Romantika Penghuni KPR

SAW – Bandung

 

Shobat Baltyra…di seluruh penjuru dunia…

Apa kabar semuanya? Terharap kebaikan dan kesejahteraan senantiasa menyertai kita.

Beberapa hari ini Bandung hujan terus menerus sejak malam hingga pagi hari, kadang-kadang diteruskan lagi dari pagi sampai siang hari. Sering pula seharian tidak ada kemunculan matahari. Hawa dingin banget, apalagi buat aku yang memang tidak kuat dengan yang dingin-dingin. Duuhhh, menyiksa banget.

Nah, setiap pagi-pagi, ketika mau membereskan ruangan depan seperginya anak-anak ke sekolah bebarengan dengan Bapaknya pergi ke tempat nyangkulnya, aku pasti terhenti di pojok sebelah kanan depan. Ini pasti hujan yang tak berhenti semalaman, … jadi beginilah akhirnya.

Air tergenang, bukan karena banjir tapi bocor dari atas. (memang ada ya … bocor dari bawah ? Ada kok… apa hayooo???). Tak banyak omong, aku beresin dengan mengepelnya. Tapi, kemudian anganku kok jadi melayang-layang, ingat sama kampung halaman. Lhoh, apa ya hubungannya??

Shobat Baltyra …

Alhamdulillah, dengan segala apa yang aku punya sekarang, hanya rasa syukur yang aku panjatkan, termasuk terdamparnya aku di sebuah perumahan RSS ala KPR. Betapa tidak? Di saat sekian banyak orang masih bingung dengan uang kontrakan tiap tahunnya yang cenderung naik, aku sudah memiliki tempat berteduh bersama keluargaku tercinta, tempat menuangkan segala rasa suka duka, bahagia, kecewa, tangis dan tawa.

Tak perlulah aku membandingkan nikmat ini dengan nikmat-nikmat orang lain yang mungkin secara materi kelihatan berlebih, karena untuk hal demikian, aku selalu ingat petuah orang tua : lihatlah yang lebih bawah, agar bisa selalu bersyukur. Jangan suka ‘ndangak’ (tengadah) terus, nanti kesandung jalannya. Dan itu memang benar adanya. Bukan pula kemudian kami apatis, .. nrimo tanpa usaha maksimal…bukan! Tetap setelah semua usaha dan doa maksimal, bersyukur harus dikedepankan.

Alkisah, terdamparnya aku di RSSSSS (suka-suka aku sih, … mau berapa juga aku kasih S-nya…), sempat membuatku down. Sebab mau protes juga rasanya tidak memungkinkan. Siapa yang mau diprotes??? Beginilah kisahnya :

Pada saat kami memutuskan menikah, pada saat itu suami masih kuliah tingkat akhir, saya juga masih semester lima. Tapi suami sudah memilki penghasilan untuk sekedar hidup berumahtangga di awal-awal.

Justru karena kebutuhan belum begitu banyak, (lha wong biaya kuliah juga masih disokong sama ortu), maka kami memutuskan untuk segera memiliki rumah secepatnya. Maka kemudian di atas tanah seluas 350 meter di pinggiran kota Surabaya, kami buat pondok bahagia kami.

Dengan pertimbangan bahwa sebagai anak kampung, aku sudah bosen dengan rumah yang besar (rumah di kampung kan besar-besar, sudah begitu halamannya juga luas, nyapu daun-daun yang berjatuhan tiap pagi sampe pegel pinggang) maka aku minta rumah idaman kami itu dibuat mungil.

Pokoknya luas bangunan jangan sampai lebih dari 100 meter persegi. Sisa tanah di buat pekarangan saja. Begitulah… pondok idaman pun berdiri.

Tapi, kami hanya bisa menikmatinya dalam waktu kurang dari 6 bulan. Mertua memaksa kami untuk kembali ke Pondok Mertua Indah, karena mertua tak berteman. Kakak-kakak ipar sudah pada hijrah ke Jakarta. Maka kami tinggalkan pondok idaman kami dengan kunci dititipkan ke tetangga, harapan kami, … kami masih bisa kembali lagi.

Tetapi, apa mau dikata. Ketika kejadian kami harus kembali ke mertua, suami sudah patah arang. Dia punya pikiran, selama masih di sekitar Surabaya, susah deh buat mandiri. Maka tanpa sepengetahuanku, begitu lulus,  dia mendaftar ke sebuah BUMN di Bandung.

Ketika aku melahirkan anak ke dua, panggilan dari Bandung datang. Aku terbengong-bengong. Tidak bisa berpikir panjang, karena saking shocknya. Terus terang, kami belum pernah berpisah. Lha ini anak baru lahir, ditinggal di rumah mertua pula. Bingung pokoknya. Tapi aku siapkan juga segala macam keperluannya. Akhirnya ketika anak pertama baru berusia 17 bulan dan yang ke dua baru 12 hari, suamiku pergi mengejar cita-citanya (ceilee….).

Tiga bulan setelah itu,…

“Siap-siap pindahan ya, bu…” begitu intruksinya. Duuhhh… trus gimana dengan segala urusan di Surabaya?

“Udah, tinggalin aja. Segera cari tiket ke Bandung, akhir tahun biasanya penuh.” Masih dengan nada perintah yang tak bisa aku tolak.

Pas beres-beres, rupanya suami bisa pulang di suatu hari Minggu.

“Nanti, jangan kaget ya…, rumahnya kecil sekali. Type 36.” Suami mencoba memberikan gambaran rumah kontrakan di Bandung.

“Maksudnya apa? Ruang tamunya 36 meter persegi?” tanyaku bingung. Asli, yang namanya mendengar ada istilah type-type perumahan ya baru sekali itu. Ketahuan kan … wong nggunung nak nung …

“Yah … semua luas bangunan rumah 36 meter persegi,” sahut suamiku dengan gelinya …

Jujur, aku makin tidak bisa membayangkannya.

“Jangan bawa meja makannya, deh… tar malah bingung naruhnya.” Dia mengingatkan ketika aku membuat list barang yang akan kita bawa. Tak banyak bicara, meja makan aku coret dari daftar.

“Lemari bajunya yang kecil aja, deh..” masih belum mudheng … aku nurut aja.

“Gak usah …,” tambahnya ketika beberapa barang akan aku bawa. Bahkan lemari es pun tidak boleh dibawa. Bandung sudah dingin, katanya…

Maka, suami berangkat ke Bandung dengan mobil full barang-barang, utamanya buku-buku dan semua yang bisa masuk. Yang lainnya dikirim via paket.

Tanggal 31 Desember 1996 menjelang sore, aku beserta dua anakku yang masih kecil-kecil berangkat ke Bandung dengan kereta. Inilah perjalanan terpanjangku yang pertama. Aku membawa peralatan bayi yang ternyata banyak sekali.

Orang-orang di kereta pada simpati, banyak yang membantu. Apalagi sesekali di kereta aku menangis, sedih banget meninggalkan Surabaya. Hehehe… apa ya … yang ada di benak mereka?

Tahun Baru 1997, kujejakkan kaki di stasiun Bandung. Brrrr… dingin sekali. Di kejauhan kulihat suami dan seorang temannya menjemputku. Hhhhh…., cape luar biasa serasa hilang. Akhirnya sampai juga ke kota impian suami. Duuuhhh dinginnya sampai ke tulang …

Kami susuri jalanan kota Bandung di pagi hari, waktu itu rasanya tidaklah serame sekarang. Aku banyak bertanya ini itu, tapi kebanyakan suami juga tidak tahu, lha wong baru juga di Bandungnya.

Akhirnya sampailah kami di pintu gerbang sebuah perumahan. Namanya keren banget. Puri dengan embel-embel indah. Hmmm… kubayangkan, pasti asri. Begitu masuk, rumahnya ternyata kecil-kecil. (padahal bagian depan itu sudah yang paling besar, type 64, dengan luas tanah 150 meter persegi).

“Yang ini ya, … rumahnya…,” aku coba menebak. Suami hanya tersenyum geli, tak mau menjawab.

Semakin ke dalam, rumah-rumah semakin kecil.

“Lho, rumahnya yang mana?” aku mulai ciut, melihat kecilnya rumah-rumah berjejer. Benakku saat itu seperti melihat kotak-kotak korek api yang dijajar. Bentuknya sama, ukurannya sama, paling cuma berbeda antara yang sudah dipagar sama yang belum.

“Tenang aja, … bentar  lagi juga nyampe,” sahut suami dengan santainya.

Akhirnya mobil berhenti di depan sebuah rumah di pojok blok.

Surprise…..

Rumahnya mungil…. Dengan bangunan yang masih asli. Belum berpagar. Dengan selokan yang menganga di depan rumah. Jembatan untuk masuk ke rumah hanya selebar setengah meter. Ada tempat agak lowong di depan, sepertinya bisa buat naruh mobil, cuma harus dibuat jembatannya dulu.

Yah, … termangu aku memandangi rumah type 36 dengan luas tanah 90 meter persegi itu. Sempat juga saudara dari kampung yang mampir bercanda, … “Perasaan baru aja masuk, lho kok ini sudah di luar lagi??” duuuhhh, .. sarkasme banget.

Maksudnya pintu depan sama pintu belakang kan berjarak sekian langkah. Jadi, baru juga masuk dari pintu depan, sudah sampe ke pintu belakang …. Hehehehe…

Begitulah, … betapa konyolnya aku waktu itu. Sampai beberapa hari cuma bengong, bingung mau menata barang seperti apa. Sementara suami sudah langsung asyik dengan aktifitas barunya, kerja di tempat yang sesuai dengan bidang keilmuannya.

Butuh waktu yang tidak sebentar buat aku menyesuaikan diri. Jauh dari keluarga saja sudah membuatku bingung setengah mati (apalagi pada waktu itu hape belum booming seperti sekarang). Kalau mau kontak keluarga harus jalan ke wartel yang letaknya lumayan jauh.

Nah, ini suami juga tidak punya perasaan, sukanya kerja sampe malem, lembur melulu. Yah, aku sih maklum, sebagai pegawai baru, tentu gajinya masih minim, jika tidak ditunjang dengan lemburan, mana cukup buat beli susu si sulung.

Tapi, ditinggal sendirian di perumahan yang masih sepi, dengan tetangga yang masih jarang-jarang ??? (duuhhh, .. teganya…teganya..)

Shobat Baltyra, coba deh bayangkan….

Belum juga setahun aku jadi kontraktor, sang empunya rumah sudah memberikan warning bahwa rumahnya mau ditempati sendiri. Aduuhh…, padahal rasanya boyongan dari Surabaya kemarin belum hilang cape’nya. Bahkan kardus-kardus yang berisi buku-buku masih banyak yang belum dibongkar….

Tapi, namanya juga orang numpang, … tahu dirilah…Kami berkemas sekedarnya sambil cari-cari kontrakan baru. Selain itu juga cari-cari rumah yang mau dijual, yang penginnya sih sudah over kredit, gitu. Alasannya, kalau over kredit kan berarti perumahannya sudah banyak didiami orang, jadi tidak akan terlalu melompong. Kurang lebih begitu pertimbangannya.

Alhamdulillah, setelah waktu sedemikian mepetnya, sebelum kami terusir dari rumah kontrakan kami, berjodoh juga kami dengan rumah yang tak jauh dari kontrakan kami, hanya berjarak kurang lebih 100 meter. Sebuah rumah, yang awalnya aku tertawa geli mendengar istilahnya. Sebuah rumah RSSSSSSS (rumah sangat sederhana sekali sehingga susah sana sininya, … silahkan tambahkan sendiri SSS berikutnya).

Mengapa akhirnya aku memilih rumah tersebut??? Hahaha…., jujur saja, kemampuan uang setelah jebol sana jebol sini (karena tak ingin pusing mikirin cicilannya tiap bulan) ya cuma mampu untuk membeli rumah sebesar itu. (Untunglah, 3 bulan kemudian rumah sebelahnya dijual juga, jadi agak longgarlah buat sekedar selonjoran mah…)

Dan mulailah kehidupanku sebagai istri dan ibu, … dengan segala romantikanya di tiap waktu, berdentang pantul memantul di setiap dindingnya.. Di rumah tersebut, 2 anak-anakku yang lainnya menyusul lahir ke dunia (lahirnya sih di rumah sakit), ikut meramaikan rumah mungil kami. Ada canda, tangis, gedubrakan, selendotan, apa lagi ya ….. (pokoknya segala kisah tertoreh di sana, deh ..).

Hidup di perumahan yang mepet-mepet seperti itu memang penuh kisah. Kadang hangat, karena berbagi tembok. Kadang sumpek, karena kanan kiri belakang saling senggol. Jika ada tamu mengetuk pintu tetangga, kami suka ke –ge-eran, … buru-buru ke depan untuk membukakan pintu. Hihihihi… suka geli sendiri.

Nah, di antara sumpeknya bertetangga di perumahan macam begini, kalau ada tetangga ingin menambah ruangan dengan cara membangun lahan yang masih tersedia atau dengan cara meninggikannya, mau tidak mau tetangga yang bersinggungan langsung akan banyak direpotkan.

Semisal pojok ruang depanku yang selalu bocor kalau hujan lebat. Semenjak tetangga sebelah meninggikan bangunannya, …. 6 eternit langit-langit  rumahku ambrol karena getaran gempuran rumah sebelah. Terpaksa kemudian kami ganti dengan triplek.

Sesudah mereka selesai membangun pun menyisakan kebocoran pada pojok ruang depanku. Belum lagi pancuran pembuangan air hujan yang mengarah persis ke halaman depan kami. Sebenarnya hal ini sudah coba kami komunikasikan, tapi akhirnya karena banyak pertimbangan, kami memilih diam.

“Nantilah, kalau sudah ada rejeki, kita perbaiki.” Suami hanya berkomentar begitu. Ya… sudahlah, kalau begitu. Kami nikmati saja semuanya sebagai romantika.

Tapi, selebihnya,… tigabelas tahun kami mendiami rumah tersebut, pagutan rasa syukur lebih mendominasi. Setiap jengkal keberadaannya menggambarkan desah nafas kami. Bahkan coretan-coretan yang tertoreh di tembok ruang depan, kamar tidur, dapur … semuanya memuat kisah yang tak habis pena mencatatnya.

Shobat Baltyra …

Jika pergi ke Bandung, mangga… sindang heula ka rorompog abdi. Mampirlah ke gubug sederhana kami. Meski mungil, tapi sanggup untuk menampung canda tawa bahagia kami. Atau menyimpan rapi segenap duka yang pernah kami lewati.

Mangga… diantos kasumpinganana…

 

 

29 Comments to "Romantika Penghuni KPR"

  1. saw  13 May, 2011 at 11:01

    M’Hennie : rumah ortu memang jadi rumah kenangan mbak, dan bisa jadi bagi ibu, jika masih ada rumah yg tergores banyak kenangan di sana, masih ada sarana untuk merekatkan hati anak2nya yang bisa jadi sdh melanglang buana.

    Mbak Fia : Salam kenal kembali mbak…
    Bahasa Sunda sehari2 memang sdh lumayan mbak, tapi tetep,.. medhok jowonya juga ga ilang blass. pasti suatu saat keprucut istilah2 jowo. Kadang juga bingung pada satu kosa kata, ini masuk Jowo, MEduro apa Sundo?

    Apa kabar wisata lumpurnya mbak? Walah, aku pas ke sana mabuk sama aromanya. Ojeg payung meriah sekali, banyak yg nawarin. hehehe …

  2. Fia  13 May, 2011 at 10:52

    Salam kenal smua warga baltyra. Sy pmbaca sunyi baltyra yg nyoba ikutan nimbrung koment
    Mbak saw wong suroboyo dadi warga bandung piro suwe dadi iso umung sundo ngunu kui. Awal2 gek pye komunikasi ada yg lucu pastinya
    Salam dr wong ndeso di lumpurlapindo

  3. HennieTriana Oberst  12 May, 2011 at 11:23

    Saw, baru selesai baca tulisanmu ini. Memang benar ya kalau rumah sendiri sekecil apapun tetap nyaman. Aku ingat almarhumah Ibu nggak mau jual rumah mereka, karena di sana banyak sekali kenangannya. Padahal menurut kami anak-anaknya daerahnya sudah sangat padat. Akhrinya rumah itu sampai sekarang masih ada.

  4. saw  12 May, 2011 at 07:21

    Teh Linda : diantosan lho …

    m’ Sakura : sayang atuh mbak, itu rumah mending di kontrakin. Ada yg jagain, trus bsa kasih kemanfaatan bagi yg butuh hunian.

    P’Hardi : betul pak, … di bandung juga rumah macam apa aja laku. Sdh tahu bakal banjir kalo hujan, tetep aja kebeli. Begitu ramenya pasar KPR, ternyata …

    Mbak Nas : ini kisah karena aku wong nggunung mbak, membandingkan rumah dikampung sama rumah sendiri. Kok adoh banget. hehehe …..

    PapaNiel : apa kabar Pak? lama tdk muncul. Iya pak, saya inget rumah temen saya di daerah Bratang. Kalau hujan deras, air muncul dari sela2 lantai. Pasti sibuk ‘newu’ (ini bahasa indonesianya apa ya? ).

  5. papa niel  12 May, 2011 at 07:05

    Mba, rumah kami di surabaya dulu bocor dari bawah mba, karena jalanan depan rumah selalu banjir, maka rumah di tanggul terasnya supaya air tidak masuk. walhasil ketika ada genangan air semalaman, dari sela-sela lantai keluar air blukutk-blukutuk kaya mata air , maklum rumah tua,,hehehheh

  6. kembangnanas  11 May, 2011 at 14:46

    mba, lha klo saya mampunya cm beli rumah kpr jg je… masa mw maksain beli rumah gedong magrong2…. lha pindah ke palembang jg tetep di rumah KPR (ngontrak tapi… ) hihihi

  7. Hardi  11 May, 2011 at 14:21

    Mb SAW,
    nice article,
    di Batam tempat saya sekarang hampir semua perumahan adalah KPR, malah ada yg type dibawah 36,
    laku keras bisnis property disini,
    dan hampir orang di Batam sudah punya rumah baru bisa lega, maklum Batam dunia Industri…

  8. Sakura  11 May, 2011 at 10:00

    Mbak Farel, mantap banget deh. SSSnya saya tambahin…`sampai semua sendi sakit-sakit`..hehehe…

    Saya punya rumah KPR yang juga saya tinggalin kabur ke negri orang gitu aja, padahal baru beli.
    Pengen di renov dulu sedikit sebelum dikontrakin, tapi karena saya-nya jauh banget..yaaa nggak direnov-renov, dibiarin gitu aja padahal udah 3 tahun nih. Teakhir, tahun kemaren lihat rumah di Serpong tsb, kaca nako dan daun pintu lenyap semua digondol maling, untung nggak ada barang-barang apa-apa di sana,pompa air juga sudah dilarikan ke rumah ortu. Mungkin sebentar lagi ubin keramiknya jug abakal di gondol maling..hehehe

  9. Linda Cheang  11 May, 2011 at 08:41

    Mbak : aku jarang ke Kolmas, sih. Harap maklum. Kalo ke Kolmas, mesti ada waktu khusus…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.