Nama Baru di Tahun Baru

Ida Cholisa

 

Aku telah berhasil melewati masa-masa paling menakutkan; operasi pengangkatan payudara. Dokter bedah onkology telah memotong habis payudara kananku, dan memperlihatkanku potongan jaringan menakutkan dengan berat mencapai satu setengah kilogram. Aku menyaksikannya dengan mata kepalaku tadi malam, sesaat sebelum aku melangkah pulang. Di laboratorium patologi anatomi aku tertegun; selama ini ternyata aku beraktivitas dengan membawa “monster kanker” mengerikan!!!

Kufoto jaringan mengerikan itu. Sebagai tanda kenang-kenangan dan perpisahan sepanjang hidupku. Dan aku pun melangkah pulang. Kusambut awal kehidupan. Aku, perempuan dengan satu payudara.

Tak ada sedih di hatiku. Tak ada gundah pun cemas di dadaku. Tak ada, tak ada perasaan yang mengkhawatirkan pada diriku. Aku tetap seperti dulu, perempuan dengan berjuta semangat yang tak pernah luntur meski beribu ujian silih berganti menderaku. Aku tetap bisa tersenyum, tertawa, dan memandang dunia dari sisi indahnya. Aku tetap bersyukur atas apapun yang aku terima. Subhanallah, betapa luas dan terhampar karuniaNya…

Terima kasih kepada Tuhanku, yang dengan kuasa dan hamparan rahmahNya aku kembali mampu menggenggam berjuta asa. Terima kasih kepada suamiku yang begitu setia mendampingiku, yang tanpa kenal lelah memompa dan menggamit kedua lenganku. Ia, lelaki berhati lembut yang kasih sayangnya seluas samudra.

Terima kasih kepada dua anakku, yang begitu mengerti kondisi sang ibu, hingga di usia dini dipaksa mengerti dan rela setiap saat berdikari sendiri. Kupersembahkan sisa umurku untuk mereka, merentangkan kebaikan untuk mereka, para jiwa yang selama ini menghiasi kehidupanku yang penuh irama. Terima kasih kepada Ibunda, perempuan lemah yang tinggal sendiri di kampung halaman, tetapi demi anak perempuannya  ia rela berulangkali menginjakkan kaki di rumahku demi mendampingi dan meniupkan doa mustajab kepadaku.

Tubuh ringkihnya selalu ada untukku, tangan lemahnya senantiasa menegakkan keberanianku. Terima kasih kepada saudara-saudaraku, yang di tengah kesibukan dan keterbatasannya selalu menyediakan waktu dan tenaga untukku, hingga aku mampu melalui masa sulit itu. Terima kasih kepada para sahabatku, yang dengan bantuan moril, materiil,  doa, dukungan dan segalanya, mampu membangkitkanku dari lumpur derita itu. Terima kasih kepada para muridku, yang dari bisik lembut suaranya, turut mengawalku dengan ribuan doa dan doa…

Terima kasih kepada semuanya, untuk semuanya…

Pagi terasa indah. Kuhirup udara dengan kedamaian jiwa. Tanganku masih lemah, dadaku masih lemah. Tapi tak ada kata lemah dari dalam dada. I’m the strong woman!

Tahun baru memberiku nuansa baru. Inilah kehidupanku yang baru. Aku akan mengawalinya dengan seribu kebaikan dan kebaikan. Aku akan menaburkan segenap kebaikan di sisa umurku. Menjadi manusia yang lebih berguna, itu cita-citaku. Semoga aku bisa merealisasikannya, insya Allah.

Aku tersenyum menatap langit. Ada gambarku terlukis di sana. Perempuan yang telah berganti rupa. Berganti nama. Ya, dokter bedah kankerku memberiku nama baru di tahun baruku. Ia, sang dokter ahli itu, menepukku sembari tertawa kecil kepadaku.

“Mau kau kuberi nama baru? Tambahkan nama Dara. Tahu artinya?”

Aku menggeleng.

Ia tersenyum.

“Dada Rata.”

Hahaaaa…..!!! Aku tertawa. Ia tertawa. Suster tertawa. Semua tertawa. Dara. Ya, itu tambahan nama baruku. Maka di tahun baru ini, kurela terpasang nama indah di depan namaku;

“DARA IDA CHOLISA”.

Bukan Dara sang perawan, melainkan Dara sang “Dada Rata”.

Hahahahaaaa…….!!! Aku tertawa. Tak ada rendah diri, pesimis, sedih ataupun perasaan duka. Yang ada hanya perasaan bahagia, bahagia dan bahagia, bahwasanya aku telah melampui serangkaian ujian dengan membawa kemenangan yang tak sia-sia. Semoga Allah mengangkatku dari lubang derita, dan menggantinya dengan berlaksa keindahan tiada tara…

Hidup terasa indah, bahkan dalam kondisi pahit sekalipun. Tak ada kata menyerah. Tak ada kata menyerah. Pemenang selalu lahir dari pertempuran. Dan tak ada pertempuran yang berakhir dengan kesia-siaan. Tetap optimis, bahkan dalam celah sekecil apapun. Sebab selalu terhampar kesempatan di balik kesempitan. Insya Allah.

Aku, sang Dara, sang Dada Rata, telah membuktikannya….***

(http://wallpapers.free-review.net)

 

Bogor, Desember 2010

 

 

12 Comments to "Nama Baru di Tahun Baru"

  1. Kornelya  6 May, 2011 at 20:30

    Bu Ida, dada rata atau mencungul, yang penting ada orang yang mencintai dan kita cintai dalam kehidupan sehari-hari. Selamat menempuh hidup baru. Hahahaha.

  2. Ida Cholisa  6 May, 2011 at 20:28

    Handoko; terima kasih…

  3. Handoko Widagdo  6 May, 2011 at 19:25

    IQ, sharingmu sungguh menguatkan

  4. Ida Cholisa  6 May, 2011 at 17:52

    @Kornelya; terima kasih…
    @JC’ terima kasih, salam kenal…
    @Lany; iya Mbak, thanks…
    @Djoko Paisan; terima kasih…
    @Hennie; hehe, makasih ya Mbak. iya, kebetulan dokterku seorang penulis juga, jadi nyambung deh, heehehee…

  5. Itsmi  6 May, 2011 at 17:21

    Ida, merasa kebahagian dari operasi itu umum dan nikmatilah. tapi ingat juga sesudah operasi ada kambuhnya. Apalagi kalau sudah mulai hari hari biasa dan sedang sendirian, banyak pikiran pikiran yang penuh dengan pertanyaan, seperti apakah saya masih sexy, apakah akan kembali lagi kankernya dll, tapi juga yang para itu kecapean. biasanya cape tanpa alasan….. oleh karena itu, penting sekali di bicarakan dengan famili famili…. supaya terjadi pengertian.

    Ida, ini bukan bermaksud menggurui tapi hanya sekedar advis saja. karena kalau sudah tau duluan apa yang akan terjadi dengan psikis kita, kita juga sudah bersiap dan tidak kaget sampai bisa jadi depresi. Karena banyak orang sesudah operasi beberapa waktu menjadi depresi.

    Jadi Ida sesudah kanker, ada hidup baru yang lebih berisi dan berkwalitas ini dikarenakan kita hidup lebih sadar. Kata lain melihat suami atau anak sudah bukan otomatisme lagi…… tapi melihat mereka dengan penuh kasih sayang… itu kan inti hidup.

  6. HennieTriana Oberst  6 May, 2011 at 16:12

    Mbak Ida…si dokter bisa menghibur dengan humornya.
    Sehat selalu ya mbak Ida.

  7. Djoko Paisan  6 May, 2011 at 15:35

    Mbak Ida….
    Termakasih, telah Sharing akan pengalaman hidupnya.
    sesuatu yang pahit dialami dan akhirnya manis telah dirasakan jua….
    Semoga sehat selalu dan bersyukur selalu…

    Aku..yang meratap, talah Kau bah….
    Menjadi orang…yang menari-nari….
    Kain kabungku…. talah Kau buka…
    Pinggangku Kau ikan, dengan sukacita….

    Maka Jiwakupun menyanyikan Mazmur bagimu….
    Maka Jiwakupun menyanyikan Pujian bagimu….
    TUHAN ALLAHKU… untuk selalmanya…
    Aku mau menyanyikan….SYUKUUUR…. BAGIMU….!!!!

    TUHAN MEMBERKATI MBAK IDA SEKELUARGA….!!!

  8. Lani  6 May, 2011 at 13:25

    tetatp bersemangat!

  9. J C  6 May, 2011 at 09:42

    Bu Ida, terima kasih sharing yang luar biasa ini. Semangat Anda terasa dalam setiap jalinan kata artikel ini…

  10. Kornelya  6 May, 2011 at 08:30

    Nomor satu, buat nama baru.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.