Hennie Triana Oberst
Dulu sewaktu masih kecil aku takut sekali dengan seorang lelaki tua turunan Cina. Kami menyebutnya Apek Latang. Kata Apek itu biasa dipakai di Medan untuk panggilan lelaki tua turunan Cina, sepertinya ini dialek Cina yang dipakai di Medan. Maklum cuma itu yang aku tau, tidak mengerti bahasa Cina sama sekali hehehe. Lelaki tua itu adalah seorang pembeli surat kabar dan majalah bekas. Ia biasa membawa dua keranjang anyaman dari bambu yang besar dan disatukan dengan tali dan seutas kayu yang disandangkan di bahunya. Kami di Medan menyebut mereka “Botot” (botot = butut).

Dia adalah langganan pembeli kertas-kertas bekas di rumah kami. Dulu almarhum orang tuaku selalu berlangganan beberapa surat kabar dan majalah. Jadi bisa dibayangkan banyaknya kertas yang menumpuk di rumah. Si lelaki tua itu sambil berjalan selalu berteriak lantang “Apek Latang hoii..”. Belakangan aku baru mengerti, kata Latang yang selalu dia teriakkan itu maksudnya adalah “Datang“. Mungkin karena lidahnya agak kaku menyebutkan bahasa Indonesia, maka ucapannya sedikit meleset seperti itu.
Setiap ia mampir ke rumah, pasti aku dicari-carinya. Katanya dia mau jadikan aku anak angkatnya, mau dibawanya dengan keranjang besarnya itu. Dia bilang wajahku cocok jadi anak Cina. Makin takut dan benci aku melihatnya. Ibuku hanya tersenyum-senyum saja, dan aku dengan segera menyembunyikan diri di kolong tempat tidur.
Pernah sekali waktu aku diajak Ibu menemaninya belanja ke warung yang jaraknya sekitar 50 meter dari rumah. Saat berada di warung, tiba-tiba aku mendengar sayup-sayup teriakan “Apek Latang hoiii..”. Secepat kilat aku lari sambil nangis pulang sendiri. Masa itu memang kendaraan di jalanan belum seramai sekarang.
Di rumah aku sembunyi sambil nangis memanggil-manggil Ibuku. Tidak lama kemudian Ibuku pun pulang sambil menangis dan memanggil-manggil namaku. Pastilah dia panik mengetahui anaknya tiba-tiba menghilang tanpa sebab. Mengetahui Ibu pulang, tangisku makin menjadi-jadi. Waktu Ibu bertanya kenapa aku pergi dan tidak pamit. Aku katakan bahwa ada Apek Latang. Ibuku langsung tertawa, kemudian mengingatkanku jangan pernah pergi begitu saja tanpa pamit.
Seingatku ketika aku duduk di kelas 2 Sekolah Dasar rasa takutku hilang terhadap si Apek Latang. Aku malah ikut membantu Ibuku kalau ia menjemput kertas-kertas bekas ke rumah kami. Aku mengerti setelah itu bahwa hal tersebut hanya lelucon baginya. Tetapi bagiku sebagai anak kecil hal tersebut sama sekali tak lucu, dan sangat mengganggu karena aku ketakutan setengah mati. Si Apek Latang ini sebenarnya adalah seorang yang sangat ramah, selalu tersenyum dan sikapnya selalu santun. Entah kapan pastinya ketika kami sadari bahwa si Apek Latang tak pernah muncul lagi.
Kemudian banyak Botot lain yang menggantikannya. Sekarang mereka membawa becak barang (ini istilah di Medan), becak yang diperuntukkan khusus mengangkut barang. Apakah ini budaya yang dibawa dari Cina? Selama di Shanghai dan Beijing banyak sekali becak barang seperti itu aku lihat berseliweran di jalan dengan membawa segala macam barang bekas.
Terima kasih buat redaksi dan juga sahabat Baltyra yang telah membaca.
Salam sejahtera selalu.
May 16th, 2011 at 18:24
Susah juga yaa, kalau orang2 spt Apek ini tdk ada … kertas/koran bekas & botol2 tdk ada yg menampung
May 16th, 2011 at 18:18
Mbak Hennie, ha, ha, haaaa… Sumuk? Aduuuukkkk, mudah-mudahan dimas Anoe todak memelesetkan kata itu ya…. Bisa ditutupi pakai “slimuran”enggak ya… ha, ha, haaa
Kapan kembali ke Eropa lagi?
Geniet er maar, doei… Nu2k
May 16th, 2011 at 16:22
LANI, bener banget empek.


Apek juga bacanya seperti empek-empek yang makanan itu, bukan Apek yang bau
Nah itu juga karena sudah tua mungkin ya makanya panggilannya jadi Apek Latang hahaha
Terima kasih Lani.
May 16th, 2011 at 16:10
PAMS, kapalnya sudah dirakit lagi dan dibenahikah? hehehe kunjungan 2 monster kecil dari manakah? Seru ya
Oh iya bener pernah aku dengar nama Karung Guni itu. Kalo di Indonesia kan nyebutnya Goni ya hehehe.
PAsti awalnya bawa goni, bukan keranjang seperti si Apek Latang.
Terima kasih Pams.
May 16th, 2011 at 16:06
IMEII…hehehe ternyata usil juga ya dengan adiknya…
Kadang kalau ingat masa kecil lucu… Lebih indah lagi membayangkan di sekitar rumah dulu masih belum padat, masih banyak tanah kosong tempat main. Halaman rumah juga terbuka, adem pohon di mana-mana. Begitu tanah direlakan buat jalan… akhirnya banyak rumah baru, makin lama makin padat
Terima kasih Imeii.
May 16th, 2011 at 16:00
hahahah mas Dj.

Paling yang takut sekarang ini si Chiara
Inilah yang tidak bisa dipungkiri, gen yang diturunkan ke anak sendiri.
Nggak ada Apek Latang yang bawa keranjang besar di sini, China sudah modern, pake becak barang, gak model genjot lagi sudah pakai baterai hehehe…
Salam manis dari Shanghai yang banyak becak barangnya
May 16th, 2011 at 15:56
Mbak Nunuk, aduhh..saya juga ingat mereka itu. Dulu masa saya masih di SD sering ada di acara TV dijadikan penggembira untuk acara yang diadakan baterai (battery) merk ABC. KAdang sering mereka mengadakan acara di tempat-tempat hiburan seperti Taman Hiburan Keluarga. Saya juga takut melihat melihat mereka. Masih kecil dulu nggak ngerti kenapa ada orang seperti mereka. Orang bilangnya “orang kate”.
Banyak sekali kenangan masa kecil yang lucu dan indah untuk diingat-ingat.
Di Shanghai panas dan lembab seperti di Indonesia…sumuk
Salam buat keluarga di rumah.
May 16th, 2011 at 14:54
Gear mbak Hennie, aduuuh bisa terbayangkan…. Jadi ingat pertama kali orang tua tinggal di Maos. Plus minus 55 tahun yang lalu. Kami tinggal di rumah Belanda besar (dari Spoorlijn = PJKA sekarang) di seberang setatsiun. Kalau nggak salah, setiap hari Rabu atau Kamis, di seberang lapangan yang ada di sebelah kiri rumah, selalu datang mobil barang yang jual “Jamu” keliling, cap Jago. Setelah mobil berhenti, dari mobil selalu berloncatan turun orang-orang kerdil (aduuuh, maaf lupa istilah Indo.). Bukan hanya satu atau dua… Mereka selalu datang dengan berenam atau berdelapan… Aduuuuhhhhhh, saya, yang waktu itu berumur plus minus 4,5 tahun selalu ketakutan begitu lihat mobil itu lewat… Apalagi kalau mobilnya sudah parkir… Saya nggak pernah berani keluar kamar….Takut, karena mereka mirip “spookie”yang selalu serem-serem seperti dalam cerita-cerita hantu… Memang proposi badan mereka yang tidak sempurna dan kepalanya yang besar kadang membuat anak kecil menjadi ketakutan. Belum lagi kalau mereka sudah berlaga seolah mau memegang dan meminumkan isi gelas kedalam mulut…….. Achhhh, kalau ingat jaman ituuuuuu…. Banyak sekali kenangan yang tidak akan pernah saya lupakan….
Salam, salam, salam,… Wouwwww, di Belanda kembali lagi bercuaca dingin dan hujan turun…. Walaupun musim panas sedang menjelang….Nu2k
May 16th, 2011 at 13:37
Mas HAND, hahaha…. sudah jadi juragan dia ya?
Berarti seruannya bukan Apek Latang lagi dong…
Terima kasih sudah mampir mas Hand.
May 16th, 2011 at 13:35
TAMMY, tuh kan baru sadar kalau di China banyak becak barang gini kan?
Bener banyak banget isian becaknya ya..menggunung. Sampai hari ini belum bisa sukses fotoin mereka hehehe. Terima kasih Tammy