Tiga Minggu Pertama di Fukushima

Sakura

 

Pada artikel saya sebelumnya, saya pernah menuliskan bahwa sebenarnya saya mempunyai rencana untuk pindah ke Fukushima-shi pada awal April lalu. Setelah mengalami penundaan selama 1 bulan untuk pindah ke Fukushima-shi akibat efek gempa 9.0 M tanggal 11 Maret lalu, akhirnya tanggal 26 April aku pindah ke Fukushima-shi.

Suatu catatan tersendiri, penundaan proyek riset yang harus saya lakukan di Fukushima Medical University tidak terkait dengan efek NPP (nuclear plant power) Fukushima, tetapi lebih difokuskan kepada kekhawatiran adanya gempa besar susulan. Akan saya jelaskan di bawah ini lebih lanjut mengapa penduduk di Fukushima-shi terlihat `tenang-tenang saja` dengan efek NPP Fukushima.

Perjalanan melalui highway membutuhkan waktu sekitar 7 jam, normalnya hanya 5-6 jam, tetapi karena highway dari Utsunomiya ke Fukushima masih tidak rata (`gata-gata` bahasa Jepangnya), perjalanan jadi agak lambat. Memang beberapa ruas jalan terlihat aspalnya masih baru, ada sekitar 7 ruas jalan yang mengalami kerusakan akibat gempa, semua sudah diperbaiki, tetapi beberapa pondasi jembatan tertekuk ke atas akibat gempa, perbaikan jalan tidak bisa 100% mulus seperti sedia kala.

Suatu pemandangan tersendiri sepanjang jalan, melihat masih banyak atap rumah-rumah yang ditutup lembaran vynil plastic warna biru karena atap rumah rusak akibat gempa Maret lalu. Sebagaimana diberitakan di TV Jepang dan media massa Jepang lainnya, gempa-gempa susulan masih terus terjadi di area yang tertimpa gempa hebat pada Maret lalu (Sendai, Iwate, Miyage, Fukushima), bahkan sampai ke arah Selatan (Saitama, Ibaraki) dan 1-2 kali gempa selama bulan April juga masih terjadi sampai di Shizuoka.

Hingga hari ini (tanggal 10 Mei), sedikitnya sehari 1-2 kali gempa susulan masih terjadi di Fukushima-shi, level gempanya tidak sebesar di daerah Hamadori (daerah pesisir pantai), di Fukushima-shi yang terletak di sebelah dalam (Nakadori) level gempanya sekitar 2-4 MW (MW adalah satuan moment magnitude scale (MMS) yang terbaru, untuk merivisi satuan gempa yang lama, yang mengikuti scale Richter (ML)).

Hari pertama penyambutan kedatanganku ke Fukushima-shi adalah dari gempa 4M pada tanggal 26 April jam 3 dini hari, sekitar 1 menit. Memang saat itu saya agak khawatir, karena baru pindah, tumpukan barang-barang dalam kardus-kardus besar masih disusun ke atas dan ruangan apartment-ku ada di lantai 5, hanya beberapa kardus yang sempat dibongkar, terutama kardus yang isinya peralatan tidur.

Badanku capek sekali memangku si Moonshine dalam perjalanan dari Shizuoka ke Fukushima, jadi yang penting tidur dulu pada malam pertama tiba di Fukushima-shi. Moonshine adalah kucingku seberat 6,8 kg. Semula dia saya letakkan di sebelah tempat dudukku dalam mobil, tetapi karena cerewet dan terlihat stress setalah 2 jam perjalanan, akhirnya aku pangku dia bersama box-nya sekalian supaya dia bisa lebih tenang, sambil diusap-usap, akibatnya 5 jam memangku kucing 7 kg kakiku jadi pegel.

Tidak disangka ternyata malam harinya langsung mengalami gempa lagi. Segera aku turunkan tumpukan-tumpukan kardus meski mata masih mengantuk dan badan masih pegel-pegel. Penyambutan resmi dari members laboratorium baru diadakan keesokan harinya tanggal 27 April malam di restoran Italia..yummy!

Tanggal 27 April pagi aku masih tidak ke luar rumah, karena masih membongkar-bongkar tumpukan kardus supaya aman dari gempa susulan. Ada gempa kecil lagi pada pagi itu, mungkin sekitar 2 Mw (tidak tahu pastinya karena saat itu TV belum disetting). Sampai aku sempat mengeluh, `gempa lagi, gempa lagi, salah `kali ya pindah ke sini`. Tapi setelah 3 minggu di sini, kok jadi `kebal` dengan gempa-gempa susulan, sampai si Moonshine juga sudah bisa cuek dan tidak masuk ke dalam rumah kalau pas berada di balcony.

Karena kebetulan aktivitas laboratoium baru akan dimulai setelah liburan Golden Week (jadi setelah tanggal 5 Mei), sejak tanggal 28 April sampai 5 Mei kerjaanku cuma kelayapan seputar kota untuk pengenalan kota sambil belanja barang-barang dan bahan makanan, dan registrasi status penduduk ke City Hall Fukushima.

Iseng-iseng saya tanyakan ke officer di City Hall, sudah berapa banyak orang asing yang masuk ke Fukushima-shi, dijawab, belum seorang pun, jadi cuma saya seorang yang pindah masuk ke Fukushima-shi sejak terjadinya kecelakaan NPP Fukushima. Sebagaimana diketahui, reaksi internsional cukup panik akibat kecelakaan tersebut, Amerika, Australia, dan Swedia menginstruksikan warganya untuk mengungsi di luar radius 80 km dari NPP I Fukushima.

Kemudian disusul oleh Korea Selatan. Spanyol juga tidak kalah hebohnya, sampai dengan radius 120 km harus diungsikan. Dan yang wah lagi adalah Perancis, Inggris, Jerman, Swiss, Austria, Italia, Selandia Baru, Italiam Finlandia, Kenya, dan Israel, pokoke sampai Tokyo harus diungsikan, padahal Tokyo jauh sekali, berada 250 km dari NPP I Fukushima. Australia kelihatannya jadi tambah panik setelah itu, akhirnya mengeluarkan keputusan yang sama, yang di Tokyo harus mengungsi semua juga….beginilah efek kalau berita jadi simpang-siur, terjadi salah-terjemahan bahasa Jepang, atau membuat keputusan per negara.

Sampai radius 80 km, masih dimaklumi, karena Amerika mengkhawatirkan efek dari tank no.2 yang sekarang bangunannya masih terlihat utuh dari luar, kemungkinan jika terjadi explosi di tank tersebut akan mengakibatkan efek yang lebih berat. Tapi kalau sampai daerah Tokyo harus diungsikan tanpa dasar alasan yang jelas, ini namannya ikut-ikutan heboh tanpa mengerti apa-apa.

Banyak pihak yang menyamakan kecelakaan di NPP I Fukushima sama dengan kecelakaan di Three Miles dan Chernobyl, padahal jelas-jelas berbeda. Sayangnya, pemerintah Jepang sendiri tidak berupaya lebih jauh untuk membuat penjelasan dalam bahasa Inggris secara gambling dan jelas. Chanel-chanel TV Jepang juga hanya membuat penjelasan lebih dalam di dalam bahasa Jepang, yang tentunya hanya bisa dimengerti oleh orang-orang asing yang mengerti bahasa Jepang dengan baik.

Beginilah tipe orang Jepang, tidak mau show off kalau tidak disuruh, meski di luar Jepang berita sudah heboh, simpang siur tidak jelas dan semakin absurd dan chaos.

Tempat tinggalku di Fukushima-shi tepatnya berada pada 57 km dari lokasi NPP I Fukushima di Ookuma yang mengalami kecelakaan. Sebelum terjadinya gempa tanggal 11 Maret lalu, level radiasi alami di Fukushima sebesar 0.15 micro Sv/h.  Fukushima-shi sendiri, mencapai level radiasi tertinggi setelah gempa yaitu pada tanggal 16 Maret, sebesar 18.4 micro Sv/h di tempat terbuka di sekitar Fukushima City Hall dan 6.97 micro Sv/h di Fukushima Medical University.

Saat ini (tanggal 8 Mei lalu), level radiasinya sudah berangsur turun, maksimum pada 1.52 micro Sv/h di sekitar tempat terbuka di Fukushima City Hall, 0.96 micro Sv/h di sekitar bypass (highway) dan 0.48 micro Sv/h di sekitar Fukushima Medical University. Jadi dapat dikatakan bahwa Fukushima-shi level radiasinya sekitar 10-20 kali dari radiasi alami yang mana hal ini sama sekali tidak berpengaruh terhadap manusia.

Tambahan lagi, mengikuti pergerakan angin, kadang level radiasinya turun banyak, jadi tidak bisa diambil perhitungan bahwa perhari di Fukushima-shi level radiasinya sebesar 1.52 micro Sv/h x 24 h = 36.48 micro Sv/d. Lebih jauh lagi, tidak 24 jam seseorang berada di luar ruangan, di mana level radiasi di dalam ruangan sangat kecil sekali, sehingga perhitungan 36.48 micro Sv/d tidak bisa diambil sebagai acuan dosis akumulasi per hari.

Kehidupan di Fukushima-shi sehari-hari berjalan normal, tidak perlu memakai masker saat berada di luar ruangan. Di sini yang mengenakan masker hanya orang-orang yang mempunyai hay fever terhadap pollen (termasuk saya), karena di sini sedang musim semi dan banyak serbuk bunga. Untuk anak-anak, maksimum level radiasi yang diperbolehkan sebesar 20 mili Sv/tahun. Di sekolah-sekolah dan di tempat terbuka tidak banyak terlihat anak-anak melakukan aktivitas, karena kegiatan dilakukan indoor termasuk kegiatan olah-raga di sekolah-sekolah.

Pada liburan sepanjang Golden Week lalu (29-30 April dan 1, 3-5 Mei lalu) di tempat-tempat umum terlihat biasa-biasa saja dan tetap ramai. Supply bahan makanan untuk penduduk kota Fukushima semuanya didatangkan dari luar Fukushima-ken (propinsi Fukushima) dengan harga yang sama dan tidak mengalami perubahan. Beberapa bahan makanan, mengalami kenaikan harga sebesar 10-20 yen per item, tapi hanya sedikit sekali yang mengalami kenaikan harga.

Jadi tidak ada perubahan berarti bagi penduduk Fukushima-shi, baik sebelum dan sesudah kecelakaan reaktor tersebut. Kota di sebelah Fukushima, di Koriyama-shi, level radiasinya sekitar 3.7 micro Sv/h, karena efek arah angin. Kadang-kadang level radiasi tidak bisa ditebak, dalam radius 20 km untuk daerah-daerah yang ke arah dalam propinsi Fukushima, level radiasinya sangat rendah sekali, 0.6 micro Sv/h bahkan sampai 0.3 micro Sv/h, tetapi untuk daerah yang lebih ke Utara, seperti desa Minami Soumashi, level radiasinya cukup tinggi.

Ini adalah daerah terberat yang mengalami kerusakan akibat gempa bumi, tsunami dan disusul kemudian oleh efek kecelakaan NPP I Fukushima. Desa tersebut berada dalam radius 25 km dari lokasi kecelakaan nuklir tersebut. Hingga kepala desanya tahun ini dinobatkan sebagai salah seorang terbaik dari 100 orang terbaik di dunia tahun ini. Kalau saya yang jadi kepala desanya, kepala saya pasti sudah dilibet kain karena pusying 1000 keliling mengalami masalah bertubi-tubi yang menghantam desa, belum lagi kehilangan 400 orang penduduk yang tewas akibat gempa dan tsunami.

Untuk daerah-daerah yang berada dalam radius 20 km, pemerintah Jepang mengijinkan penduduk setempat untuk pulang ke rumah masing-masing untuk mengambil barang-barang, selama maksimum 2 jam per orang dan hanya diperbolehkan membawa barang dari rumahnya sebesar maksimum volume 70 cm x 70 cm x 70 cm. Siapa yang ketahuan melanggar aturan, dikenakan pinalti denda sebesar 100.000 yen per orang.

Pemerintah Jepang sendiri, hanya mengcover kerugian sebesar 1 juta yen per keluarga untuk penduduk dalam lokasi sampai radius 20 km dari lokasi NPP I Fukushima. Suatu harga yang sangat rendah, jika dihitung salary rata-rata sebesar 300 ribu yen per keluarga, dan terpaksa harus mengungsi selama minimum 6 bulan dengan kehilangan segala privacy di tempat pengungsian, tentulah wajar jika penduduk di lokasi tersebut sangat marah terhadap pemerintah Jepang (terhadap PM Jepang dan TEPCO Jepang).

Sebenarnya pemerintah Jepang telah memperhitungkan untuk pembangunan semua bangunan PLTN dalam kondisi yang aman dari gempa dan tsunami, sayangnya, tsunami 11 Maret lalu memang jauh di luar dugaan sehingga mencapai rata-rata 15 m dan ketinggian tertinggi 38 m di Miyagi. Sehingga derita yang harus ditanggung penduduk ternyata harus dibayar ternyata cukup mahal dan semua bangunan PLTN se Jepang yang berada di lokasi pesisir pantai harus direnovasi dan dinaikkan sampai penambahan ketinggian 30 m dari permukaan laut.

Setelah shutdown-nya 4 lokasi PLTN termasuk di Onagawa dan Fukushima seteleh gempa dan tsunami, disusul shutdown-nya 1 lagi PLTN di Hamaoka (Shizuoka)  tanggal 6 Mei lalu, TEPCO Jepang harus melakukan penghematan besar-besaran terhadap sumber daya listrik untuk supply daerah Kanto dan Tohoku, terutama menghadapi musim panas nanti. Akibatnya, pemerintah Jepang akan menaikkan harga tarif listrik untuk seluruh Jepang.

Penutupan NPP Hamaoka juga menimbulkan kontra dari beberapa propinsi lain, yang merasa Hamaoka di-anakemas-kan atau terpaksa harus menanggung supply energy listrik untuk Kanto dan Tohoku juga. Alasan penutupan NPP Hamaoka, karena diperkirakan dalam 30 tahun ini akan terjadinya gempa sampai dengan 8 M adalah sebesar 87%. Memang sekarang banyak pro dan kontra dalam masyarakat Jepang sendiri untuk masalah PLTN.

Karena ide di kepala saya cukup banyak untuk membahas masalah ini, saya akan tuliskan dalam artikel tersendiri kemudian. Saat ini Jepang sendiri mempunyai 54 lokasi PLTN, dan 1 PLTN  sekarang dalam pembangunan, yang kelihatannya ini sangat berlebihan untuk daerah yang rawan gempa seperti Jepang, meski harga listrik dari PLTN adalah yang termurah, tetapi efek seperti NPP I Fukushima yang harus ditanggung ternyata juga cukup mahal.

Tanggal 5 Mei lalu saya sempat mengikuti ceramah dari gubernur Fukushima mengenai safety di Fukushima-shi dan ditambah ceramah dari seorang dokter yang ibunya adalah salah seorang korban dari ledakan nuklir di Nagasaki tahun 1945 lalu, yang intinya meminta semua orang di Fukushima Medical University tetap tenang dan memberikan informasi yang benar kepada masyarakat umum.

Saya cukupkan sampai di sini. Insya Allah disambung dalam artikel yang lain lagi, yang selesai nulisnnya kapan masih belum jelas, karena kegiatan lab, saya sudah mulai aktif dan saya jadi mulai sibuk. Salam dari Fukushima-shi yang semuanya biasa-biasa saja di sini…hihihi…

 

Ilustrasi:

thestate.com
guardian.co.uk
csmonitor.com

 

 

16 Comments to "Tiga Minggu Pertama di Fukushima"

  1. Sakura  16 May, 2011 at 10:26

    Selamat pagiii…artikel saya berikutnya tentang PLTN Jepang, akan saya bahas lebih detail di sana. Mohon maaf yang ini artikelnya belum selesai..hehehe..

    Om Dj., tidak ada yang cari penyakit dan tidak ada penyakit di sini. Justru riset saya untuk kemajuan dunia kedokteran.
    Inilah yang saya sesalkan info tentang PLTN Jepang yang menjadi heboh di Jerman juga, jadi beranggapan bahwa di sini berbahaya. Makanya saya tulis artikel ini, untuk menginfokan, bahwa Fukushima itu luas dan tidak perlu berlebihan `dilarang masuk Jepang/Fukushima` seperti yang negara anda lakukan.
    Masalah gempa di Jepang, semua wilayah Jepang rawan gempa, dimanapun berada, persentasinya kemungkinan terjadinya gempa besar itu sama.
    Om Dj., saya hargai pendapat Om Dj., setiap orang punya pendapat berbeda.
    Duni saya duni riset, bukan dunia bisnis, saya tidak mengejar dana atau uang, yang saya kejar adalah ilmu yang masih baru dan belum banyak diketahui orang, iPS cells, itu yang saya kejar. Tahkan On Dj tentang iPS cells?
    Dlm artikel saya sebelum-sebelum ini, saya pernah menulis bahwa saya bahkan menolak tawaran menjadi dosen di tempat lain.
    Memang dunia riset nggak akan dimengerti oleh orang umum dengan mudah.

  2. Linda Cheang  16 May, 2011 at 09:27

    semangat hidup yang rruuuarrr bizasa,

  3. EA.Inakawa  14 May, 2011 at 01:02

    Sakura……siapa nyana yaa JEPANG yang kita kenal maju dalam technologi Gempa harus menerima pahit atas kedatangan Mr.Tsunami,apa lagi gagasan mereka dikemudian nanti…..dulu kita takut gempa & tak terpikir Tsunami,kelak pasti ada bencana lain yang nama nya entah apa,hanya TUHAN yang tau tentang skenarionya. Episode sebuah bencana masih tersimpan dibelakang layar dibalik jendela langit nun diatas sana eheheh. Terima kasih atas artikelnya,salam baik dari Kinshasa

  4. bernadette  13 May, 2011 at 22:57

    ada yang meltdown ~ waduh???
    Maaf sakura san.. Ga ngerti soal PLTN sama sekali. bisa buat artikel penjelasan yang gampang dimengerti???

    cheers..

    Bernadette

  5. Djoko Paisan  13 May, 2011 at 19:44

    Sakura….
    Terimakasih untuk informasi dari Fukushima…..
    Kalau Dj. yang ada didana, mungkin malah langsung pulang kampoeng saja.
    Daripada cari penyakit……
    Karena jelas, itu bencara nuklir bukan soal sepele, seperti kalau keracunan makan singkong…..
    Di Jerman, dengan banyaknya kejajdian tentang tenaga Nuklir ini, maka direncanakan 12 rahun lagi, akan keluar dari tenaga Nuklir….
    Nah ya, semoga Sakura sekeluarga ada sehat selalu.

  6. IWAN SATYANEGARA KAMAH  13 May, 2011 at 17:15

    Weleh-weleh….Jepang senang sekali dengan enerji nuklir ya? Kalau baca tulisan jadi makin percaya bahwa enerji adalah pilihan terakhir dan terburuk yang harus diambil dalam keadaan tidak ada plihan sama sekali.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.