[Serial de Passer] Astari Kehilangan Ibunya

Dian Nugraheni

 

Astari kecil berjalan berjingkat setengah berlari, seperti berirama. Mungkin dia berjingkat-jingkat sembari menyenandungkan nada. Rambut ekor kuda berpita merah, menghiasi wajahnya yang bersih, ikut pula bergoyang ke sana kemari. Mestinya anak semanis ini akan pergi pulang menuju rumahnya. Tapi, tidak dengan Astari, dia pergi menuju sebuah pasar, masih berseragam sekolah, lengkap dengan sepatu dan tas di pundaknya. Usianya 8 tahun waktu itu…

Sampai di pasar, dia mendapati sepasang orang tua, ya, kedua Embahnya,Kakek Neneknya, memeluknya, kangen seperti berhari-hari tak bertemu, kemudian nglendot dan menciumi pipi keriput Kakek Neneknya.

“Piye sekolahmu, Nduk..hari ini kamu bisa nggak mengikuti pelajaran..?” tanya Mbah Kakungnya.

Astari kecil mengangguk-angguk, melepas sepatunya, dan pergi menuju kios Yu Rumi, penjual Tikar pandan. Di situ dia ngumpet di antara tumpukan tikar dagangan Yu Rumi, dan ganti baju.

“Wes bali to Nduk..?” tanya Yu Rumi.

“Sudah, Yu.. Hari ini, laris nggak Yu, dagangannya”, tanya si kecil Astari, seperti layaknya orang dewasa berbasa basi.

“Durung, Nduk..ya semoga nanti ada yang beli sebelum kukutan..” balas Yu Rumi.

Tahun 70an akhir, menjelang 1980, Pasar Dungkebo, atau lengkapnya Kedung Kebo, sebuah pasar tradisional, redup, tapi cukup bersih. Tempatnya di sebuah cekungan di bawah ketinggian jalan aspal, mungkin memang dulunya sebuah kedung, atau kubangan air untuk berendam kerbau-kerbau setelah membajak sawah, entah berapa puluh tahun lalu.

Kendaraan yang lalu lalang pun tak begitu banyak pada jaman itu, motor dan mobil masih merupakan barang yang sangat langka. Apalagi, pasar Dungkebo ini hanyalah sebuah pasar sederhana yang berada di sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Hanya sepeda, dokar, dan becak yang meramaikan jalanan sepanjang pasar.Penjualnya pun masih menggunakan daun jati, atau daun pisang sebagai pembungkus. Tak ada tas kresek. Pembelanja membawa keranjang dari anyaman batang bambu yang dihaluskan.

Astari kecil bagaikan anak kandung pasar itu, karena Embahnya berjualan banyak macam barang, dari pecah belah, perhiasan emas, kain jarit, dan sebagainya. Ya, karena kios Mbahnya bagaikan Pegadaian kecil, beberapa orang sering menukarkan barang-barangnya dengan uang, bila kepepet kebutuhan. Kemudian, barang-barang itu akan dijual kembali oleh Mbah Lukito, begitu nama sepasang Kakek Nenek itu.

Selain itu, semua orang pasar mengenali Astari dengan baik, dan mereka berlomba-lomba menunjukkan kasih sayangnya pada gadis kecil berwajah terang itu.

“Astari.., sini Nak..” panggil Yu Suminah, penjual bubur sumsum.

Astari berjingkat kecil, berlari ke arah kios Yu Suminah, “Apa, Yu..?”

“Sini, makan bubur pacar dan bubur sumsum, mau pake pincuk apa mangkok..?” tanya Yu Suminah.

“Nggak, Yu, aku lagi nggak pengen bubur sumsum.. Mana daun pisang yang sudah disobekin?” tanya Astari.

Kemudian Astari duduk di sebuah dingklik, meletakkan serbet dipangkuannya, dan dengan cekatan mengambil lembar demi lembar daun pisang yang sudah disobekin, mengelapnya dengan serbet lain, sepintar orang dewasa melakukannya.

Sampai semua daun habis, dan dia menatanya pada sebuah tampah kecil, memandangi hasil kerjanya dengan puas.

“Kowe ki pancen sregep, As..” kata Yu Suminah. “Maturnuwun ya, Nduk Cah Ayu…”

Kemudian, sebuah lagi panggilan menyeru, “As.., sini Nduk..” hmm, itu suara Pak Minggu, laki-laki tua yang agak gemuk, bersama istrinya jualan bubur nasi dengan kuah terik tahu tempe.

“Ya.., sebentar..” kembali Astari berlari berjingkat berirama, sepertinya dia suka sekali berlari kecil.

“Ya, Pak Minggu..ada apa..?”

“Makan dulu.., tuh, sudah disediakan bubur terik. Kali ini istimewa, karena mbah Putri bikin telor rebus buatmu..” kata Pak Minggu.

“Belum lapar, kok Pak Minggu… Bitingnya habis nggak..?” tanya Astari. Biting adalah lidi dari tulang daun kelapa, yang dipotong kira-kira sepanjang 2.5 cm dengan kedua ujung lancip, untuk disemat pada daun pembungkus bubur dagangan pasangan Pak dan Bu Minggu.

Astari kecil pun sigap memotong-motong lidi dengan pisau tajam, beralaskan sebuah kayu sebagai talenannya, kemudian mengumpulkannya pada sebuah muk, kaleng kecil bekas susu kental manis yang sudah dibuka, dan dirapikan pinggirannya.

“Lha wong kon maem kok malah nyambut gawe, to..Mbok bali sekolah ki maem sik..” kata Bu Minggu.

Akhirnya, Astari makan juga bubur terik dan sebuah telur rebus. “Enak, Bu Minggu..terimakasih ya..”

Astari tau, menjelang kukutan nanti, Mbahnya akan berkeliling menanyakan pada para penjual, makanan apa saja yang sudah Astari makan. Tapi Astari juga tau, tak satu penjual pun mau dibayar atas apa yang dimakannya.

Astari kembali mendapati kedua Mbahnya, memperhatikan Mbah Kakungnya yang sedang menarik-narik asap di mulutnya, dari sebuah rokok menyan, berbentuk seperti sebuah kapur tulis yang masih utuh, agak lebih besar sedikit, dan baunya..khas sekali. Astari tertawa-tawa menghalau-halau asap yang sengaja disemburkan ke mukanya oleh Mbah Kakungnya. Mereka bercanda-canda kecil.

Menjelang jam 12 siang, Astari menguap, mengantuk.Kali ini dia berjingkat ke kios Yu Rumi, “Yu, aku ngantuk..” katanya.

“Kene Nduk..bobok kene..” sigap yu Rumi menata bantalnya yang bersarung putih bersih. Di balik tumpukan tikar, Astari terbuai rasa lelahnya sepulang sekolah, dan semilir sejuk udara yang belum terpapar polusi, cepat mengantarnya pada kepulasan.

Satu jam kemudian, Astari pelan-pelan terbangun membuka matanya, ketika dirasanya, ada sepasang mata menatapnya.., Yu Rumi memandanginya sambil berkaca-kaca. Wajah Yu Rumi yang manis, menahan-nahan isak tangisnya. Masih dalam keadaan terbaring, Astari bertanya, “Kenapa Yu Rumi nangis..?”

Yu Rumi mengelus-elus pipi Astari yang gembul, putih, sedikit memerah, “Nggak apa-apa Nduk.., aku sayang sama kamu…”

“Ya, aku tau itu Yu Rumi..” kata Astari sambil memegangi tangan Yu Rumi yang masih mengelus pipinya, dan menciumi tangan Yu Rumi.

“Ibumu dulu temanku sekolah. Ibumu kuwi pinter tenan, nggak kayak Yu Rumi. Ibumu itu cantik, baik..”

“YU Rumi juga cantik..” Yu Rumi tertawa kecil di sela air matanya.

“Di mana Ibuku Yu Rumi..?” pertanyaan ini tak pernah berani disampaikannya pada Mbahnya, entah kenapa..

“Ibumu ke Jakarta, cari uang buat sekolah kamu. Percaya padaku, Nduk..suatu hari kamu pasti sekolah tinggi, jadi wong pinter..”

“Apakah Jakarta itu jauh, Yu..?” tanya Astari lagi.

“Ya, jauh, naik kereta, malam dari sini, pagi sampai Jakarta..” Yu Rumi menjelaskan singkat.

“Apa Ibuku suka menulis surat pada Yu Rumi..?”

“Enggak, Nduk..” jawab Yu Rumi lemah.

“Tidak juga pada Embah..” kata Astari sedih.

“Sudah, jangan sedih, suatu hari nanti Ibumu pasti pulang..” kata Yu Rumi.

Astari kecil terbawa pada lamunan, ingatannya kembali pada waktu di suatu sore yang mendung, kira-kira setahun yang lalu. Hujan gerimis menitik..”Ibu mau ke rumah Bu Nanik, bantu-bantu menyiapkan pesta kawinan anaknya, Mas Aji..tau kan..?” kata Ibunya waktu itu.

Astari mengangguk, memandangi Ibunya yang berambut ikal, diikat satu ke belakang, berbaju kuning berbintik hitam. Astari sangat senang bila Ibunya memakai baju itu, tampak anggun dalam kesederhanaannya.

Yang Astari tidak tau, mengapa Ibunya menciuminya bertubi-tubi, memeluknya luar biasa lekat, kalau cuma mau pergi ke rumah Bu Nanik untuk membantu persiapan perhelatan..? “Astari nggak boleh nakal ya, nurut sama Mbah..,” cuma itu pesan Ibunya, dengan mata berkaca-kaca, persis mata Yu Rumi tadi.

Yang Astari tahu, sejak sore itu, sampai detik ini, Ibunya tak pernah lagi kembali pulang ke rumah. Astari hanya bisa terdiam, kehilangan, merasa kosong, tak mengerti, tapi tak mampu bertanya, tak pula ada yang menjelaskan. Seperti ada yang disembunyikan, semua orang dewasa diam.

Kemudian Astari sakit panas, tapi segera sembuh setelah dibawa ke Pak Mantri Tardi, dan dikasih obat turun panas.

Selanjutnya, Astari hidup dipelihara Embahnya yang sangat menyayanginya. Astari tak sempat mengeluarkan kalimat tanya apa pun. Hanya diam..diam.., sambil, sebagai anak kecil, sedikit demi sedikit dia berpikir, apa yang sebenarnya sedang terjadi…

Dan, sejak saat itu pula, Astari sangat merasa terperangkap hatinya, ketakutan, bila melihat awan mendung, gerimis, apalagi hujan berpetir.. Suasana itu yang membawa Ibunya pergi menghilang, dan Astari bertanya-tanya, apakah Ibunya membawa bekal baju untuk ganti, bila kehujanan dan kedinginan di jalanan yang gelap, entah di mana…

Salam de Passer, to be continued..

 

 

Catatan :
piye = bagaimana
Nduk = panggilan sayang untuk anak kecil perempuan, Jawa
durung = belum
kukutan = kemas-kemas menjelang tutup pasar
pincuk = mangkok dari daun pisang
dingklik = kursi kayu dengan kaki yang sangat pendek
tampah = nampan dari anyaman bilah bambu yang sudah ditipiskan
kowe = kamu
pancen = memang
sregep = rajin
kon, kongkon, dikongkon = disuruh
Cah, bocah = anak kecil
nyambut gawe = bekerja
bali = pulang
kuwi = itu
tenan = memang benar
kene = mari, kemari

 

Carlin Spring,

Arlington, Virginia

Dian Nugraheni

(ketika hari-hari mulai memutih…kehilangan warna….)

 

 

16 Comments to "[Serial de Passer] Astari Kehilangan Ibunya"

  1. non sibi  20 May, 2011 at 04:05

    Banyak nama2 (benda/barang) yg disebutkan disini yg mengingatkanku akan masa kecilku yg indah.
    Terima kasih Dian…

  2. Hennie Triana Oberst  14 May, 2011 at 23:24

    Aku jadi sedih nih setelah membaca cerita ini

  3. anoew  14 May, 2011 at 19:37

    Ibunya Astari ke Jakarta dan gk pulang-pulang, mungkin sudah jadi bintang sinetron dan hidup enak di apartemen.

  4. Djoko Paisan  14 May, 2011 at 03:59

    Mbak Dian…
    Terimakasih untuk ceritanya….
    Jadi ingat saat kecil dulu, juga harus bantu di warung, bikin ( potongi ) biting, bikin bersih cabe rawit dari gagangnya…. Kadang juga beli sesuatu dipasar terdekat, bila ada yang lupa saat kaka Dj. berbelanja.
    Nah ya, kenangan yang indah….
    Salam manis dari Mainz..

  5. EA.Inakawa  14 May, 2011 at 00:49

    kisah gadis kecil ini ada disekitar kita & itu selalu menjadi sebuah episode bersambung……latar belakangnya pasti tak terlepas dari sebuah impian ibu si gadis kecil yg ingin mencari kehidupan lebih baik di kota besar,dan diantara mereka adalah TKI kita. Senang membaca kisah hidup & nyata ini. salam baik dari Kinshasa

  6. IWAN SATYANEGARA KAMAH  13 May, 2011 at 16:10

    Kok baca tulisan Dian Nugraheni, inget waktu suka main ke Pasar Wage di Purwokerto. Cuma situasinya berbeda. Dalam cerita ini kok sedih ya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.