Sebuah Jurang di Balik Kota

Atite – Jakarta

 

Tidak ada yang putih benar di bawah cahaya matahari pagi, seperti tak ada orang-orang di jalan raya ini yang yakin benar akan hitamnya warna aspal, kekuning-kuningan,  tak ada yang mutlak. Bahkan dibias kristal-kristal debu yang dilap searah, kaca  mobil yang tak mengenal mandi selama seminggu, melaluinya Truve melihat semua warna kian relatif. Lampu merah.

Truve di baris pertama. Melintas saja di kaca depannya itu seorang pria setengah baya yang tak biasa, berbalut handuk sepinggang ke bawah, menenteng ciduk dengan peralatan mandi di dalamnya, menyeberangi jalan dengan tertib di sebuah zebracross, bersama-sama para penyeberang normal lainnya tanpa kesungkanan… Dari kursi depan mobilnya Truve keheranan. Pria yang nampak cukup waras tadi, menyeberangi jalan raya dua arah yang lebar ini, hanya dengan selembar handuk…? Lampu hijau. Semua serentak bergerak. Tak ada yang ragu menancap gas, termasuk Truve. Namun sebuah tanda tanya besar telah tertinggal di jalan raya, walau tak cukup menyisakan waktu untuk bertanya-tanya.

Matahari yang membulat, memburai, dan meninggi tak menunggu siapapun. Bukan sesuatu yang janggal pula bila tiba-tiba rintik-rintik gerimis turut melimpahi pagi menjelang siang hari di April bulan yang semaunya ini. Panas atau gerimis tidak ada yang salah tempat.  Apa toh yang tak mungkin terjadi di kota ini? Suara klakson menghardik-hardik, sekali lagi Truve yang tak pernah ragu menekan gas, sekalipun  mata dan pikirannya tak pernah benar-benar ada di jalan raya ini, gadis itu mulai kehilangan konsentrasinya, sibuk mengarang alasan di selular tentang mengapa ia terlambat ke kantor hari ini, hingga tiba saatnya sebuah benturan yang cukup kencang memelantingkan segala rutinitas harinya ke dalam sebuah keheningan…

Truve masih dalam gemetar, menjejakkan tumitnya yang berhak tinggi di atas aspal, gerimis akan mengusutkan rambutnya dan matahari akan meninggalkan spot hitam di sekitar hidung… Pemuda yang sempat tergeletak tadi tergerak berdiri, menepuk-nepuk jaket kusamnya, masih sedikit gontai berusaha  mengangkat motor bututnya tegak, setegak harga diri yang ingin ia junjung di atas jalan raya ini. Hingga mata di balik helm itu menoleh, menyorot lurus ke arah Truve, gadis itu berhenti bernafas, bertatap-tatapan dengan mata seseorang yang beberapa saat lalu dikiranya telah mati (Truve benar-benar mengira ia telah membunuh seseorang di jalan raya!).  Dan saat pemuda itu bergerak penuh antusias ke arahnya, Truve hampir berpikir kini gilirannyalah untuk mati! Namun seperti juga April dan kota ini… Apapun bisa terjadi…

“Halo? Saya baik-baik saja… Nama saya J.” Dengan penuh percaya diri pemuda pemaaf bernama J memperkenalkan dirinya. Menjabat erat, hangat, berdetik-detik… Truve yang diam terpaku, tak tahu pasti kapan gelombang keheningannya itu dimulai… Mereka yang hanya saling bertatapan saja, terlambat menyadari kemacetan panjang yang diakibatkan olehnya di belakang, sebuah kecelakaan kecil yang menimbulkan amnesia sesaat, hingga pada satu titik kekhawatiran akan perpisahan itu muncul tak terelakkan sebelum diri siap beranjak.

Untuk kesekian kalinya rentetan klakson mobil-mobil pada akhirnya berhasil menembus hening dan merambati gendang telinga mereka, Truve dan J  pun tergopoh-gopoh meninggalkan satu sama lain. Sebuah pertemuan dengan ‘sepasang mata pencipta keheningan’ di jalan raya, tak membuat Truve menyesali kebiasaannya menyambi-nyambi ria kala menyetir…

Lampu merah berikutnya. Seperti lautan kian ke tengah kian mengaum,  kemacetan jauh lebih parah dari sebelumnya, terkatung-katung seorang Truve yang berusaha mengejar kembali harinya yang tertinggal. Bayangan si mata indah pencipta keheningan berkepala helm beberapa saat tadi masih membuai, namun tak cukup juga membunuh  ingatan akan waktunya yang mengulur sepanjang jalan raya. Dengan lemas Truve memeluk setir, melongok ke atas, sedikit silau, tak sengaja menikmati pemandangan kraine-kraine raksasa mengangkut beton-beton prefabrikasi ke atas, siluet benda tersebut menghalangi cahaya matahari baginya, mahkluk itu berputar lambat di angkasa… bayang-bayang panjangnya yang hinggap di atas kap-kap mobil, merayap pelan, beberapa meter di atas kepala lengan-lengan besi raksasa itu telah bergerak melewati garis sepadan jalan yang seharusnya menjadi pembatas ruang geraknya (namun semua orang tahu bahwa apapun yang terjadi selalu ada ruang untuk pembangunan di kota ini…).

Truve mulai mengkhayalkan apa yang mungkin bisa ia lakukan untuk sampai di kantor secepatnya… melompat ke dalam mahkluk besi itu, merebut setirnya, melindas mobil-mobil yang ada di hadapannya, lalu melepaskan dengan santainya slab-slab beton yang membebani lengan-lengan besinya sesuka hati,  berjatuhan menimpa apapun di bawahnya… Teeet!!! Truve tersentak. Lampu hijau. Melanjutkan perjalanannya, kini ia mulai menyadari, sosok-sosok yang kian bermunculan dalam waktu dekat di sepanjang rute dari rumah menuju kantornya ini… ruko dan ruko dan ruko dan mall dan mall dan apartemen dan apartemen dan… unit-unit yang mudah dibeli dengan sekarung uang dalam plastik laundry yang tak perlu dipertanyakan asal-usulnya…

Wujud-wujud itu muncul dalam ketergesaan, tak  sempat berjiwa, berlomba-lomba membuat semua jalan menjadi hampir mirip satu sama lain. Truve dapat membayangkan kesulitan besar akan dihadapinya nanti, sebagai seorang warga yang memiliki kemampuan terbatas dalam menyusun pemetaan di otaknya, seringkali tersasar-sasar di tempat yang barangkali juga sudah ratusan kali dilewatinya. Kadang juga Truve berpikir, mengapa tidak ada penguasa jenius dan gila yang mau memindahkan gunung atau pantai ke tepi jalan ini untuk dirinya bertamasya kala terbosan-bosan!? Katanya kota ini sanggup menghadirkan apapun di atas apapun!

Sore sudah. Duduk di atas meja tetangga kubikalnya di kantor, Truve melontarkan satu pertanyaan yang cukup menggelisahkan dirinya sepanjang hari,

“Jujur. Kapan terakhir lo menatap mata seseorang di jalan raya? Benar-benar ‘me-na-tap-nya…” Truve menunjuk kedua bola matanya dan rekannya beberapa kali. Bolak balik. Rekan itu menghadapi dilema, menghentikan pekerjaannya hanya untuk melamunkan sesuatu yang tak penting, namun sahabatnya yang konyol itu tidak pernah seserius ini.

“Gue sering main pelotot-pelototan sama supir angkot kalau mereka nyetir serampangan di jalan…”

“Hmm…Lo gak ngerti pertanyaannya.” Truve mengurungkan niatnya untuk bercerita mengenai pertemuannya dengan seorang J di jalan raya.

Apa yang boleh tinggal dan apa yang boleh disingkirkan di kota ini? Ketika Truve seperti biasa harus mengulang hari yang sama di keesokan harinya, berharap-harap cemas menemukan pemuda bernama J itu kembali di jalan raya ini. Namun apa yang ia saksikan kembali kini, seorang pria separuh baya yang sama, hanya berbalut handuk sepinggang ke bawah menenteng ciduk dengan odol, sikat gigi, dan lain-lain di dalamnya, menyeberangi jalan dengan tertib di zebracross depan, bersama-sama para penyeberang normal lainnya…? Truve kembali bertanya-tanya. Lamunan semacam ini harus bertumpuk di atas pencariannya terhadap punggung-punggung bidang di atas sepeda motor serupa J ?! Namun jalan raya ini memaksanya senantiasa untuk menjadi saksi akan sebuah kota yang hendak menjadi

Kacau sudah lamunan indah yang baru dibangunnya akan J. Bergerak terus mundur jauh ke belakang, jauh sebelum jalan yang dilaluinya ini ada, jauh sebelum mahkluk-mahkluk beton di kanan kiri jalan ini ada… terus dan terus… hingga tiba-tiba saja muncul kembali bayangan pria paruh baya yang dilihatnya beberapa saat lalu, bangun pagi, melakukan kegiatan sehari-hari, lalu dengan selembar handuknya pergi mandi, menenteng ciduk dengan segala isinya… Truve terhenyak. Adakah jalan yang tengah dilaluinya ini, berwaktu-waktu yang lalu telah memisah-misahkan kehidupan si pak tua itu, memisahkan jauh kamar tidur dengan kamar mandinya? Ke seberang jalan? Lampu lalu lintas menguning. Mobil-mobil sudah saling menderu-derukan mesin. Balon imajinasi Truve meletup. Ia telah sampai di depan kantornya tanpa menemukan sepunggung J pun di jalan raya.

Rekan-rekan di kantor itu menyambut cerita Truve tentang laki-laki dengan selembar handuknya itu dengan tawa panjang. Seseorang mencoba menenangkan Truve dengan berkata bahwa di kampungnya dulu pun si pak tua tadi barangkali mandi di kali yang jaraknya dua ratus meter dari rumahnya, jadi lebih jauhlah dari lebar ruas jalan yang dilalui Truve. Pantas saja! Barangkali hal itu menjelaskan kesantaian di wajah si bapak penyeberang tadi. Jalan yang barangkali memisahkan ruang-ruang hidupnya itu setidaknya toh yang menghubungkannya pula? Bahwa jurang terdalam sekalipun  adalah menghubungkan dua gunung…?

Di lantai dua puluh lima gedung ini, dimana kadang Truve menghabiskan sorenya menyeruput pelan-pelan kopi tanpa krim dengan gula coklat, jari-jemarinya yang sedingin cicak mencari-cari kehangatan memeluk cangkir, hangat mulai merambati tubuh… Memandang keluar jendela, menyaksikan matahari terbenam di balik lautan atap-atap  bergenteng kodok, seng-seng karat, tumpang-menumpang, semrawut tak beraturan, hatinya telah lama tak semekar kini. Ia yang selalu menyumpah, merasa salah tempat, posisi pendingin udara yang membuat sakit kepala, mendapatkan meja dekat jendela di sisi barat, bukanlah pemandangan favorit!

Di mana di sisi sebaliknya, rekan-rekan senior itu dapat menyaksikan dari jendela mereka gedung-gedung pencakar langit, yang seakan mencakar-cakar punggung mereka untuk tak berhenti bekerja sebelum benar-benar berada di puncak tertinggi di tengah sana. Mereka yang bekerja bersama-sama kadang hingga larut malam. Mereka yang juga turut menggoreskan garis-garis mewujudkan sebuah kota yang hendak menjadi… Truve hanya memandang keluar jauh, hening, di tengah riuh canda tawa khas pelepas stres (biasanya ia orang yang tertawa paling kencang). Sebuah buntelan kertas melayang menyerempet kepalanya, komplain dari seorang warga kantor meminta Truve segera menurunkan vertikal blind di jendelanya. “Silau, gila!” seseorang berteriak. Saat itu Truve berada di tengah kesadaran, atap-atap tanah liat kehitaman itu, kota di balik kota yang sama itu, tak ada yang dapat membuat senja sejingga membara ini di dadanya…

Hari telah gelap, Truve pulang terlambat (karena datang terlambat). Ia kembali menjajaki jalan raya, tak ada kekhawatiran apapun di hatinya. Kota ini, sungguh ia ingin mengertinya… Angin kencang sekalipun tak melenyapkan kemacetan sebaliknya menjebloskan kendaraan semakin bertumpuk tak ada habisnya merayapi jalan raya. Hujan menderas terus mengirim bongkahan-bongkahan realitas di tiap butirnya, isyarat, tanda-tanda, terus membombardir kapsul kecil Truve yang kerap melindungi dirinya dengan apa yang ada di luar sana. Namun tidakkah romantis, hujan yang turun di musim panas ini? Truve pun memilih apa yang ingin dilihatnya di balik kaca depan itu, setiap tetes yang jatuh menggelincir, bening memantulkan berjuta bayang sepanjang perjalanan dari langit ke bumi,  tetes-tetes yang melesat tajam… Tidakkah ingin terbaring terlentang menghadapnya…? Telanjang…

Saat kapsul kecil itu memutuskan untuk meninggalkan jalan raya, sebuah jalan tikus mengundangnya menyelusuri jalan lain menuju kota di balik kota yang sama. Truve tak yakin bahwa jalan ini pernah ada sebelumnya. Namun apa yang nyata dan yang tidak di kota ini? Di belakang Truve meninggalkan jauh sebuah papan reklame besar, dengan lampu-lampu realitasnya yang terputus-putus, sebuah mimpi semu akan kemudahan hidup yang senantiasa ditawarkan kota ini di atas apapun. Di kota ini orang tidak pernah tahu dimana sebenarnya mereka tersesat.

Truve masih menjalani jalan kecil ini, keyakinan di hatinya akan menemukan jalannya, barangkali menemukan J, si mata pencipta hening itu, entah dimana di suatu tempat di kota ini, mengalahkan segala kerisauan. Namun  jalan yang dihadapi kini kian menyempit, mengusut, bahkan membuntu, menghantarnya ke entah. Hingga pada suatu saat Truve menyadari roda mobilnya yang telah berputar semakin berat. Ia memutuskan untuk turun mengeceknya. Ban itu gembos! Sebelum tiba-tiba keheningan lain menyergapnya, kali ini berbeda, lebih seperti sebuah kesunyian, yang dalam dan dingin. Kegelapan di kejauhan bergerak menghampiri, segerombolan orang yang datang mengendap mengelilinginya, menghempasnya mencium aspal yang lebih hitam dari yang pernah ia tahu…

Malam yang kian jauh, Truve merasakan segalanya berputar-putar, tubuhnya terperosok kian dalam, sebuah jurang, ia bahkan belum menemukan dasarnya… Asa kecilnya yang tetap ada akan sesosok J datang menyelamatkannya dari tengah kegelapan. Namun hanya pada langit yang tak nampak dalam gulita ini sajalah Truve dapat berteriak, agar hujan malam itu juga menghapuskan kota yang barangkali tidak pernah nyata ini! Melunturkan setiap garis, sekat, cluster, apapun itu… Kota yang hadir dalam bentuk apapun, apapun, kecuali dirinya sendiri… Kota dengan ilusi gunung dan jurang bersandingan dalam kesunyian yang bukan hening. Wahai kota ini, sungguh Truve sudah berusaha keras untuk mencintainya!

 

Jakarta, 9 Juli 2010

Th. Astrid Wulaningsari

 

Salam perkenalan dari penulis:

Dengan rendah hati, saya Theresia Astrid Wulaningsari, memperkenalkan diri. Tanpa sengaja saya menemukan situs Baltyra dalam pencarian artikel mengenai Wae Rebo, hingga akhirnya saya mengikuti tulisan-tulisan lainnya yang sangat menarik, namun yang paling menggembirakan karena ada ruang untuk sastranya dengan genre yang beragam…

Berikut saya mengirimkan cerpen saya berjudul ‘Sebuah Jurang di Balik Kota’, yang bila dianggap layak dan pantas, senang sekali bila bisa ikut mengisi di situs yang menarik ini…
salam hangat,
Atite
Tinggal di Jakarta

 

Note Redaksi:

Selamat datang dan selamat bergabung di jajaran penulis Baltyra, Atite! Terima kasih sudah mengirimkan kontribusi pertama ini dan semoga akan terus berbagi di sini. Make yourself at home…

 

 

23 Comments to "Sebuah Jurang di Balik Kota"

  1. atite  13 May, 2011 at 06:30

    @ EA : terima kasih EA. Inakawa sudah mengapresiasi puisi yg ada dalam tulisan ini… salam hangat…

  2. atite  13 May, 2011 at 06:24

    @ nu2k : ha3x… asal gak kapok jadi tempat curhat saya nanti… terima kasih…
    @ aimee : salam kenal jg Aimee… ternyata saya salah pilih judul, kl one day diterbitkan saya ganti judulnya jadi “J”! terinspirasi dari warga Baltyra…ha3x…
    @ J C : halo J C! terima kasih… foto2 itu saking kurang kerjaannya kl lg macet, pesannya : “do not shoot while you drive!” krn selain berbahaya hasilnya goyang semua! wakakakak…
    @ sasayu : terima kasih Sasayu… jutaan warga di jakarta berperasaan sama dg kita, krn itu mau bolak-balik di bom jg jakarta tetep mbludak! ha3x…
    @ Djoko Paisan : terima kasih om Djoko… naah jangan2 ini dia tokoh berawalan J yg misterius itu!??? eh salah, awalan ‘dj’ ternyata, ha3x…

  3. EA.Inakawa  13 May, 2011 at 01:31

    Terima kasih Mbak Atite,saya dapat dua : membaca artikel & puisi didalam artikel…..senang membacanya. salam baik

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.