Mengenang Kabut Hangat

Naim Ali

 

/di pasar/

waktu itu lentang subuh belum menjamah, semacam butiran embun dari yang paling lembut angsur luluh. pekat namun –dipastikan- hangat. tidak ada yang mengenal selimut gelap itu, di mana gemintang sangat remang dan rembulan amat hilang. karena pada sesak tanah lembab, kesegaran nafas sekelumit warna-warni insan telah menderu keringat lugu. mengepulkan irama yang begitu khas tentang tawar menawar kenikmatan mereka; menggulung jengkal demi jengkal garis buram yang konon bernama takdir.

: bahwa senjang pagi yang sebentar lagi berdiri mengibarkan bendera api. akan membakar muram-muram hari mereka yang tak pasti.

 

/di jalan raya/

sepi menjadi cerita yang janggal dikisahkan. kala tiap jajar pelita terbalut lebatnya kabut (yang menjinjing pijar tanpa menghasut kalut itu) jadi bingkai lukisan hangat, tentang keelokan mengunguli kilau kunang dan sedikit merupa bintang. bila saja bulan menyempatkan bertandang, amat sayang berjuta mata kala itu dilelapkan.

kenyataanya, indah itu ada. sosok jarang itu -melalu-lalang dengan membopong keranjang penuh derita yang akan diperjualbelikan- menikmatinya dengan riang. mereka menjelang pasar di sesempitan fajar. nanti mereka kembali lagi dengan membawa nyawa yang mereka sebut cinta.

 

/di suatu rumah/

remang menyatakan bentuknya seperti liku dunia. nampak beku. tapi siapa yang tahu, bila jantung penghuninya terus mendetak, memercik pendar dalam mimpi mereka. kabut makin menghangatkan nyenyaknya. perihal itu, mereka punya cerita sendiri. pada suatu hari, nanti, akan tertulis dalam aksara yang rapat dan bersanding dengan puisi ini atau sajak-sajak lain yang sabar menanti.

________

1 Mei 2011

 

Note Redaksi:

Naim Ali, lahir dan tinggal di Kediri. Gemar baca tulis, terutama puisi. Bergiat di Taman Bacaan Mahanani Kediri, sebuah taman baca gratis untuk meningkatkan minat baca masyarakat, khususnya anak-anak.

Selamat datang dan selamat bergabung. Ditunggu artikel-artikel yang lainnya. Dan selamat, artikel ini adalah artikel TEPAT ke 3.000!!

 

 

7 Comments to "Mengenang Kabut Hangat"

  1. naim  7 May, 2011 at 23:35

    nggak nyangka kalo tulisan ini jadi yang ke 3000 yang ‘nyundul’ baltyra
    makasih.. kamsiaa..!

  2. naim  7 May, 2011 at 23:33

    @all: salam kenal, salaman. terimakasih semuanyaaa

  3. Handoko Widagdo  7 May, 2011 at 15:32

    Selamat bergabung Cak Ali, mari berbagi kehidupan di Baltyra

  4. Djoko Paisan  7 May, 2011 at 14:37

    Mas Ali…
    Terimakasih, satu permainan kata yang berliku-liku……sangat sulit dimengerti, bagaimana manusia bisa menyusun sedemikian rupa… Salut…!!!
    Dj. hanya terimgat kabut diawal tahun ´60 saat tinggal di Ciumbuleuit Bandung, kalau jalan kaki kesekolah, masih banyak kabut.
    Salam kenal dari Mainz.

  5. J C  7 May, 2011 at 10:51

    Salam kenal dan selamat datang…jalinan kata yang memikat…

  6. Lani  7 May, 2011 at 10:46

    salam kenal…..selamat gabung di Baltyra…….dan selamat krn artikel ini yg ke 3000

  7. Kornelya  7 May, 2011 at 10:34

    Puisi indah, aku nomor satu pembaca artikel ke 3000. sampai ketemu dinomor 69.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *