Duh, bisa masukin, ngga bisa nglepasin!

Ida Cholisa

 

Bingung aku. Pasca operasi membuat tangan kananku sedikit kaku. Mulai pangkal lengan hingga siku, otot terasa kaku. Digerakkan terasa susah. Apalagi diangkat lurus ke atas, hingga kini terasa susah. Bahkan saat berjalan tangan terasa tak nyaman. Untungnya, aku masih bisa mengerjakan banyak pekerjaan. Yang ringan-ringan terutama.

Sedihnya, saat memakai dan melepaskan baju. Mesti hati-hati. Salah-salah urat tertarik, dan wadouw…., seperti njebrot urat-urat dada dan lengan tangan ini. Kalau sudah begitu aku meringis setengah mati. Alamak repotnya. Jangan harap bisa mengenakan t’shirt. Memakai daster pun mesti yang berkancing lebar.

Nah, lho. Sebuah insiden terjadi sore ini. Ceritanya aku tengah mencoba gamis lama. Ya, gamis panjang yang tak pernah aku pakai bertahun-tahun. Kupikir, enak juga dipakai sekarang ini. Dengan kondisi tubuh tak lagi proporsional akibat pengangkatan payudara, sepertinya aku lebih leluasa mengenakan baju terusan panjang. Tak perlu yang bermodel ria.

Bahkan sepertinya tertarik mengenakan busana muslimah serba gamis dengan kerudung lebar. Persis seperti yang diinginkan suamiku dahulu, di mana sebelum operasi aku tak pernah menuruti keinginan itu. Kini setelah operasi kujalani, terbersit keinginan kuat untuk memenuhi permintaan suami; mengenakan gamis dengan kerudung lebar. Niat awalnya sih sederhana saja. Menutupi sebelah payudara dengan busana longgar dan penutup kepala lebar. Haha, niat yang tak agamis barangkali. Tapi setidaknya sebuah “langkah pembuka” untuk memperbaiki diri, Insya Allah.

Maka aku pun mencoba mengenakan gamis warna krem itu. Dalam pikiranku, jika baju itu masih muat di badanku maka aku akan memakaianya esok pagi. Kebetulan aku mesti ke sekolah untuk menyerahkan berkas tertentu. Hati-hati aku mengenakannya. Agak susah. Dengan lengan panjang, baju panjang dan kancing hanya sebatas bawah dada aku mesti ekstra hati-hati mengenakannya. Akhirnya, pluuuung…., masuklan gamis itu di badan tegapku (eh, sekarang nggak tegap dink, wong bukitnya dah hilang satu, hehehe….).

Aku memutar badan di depan cermin. Busyet, tambah gendut diriku. Dari depan sih lumayan, giliran dari samping, alamak nggak “mbody” sama sekali. Tak apalah, bersyukur saja, yang penting masih punya nyawa. Ya nggak?

Kukenakan jilbab lebar. Wuisss…., lumayan juga. jadi ingat istri (mantan istri) Aa’ Gym yang sukanya pakai gamis dan kerudung besar itu. Ehm, itu tuh…, Teh Nini, aku suka lihat penampilannya. Rapi sekali.

“Gimana, Mas? Ibu pantes gak pakai baju begini?” kutanyai anak lelakiku.

“Bagus, Bu. Emang Ibu mau ke mana?”

“Nggak ke mana-mana, coba nyobain aja. Besok mau Ibu pakai keluar.” Aku menjawab mantap.

Acara “fitting” gamis pun selesai. Aku berniat untuk memakai gamis itu esok pagi. Entah reaksi apa yang kudapati jika teman-teman melihatku mengenakan baju gamis dengan kerudung besar. Haha, pasca operasi terjadi perubahan besar-besaran, hehehe….

Kulepas kancing baju. Satu, dua, tiga. Stop. Kancing berikutnya ternyata kancing imitasi, alias nggak bisa dibuka. Dah dijahit paten. Aku blingsatan. Kucoba melepas gamis itu lewat bahu, duh sulitnya. Tangan kananku terasa kaku. Kucoba mengeluarkan lewat kepala, duh ampun sulitnya. Tangan kananku tak bisa diluruskan ke atas. Diplorotin ke bawah apalagi. Nyangkut lengan panjangnya di kedua tanganku. Kupanggil anak-anakku.

“Naaak…, bantu Ibu melepaskan bajuu….”

Si kecil memegang tangan kananku, digerakkannnya ke atas.

“Wadouw….!!!!” Aku menjerit kesakitan.

“Pelan-pelan, De….!”

Si sulung mencoba melepaskan gamisku.

“Wadouw…., ati-ati, nyangkut di dada Ibu…”

Duh! Akhirnya gagal total. Aku tak lagi meminta bantuan anak-anakku. Semakin ribet. Salah-salah “mbredel” jahitan operasi dadaku. Kucoba melepas sendiri. Setengah mati. Gagal maning gagal maning!

Aku kehabisan akal. Suamiku belum pulang. Andai ia ada akan kuminta ia melepaskan gamisku lewat kepala. Tapi kutunggu-tunggu, belum pulang juga dirinya. Perutku mules. Gerah rasanya. Mana daster nggak aku lepas lagi. Mengenakan baju doubel terasa gerah sekali. Tak ku-ku lama-lama. Perut mules lagi. Gimana ini? Akhirnya dengan baju doubel aku pun berlari ke kamar mandi. Giliran menggulung lengan panjangnya, duh susahnya. Hanya bisa digulung sedikit saja, saking tanganku gendut tiada tara. Haha!

Suamiku belum pulang juga. Gamis masih melekat di badan. Gerah tak terkira. Aku memutar otak. Kuambil gunting. Apa boleh buat, mesti kubredel gamis ini! Satu, dua, tiga, kres-kres-kres…., akhirnya terbukalah baju gamisku, dengan bekas sobekan yang amburadul. Sayang sebenarnya, baju panjang yang masih bagus itu harus menjadi korban!

Merdeka akhirnya, lepas sudah dari penjara baju gamis itu. Ah-ah-ah…!***

 

Bogor, Jan 2010-

 

 

12 Comments to "Duh, bisa masukin, ngga bisa nglepasin!"

  1. EA.Inakawa  17 May, 2011 at 03:19

    Mbak Ida…..ya udah,besok beli baju Gamis lagiiiiiiii yang longgar dikitan yaaaaa,salam baik

  2. Djoko Paisan  17 May, 2011 at 00:15

    Bu Ida…
    Semoga lekas membaik dan bisa pakai pakaian yang disuka.
    Keponakan Dj. di bandung, juga dioperasi satu payudaranya, tapi kok tidak pernah dengan ada kesulitam.
    Bahkan sangat lincah…..
    Berkart serta Kasih TUHAN, menyertai ibu Ida sekeluarga.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.