Tebok Ati

Aimee

 

Anda pernah tahu tebok ati? Pernah kah bertemu, mengenal dan melihatnya? Tahukah anda seperti apa dia?

Menurut kisah para orang tua di kampungku. Tebok ati itu makhluk hutan pemakan hati anak-anak, makanya namanya tebok ati. Tebok = membelah, ati = hati. Makhluk jahat menyeramkan yang membelah dan memakan hati anak-anak yang berkeliaran di hutan.

Jaman aku kecil, rumah satu dengan tetangga lainnya jaraknya cukup jauh, dibatasi kebun, sungai dan hutan-hutan. Di dekat rumah kami ada hutan yang cukup luas, menuju ke kali tempat biasa kami mandi. Juga kebun nya Pak Doi, bapaknya Akon si Murai Malam.

Hutan itu menyimpan daya tarik sendiri kepada kami, bagaimana tidak di sana tersimpan banyak harta karun anak kecil. Buah kemunting, rumput rusa, buah asi-asi, buah buni, jamur kuning, kantung semar, resam, dan sepetak pohon bambu pembatas dengan rumah si seram San Cu Bong, orang di kampung kami yang dipercaya memiliki ilmu hitam. San Cu Bong tidak pernah bertetangga, tidak pernah bergaul dengan siapa pun. Kami tak tahu nama asli nya siapa, namun dia dipanggil San Cu Bong yang berarti Raja Babi Hutan.

Dia tinggal di sebuah rumah tua, orangnya juga sama tuanya. Punya banyak istri. Dia sama sekali tidak bekerja, istrinya banyak, dia membuka kebun. Yang mana istri-istri nya lah yang menggarap kebun kebun itu kemudian memanen dan menjualnya ke pasar.

Ada yang unik dengan San Cu Bong, bahwa antara istri-istri nya itu bersaudara. Entah itu saudara sepupu maupun saudara kandung. Mereka semua tinggal serumah. Bahkan diyakini San Cu Bong memiliki perkawinan dengan anak tiri istri nya. Dan ada yang lebih parah desas-desus menyebutkan San Cu Bong memiliki hubungan terlarang incest dengan anak kandungnya sendiri.

Karena pernah suatu hari kami di kejutkan dengan kehamilan anak gadisnya yang belum menikah. Di rumah tersebut hanya San Cu Bong dan satu anak bujangnya. Si anak bujang tentu gerah karena keadaan itu, namun akhirnya anak bujangnya tak tahan dengan gaya hidup ayahnya, memilih pergi dari rumah dan merantau tak pulang pulang hingga sekarang.

Kami dan para tetangga lain tak pernah mau berurusan dengan San Cu Bong. Jangankan berurusan, untuk menegur saja kami tak hendak. Orang nya begitu memiliki aura magis, yang seakan seluruh kepalanya dilingkari awan hitam. Aku pernah bertemu San Cu Bong satu kali ketika ada seseorang mananyakan rumahnya dan aku setengah terpaksa menjadi penunjuk jalan hanya karena uang beberapa ratus rupiah

Saat itu San Cu Bong keluar, baru kali itu aku melihat penampakan fisiknya. Hanya seseorang lelaki kurus tua. Tapi tak sempat aku melihat mata dan muka nya. Sudah terbirit-birit aku lari agar tidak ketularan magis seperti dia dan keluarga nya.

Perihal tanaman bambu itu, dahulu San Cu Bong pernah bersilih dengan kakekku dari pihak ayah. Kakekku menyatakan keberatan jika San Cu Bong menanam bambu sebagai pembatas tanah antara tanah miliknya dengan milik kakekku. Karena menurut kakekku, hanya orang yang hendak memiliki maksud buruk merebut tanah milik orang lain sajalah yang memberi tanda batas dengan menanam rumpun bambu.

Karena tanaman bambu itu berkembangbiak melalu tunas baru di pokok batang nya. Sehingga lama kelamaan akan melebar sedikit demi sedikit ke tanah orang lain di sebelahnya. Dan itu memang terbukti, terakhir kali aku pulang dan melihat…rumpun bambu nya sudah sangat rimbun. Bahkan kurasa sangat dan terlalu rimbun hingga tak mengizinkan melihat matahari jikalau kita berada di bawah kerumunan nya. Sudah terlalu jauh masuk ke wilayah tanah warisan kakekku.

Mengenai tebok ati, kami anak-anak begitu terhipnotis dengan cerita tebok ati. Dan merasa gaya hidup aneh San Cu Bong karena tebok ati. Selain karena dia tidak bekerja dan hanya mengandalkan kebun yang digarap istrinya. Keanehan lain adalah dia tak pernah kekurangan. Sekalipun dahulu ada pembagian beras gratis, dia tak pernah mengambilnya. Bahkan saat krismon tahun 98 kemarin pun kehidupan mereka aman tak tersentuh.

Sampai saat ini pun, San Cu Bong masih hidup. Padahal kakekku, nenekku, ayah dan ibuku pun sudah meninggal. Dia masih sehat-sehat saja. Sering terlihat beberapa burung gagak hitam terbang di atas kawasan rumah nya. Dahulu kalau malam, baru saja pukul delapan malam sering terdengar kaok-kaok burung gagak. Jikalau ada bayi baru lahir, para tetangga sering memagari bayi dengan berbagai ritual yang tak kalah anehnya.

Kami anak-anak tak pernah mau dekat dekat dengan rumahnya. Bahkan sebelum langit gelap kami sudah pulang ke rumah masing-masing, karena takut ketemu tebok ati, sekalipun keranjang kami belum penuh terisi dengan buah kemunting.

Lain hal dengan anak-anak lain yang begitu mempercayai San Cu Bong berkaitan dengan tebok ati. Aku memiliki pemikiran sendiri. Setiap melihat seorang lelaki bercaping lusuh, berbaju kotor, membawa karung dan membawa sebuah gancu panjang seperti celurit. Aku meyakini itulah tebok ati yang sebenarnya.

Kalau mamaku pergi berjualan kue keliling kampung, dan aku menjaga rumah sendiri, kakak-kakakku pergi les. Lelaki ini sering nampak sore hari, masih dengan perangkat yang sama, aku akan menutup semua pintu jendela, gorden. Menguncinya rapat-rapat.

Lelaki lusuh tersebut selalu mengintip-ngintip ke arah dapur kami yang terbuka, karena memang dapur mamaku di luar tanpa dinding. Hanya 4 tiang kayu dipasangi genteng. Jikalau ada mamaku, dia tidak berani. Sebelum aku bersembunyi, mamaku selalu berpesan. Untuk menyimpan barang-barang ke dalam, dan teriaklah : ”masih dipakai” ketika melihat lelaki lusuh itu hendak menyentuh apapun barang di dapur terbuka milik mamaku.

Seiring waktu berjalan, aku baru menyadari kebodohanku. Akan ketakutanku dengan tebok ati pada si lelaki lusuh, karena sekalipun tak pernah dia membelah hati anak-anak untuk dimakan, karena itu adalah profesi nya, sebagai pemulung.

 

 

53 Comments to "Tebok Ati"

  1. aimee  19 May, 2011 at 18:23

    pak dj : rein sudah bisa jalan sejak 11 bulan
    ooo dikirim ke rumah di kampung maksud nya ke semarang ya pak?

  2. aimee  19 May, 2011 at 18:21

    elnino : hehehe…nama anton bikin aku jd suka dikira laki laki…tp jaman sekolah dl suka di ece jg sih…katanya ini nih pengikut aliran sesat,,,anton yg suka lepasin kepala.
    ku jawab saja ” iya..nanti kalian yg kumakan malam ini”

  3. aimee  19 May, 2011 at 16:49

    mas anoew : ngasah peso sejak di baltyra ja…bukan dari dl..jd saya kenthir dan rusak krn deket buto dan baltyra

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.