Lelaki dan Cobek

Tantripranash

 

Cobekku pecah! Aku terperangah. Piranti dari batu itu terbelah dua dengan pinggiran tak rata. Padahal hanya kupukul sekali dengan muntu penggilasnya. Lebih tepatnya bukan dipukul tapi diketuk agak keras untuk menghaluskan butiran bawang putih sebagai pelengkap sambalku. Butiran yang besar memang harus diketuk-ketuk sebelum digilas menjadi halus. Ritual yang selama ini kupahami betul iramanya.

Siang ini jadi kacau. Sebentar lagi lelaki itu datang. Apa jadinya jika tak ditemuinya sepiring kecil sambal di meja? Bisa-bisa senyumnya menghilang seketika. Apa boleh buat, tak ada cara selain meminjam cobek tetangga.

Kurapikan daster lusuhku sebisanya dan berlari ke pintu pagar. Ke sebelah kanan atau ke kiri? Beberapa detik aku terdiam kebingungan. Tetangga sebelah kanan jelas tak mungkin. Tak mau aku tertangkap basah tanpa dandanan di hadapan si nyonya kinclong. Mustahil pergi ke tetangga kiri, bisa habis aku jadi gunjingan. Akhirnya tetangga depan rumahlah yang jadi pilihan.

Ibu tua di rumah depan memberi pinjaman cobek dengan wajah agak bingung. Cobeknya tak sebagus harapanku dan tentu saja tak sebagus punyaku. Seperti kesetanan kuracik bahan sambal sambil menggigit bibir. Sebentar lagi lelaki itu akan tiba.

Ia datang tepat beberapa menit setelah kutuangkan sedikit minyak panas pada onggokan sambal di piring. Tubuhnya dihempaskan ke sofa sambil melonggarkan ikatan dasinya. Bau sambal masih memenuhi udara.

“Aku tak bisa lama-lama. Ada klien nanti jam satu.” katanya pendek.

Perkataannya itu seperti komando yang berarti makan siang harus sudah siap. Kubuka tudung saji dengan perasaan bangga. Selain sambal dan lalap, ada sayur asem dan ikan gurame goreng. Tiba-tiba aku teringat tak sempat berdandan rapi untuknya. Pertama kali dalam sejarah kutemani si lelaki dalam keadaan kusut masai. Namun ia kelihatan tak peduli, hanya melirikku sekilas. Selebihnya perhatiannya lebih banyak pada hidangan di meja.

Harap-harap cemas kupandang wajahnya pada suapan pertama. Tak keluar sepatah katapun dari bibirnya. Aku boleh lega sedikit, rupanya semua cocok dengan selera. Seperti biasa aku tak ikut makan, hanya duduk di hadapannya sambil meremas-remas tangan. Sesekali kubantu ia menyendok sayur atau menambah air minumnya. Lelaki itu mengakhiri makan siangnya dengan tegukan air segelas penuh. Sendok dan garpunya tertelungkup rapi di piring.

“Sambalmu tak seenak biasanya,” sambil mengusap bibirnya dengan serbet ia bergumam.

Gumaman yang seperti petir di telingaku. Aku tersenyum kecut dan menyembunyikan kekecewaan dengan pura-pura membereskan meja.

“Cobekku pecah,”

Lelaki itu memandangku aneh. Ia kemudian pergi begitu saja setelah sebelumnya mengecup keningku sekilas. Seperti biasa ada amplop tertutup ditinggal di meja.

Aku terduduk di kursi dapur sambil mendekap cobek batu yang terbelah. Air mataku mengalir tanpa malu. Dimana lagi harus kucari cobek seperti ini di Jakarta, supaya sambalku kembali sempurna? Ini bukan cobek sembarangan. Cobek batu peninggalan almarhum ibu yang dibeli dari Muntilan . Siapa yang mau kusuruh pergi ke sana?

Setelah cobek terbeli pun harus dipakai dulu berhari-hari supaya permukaannya menjadi licin dan tak ada batu yang tergerus. Betapa panjang perjalanan sebuah cobek hingga mencapai bentuk yang sempurna. Dari sebongkah batu naik derajat ke meja dapur. Seperti panjangnya perjalananku memenangkan cinta lelaki itu. Kini bentengku porak-poranda gara-gara sambalku yang tak lagi sama.

Beberapa minggu kemudian masih saja kupinjam cobek setiap hari dari orang yang sama. Makin hari si ibu tua makin terlihat ketakutan jika kuketuk pintu rumahnya.  Mungkinkah ia takut diteluh gara-gara peminjaman ini?

“Selesai dipakai tolong segera dikembalikan ya Nak, “Kata-katanya seperti mengintimidasiku.

“Kalau saja tak terpaksa tak bakal kupinjam cobek jelekmu ini!” teriakku dalam hati. Sebaliknya aku hanya bisa mengangguk dengan senyum yang dipaksakan. Tempo hari sudah kucoba keliling pasar mencari cobek yang baru. Apa daya tak ada yang sesuai selera. Meski akhirnya kubeli juga satu dengan setengah hati,  tapi baru beberapa gerusan sudah kubuang cobek itu ke tempat sampah berikut sambal setengah jadi.

Lelaki itu masih mampir setiap makan siang. Hanya itu harapanku mengikat cintanya meski kini tak bisa lagi kupakai sambal sebagai pemikatnya. Malam hari jelas ia milik istri dan anaknya. Namun makin hari makin terlihat ogah-ogahan ia makan, dan makin jarang senyum terlihat di bibirnya.

Apalagi yang bisa kutawarkan selain sambal? Tak pernah sekalipun ia menginginkan tubuhku. Lelaki ini, bekas pacarku yang bertemu di suatu acara reuni. Hanya sekali kuundang ia makan siang, ternyata terpikat ia dengan sambalku. Sejak saat itu setiap siang ia mampir untuk makan . Tak ada ikatan apapun di antara kami. Tak ada rayuan dan ajakan hanya sepiring sambal pengikatnya, dengan itu kuberharap sedikit cinta darinya.

***

“Besok siang aku tak datang,”

“Mengapa? Apakah karena …?” Tak sanggup kulanjutkan tanyaku.

Ia menyahut tenang sambil berjalan ke arah pintu,  “Ada klien mengajak makan siang.”

“Klienmu pasti perempuan, ya?” kusembunyikan nada cemburu dalam suaraku. Lelaki itu cuma tersenyum dan mengecup keningku sekilas seperti biasanya. Ia berjalan dengan langkah panjang-panjang ke arah mobilnya.

Beberapa kali ia tak datang makan siang dalam sebulan ini. Ada-ada saja alasannya. Aku  panik dan kalut. Kutahu sambalku tak lagi dapat diandalkan karena masih saja belum kudapatkan cobek Muntilan.

Pagi tadi lelaki itu mengirim pesan akan datang makan siang, tetapi aku justru makin kacau. Gerusan tanganku tak beraturan. Potongan cabai, bawang dan tomat berloncatan keluar cobek. Padahal ibuku pernah berpesan kualitas sambal tergantung siapa yang membuatnya. Emosi tak boleh bercampur pada proses pembuatannya. Gerusan dan ulekannya harus seirama sampai sambal jadi.Tak boleh ada interupsi diantaranya.

Entah kenapa tangankupun gemetar. Mungkin karena tak lagi yakin dengan kualitas sambalku. Akhirnya sepiring kecil sambal terhidang juga di meja. Gerusannya kasar sekali,  masih ada cabikan-cabikan cabai di dalamnya. Aku mandi keringat.

Lelaki itu terkejut. Ia terdiam beberapa detik memandang onggokan sambalku yang kacau balau. Aku tegang menanti suapan pertamanya tetapi ia makan seperti biasa meski tak bisa dibilang lahap. Kelihatannya lauk-pauk di meja tak jadi masalah, hanya saja sambal tragis itu tak disentuhnya sama sekali. Mataku terasa panas namun setengah mati kutahan air mataku.

Selesai makan lelaki itu tak berlama-lama. Dikencangkan ikatan dasinya. Di pintu keluar ia memandangiku agak lama. Kecupan di keningpun tak sehangat dulu.

“Aku tak bisa datang-datang lagi ke sini besok,” suaranya perlahan tapi seperti dentuman di kepalaku.

Aku tak bisa bicara. Lidahku kelu.

“Kita tak bisa terus begini,” ia diam sejenak. “Terima kasih untuk segalanya. Maafkan aku…” kali ini bibirnya nampak bergetar.

Kupandangi punggungnya yang menjauh dengan hati perih. Aku sadar kini sendiri lagi. Ia telah memilih yang terbaik, anak dan istrinya. Ada yang kulupa selama ini bahwa hubungan lelaki dan perempuan tak sebatas cobek dan sambal saja.

***

Catatan

Muntu : Ulekan

 

 

 

37 Comments to "Lelaki dan Cobek"

  1. Lani  12 May, 2011 at 12:30

    TANTRI……..gak usah heran…….krn si pencipta DIWUT2…..tp ora diwut2………hehehe sok tau! udah ketemu belon tuh mana yg aku???? heheh gak boleh minta bocoran lo ya…….ngekek aku

  2. Tantri  12 May, 2011 at 12:15

    @Mbak Lani & Mas JC : huahahaha … kok makin seru ini membahas diwut2 …
    @Sakura : hehehe … yuk kita bego2in tokohnya, mumpung mereka ga bisa ngelawan

  3. Sakura  12 May, 2011 at 06:43

    Huahahaha…artikelnya lucu banget. BTW apa masih ada ya yang kayak gitu jaman sekarang? Kasian amat gitu looohhh…kok bego gitu.

  4. Lani  11 May, 2011 at 13:06

    halaaaah……….langsung nyamber, jelas dikau to yg bikin resep bakso diwutttt? dan istilah itu jg asalnya dr sampeyan……..rak sah nolak to……wessssss jian

  5. J C  11 May, 2011 at 13:05

    Lani, mbak Tantri, laaahhh kok aku? Lha khan memang diwut-diwut toh? Itu di artikel si Lani, ada paha diwut-diwut atau lebih tepatnya diwut-diwut di tempat-tempat yang seharusnya tak berdiwut…

  6. Lani  11 May, 2011 at 13:02

    TANTRI………lo? nggilani? laaaaah, iku istilah jg dr siaki buto loooooooo………..dia jg bikin resep bakso diwutttttt……….hahah…….ya asal kata ulek to? bs jd diulek…….mengulek……ngulek2…….perkara yg mana yg lbh kepenak…….itu tanya ke DA wakakakak……

    aku gak duwe leyeh/muntu…….jd gak pernah bikin sambel sendiri sejak pindah ke Hawaii……..semua aku tinggal di CA…….jd selama ini cm menikmati sambel botol…….tinggal mak lebbbbbb……..ora kangelan ulek2 mau kuwi……..jd sekrng ulek menguleknya………..bukan sambel………..heheheh………..

    ngomong2 udah dpt bocoran dr aki buto belum? ato udah ketemu main tebak2-annya mana yg aku??????

  7. Tantri  11 May, 2011 at 12:49

    @Mbak Lani : diwut2? nggilani tenan …
    @Pak Anoew : hahaha .. ini baru solusi jituuu … ngapain susah2 yaa? Ma kasih sudah mampir, Pak
    @Kembangnanas : pake blender aja kata Pak Anoew
    @Pak DJ : nyatanya penjual cobek masih ada, berarti masih ada konsumennya ya Pak?
    @Dewi Aichi : saya juga paling males bikin sambel … hihihi … jadi kalo kebetulan makan di luar dan ketemu sambal enak, bungkuuuusss …
    @Imeii : biarin aja, mumpung pelengkap penderitanya (sambal dan cobek) ga bisa ngelawan
    @Mbak Lani : Diulek??!! walaaahhh …

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.