Aku Benci Tapak Kakimu

Yuni Astuti – Banten

 

Aku masih sepuluh tahun kala itu. Pada suatu hari seperti biasa aku bermain, namun ada hal tak biasa di rumah. Ramai.

Aku disuruh mandi lalu didandani. Sungguh aneh. Ada apa ini?

Disuruh Ibu aku masuk kamar yang telah rapi dihias bebungaan. Sprei cantik menghias kasur. Selang beberapa waktu, masuklah seorang pria yang usianya lebih tua dariku, kira-kira terpaut sepuluh tahun.

“Ibuuuuuuuuuuuuuuuuuu!”

Pria itu mendekatiku, mencoba untuk bicara, tapi aku amat ketakutan. Meronta darinya, berharap bisa keluar secepatnya dari kamar ini. Tidak! Aku tidak mau bersamanya. Siapa dia? Jangan-jangan dia penjahat!

Karena aku terus meronta dan berteriak, akhirnya si pria membiarkanku lari. Kusongsong Ibu dengan berurai airmata. “Ibu…! Siapa dia?”

“Dia suamimu.”

“Apa Bu? Aku kan masih kecil… Aku masih ingin main… masih ingin ngaji… Bu aku takut…..!”

Semua orang kebingungan. Pada masa ini perjodohan memang suatu hal yang lumrah. Si gadis masih kecil pun tak masalah. Pulang dari bermain, ditemukannya seorang pria asing mengaku sebagai suaminya. Sesuatu yang sangat kutakutkan tentang perjodohan ternyata terjadi saat ini.

Aku merajuk. Menangis tak mau berhenti. Malam ini, aku memaksa untuk tidur dengan Ibu. Aku tak ingin mendekati kamarku apalagi memasukinya.

—————————-

Hari-hari berikutnya, kudapati pria itu masih saja berada di rumahku. Tiap pagi, aku disuruhnya membuat kopi. Mendengarnya aku heran dan bingung. Namun Ibu membimbingku apa saja yang harus kukerjakan. Waktu bermainku berkurang. Aku harus membuatkannya sarapan, menyiapkan makan siang, menemaninya makan, mencucikan pakaiannya, ah! Kenapa harus kulakukan semua ini?

“Salma, inilah tugasmu sebagai istri.”

“Istri? Bu… Salma gak suka dia! Salma benci orang itu!”

“Kenapa?”

Aku menunduk. “Salma…gak suka dia….”

Airmataku jatuh satu satu. Aku benar-benar terjebak dalam suasana yang aneh. Aku menikah tapi aku benci pernikahan ini. Aku dicintai, tapi aku tak mencintainya. Jangankan cinta padanya, melihat tapak kakinya pun sudah sangat muak. Ketika disuruh mencuci bajunya, dengan sadis kubiarkan saja setumpuk pakaian kotor itu terendam seharian, hingga akhirnya Ibu yang mencucikannya. Dan selama sebulan pernikahan, aku selalu tidur dengan Ibu. Aku tak pernah masuk ke kamarku sejak ada pria itu.

Keesokan harinya, dia berkata kepada Abah, “Abah, maaf, saya belum bisa menjadi suami yang baik. Salma saya beri talak satu.”

Alhamdulillah…..

————————–

Kembali aku merasakan masa kanak-kanak yang ceria. Tapi, setahun kemudian keluarga kami sering didatangi tamu seorang lelaki yang juga lebih tua dariku. Muda. Gagah. Entah untuk kepentingan apa dia sering datang ke rumah, yang jelas kadang Abah mengajakku duduk di sampingnya, mendengarkan lelaki itu bicara yang tak kumengerti.

Terlalu sering dia datang. Hingga akhirnya dia tak pulang lagi. Aku dinikahkan lagi untuk kedua kali.

Bedanya, aku tak tidur dengan Ibu.

Dia tak pernah menyuruhku membuat kopi, mencuci bajunya, memasak untuknya. Dia melakukannya sendiri dan membiarkanku bermain. Lama-kelamaan, dia mulai berani menyentuh tanganku, daguku, rambutku, tapi aku tetap tak mau melakukan tugasku —untuk yang satu itu—karena aku benar-benar takut!

Dua tahun dia bersabar, dengan cara menakutiku tentang cerita hantu pada malam jum’at kliwon. Dan sejak itu, semuanya berjalan seperti yang diinginkan orang dalam pernikahan. Aku telah belajar mencintainya.

 

 

7 Comments to "Aku Benci Tapak Kakimu"

  1. aimee  19 May, 2011 at 18:38

    yg pertama krg pinter..yg kedua lbh pinter…senangkan hati nya dahulu, baru dapati dia…

  2. J C  16 May, 2011 at 10:54

    Hadooooohhhhh…

    Itsmi, kalau yang namanya di Indonesia dengan adat budaya di banyak tempat masih seperti itu, dan pemerintahan yang korup seperti ini, hukum apapun tidak akan jalan di Indonesia…

  3. EA.Inakawa  16 May, 2011 at 04:04

    horeeeeeee achirnya Mbak Yuni mau dikawinin ehehehe syukur deh dapat suami yang penyabar…….nanti kalau banyak uang Mbak Yuni jangan suka keluyuran seperti Cici Lani yaaa,harus pandai masak dong seperti Peony,salam baik dari Antananarivo

  4. YUni  15 May, 2011 at 14:48

    pernikahan bukanlah suatu hal yang hanya berhubungan dengan laki2 dan wanita. tapi di sini ada wali yang berperan sebagai pihak yang menjadi rukun pernikahan. tidak masalah sebuah perjodohan terjadi, dan terbukti, Allah swt menjadikan cinta dan kasih di antara mereka yang menikah….

  5. Itsmi  15 May, 2011 at 13:06

    Ada pembaca yang bisa menerangkan bagaimana hukum menghadapi adat yang terkebelakang ini ???? bilamana ada hukum nya, apa sebabnya pemerintah tidak turun tangan dan membelah hak anak ini ???

  6. HennieTriana Oberst  15 May, 2011 at 11:57

    Sedih membayangkan situasi seperti itu

  7. Linda Cheang  15 May, 2011 at 11:11

    ini, mah, cintanya datang disengaja setelah akad nikah. hehehe…..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current ye@r *

Image (JPEG, max 50KB, please)