Catatan di Hari Ulang Tahun

Odi Shalahuddin

 

Luar biasa memang. Perkembangan teknologi, lahirnya jejaring sosial, membuat jarak bukan persoalan untuk saling menyapa, menjaga silaturahmi, mengucap salam, harapan dan doa, atau saling memberi peringatan.

Sungguh berbahagia diriku. Pada tanggal kelahiran, 23 September, sanak saudara, berbagai kawan, termasuk kawan-kawan semasa Sekolah Dasar, SMP, SMA, kawan-kawan kuliah, kawan-kawan kerja hingga kawan-kawan baru yang terjumpai pada tahun-tahun belakangan ini, termasuk pula kawan yang senantiasa bersapa namun belum berkesempatan bertatap muka, dari berbagai kalangan seperti aktivis gerakan sosial, aktivis anak, seniman, birokrat; dan dari segenap penjuru; semuanya hadir mengisi ruang-ruang di wall dan inbox-ku, atau menyempatkan diri mengirim sms dan telpon, mengucap selamat, membuka ruang harapan dan doa-doa yang seluruhnya berisikan kebaikan. Ah, pesta yang luar biasa, menurutku.

Pada kesempatan itu, diingatkan kembali tentang sosok-sosok kawan yang lama tak bersapa. Lebih dari 500 kawan hadir pada tanggal itu. Beberapa sempat bercakap dalam ruang komentar.

Nakalaaannnnn….wallnya dikonciiii….” teriak seorang sahabat yang kini menjadi wakil rakyat di Senayan (dan semoga tetap bisa menjaga amanah yang diembannya).

Ah, memang, aku sengaja menutup wall sehari sebelumnya. Bukan apa-apa, Satu hari setengah kegiatanku berada di luar. Aku ingin membaca, dan membalas satu-satu dari seluruh sanak saudara dan seluruh kawan yang menyampaikan ucapan selamat. Aku berusaha untuk tidak menggabungnya menjadi satu. Bukankah masing-masing telah meluangkan waktu, mengingat seorang kawan, dan menorehkan sesuatu. Maka akan tidak adil-lah bila aku mengabaikannya.

Siang, pada tanggal 23, ketika sudah berada di depan komputer dan terbukalah akses ke jejaring sosial itu, kubuka kembali wall. Dan segeralah meluncur berbagai sapa, ucapan, dan doa… Aku membalasnya satu persatu. Demikian pula ratusan yang hadir dalam inbox. Butuh waktu yang panjang memang. Melelahkan tapi juga mengasyikkan di tengah kebahagiaan dan keharuan.

Terlebih, seorang sahabat yang kini aktif menulis di note FB dan kompasiana, secara khusus membuat note tentang diriku. Ia membuka tulisannya: ”Hari ini genap bertambah usiamu, tapi jangan lupa dengan bertambahnya usiamu berarti makin berkurang pula usia kehidupan yang harus dijalani….”.

Ya, waktu terus saja bergerak. Kepala 4 sudah terlewati. Sapa itu, peringatan pula buat diriku. Semakin berkurang usia, apa yang sudah teraih? Apa yang sudah dilakukan untuk diri sendiri? Keluarga ? Orang lain ?

Ah, bila aku menuliskan tentang ini, bisa beragam tentunya komentar dari sanak saudara dan kawan-kawan. Sebagaimana beragamnya orang mensikapi tanggal dan bulan kelahiran. Tanggal kelahiran yang bukan berarti kita dalam perjalanan berputar dan berhenti pada titik yang sama, di titik nol. Bukan. Kita terus melangkah maju. Berada pada waktu yang sama di masa yang telah bertambah satu tahun.

Seorang anak akan sangat menunggu dan sangat bersuka cita ketika angka 17 tahun menghampiri dirinya. Seringkali pesta besar-besaran diselenggarakan.

Anak yang merasa terbebaskan dari dunia anak-anak, segera akan mendapat Kartu Tanda Penduduk, yang berarti akan ditempatkan sebagai orang dewasa (walau KHA menyatakan seorang anak berumur di bawah 18 tahun, tapi di Indonesia, kepemilikan KTP bisa dianggap sebagai kedewasaan seseorang, yang memiliki hak politik, terlibat memilih dalam pemilihan umum).

Pada bayangan anak, kungkungan yang dirasa ketika mencoba bergerak, dirasa akan hilang, dan orangtua ataupun masyarakat pada umumnya akan lebih memberikan kepercayaan. Walau pada akhirnya kelak disadari bahwa tanggung jawab bisa lebih berat.

Atau, bisa pula pemaknaan berkurangnya umur, menjadi peringatan tentang apa-apa yang telah kita lakukan dan semakin sedikit waktu yang tersisa. Sehingga tinggal pilihan untuk menentukan sikap, memperbaiki diri, melakukan yang terbaik sebisa mungkin dengan penuh semangat. Terlebih beberapa sahabat menuliskan:

Bertambah satu usiamu, oh, semoga penuh warna,” sapa sahabat yang juga duduk di Senayan, dan akhir-akhir ini tengah mendapatkan sorotan.

Bung, tetap setia di langkah yang kau tempuh,” peringatan sahabat yang dulu aktif menulis cerpen, dan kini telah bertahun menjadi jurnalis di salah satu media di Jakarta.

Semoga kau temukan yang masih kau cari, apapun itu,” sahabat yang kudengar lolos seleksi untuk mendapatkan beasiswa melanjutkan studinya.

Dan, yang membuatku tersenyum:

Semoga banyak anak, banyak menantu, banyak rejeki….,” tulis seorang senior yang aktif membangun jaringan kesenian dan mentasbihkan dirinya sebagai seorang networker, Halim Hade. Dua di depan, tampaknya sulit terlaksana kecuali bila ”anak’ dimaknakan berbeda bukan sekedar anak hubungan biologis, lantaran saya bergerak pada isu anak. Menjadi penyemangat seharusnya!

Ah, berbagai tulisan berisi berbagai harapan dan doa kebaikan: Panjang umur, sehat, dilimpahkan rejeki berlimpah, senantiasa mendapatkan Rahmat dari Allah, bahagia selalu, sukses, senantiasa mendapatkan kebaikan, dan sebagainya.

Terima kasih tentunya harus kusampaikan kepada semuanya. Sungguh…

Tapi terasa ada yang kosong. Ketika aku mencoba memaknakan hari kelahiran. Aku merasa, seharusnya peringatan ulang tahun bukanlah pesta karena kita telah berhasil melewati satu perjalanan selama setahun dari peringatan sebelumnya.  Lebih dari itu, bagaimana satu tahun perjalanan dilewati dan pada titik ini adalah ruang untuk mengadili diri sendiri, tentang apa saja yang telah diperbuat dan bagaimana hasilnya? Pada hari itu pula orang-orang bisa berbondong memberikan penilaian, termasuk mengkritik dan bilamana perlu memaki-maki apabila langkah yang berjalan dinilai menyimpang.

Berawal dari sini, seharusnya aku membuat pertanggung jawaban atas apa yang aku perbuat selama setahun. Untuk diriku, keluargaku, dan seluruh kawan-kawanku. Tulisan ini awalnya aku maksudkan untuk itu. Tapi secara jujur, aku telah gagal untuk membuat tulisan pertanggung jawaban itu.

Semoga selanjutnya, bisa…….

 

Yogyakarta, 24 September 2010: 02:24

 

 

12 Comments to "Catatan di Hari Ulang Tahun"

  1. Dewi Aichi  17 May, 2011 at 22:01

    Komen no 11, si si si…..siapaaaaaa?

  2. J C  16 May, 2011 at 10:55

    Mas Odi, setujuuuuu…refleksi diri, introspeksi, koreksi dan si-si yang lain lah…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.