Tammy – Sydney
Sebenarnya sudah beberapa bulan lalu kepikir nulis artikel ini, yaitu habis aku pulang liburan dari Shanghai September 2010, tapi karena sibuk ini itu, juga nggak mood, akhirnya nggak nulis-nulis. Nah, membaca artikel dan lihat foto-foto yang dikirim oleh Hennie, aku jadi tergerak untuk nulis. Maaf ya kalau isinya lompat-lompat, karena nulisnya sesuai yang lagi muncul di kepala.
Shanghai merupakan rumah kedua bagiku dan suami. Di Shanghai kami punya banyak kenangan manis. Di kota itu lah kami saling kenal dan memulai hidup sebagai suami istri. Pertama kali kenal kami saling tanya: When did you arrive? Kaget banget waktu tau kalau kami berdua tiba pada hari yang sama! Untung ketemunya bukan di airport, jadi terlalu kayak cerita film.
Kami pindah ke Sydney awal Maret 2008. Mei 2008 karena suatu urusan, kami ke Shanghai lagi seminggu. Ditinggal dua bulan, kami belum merasakan perbedaan yang berarti. September 2010 kami kembali lagi untuk liburan selama dua minggu. Betapa kagetnya kami waktu melihat daerah Pearl Tower berubah total. Kami sih sadar kalau pembangunan di China luar biasa cepat.
Tapi tetap saja melihat sendiri bedanya hanya dalam waktu dua setengah tahun membuat kami terkagum-kagum. Sayangnya aku nggak punya foto dua setengah tahun sebelumnya seperti apa, jadi nggak bisa menunjukkan bedanya. Terus terang selama menetap di sana hampir nggak pernah foto-foto. Pas sudah pindah baru sadar: loh nggak punya foto!
Anyway, di bawah ini adalah gambaran daerah Pearl Tower yang sekarang. Bundaran (round-about) itu dari dulu sudah ada, tapi bundaran layang untuk para pejalan kaki itu (yang pakai lampu biru) 2.5 tahun sebelumnya nggak ada. Begitu pula dengan bangunan kelabu yang menyerupai arsitek Romawi dan bangunan beratap melengkung di sebelah kanannya itu juga baru. Aku nggak sempat masuk ke bangunan melengkung itu, jadi nggak tau itu pertokoan atau apa.
Yang jelas bawahnya adalah jalan masuk ke subway. dan di sebelahnya yang banyak bus itu adalah tempat mangkal bus. Subway dan pangkalan bus dari dulu sudah ada, tapi sekarang menjadi megah begitu. (psstt….. itu bangunan segitiga di sebelah kiri gedung kelabu adalah Shanghai Aquarium, tempatnya mbah Gandalf motret ubur-ubur).
Oh ya, waktu pertama kali naik subway, aku juga kaget melihat orang-orang pada antri untuk masuk. Waaaahhhh ini baru! Pasti ada himbauan gencar-gencaran sebelum expo, karena dulunya orang pada bergerombol di depan pintu kereta subway. Yang di dalam belum keluar, yang di luar sudah rebutan masuk!
Untuk menjawab pertanyaan PamPam: iya, subway di Shanghai lebih kinclong daripada London tube. Kan London tube sudah lama. Dalam menyambut Expo 2010, Shanghai betul-betul all out ngebut memperbarui dan membangun. Awal 2008 hanya ada 4 subway lines. Sekarang at least ada 12 subway lines yang beroperasi. Entah berapa lagi yang masih dalam pembangunan dan perencanaan. Di bawah ini adalah pintu masuk subway Jing An Temple yang diperbarui, betul-betul kinclong.
Terus satu lagi yang bikin kaget adalah ramainya supermarket di pagi hari. Dulu waktu masih tinggal di sana aku nggak pernah ke supermarket pagi-pagi. Kalau belanja selalu siang atau malam hari. Nah pas liburan kali ini suatu hari ke Carrefour terdekat pagi hari karena ingin beli buah dan susu. Huiiiihhhhh ramenyaaa!
Terus ada orang antri panjaaaang banget, at least ada 20 meter. Karena penasaran, aku sampai muter ke depan. Antri apaan sih? Ehhh… ternyata antri telor. Aku sampai terheran-heran. Emang di pasaran lagi susah telor apa? Kok sampai bela-belain antri demikian panjang. Berapa hari kemudian temanku bilang: “Oh itu pasti karena telor lagi diskon. Biasanya orang-orang tua tuh yang suka antri. Padahal diskonnya cuma beberapa sen.” Hmm…. jadi ingat ibu-ibu di Indonesia antri minyak atau beras.
Di supermarket hatiku sempat menjerit dan menangis melihat udang yang masih berenang di bak kaca. Juga aneka ragam kerang yang masih hidup. Hiks! Sesuatu yang dulu sering aku beli, tapi di tempat tinggalku yang sekarang nggak ada. How I miss live seafood!
Oh iya, satu lagi yang caught my attention adalah pengumuman di bawah ini. Di Indonesia apa juga ada ya?
Salah satu “luxury” yang dulu sering kami nikmati di China adalah pijat dan keramas (sangat murah dibandingkan di sini, bahkan di Indonesia sekalipun). Di sebelah kompleks apartemen kami ada tempat blind man massage. Full body massage sejam 56 Yuan (1 Yuan = sekitar 1300 Rupiah). Di gang kecil belakang kompleks ada tempat pijat kaki, sejam 20 Yuan.
Kami juga punya langganan salon. Keramas hanya 10 Yuan. Di China, layanan keramas biasanya rambut kita dikasih shampoo dan dipija-pijat kira-kira 10 menit. Baru kemudian kita digiring ke tempat duduk yang ada wastafelnya. Setelah rambut dibilas, kita kembali ke tempat duduk semula dan leher, pundak, punggung dan tangan kita dipijat. Baru rambut dikeringkan. Total waktu dari awal sampai selesai biasanya 45 menit.
Sering kali di taman-taman kota kita jumpai sekelompok orang yang latihan daiji (taichi) atau berolah raga. Tak jarang mereka juga latihan dance. Nggak hanya taman kota, pelataran toko juga bisa jadi tempat latihan. Beberapa tempat usaha (salon atau restoran) kadang sebelum buka toko juga mengumpulkan staffnya untuk olah raga, menari atau “penataran”.
Dulu sering sekali tampak orang lokal yang keluar pakai piyama. Entah itu belanja ke pasar, supermarket, ke bank, atau sekedar jalan-jalan. Sekarang sudah semakin jarang. Kabarnya ada himbauan di media massa supaya mereka meninggalkan kebiasaan ini karena menjadi rasan-rasan para laowai (=foreigners).
Pemerintah China juga mulai memperhatikan para penyandang cacat dalam membangun kota. Walaupun kalau dibandingkan negara maju masih kalah, tetapi sudah jauh lebih baik daripada Indonesia. Contohnya trotoar untuk pejalan kaki dibuat dengan dua batu yang berbeda, untuk menuntun para tuna netra (lihat tanda panah di foto 18 dan 19).
Suatu hari aku melihat sekelompok orang, semuanya sudah middle aged. Perkiraanku paling muda sekitar 50 tahun. Mereka keluar dari gang kecil. Semuanya membawa tongkat yang bercapit di ujungnya. Pertama aku nggak tau mereka ini mau apa. Ternyata mereka memunguti sampah yang ada di jalan. Sepertinya mereka melakukan ini dengan sukarela. Betul-betul salut deh! Daripada ngumpul ngerumpi kanan kiri nggak jelas, mending jalan-jalan sambil munguti sampah. Badan menjadi sehat, lingkungan menjadi bersih.
Tidak hanya pembangunan kota yang tambah maju. Sikap masyarakatnya juga bertambah baik, walaupun terus terang tidak secepat pembanguan kotanya. Jadi jangan heran kalau masih banyak orang yang ke toilet nggak ditutup pintunya, habis pakai toilet nggak disiram, atau orang naik lift sambil merokok, orang yang berusaha nyerobot antrian, pelayanan customer service yang kurang baik, orang yang berselisih paham di tempat umum sambil teriak-teriak, dll.
Ya dimaklumi saja. Tentunya merubah kebiasaan dan mendidik rakyak yang segitu banyak bukan pekerjaan mudah. Hanya butuh waktu 3 dekade untuk merubah China dari negara miskin menjadi salah satu negara terkaya di dunia. Kita tunggu saja beberapa tahun lagi. Jika pendidikan sudah merata, maka sikap masyarakatnya juga akan semakin baik.
Terakhir, bagi yang berencana ke Shanghai, ada satu layanan publik berbahasa Inggris gratis yang bisa sangat bermanfaat, yaitu nomor telpon 962288. Ini adalah nomor Shanghai Call Center yang melayani permintaan informasi alamat dan nomor telpon (hampir) apa saja. Mereka bisa membantu kita mencarikan alamat bar, restoran, apotik, rumah sakit, bahkan tukang listrik sekalipun. Mereka juga bisa membantu kita menerjemahkan dari bahasa Inggris ke Mandarin jika kita mengalami kesulitan dengan sopir taksi, dokter, pegawai toko, dll. Bisa dibilang ini nomor keramatnya para turis dan expat yang tinggal di Shanghai.
May 14th, 2011 at 15:27
GANDALF: Haha, ga ada pengalaman buruk sih, malah seneng disuguhin sambel pedes ala Nyonya Gandalf! Cuma aku ini udah biasa tinggal dekat air (di Kalbar sana), jadi pas ke Haitan (Bund) kena hembusan angin musim gugur, rasanya nikmat sekali! Suzhou kan kota tua, pemandangannya ga jauh beda dengan Jinan. Cantik, tapi berhubung aku udah bertahun2 di Jinan yang ga jauh2 amat bedanya dengan Suzhou, jadi ga begitu terasa keindahannya. Jujur aja kalau bukan karena hebohnya taman2 buatan manusia namun digambarkan seperti taman alami yg kubaca di buku2, aku malah ga tau Suzhou. Kebetulan ada Kokiers di sana, nah sekalian main (sapa suruh Gandalf sellau misterius, kan bikin penasaran jadinya, hahaha). BTW Hangzhou juga oke, cuma tetep Shanghai favoritku!
Kalau Hong Kong meski juga dekat air tapi aku ga suka dengan manusia yg rasanya terlalu hiruk-pikuk. Duh! Untung ada Wenny Bebek di sana, kalau nggak aku malas banget. Enakan jjs sama Wenny, ngobrol di jalan sambil ketawa-ketiwi.
Tammy: Lom pernah ke sana. banyak temen2 Kalbar yg sekolah di sana (Xiamen University), cuma koq aku ga tertarik yah ke sana……
May 14th, 2011 at 12:17
gan: halah! main rahasia2an! ya wis, tak simpulkan dewe aja.
lani: nek ngguyu ojo nemen2, engko keselek!
May 14th, 2011 at 11:21
KANG ANUUUUUU……..komentar 17, mo nanya OTOT yg sebelah mana yg suka kejang2?????? wakakkak…….mungkin perlu dipijat??? diteraphy???? waahahaha
May 14th, 2011 at 09:56
Tammy: nah kan gak ngakuuu…
eh, what happened to Mea in Suzhou, stayed in Suzhou, hahaha….
May 14th, 2011 at 09:29
mea: pengalaman buruk di SZ? kau diapain sama si mbah??
May 14th, 2011 at 09:22
gan: huahahaha!!! sampe bingung aku! sumprit gak sadar kalo ada orang setengah mudo. sampe tak liat lagi fotonya. tp sayang kok dr belakang.

May 14th, 2011 at 09:08
Tammy: itu mau moto pasar apa moto orang gak pake baju sih? ngaku aja deh…
Mea: lho kirain kota yg paling kamu suka Suzhou, bukan ya? oh ada pengalaman buruk ya? hahaha….
May 14th, 2011 at 05:52
Anu: cari blind man massage aja. mrk lebih hebat! suamiku duluuu pernah back injury. trs ke blind man, dia bisa tau. dia raba2 tempat yg bekas injury itu sambil bilang “bu hao” (nggak baik).
Mea: iya, mereka suka olah raga ya. dgn meningkatnya situasi ekonomi mrk, hidup juga lbh nyantai, pagi ato sore bisa ngumpul2 senam n nari. pertama kali liat mrk cha-cha ato waltz aku ngerasa lucu juga.
btw, pernah ke Xiamen nggak? enak juga kotanya. dekat Gulangyu yg bebas kendaraan bermotor.
EAI: wah gak tau juga skrg masih berlaku nggak, kalo ribuan taun yg lalu sih iya. yg lain blm apa2, mrk sudah bisa bikin tembikar, porselin, dll. skrg apa iya mrk berpikirnya lbh maju ato catching up aja. btw, makasih juga sudah mampir.