Dasar China (4 – habis): Catatan Perjalanan ke Dongwang

Handoko Widagdo – Solo

 

Bangsa yang berperan

Bagian ini saya tulis di Bandara Kunming, dalam perjalanan pulang. Pesawat Boing 737 seri 700 China Eastern (CES) melesat dan dengan cepat mencapai ketinggian jelajah, membawaku dari Shangri-La ke Kunming. Tentu saja cepat, karena ketinggian Shangri-La adalah 3000 mdpl.

Sebenarnya saya agak mengantuk karena malamnya beberapa kali terbangun. (Meski sudah sering bepergian, malam terakhir biasanya saya susah tidur karena sudah rindu rumah.) Namun pemandangan yang tersaji dari jendela pesawat membuat mata saya segar kembali.

Puncak-puncak bersalju arah barat-laut dan utara membuatku terpana. Saya yakin puncak-puncak bersalju tersebut adalah rentetan Himalaya. Puncak-puncak bersalju itu menyembul diatas awan. Sayang sekali kamera saya berada di dalam tas ransel dan dibagasi atas. Akibatnya saya tak bisa mengambil gambar yang luar biasa tersebut.

Dalam pesawat saya membalik-balik majalah CES. Di kata sambutan dijelaskan bahwa CES membantu evakuasi pekerja China dari Libia. Meski tidak berpengalaman menerbangi rutenya, CES berhasil membawa kembali 7000 warga China yang keluar dari Libia.

(Foto repro dari Majalan CES)

Paragraf terakhir sungguh sangat menggugah saya. Kalimat tersebut adalah sebagai berikut: “Among the evacuees was a baby of only 20 days. He and his parents did not miss the CES flight to come home. Perhaps he would not remember this experience when he grows up, but he will be told when he was born, a “home” was and countless “members of the home” were protecting him. The home is called CHINA.” Rumah itu adalah China!

Sungguh menyentuh hati. Setelah saya buka lebih lanjut majalah tersebut, ternyata si bayi adalah anak seorang minoritas. Anak seorang perempuan China yang berjilbab! Tanpa terasa pipi saya panas karena airmata meleleh dari mata saya. Tuhan terima kasih, Engkau mengajariku bagaimana seharusnya sebuah Bangsa bertindak untuk rakyatnya. Dasar China.

(Foto repro dari Majalah CES)

Karena kesibukan yang tiada tara, saya jarang membuka Baltyra. Namun pagi tadi, sambil sarapan saya sempat membuka Baltyra dan tertarik dengan tulisan JC tentang sinophobia. JC menggambarkan betapa pembangunan infrastruktur China berjalan sangat cepat.

Artikel tersebut membuat saya tertarik untuk membagi foto-foto yang saya dapat dalam perjalanan ini, tentang pembangunan yang dimaksud oleh JC. Lihatlah bandara baru Kunming yang sedang dalam pengerjaan dan jalan-jalan di atas gunung berikut ini. Dasar China!

Bukan hanya infrastruktur, China juga begitu giat memanfaatkan matahari sebagai sumber energi dengan memberikan gratis peralatan kepada rakyatnya.

Dasar China, semuanya serba luar biasa, meski tidak semua bisa dimengerti.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

72 Comments to "Dasar China (4 – habis): Catatan Perjalanan ke Dongwang"

  1. Joko Prayitno  16 July, 2012 at 08:31

    Waduh….pengalaman yang menarik pak Handoko…..Mastok seneng dengan hal ini pastinya dan saya juga seneng menikmati artikel ini…

  2. Handoko Widagdo  18 May, 2011 at 08:06

    Nev, setahuku para yang terhormat itu gak bisa baca kok. Jadi ya gak usah berharap tulisanku dibaca oleh mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.