di sana. Berikut saya tuliskan tentang salah satu cerita tentang hal itu.

Kamis pagi hari, beberapa waktu yang laluuuu, nada dering lagu SMS menyadarkan  saya dari lamunan pagi  di atas tempat tidur. Tangan kiri, dengan gerakan yang begitu  reflex langsung menggapai ke samping kiri bawah tempat tidur. Mengambil telefoon mobiel. Dengan mata yang masih “rijep-rijep” (apa ya bahasa Indonesianya) saya membaca nama pengirimnya: Jeng Endang. Langsung terpikir: “Leuk, sudah lebih dari 2 bulan tidak saling berkirim kabar”.

Sayangnya dalam pesan SMS yang ada tertulis: “Mbak Nuk, aq nyoewoen toeloeng, Dana sakit. Dhipoen pirsani ya mbakyu. Betul ya mbakyu. Matoer noewoen sebelumnya” Langsung terpikir: “Walaaah, walaaah. Dana ‘kan baru dari Jakarta. Achh, paling masuk angin dan kangen sang ibunda tercinta”. Tapi sesaat setelah membaca pesan itu timbul sedikit rasa cemas. Dan dalam hati mulai  bertanya:”Mosok siih, jeng Endang sampai begitu khawatirnya. Pasti ada sesuatu yang nggak beres dan bukan hanya sekedar  sakit –kangen- biasa. Jangan-jangan….”.

Langsung badan dimiringkan ke kiri lagi dan tangan kiri mengangkat gagang telepon di samping tempat tidur dan jari-jari tangan lainnya menekan  nomor mobiel Dana. Nomor yang biasa dipakai untuk saling bertelepon ria, tidak menjawab. Tapi ada nada panggil masuk. Lalu saya coba nomor yang untuk saling berkirim SMS. Sami mawon tidak diangkat…Wooouuuw, hati menjadi tambah cemas. SMS kembali ke Jakarta:”Jeng, aq sudah coba hubungi. Kedua nomor yang ada tidak diangkat. Saya akan tilpon Dana, sebentar lagi. Atau ada nomor lain yang bisa saya hubungi?”….

Hening sesaat, dan saya melanjutkan “leyehan” di pagi itu…Terdengar kembali nada lagu dering SMS. Dan terbaca dalam pesan itu antara lain  sebuah nama: “Michiel”. Dengan nomor mobiel yang bisa saya hubungi…Kurang puas dengan semuanya, saya langsung memutar nomor telepon jeng Endang di Jakarta: “Jeng Endang, dan seterusnya dan seterusnya…..”

Terasa dari nada suaranya betapa cemas dan khawatirnya sang ibu terhadap kesehatan dan keberadaan sang jejakanya di Belanda. Setelah percakapan telefoon itu ,  langsung saya memutar nomor telefoon  Michiel….Sama. Telefoon tidak diangkat. Tapi beruntung, saya bisa meninggalkan pesan “Kunt u mij terug bellen. Mijn telefoonnummer is ….” (Dapatkah anda menelepon saya kembali.Nomor telefoon saya….).

Meskipun hati tetap tidak tenang tetapi paling tidak saya ada harapan untuk dapat bertanya dan berbincang tentang Dana…Later misschien…Barangkali tunggu sebentar lagi.

Jam sementara itu sudah menunjukkan keangka 11.20 siang . Dan pagi itu saya sudah kembali dari super market dan juga dari “slager” tukang daging langganan….Dan nada dering telefoon yang ditunggu-tunggu belum juga terdengar…

Saya coba sekali lagi menelepon Michiel. Dan tetap tidak juga diangkat. Sekali lagi meninggalkan pesan yang lain tetapi yang senada bunyinya dengan pesan pertama…Dan menunggu, dan menungguuuuu ….

Saya mulai masuk dapur . Menyiapkan keperluan masak memasak untuk hari esoknya…Di rumahku kebetulan keesokan harinya ada sedikit makan-makan.Ceritanya lain kali saya tuliskan. Ketika tangan sedang memegangi mixer, sibuk membuat  “After eight cake” tiba-tiba nada panggil telefoon mobiel bernyanyi. Saya angkat dan terdengar: “U heeft mij gebeld. Ik ben Michiel………Dan setrusnya”. Dan ketika percakapan telefoon selesai, seolah masih tidak percaya dan di tengah keterkejutan mendengar cerita Michiel saya masih tidak habis pikir: ” Koq sampai nggak bisa jalan lagi? Koq bisanya sampai separah itu? Koq sampai masuk ICU?  Dan masih segudang pertanyaan yang lainnya”.

Ya, pagi itu dengan dibantu Michiel ternyata Dana langsung masuk ICU di VU (Rumah Sakit Vrije Universitas) Amsterdam.

foto : setelah di kamar rawat inap; wajahnya masih kuyu dan dengan sabar Michiel menemaninya.

Diagnose pertamanya: Koorts, demam yang cukup tinggi (lebih dari 39 derajat C). Juga kekurangan cairan. Dan hampir tidak sadarkan diri…Dan langsung harus, ya harus diinfuus….Nah di sini timbul sedikit ramai-ramai…..

Bagaimana tidak. Yang namanya Dana itu badannya tinggi dan besar (nggak salah kalau ikut team basket tempatnya kuliah di Belanda). Posturnya hampir mirip Suhu kita, Josh Chen yang gagah….(tolong dipegang hidungnya, jangan-jangan nanti copot, ha, ha, haaa).  Tapi waktu assistentnya pak Dokter mau menusukkan jarum ke pembuluh darahnya, yang namanya Dana itu langsung menangis. Yyaaa menangis,  karena ketakutannya…

Melihat dan merasakan jarum menusuk ke tubuhnya hampir-hampir membuat seluruh barisan perawat yang ada mendatangi kamar inapnya….. Jadi semakin nervouslah sang assistent dan dokternya. Untung jalur pembuluh darah untuk infus di tengah tangisan Dana akhirnya bisa diperoleh…Dan mengalirlah cairan infuus dalam diri Dana….Tik, tik, tik, tik, tik……

Dan setelah keadaan tubuh agak normal, baru sore hari dia boleh meninggalkan ICU dan bisa masuk kamar rawat..Di lantai 4b, kamar 50. Di saat-saat sulit ketika  berada di ruang rawat, Michiel dengan kebaikan dan ketulusan budinya telah bersedia menemani Dana. Dan bukan hanya itu saja dia juga yang telah mengurus/ membelikan keperluan pakaian dalam dan sikat gigi dll untuk keperluannya selama beberapa hari di RS.

Belum pernah saya melihat ada seseorang yang tanpa pamrih melakukan semuanya dengan tenang dan begitu sabarnya…Semoga Yang Di Atas membalaskan budi baik anda.

Seperti layaknya di rumah sakit, tiap beberapa jam sekali, para dokter secara bergiliran akan mengunjungi patiennya. Dan setelah kunjungan itu , karena panasnya tidak juga menurun, segera diperlukan  monster darah untuk meneliti lebih lanjut virus atau penyakit apa yang merasuk ke dalam badannya.

Di sini timbul kembali kegaduhan karena dia betul-betul menangis ketakutan…Sekali lagi Dana menangis…. Dalam hati terpikir : “ Pastilah Sang ibunda tercinta  pada waktu yang sama juga dapat merasakan betapa ketakutannya yang ananda  melihat dan merasakan  tusukan jarum di sekitar tangannya”. Dan mungkin karena tangisannya itu, si mbak Assistent malah tidak bisa menemukan pembuluh darah yang bisa dimasuki si jarum….

Tiap kali gagal…Entah terlalu kecil pembuluhnya,  entah terlalu dalam tusukan jarumnya…Yang jelas suara tangisannya semakin lama kedengarannya.…. Sampai akhirnya di tusukan jarum yang kelima baru berhasil tersedot darah yang diperlukan…..Bisa terbayangkan betapa leganya wajah  Dana ketika semua itu sudah berlangsung….

Dia tertidur sebentar….Dan dia bangun lagi karena batuk. Batuk yang berat dan cukup sering memperdengarkan suaranya. Dan demam yang tinggi membuatnya tidak nyaman tidur…

Sedikit pijatan dan elusan di punggung dari sang tante membuatnya sedikit tenang…..Jam plus minus sembilan malam, belum juga terdengar hasilnya. Saya mengundurkan diri dari samping tempat tidurnya dan pamit untuk pulang… Dengan janji akan kembali lagi keesokan harinya. Sementara Michiel sudah pulang lebih dini karena hampir sepanjang hari dia telah menungguinya.

Sore hari berikutnya , jam setengah enam bersama dengan salah seorang sahabat saya, diajeng Wiwiek, kami berdua membezoek Dana di RS tersebut. Dia sedang tiduran, ketika kami menjenguknya. Wajahnya kelihatan sedikit lebih cerah.. ‘Tante, kata dokter saya kena virus Salmonela ”  : Begitu cerita Dana. Langsung mak dheg dan meluncur banyak pertanyaan seperti : “ Koq bisa sih? Kapan Dana makan daging ayam yang  terakhir?

Kok iseng amat sih bikin steek daging ayam setengah matang segala…(Sambil goejon). Ngapain Dan  makan telur ayam setengah matang kali ya?. Emang virus salmonelanya nggak bisa pilih ya yang mau ditulari? Di Indonesia atau di Belanda sih kira-kira terjadinya? Apa sih gejalanya?    Dll, dll. ”.

Jawaban yang keluar dari bibir Dana akhirnya dapat memperjelas semua pertanyaan yang ada. Rupanya, beberapa hari setelah kedatangannya di Belanda,  berturut-turut dia berusaha menghabiskan masakan ayam dan otak  kesayangannya yang dibawanya dari Jakarta…..

”Memang enak dan sedaaap, tante..Tapi sudah agak sedikit asem gitu.Tapi khan Dana kira itu hanya karena rasa asem atau mungkin cukanya. Jadi ya Dana makan terus”: katanya lebih lanjut…..”Tapi kalau tahu tercemari virus Salmonela saya juga nggak mau ngabisin lah..Dibuang ajaaaa..Dan teman Dana yang ikut makan kok nggak sakit ya Tan? ”: Sesalnya kemudian sambil tertawa kecutttt Oallah jeng Endang, rupanya ayam dan otak tanda sayanglah penyebabnya. .

Dan sampai hari Senin yang lalu dia mendapat infus dengan antibiotica. Sementara demam panasnya sudah mulai jauh berkurang.

Dana: setelah baikan dan ceritera tentang toejoel dan kiriman ibunda tercinta yang dibawa Lei dari Jakarta

Dan Dana makin bisa relax berceritera tentang apa yang telah dialaminya pada saat dia tak berdaya di kamar flatnya. “Waaaahhh tante, seumur-umur saya belum pernah lihat yang namanya  – Toejoel-”: Begitu tercetus dari bibirnya. Lalu saya bertanya:”Lhooo, lhooo Toejoel?? Ach, kamu ada-ada saja”.

“Ya tante. Dana lihat yang namanya Toejoel. Kan Dana malam Kamis itu, mau pipis. Eeeh, waktu sampai di depan closet tiba-tiba Dana lihat  ada anak kecil duduk di atas penutupnya. Dana kaget tapi tetap tanya dia masuknya darimana?  Dan si Toejoel menunjuk ke arah salah satu sisi tembok WC”: Ceritanya lebih lanjut.  Terus, Dana kembali lagi ke kamar. Tapi kan Dana mau pipis…Jadi kembali lagi ke WC. Dan waktu itu si –anak kecil itu- sudah hilang. Teruuuusss Tan, Dana juga sepertinya melihat orang tinggi besar yang suuueeeerem banget wajahnya”: Ocehnya lagi…

Toejoel, toejoel, spookie, spoookie????. Apakah di dunia yang sudah seramai dan seterang seperti Amsterdam dan yang udaranya sudah sepanas itu masih dapat dihuni oleh Toejoel dan kerabatnya? Menurut oom saya alm. yang ahli kebatinan, panasnya sinar lampu sering kali tidak tertahankan oleh mahluk-mahluk yang tidak kasat mata. Dan keramaian yang adapun dapat mengusir “para penghuni” yang untuk banyak orang  tidak terekam oleh mata. Dan kami, saya dan diajeng Wiwiek,  berdua mengira apa yang terjadi pada Dana hanyalah suatu effect dari kurangnya cairan dalam tubuh dan demamnya  Dana pada malam itu. Sehingga timbul semacam hallusinasi ..Atau ….Entahlah..Terus terang saya belum pernah berkunjung ke rumah Dana.

Selasa siang, ketika saya dan Lei (dia baru kembali dari Jakarta dan membawa bingkisan untuk Dana dari mamanya tercinta) menjenguknya, dia sedang tertidur pulas. Bahkan kilatan lampu blitz ketika saya membuat beberapa foto  saat dia tidur tidak juga membangunkannya. Terlihat betapa lelap tidurnya..Suatu keadaan yang berlawanan dengan beberapa hari sebelumnya.  Dan setelah menunggu plus minus setengah jam, akhirnya Dana terbangun juga….

Dan tidak lama kemudian dia mendapat infuus antibiotica, dosis terakhir. Di tengah proses menetesnya cairan infus Dana bercerita tentang isi bungkusan kado yang diterimanya:  “Tante, ini kan isinya oesrek-oesrek”. Mendengar namanya “Oesrek-oesrek” saya dan Lei sudah mulai mesam mesem. Dan Dana melanjutkan ceritanya:” Kan malam sebelum pulang Dana tidur sama mamah dan adik. Terus paginya oesrek-oesreknya lupa nggak dimasukkan ke dalam koper”.  Ha, ha, haaaaa, haaaaa, langsung kami bertiga tertawa terbahak-bahak…

Dan saya bertanya:”Oesrek-osrek apa sih Dan”. Dia bercerita lagi: “Itu lhoo tan, kain baju Dana yang sudah tua banget. Terus kalau mau tidur itu paling enak kalau jari-jari Dana di gosok-gosokan dan sambil kadang seperti menggaruk pelan ke kain baju itu..Waaah tidurnya bisa nyenyak sekali..Tapi kalau nggak ada si oesrek-oesrek….Repoooooot …Nggak bisa tidur”. Kami tertawa lagi dan saya membatin:”Lhawong sudah mahasiswa dan badannya tinggi dan besar seperti itu kok yo masih perlu kain baju oesrek-oesrek……Ha, ha, haaaa”

Dan sore harinya setelah konsultasi dengan dokter, Dana dibolehkan meninggalkan tempat tidurnya di RS VU Amsterdam. Dan Selasa malam saya menerima SMS dengan pesan:”Tante, maaf ya. Dana tidak jadi tidur di rumah tante. Kata dokter sebaiknya Dana pulang ke flat sendiri. Karena takut kalau pemakaian WC bersama dapat menulari anggota keluarga tante. Nanti tambah repot”..

Dan jadilah Dana pulang ke flatnya sendiri menemui sang adik Toejoelnya…..Eeehhh salaaaaahhhh..Tante hanya goejon lhooooo Dan…Semoga sehat seperti sedia kala…. Dan jangan lupa “Oesrek-oesreknya”…Juga untuk anda semua yang tidurnya masih harus ditemani si Enjoet-enjoet, si Oepjek-oepjek dll, dll, jangan lupa teman setianya dibawa tidur…… Kus, kus, kus. Selamat beristirahat…

28 Comments to "Si Oesrek-oesrek, si Enyut-enyut, si Oepjek-oepjek, si Tuyul dan dukanya tinggal seorang diri kalau sedang sakit"

  1. Silvia U  5 May, 2011 at 19:07

    Hahaha….betul itu ada yang seperti itu memang. Untung saya tidak perlu hal2 demikian. Kapan saja, dimana saja kalau ngantuk bisa tidur.

    Smg setelah ini Dana ga perlu dirawat di RS selamanya lagi ya. Puji syukur buat Ibu Nunuk yg mau meluangkan waktu buat Dana.

  2. nu2k  5 May, 2011 at 15:02

    Dear, neemt me niet kwalijk… Sekarang saya harus tutup komputernya…. Konco ngajeng sudah siap jadi mau jalan…. Doe doei…. Tot later, Nu2k

  3. nu2k  5 May, 2011 at 15:00

    Jeng Laniiii, seminggu aja .. Harus balik lagi, koreh-koreh cari berlian… siapa tahu dapat bongkahan yang besar…. Dalam salaris mei juga disertakan tunjangan vakantie di Belanda… Lumayan buat beli ticket dan jalan lagi…Ke Indo atau Canada ya… ha, ha, haaaa… (dimas JC, welke moet ik kiezen)… ha, ha, haaaa

    Groeten en doe doei

  4. Lani  5 May, 2011 at 14:21

    MBAK NUK……..walah hadiahe malah diminta utk ambil sendiri adohe ora jamak…….wes ora cucuk karo ongkose mbak…….mo brp lama keliling Geneve? udah enak cuacanya disana?

  5. nu2k  5 May, 2011 at 14:14

    Zus Kornelya, ha, ha, haaaa…. Pasti sangat mantap sekali, punya osrek-osrek yang sebesar allaihiiiimmmmm…. Yang diusrek-usrek dan yang mengusrek-usrek jadi nggak jelas lagi… ha, ha, haaaa…

    Zus, anak mamanya, gadis manisnya masih tetep dikekepi mamahnya khan…. ha, ha, haaaa

    Salam en welterusten… Nu2k

  6. nu2k  5 May, 2011 at 14:10

    Beste mbak Hennie, anak mami? Waaahhh iya dan bukan.. jeng Endang, mamanya Dana itu memang super duwer perhatian dan penuh kasih terutama pada kedua putera en puterinya. Papahnya juga…Kalau sudah ngumpul, waaahhhhh…. Seneng lihatnya, dengan siapa saja lho jeng… Apalagi kalau sudah acara mbakar sate dan makan nasi rawonnya…. Sayang , mereka saat ini ada di tempat yang jauh di Taipeh (kalau nggak salah, pokoknya di China lhah)….
    Mabk Hennie, saya kira setiap ibu jadi bingung nggak ketulungan kalau putera/puterinya yang tidak terjangkau tangan jatuh sakit…. Lhawong waktu saya lihat anakku Birrutte sakit puanaaasssss saja, saya juga bingung…… Padahal dia juga sudah punya appartement sendiri dan punya pacar juga…Ehhhh, ternyata pijetan dan kerikan ibunya memang manjur…. Rupanya dia kangen sama ibunya yang sudah beruban ini….. Ha, ha, haaa…. Salam en werkt ze, nu2k

  7. nu2k  5 May, 2011 at 14:01

    Jeng Lani, wong Nggemblung van Kona….. Hayoooo, disalah-salahkan toch bacanya … Nanti saya rak dimusuhi sama dimas JC…. Bisa pusing tujuh keliling saya….Ha, ha, haaaaa….
    Welterusten jeng… Atau baru makan malam ya…. Kus, Nu2k

  8. nu2k  5 May, 2011 at 13:57

    Kangmas DJ .. Ha, ha, haaa…Kapan ya saya lihat perbukitan yang terakhir kali, ke Milan beberapa bulan yang lalu…..Memang cukup lama rasanya kalau tiga bulan hanya ke Obberhaussen atau Brussel atau Koln saja….. Tidak traveling jauh, maksud saya………..Yang jelas saya mau mengukur panjangnya jalanan di Geneve…..
    Semoga matahari sampai larut malam masih mau menyinarkan suryanya…Jadi lebih banyak waktu untuk lihat-lihat dan jalan-jalan…..Pagi ini saya mau mengujungi kota tuanya dulu, terus ke Engelse tuin, terus mau naik kapal ke ujung Perancis sana….. Waaahhhhh apa cukup ya waktunya…. Itu konco ngajeng masih belum siap-siap….. Yang jelas cuaca sangat menunjang perjalanan saya…. Thanks God. Kus, kus, kus, Nu2k

    *Kangmas mau ikut, ayooo, mbonceng….Ha, ha, haaaa*

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.