Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Apek Latang

Monday, 16 May 2011

Viewed 2034 times, 1 times today | 30 Comments |

Hennie Triana Oberst

 

Dulu sewaktu masih kecil aku takut sekali dengan seorang lelaki tua turunan Cina. Kami menyebutnya Apek Latang. Kata Apek itu biasa dipakai di Medan untuk panggilan lelaki tua turunan Cina, sepertinya ini dialek Cina yang dipakai di Medan. Maklum cuma itu yang aku tau, tidak mengerti bahasa Cina sama sekali hehehe. Lelaki tua itu adalah seorang pembeli surat kabar dan majalah bekas. Ia biasa membawa dua keranjang anyaman dari bambu yang besar dan disatukan dengan tali dan seutas kayu yang disandangkan di bahunya. Kami di Medan menyebut mereka “Botot” (botot = butut).

Dia adalah langganan pembeli kertas-kertas bekas di rumah kami. Dulu almarhum orang tuaku selalu berlangganan beberapa surat kabar dan majalah. Jadi bisa dibayangkan banyaknya kertas yang menumpuk di rumah. Si lelaki tua itu sambil berjalan selalu berteriak lantang “Apek Latang hoii..”. Belakangan aku baru mengerti, kata Latang yang selalu dia teriakkan itu maksudnya adalah “Datang“. Mungkin karena lidahnya agak kaku menyebutkan bahasa Indonesia, maka ucapannya sedikit meleset seperti itu.

Setiap ia mampir ke rumah, pasti aku dicari-carinya. Katanya dia mau jadikan aku anak angkatnya, mau dibawanya dengan keranjang besarnya itu. Dia bilang wajahku cocok jadi anak Cina. Makin takut dan benci aku melihatnya. Ibuku hanya tersenyum-senyum saja, dan aku dengan segera menyembunyikan diri di kolong tempat tidur.

Pernah sekali waktu aku diajak Ibu menemaninya belanja ke warung yang jaraknya sekitar 50 meter dari rumah. Saat berada di warung, tiba-tiba aku mendengar sayup-sayup teriakan “Apek Latang hoiii..”. Secepat kilat aku lari sambil nangis pulang sendiri. Masa itu memang kendaraan di jalanan belum seramai sekarang.

Di rumah aku sembunyi sambil nangis memanggil-manggil Ibuku. Tidak lama kemudian Ibuku pun pulang sambil menangis dan memanggil-manggil namaku. Pastilah dia panik mengetahui anaknya tiba-tiba menghilang tanpa sebab. Mengetahui Ibu pulang, tangisku makin menjadi-jadi. Waktu Ibu bertanya kenapa aku pergi dan tidak pamit. Aku katakan bahwa ada Apek Latang. Ibuku langsung tertawa, kemudian mengingatkanku jangan pernah pergi begitu saja tanpa pamit.

Seingatku ketika aku duduk di kelas 2 Sekolah Dasar rasa takutku hilang terhadap si Apek Latang. Aku malah ikut membantu Ibuku kalau ia menjemput kertas-kertas bekas ke rumah kami. Aku mengerti setelah itu bahwa hal tersebut hanya lelucon baginya. Tetapi bagiku sebagai anak kecil hal tersebut sama sekali tak lucu, dan sangat mengganggu karena aku ketakutan setengah mati. Si Apek Latang ini sebenarnya adalah seorang yang sangat ramah, selalu tersenyum dan sikapnya selalu santun. Entah kapan pastinya ketika kami sadari bahwa si Apek Latang tak pernah muncul lagi.

Kemudian banyak Botot lain yang menggantikannya. Sekarang mereka membawa becak barang (ini istilah di Medan), becak yang diperuntukkan khusus mengangkut barang. Apakah ini budaya yang dibawa dari Cina? Selama di Shanghai dan Beijing banyak sekali becak barang seperti itu aku lihat berseliweran di jalan dengan membawa segala macam barang bekas.

Terima kasih buat redaksi dan juga sahabat Baltyra yang telah membaca.

 

Salam sejahtera selalu.

 

 

Share This Post

Posted by Monday, 16 May 2011 on 10:36.

Categories: Kehidupan. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

30 Responses to “Apek Latang”

Pages: « 3 2 [1]

  1. 10
    HennieTriana Oberst Says:

    Hallo NIA, hahaha…lucu banget istilahnya di sana
    Jadi kalo lebih dari satu gimana dong manggilnya?
    Terima kasih Nia.

  2. 9
    HennieTriana Oberst Says:

    JC, tengkyuu…banget.. sudah tayang hari ini.
    Benar sekali itu maksudnya si becak barang
    Becak siapa itu ya? hehehe
    Salam selalu.

  3. 8
    Lani Says:

    HENNIE…….apek itu mungkin empek tp bukan empek-empek itu mah makanan yg kusukai heheheh………tp dlm boso jowo apek=bau baju yg sdh sekian lamaaaaaaaaaaaaaa disimpan tanpa dicuci, la baunya apek hehehehe

  4. 7
    P@sP4mPr3s Says:

    hai…hai…. apa kabar =) sudah lama tak berjumpa di baltyra…. hahahaha
    baru selesai dapet kunjungan 2 monster kecil di rumah… dari minggu lalu =)
    kapal pecah uiii……

    kalo disingapura ini disebut karung guni… kenapa karung guni, entah, apa karena bawaannya pake karung guni..

  5. 6
    Imeii Says:

    Hennie.. jadi ingat masa kecilku ada encek2 kue… udah tua, kita panggil dia acek kue… jualan kue pakai pikulan, setiap hari kutungguin, setiap datang pasti teriak.. kueee kueee, maka larilah aku, apapun kesibukanku saat itu pasti kutinggalin, sekedar untuk membeli kuenya, adikku waktu itu masih kecil, nah setiap acek kue datang dan kita sibuk berlarian turun, adikku mau ikutan, tapi karena masih kecil belum bisa turun tangga (dari lantai 2), adikku nangis sambil tendang2 kaki minta digendongin.. hehe, kita2 mana peduli, lari aja supaya cepak dapat kue.. suatu kenangan masa kecil yang sampai saat ini sering kita ungkit, sekedar gangguin adikku haha

  6. 5
    Djoko Paisan Says:

    Hennie…..
    Hati-hati di Shanghai banyak apek lantang……
    Jangan sampai nanti kamu dibawa dimasukan ke kerajang…..hahahahahahaha…..!!!
    Salam manis darei Mainz dan selamat berlibur….

  7. 4
    J C Says:

    HAH? Malah masih heran baca komen Nia… a-girl dan a-boy? Huahahahaha…

    Hennie, becak barang yang dikau maksud seperti itu kah?

    Pak Hand…lho, lho, lho…kamsud’e opo iki?

  8. 3
    Tammy Says:

    Hennie: iya juga ya, aku baru sadar kalo di China tuh buanyak banget becak barang. dan biasanya diisi sampe menggunung.

  9. 2
    Handoko Widagdo Says:

    Hennie, bagaimana ciri-ciri si Apek? Apakah tingg besar dan pinter nulis di Baltyra? Wah kalau benar berarti Apek sudah pindah ke Serpong

  10. 1
    nia Says:

    halo mb Hennie
    a-girl nia latangggg…..
    *org sini suka hantam aja klo manggil anak perempuan a-girl klo anak laki2 a-boy

Pages: « 3 2 [1]

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)