[Family Corner] Types of Parents

Josh Chen – Global Citizen

 

Suatu hari ada e-mail nangkring di mailbox saya menanyakan, apakah di usia sekitar 3 tahun ke atas, anak itu bisa jadi “little devil” dari yang tadinya little angel, dan kecenderungan ayah atau ibunya saling menyalahkan.

Kecenderungan yang terjadi adalah si ayah yang menyalahkan si ibu karena berpendapat, “bisa ndidik gak sih”. Masih banyak suami yang berpikir bahwa dia adalah kepala rumah tangga, yang tiap hari keluar rumah bekerja mencari nafkah, berharap sesampainya di rumah, harus mendapatkan “suguhan” istri yang manis, berdandan rapi, anak(anak) yang manis juga, makanan siap di meja makan, dsb.

Demikian juga sebaliknya si istri yang komplain, si suami yang tidak pernah ikut serta dalam mendidik anak, hanya tahu menonton TV, baca koran, minta dilayani terus, dsb.

Pendidikan anak jelas merupakan tanggung jawab penuh kedua orang tua. Bukan hanya pihak ibu saja, atau pihak bapak saja. Sekarang metode apa dalam mendidik anak?

Kencenderungan anak sekarang, di atas 3 tahun, dengan kondisi sekarang, situasi lingkungan, biasanya sudah mulai susah diatur, susah diberitahu, susah mendengarkan dan kecenderungan terus membantah, apalagi jika didukung dengan IQ yang di atas rata-rata, kecenderungan ngeyel akan lebih lagi.

Kedua orang tua yang harus bijaksana menyikapi mereka, kadang keras diperlukan, walaupun 99,5% di seluruh negara yang “katanya” maju, memukul anak tidak diperbolehkan, atau bahkan kalau ada tetangga lihat bisa dilaporkan dan kena pasal child abuse, tapi saya masih punya keyakinan kolot dan kuno, sesekali pukulan masih diperlukan. At least itu yang berlaku di keluarga saya.

Ada anak yang bisa dikasi tahu lewat omongan, ada anak yang cuma mau dengar kalau sekali-sekali dipukul. Cara didik anak, metode, pemikiran, toleransi, prinsip satu orang ke lain orang itu beda-beda.

Saya paling tidak mengerti kalau lihat ada anak yang nangis gulung-gulung di lantai di mall atau toko kalau permintaannya beli sesuatu atau mainan tidak dipenuhi. Dan lebih parah lagi adalah orangtuanya diam saja. Atau ada juga orangtua yang membiarkan anak-anaknya bertingkah liar tidak terkendali.

Suatu hari, saya lihat ada sepasang anak cowok cewek, yang cewek umur 6 tahunan, adiknya sekitar 3-4 tahunan, lari sana lari sini di satu supermarket, comot anggur, coba, tidak suka langsung diludahkan di lantai, di tempat!! Comot longan/kelengkeng, buka, kulitnya lempar ke lantai..sementara mamanya hanya lihat aja, tidak berusaha memberitahu sama sekali…!!!!! Wow, wow, wow, sungguh tidak mengerti saya…

Atau ada orangtua yang saya sering dengar: “ya biar tho, namanya aja anak-anak”, “ah, jangan dimarahi, wong masih kecil”, “jeneng’e wae bocah“, “sudahlah, wong belum tahu”…dsb. Justru mereka masih kecil itu ditanamkan pengertian mana yang boleh, mana yang tidak.

Kurang ajarnya anak justru dimulai dari kecil, dari usia dini. Memang ada anak-anak yang nurut, mau dengar hanya dengan kata-kata biasa, ada yang memang anak-anak dengan kecenderungan selalu melawan, bahkan memberontak. Macam-macam sifat anak yang bisa kita pelajari.

Ada juga orang tua yang mengumbar anak-anaknya, apapun permintaan mereka akan dituruti. Kecenderungan seperti ini biasanya terjadi di kalangan masyarakat dengan financial yang cukup lumayan. Di sinilah kemanjaan anak dipupuk dan akan ikut sampai dengan dewasa. Cara mendidik sejak awal kami tekankan bagaimana cara berbicara dengan orang lain, bahkan dengan asisten rumah tangga kami sendiri, saya tegaskan tidak pernah ada kata perintah, yang boleh adalah “tolong”, atau “please”, dan tidak boleh lupa kata terima kasih.

Pengaruh orang tua sangat besar. Pasangan yang dulunya dibesarkan di lingkungan keluarga yang harmonis, hangat, dekat dengan keluarga dan orang tua, akan terbawa metode yang sama dalam membesarkan anak-anak mereka di kemudian hari. Orang tua yang dulunya dibesarkan di keluarga yang amburadul, ayah ibunya bertikai, bertengkar terus, bahkan sampai broken home, akan berimbas ke cara mereka mendidik anak-anak di masa depan.

Mari kita lihat beberapa kategori penggolongan orang tua menurut beberapa pakar pendidikan, Elkind (1989), yang disadur oleh Dewi Utama Faizah, Program Director untuk Institut Pengembangan Pendidikan Karakter, divisi dari Indonesia Heritage Foundation, yang saya adaptasi lagi ditambah beberapa catatan, pengamatan dan pengalaman pribadi.

 

Jenis-jenis orang tua:

1. Gourmet Parents (Borju)
2. College Degree Parents (Intelek)
3. Gold Medal Parents (Selebritis)
4. Do It Yourself Parents
5. Outward Bound Parents (Paranoid)
6. Prodigy Parents (Instant)
7. Encounter Group Parents (Ngrumpi)
8. Milk & Cookies Parents (Ideal)
9. Confused Parents (Bingung)

 

Gourmet Parents (Borju)

Kelompok pasangan muda yang sukses, rumah bagus, mobil mewah (cenderung lebih dari 1), liburan ke tempat-tempat eksotik di seluruh dunia, gaya hidup cenderung mengadopsi western style. Kecenderungan kelompok ini adalah membesarkan dan memerlakukan anak-anaknya seperti merawat harta atau karier mereka. Penuh dengan ambisi, buku-buku tentang superkids, metode mutakhir mendidik anak, dsb, menjadi referensi utama kelompok ini.

Pemilihan baju bermerek dan biasanya harga mahal untuk anak-anak mereka, program exclusive (extra kurikuler, les ini itu), keluar masuk resto mahal dan bergengsi, sejak usia dini (3 tahun) sudah diajak keliling dunia dengan orang tuanya.

Golongan ini biasanya adalah kelompok usia 30 – 45 tahun, dengan karier cemerlang, jabatan/posisi tinggi, gaji berkisar Rp. 35 – 99 juta/bulan. Atau pasangan yang sukses di bidang MLM, asuransi, yaitu super-agent MLM atau asuransi, uang yang mengalir lancar tiap bulan.

Bonus prestasi dari kantor atau sebagai agen akan membawa mereka keliling dunia, tentunya dengan anak-anak mereka, walaupun sering kali tidak. Golongan ini berbeda dengan golongan dengan kelompok usia sama yang melanjutkan bisnis orang tuanya, dengan kesuksesan yang sama, dengan kekuatan finansial yang berimbang, tapi mereka mendapatkan dari melanjutkan bisnis keluarga, biasanya attitude antara 2 kelompok ini berbeda. Yang dari lanjutan keluarganya, cenderung lebih moderat dibanding dengan pencapaian sukses dalam waktu relatif singkat seperti golongan satunya.

 

College Degree Parents (Intelek)

Kelompok ini biasanya dari keluarga intelek menengah ke atas, walaupun tidak tertutup kemungkinan datang dari keluarga dengan golongan ekonomi yang lebih lemah. Golongan ekonomi yang lebih lemah atau menengah ke atas, yang memerhatikan sekali pentingnya pendidikan, dan kemudian membina keluarga dan meniti sukses akan masuk ke dalam penggolongan kelompok ini.

Kelompok ini sangat peduli dengan pendidikan anak-anak mereka, sering melibatkan diri dalam pendidikan anak-anaknya. Pembuatan majalah dinding, sering mendiskusikan PR atau tugas-tugas sekolah anaknya, ikut terlibat dengan tugas-tugas prakarya, dsb. Kelompok ini sangat percaya pendidikan yang baik adalah landasan dari kesuksesan hidup.

Adakalanya kelompok ini juga tergiur menjadikan anak-anak mereka jadi superkids, terlebih jika mereka melihat anak-anaknya menunjukkan prestasi gemilang di bidang akademik. Sekolah mahal dan prestisius menjadi pilihan kelompok ini, karena mereka percaya pendidikan yang baik harus dibayar dengan harga “pantas” dalam arti mereka percaya “ada harga ada rupa”.

Kelebihan kelompok ini adalah kepedulian yang tinggi terhadap perkembangan pendidikan anak, aktif di sekolah sebagai POMG (Persatuan Orang Tua Murid dan Guru) dan sangat peduli dengan kondisi sekolah.

 

Gold Medal Parents (Selebritis)

Sesuai namanya, ambisi orang tua dalam kelompok ini ingin anak-anak mereka berprestasi di spektrum bidang yang luas. Ikut berbagai lomba dan berambisi anaknya menang, mulai dari lomba makan kerupuk di 17’an, terus lomba mewarnai, lomba komputer, lomba cerdas tangkas, lomba nyanyi, lomba tari, balet, bahkan kecantikan, sampai dengan skala dunia seperti olimpiade ini itu, lomba renang, melukis, dan masih banyak lagi.

Kelompok ini sangat bangga jika koleksi piala anak-anak mereka berjajar di showcase, lemari kaca di ruang tamu rumah mereka, piagam berjajar di dalam pigura sepanjang tembok rumah mereka. Yang kronis, akan menyebabkan anak-anak mereka terobsesi harus menjadi juara di segala bidang, pendeknya sekali lagi “Superkids”.

 

Do It Yourself Parents

Kelompok orang tua yang mengasuh anak-anaknya secara alami, menyatu dengan alam, akrab dengan lingkungan hidup yang alami. Kelompok ini menyekolahkan anak-anaknya di sekolah-sekolah “normal” seperti sekolah negeri atau swasta yang “normal” dengan harga yang lebih pantas dan masuk akal. Mereka aktif di lingkungan sekitar, jadi sukarelawan di bidang sosial, charity, dan kerja sosial. Mereka mengajarkan anak-anak mereka mencintai lingkungannya, memelihara hewan dan tumbuhan merupakan salah satu ciri khas kelompok ini. Pengajaran lingkungan hidup yang asri dan bersih merupakan keseharian mereka.

 

Outward Bound Parents (Paranoid)

Kelompok ini memprioritaskan pendidikan di sekolah-sekolah “aman” dengan keamanan super ketat, dengan kegiatan yang fully-loaded yang tidak memungkinkan anak-anak mereka “dolan-dolan sing ora kanggo gawe” (main-main tidak bermanfaat), makin banyak kegiatan extra kurikuler di sekolah, makin merasa mantap. Dengan finansial yang lumayan, biasanya menyediakan anak-anak mereka khusus mobil dengan sopir untuk antar jemput, atau langganan antar jemput yang ketat juga, setiap saat bisa menelepon sang sopir atau antar jemput, lagi di mana, sedang apa, dsb.

Kegiatan luar seperti karate, judo, kungfu diharapkan untuk memberikan perlindungan lebih buat anak-anak mereka dan sebagai bekal pengamanan diri jika besar nanti. Kesempatan berinteraksi dengan teman, seperti kegiatan membuat majalah dinding di hari Minggu merupakan hal terlarang, ke pesta ultah teman dengan pembatasan jam dan setiap jam ditelepon atau sms oleh orang tua jenis ini, apalagi nge-date dengan pacar sekedar nonton bioskop akan jadi ‘perang tanding’ argumentasi antara anak-orang tua, dan banyak lagi jenis pembatasan yang super.

Akibatnya, biasanya anak-anak yang dibesarkan dalam lingkungan oleh orang tua demikian, akan jadi ‘steril’ dan tahap awal terjun ke masyarakat akan mengikuti jejak orang tua mereka, dan di satu titik akan “mbedal” (lepas kendali), seperti ungkapan dalam bahasa Jawa: “jaran mbedal saka nggedhogan” (kuda lepas dari kandang). Perilaku tidak terkendali, pergaulan bebas di luar kota karena kuliah di luar kota atau mulai kerja di luar kota akan jadi fenomena konsekuensi logis dari hasil kekangan orang tua jenis ini. Tentu saja tidak semua seperti ini.

 

Prodigy Parents (Instant)

Seperti fenomena umum sekarang ini, budaya instant juga merambah sampai ke jenis orang tua. Kelompok ini biasanya sukses dalam bisnis, ada juga beberapa di karier, tapi yang terbanyak adalah bisnis, namun tidak memilik pendidikan yang cukup, bahkan cenderung rendah.

Pandangan umum kelompok ini, kesuksesan bisnis tidak semata tergantung dari pendidikan, lebih merupakan, bakat, ketajaman intuisi dan hoki, there is nothing to do with education, mereka berpendapat bahwa pendidikan hanya sekedar pelengkap.

Kelompok ini tidak begitu peduli akan kualitas pendidikan anak, dan punya pendapat: “ah, saya hanya lulusan …. toh bisa seperti hari ini”. Mereka suka dengan hal yang spektakuler seperti mengajarkan bayi matematika, mengajarkan anak usia batita membaca dalam waktu 9 hari, flash card, dsb, akan menjadi santapan sehari-hari golongan ini.

Mereka tidak begitu peduli akan prestasi akademik anak, extra kurikuler anak, yang penting naik kelas atau lulus yang penting tidak drop out sudah cukup buat mereka. Bahkan kadang di jenjang universitas, anak-anak mereka drop out juga tidak masalah, segera disuruh bantu mengurus bisnis mereka, yang kata mereka lebih baik praktek langsung daripada buang waktu sekolah belajar teori.

Mereka juga termasuk fanatik untuk urusan hoki dan garis nasib. Mengakrabi dunia paranormal atau klenik untuk konsultasi nasib mereka sudah jadi kebiasaan umum, mulai dari khua mia, orang pintar, hitungan kartu Tarot, ciam si, tolak bala alias ci swak sangat umum dijumpai di golongan ini.

Yang ekstem malahan mereka percaya bahwa keturunan mereka harus dipersiapkan “nasib”nya. Sampai-sampai proses persalinan atau kelahiran anak-anak mereka atau cucu-cucu mereka dihitung dulu tanggal dan jam lahirnya, tentunya proses kehamilan pun sudah dihitung shio’nya. Mereka akan menentukan tanggal dan jam lahir yang “membuka” jalan nasib baik si bayi untuk masa depan. Dokter kandungan yang siap dengan scalpel (pisau bedah) untuk caesaria sectio alias operasi caesar tepat sesuai dengan tanggal dan jam yang sudah ditentukan akan mengiris perut hamil sang istri atau anak atau menantu dari golongan ini, sehingga dipercaya nasib baik karena tanggal dan jam yang baik akan mengikuti hidup si anak.

Tapi jangan salah, ada juga dalam kelompok ini yang berkebalikan total dari uraian di atas, karena menyadari kekurangan mereka di pendidikan, dan mereka memiliki finansial cukup kuat, mereka akan memprioritaskan pendidikan anak-anak mereka di atas segala-galanya. Jadi ada 2 golongan dalam kelompok orang tua instant ini.

 

Encounter Group Parents (Ngrumpi)

Kelompok orang tua yang menyenangi pergaulan luas. Golongan ini biasanya berpendidikan cukup, kadang ada yang kurang, dengan finansial biasa-biasa saja, cenderung tidak memiliki pekerjaan tetap. Terkadang kelompok ini golongan yang kurang bahagia dalam perkawinannya, dan mencari ‘pelarian’ dengan mengelompok dengan sejenisnya.

Tanpa bermaksud offensive, kelompok ini biasa terlihat di pelataran sekolah-sekolah, di mana orang tua, kebanyakan kaum ibu, yang ngrumpi, menggerombol, bertukar gossip dan cerita, terkadang dihiasi transaksi daster, pakaian tidur, panci sampai arisan sepeda motor, tak jarang pula adu mulut, ribut, perkelahian sampai cakar-cakaran bisa terjadi. Tidak terbatas pada kaum ibu, kaum bapak pun ada juga, mulai dari curhat, keluh kesah, TTM sampai ke atas ranjang pun tak jarang terjadi, sebagai ‘pengisi waktu’ dalam menunggu anak-anak mereka pulang sekolah.

Fenomena iri-dengki-sakit hati antar kelompok sudah jadi pemandangan sehari-hari di pelataran-pelataran sekolah kebanyakan kota besar di Indonesia. Tidak melulu yang finansial biasa-biasa, bahkan golongan berpunya bisa juga masuk dalam golongan ngrumpi ini.

Pengaruh ke anak-anak mereka? Tanpa perlu dijawab dan dibahas di sini sudah jelas sekali, bahwa prestasi, tabiat dan perilaku anak-anak mereka merupakan cerminan langsung dari golongan orang tua ini.

Merupakan sub atau sempalan dari kelompok utama encounter group parents, ada juga yang namanya “Cinderella Syndrome”. Datang dari kemampuan finansial lebih, karier gemilang, sehingga lebih mengandalkan baby sitter sebagai ‘parents substitution’ anak-anak mereka. Golongan ini (both men and women) akan berbangga dengan pencapaian karier atau bisnis mereka, windows shopping, arisan (ingat, arisan sudah bukan ‘hak ekslusif’ wanita saja), ke salon untuk manicure, pedicure, spa memanjakan diri, kegemaran akan sinetron yang kronis (untuk lari dari kenyataan hidup), merupakan ciri dari golongan ini.

Dengan alasan melepas penat dan stress karena kerja, hal-hal di atas sudah jadi fenomena dan pemandangan sehari-hari di mana-mana. Baby sitter yang ‘hoki’ karena dapat mengikuti kursus-kursus parenting tingkat tinggi, kelas mahal dan pembicara ‘super’, menjadi pemandangan biasa sebagai pengganti orang tua.

 

Milk & Cookies Parents (Ideal)

Kelompok ini merupakan kelompok orang tua dengan masa kecil yang bahagia, kehidupan masa kanak-kanak yang manis dan penuh kenangan indah. Kelompok ini cenderung menjadi orang tua yang penuh kasih, membesarkan anak-anak mereka dengan logika dan penuh cinta juga. Kelompok ini sangat peduli dengan perkembangan dan pertumbuhan anak-anaknya dengan wajar dan sesuai tahapan umurnya.

Kelompok orang tua jenis ini akan mengondisikan semampu mereka untuk kepentingan pendidikan anak-anak mereka. Lingkungan gemar membaca, buku-buku, musik, film, termasuk lukisan, semua yang berkualitas jadi pemandangan biasa di rumah-rumah keluarga jenis ini. Diskusi, perbincangan, cerita dengan anak-anak, bermain bersama, kegiatan outdoor bersama, dsb. Kelompok ini akan berusaha seoptimal mungkin menciptakan lingkungan yang memotivasi dan mendukung pendidikan dan perkembangan anak, keharmonisan suami istri sudah otomatis, wajar dan jadi syarat mutlak dan kondisi absolut untuk perkembangan mental – psikologis – spiritual anak-anak.

Kehangatan keluarga terpancar kuat dari golongan ini. Orang tua dari kelompok ini akan berusaha terus menerus dan konsisten memberikan contoh dan teladan yang baik untuk anak-anak mereka.

Singkatnya, kelompok ini percaya bahwa tiap anak memiliki talenta khusus, tidak bisa dipertandingkan, tidak bisa dibandingkan satu dengan lainnya, perkembangan secara optimal dan natural merupakan kunci keberhasilan di masa depan sang anak. Every child is unique and special!!

 

Confused Parents (Bingung)

Banyak juga kelompok orang tua yang masuk kelompok ini. Biasanya terjadi atas salah satu golongan di atas yang ingin atau merasa sebagai golongan lainnya, yang kemudian memaksakan diri, keterbatasan kemampuan (baik finansial ataupun pendidikan) sehingga pemahaman dan pengenalan diri sendiri terhambat, terobsesi menjadi golongan tertentu, yang justru akan merusak perkembangan anak. Contohnya dari golongan prodigy yang ingin migrasi ke gourmet parents. Atau dari kelompok ngrumpi yang tidak kenal kemampuan diri merasa di golongan borju atau selebritis.

Di mana kah posisi Anda?

Anda sekalian tidak perlu risau atau kuatir serta merasa ‘harus’ masuk golongan mana. Di manapun juga posisinya, saya yakin itulah yang anda sekalian pertimbangkan dan tahu persis mana yang baik dan mana yang tidak untuk anak-anak sekalian.

Masing-masing keluarga akan meracik dan meramu ‘ramuan’ yang pas dan sesuai dengan latar belakang masing-masing. Anda lah yang mengetahui secara pasti mana yang paling tepat untuk keluarga Anda.

Tidak ada satupun orang tua di dunia ini yang terpaku dalam salah satu penggolongan di atas, tidaklah mungkin keluarga tertentu akan terus berada dalam 1 golongan, karena yang namanya manusia, kadang timbul keinginan ini itu, bisa saja sementara atau selamanya pindah dari satu golongan ke golongan yang lain.

Penggolongan di atas tidaklah mutlak, bisa bergeser satu dengan lainnya, bisa pula bersinergi malahan, ada juga yang ‘trial n error’, ada berpindah dengan cepat, ada yang lambat, dst. Penggolongan itu bukanlah harga mati dan absolut serta tidak mengeneralisasi kondisi di dalam masyarakat yang beragam.

Terima kasih sudah membaca…


Bonus ilustrasi untuk memertegas komentar-komentar di bawah…haha…(ini beneran lho…)

 

 

 

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

109 Comments to "[Family Corner] Types of Parents"

  1. Meitasari S  20 October, 2011 at 14:27

    uasemmmm malah ngageti…..tak kiro op kok gubraaakkkkk dasar suhu buto!

  2. J C  20 October, 2011 at 13:54

    Gubbbbbrrrrrraaaaakkk…jangan gitu, serasa di ruang kuliah segala…halah…monggo saja, semoga membawa secuil manfaat bagi yang membacanya… matur nuwun…

  3. Meitasari S  20 October, 2011 at 13:50

    Wah keren JC. Serasa brada di ruang kuliah n mau psikotes, aku masuk kategori yg mana ya. Ijin share d wall ku ya … Tx

  4. arisaja  10 June, 2011 at 16:07

    Masih bingung saya

  5. J C  18 May, 2011 at 17:22

    Lani: yo wis suwuuuuunnn digenepi satus… lhooo lagi ngerti nek Dewi emang gitu itu…

    Dewi Aichi: yo wis koleksi jempol cowok, monggo, monggo…

    Nev: tengkyu sudah mampir, lama sekali dikau ambles…

    Pemulung: terima kasih sudah mampir…long time no see…

  6. Femulung Ka Ta  18 May, 2011 at 16:57

    Tok…tok…numpang lewat Bung JC. Apa kabar…!!

  7. Lani  17 May, 2011 at 12:13

    DA 101 dasar wong kenthir…….love pake embel2 WESEL kkkkkkk

  8. nevergiveupyo  17 May, 2011 at 11:59

    bacaan wajib nih (termasuk komen2nya juga ciamik) …untung nyasar kesini

  9. Dewi Aichi  12 May, 2011 at 21:53

    Wah..thank you ya Itsmi dan JC yang mau ngasih jempol, lumayan koleksi jempol cowo cowo keren ha ha..simpen di dompet ahh..i love you full..tapi lebih full lagi jika ditambah wesel ..!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *