Repotnya Pindahan

Kembangnanas

 

Semua berawal di bulan Oktober tahun lalu, tiba-tiba Dewan Direksi mengumumkan bahwa semua karyawan di lantai 3 harus pindah ke kantor Palembang. Awalnya ada sedikit gejolak, kasak-kusuk antar karyawan, banyak yang tidak setuju untuk dipindahkan, tetapi karena itu sudah keputusan Direksi tidak ada yang kuasa menolaknya. Entah alasan efisiensi, entah alasan biar tidak terjadi gejolak karena memang Perusahaan sedang ada gawe untuk restrukturisasi, yang jelas karyawan lantai 3 harus ditarik ke Palembang.

Dengan berbagai pertimbangan akhirnya aku bersedia dipindahkan, karena tidak ada pilihan lain. Pindah atau resign, aku bukan tipe orang yang berani ambil resiko untuk itu karena aku masih punya banyak tanggungan dan aku menginginkan kemandirian secara finansial. Kalau aku resign sama saja dengan bunuh diri, meskipun keluarga harus dikorbankan, aku harus jauh-jauhan lagi dengan suami.

Tanggal 20 Desember 2010, aku berangkat ke Palembang seorang diri. Awalnya anak lanang dan pengasuhnya mau dibawa sekalian setelah rumah di Palembang siap, tetapi suami tidak mengijinkan.

“Kamu di sana cuma 2 bulan paling lama, karena Maret mulai cuti melahirkan, mau lahiran di Jakarta kan?”

Akhirnya akulah yang bolak-balik Palembang-Jakarta setiap dua minggu sekali, berat juga apalagi kondisiku saat itu sedang hamil besar, ribet urusan dengan maskapai, harus bolak-balik nyari keterangan dokter setiap mau terbang.

Sebulan pertama aku ikut menginap di rumah teman yang tinggal sendirian di rumahnya, sambil mencari kontrakan yang nyaman untuk ditinggali aku dan anak-anakku. Ternyata tidak gampang mencari kontrakan di Palembang, hampir tidak ada kontrakan kosong di daerah sekitar kantor. Kalaupun ada tempatnya kurang nyaman, banjir atau kurang aman lingkungannya.

Sampai akhirnya seorang teman menawarkan rumahnya untuk ditempati karena dia mendapat rumah dinas. Lokasinya agak jauh dari dari kantor, bukan lingkungan padat, tetapi lingkungannya lumayan nyaman dan tidak jauh dari tempatku menumpang. Akhirnya aku iyakan saja tawarannya untuk tinggal di rumah itu.

Mulailah aku hunting barang-barang untuk mengisi rumah, sama saja mengisi semuanya, mengingat tidak satupun perabot di Jakarta yang bisa dibawa ke Palembang. Kadang temanku mengantarku untuk membeli ini itu, kadang aku berbekal motor pinjaman hunting perabot. Tidak enak kalau terus-terusan merepotkan teman-temanku di sana, meskipun mereka selalu berbaik hati untuk membantuku, mungkin karena kasihan pada ibu hamil kali ya?

Pada awal Februari, rumah itu sudah bisa ditempati, perabotan seadanya sudah cukup untukku, yang penting perabot-perabot pokok sudah ada. Dan mulailah aku tinggal di rumah itu sendirian, setiap malam glundhang-glundhung di kasur kepikiran anak lanang di Jakarta, TV menyala sepanjang malam untuk menemaniku.

Akhir Februari aku kembali ke Jakarta, dan Alhamdulillah anak keduaku lahir tanggal 15 Maret 2011. Sejenak aku melupakan rumah dan segala hal tentang Palembang, aku disibukkan dengan kehadiran si kecil, si mas yang sedikit lebih ‘aktif dan kreatif’ karena iri dengan kehadiran adiknya.

Tetapi saat ini, masa cutiku sudah hampir habis, aku hanya punya waktu 2 minggu lagi di Jakarta dan banyak hal yang harus diselesaikan. Aku mulai disibukkan urusan boyongan ke Palembang. Saat mencari tiket, sempat ditolak salah satu maskapai dengan alasan si kecil belum ada 3 bulan saat terbang, akhirnya harus cari tiket ke maskapai yang lainnya, untung tidak masalah.

Saat ini aku disibukkan packing dan memilah mana barang-barang yang akan dibawa dan mana yang akan dikirim lewat ekspedisi, benar-benar pekerjaan yang melelahkan, rumah jadi seperti kapal pecah, penuh barang-barang sortiran. Belum lagi mainan anak lanang, bingung memilih mana yang harus dibawa karena dia hafal semua mainannya.

Saat ini aku juga harus mencari asisten untuk momong si kecil, untung yang momong si mas mau diajak ke Palembang, kalau tidak mau diajak, tambah repotlah aku, kudu hunting lagi, padahal nyari asisten di Palembang susahnya setengah mati. Jadilah tiap hari sibuk telpon teman-teman di Palembang untuk mencarikan pengasuh buat si kecil dan sampai sekarang belum dapat pengasuh. Kalau seperti ini terus dipikir nanti sajalah, sambil jalan, daripada aku jadi stress sendiri.

Aku tidak tahu bagaimana nanti setelah di Palembang, apakah anak-anak akan merasa nyaman di sana ataukah tidak, yang penting sekarang aku menyiapkan semua kebutuhannya di sana. Semoga saja semua merasa nyaman tinggal di tempat baru.

 

Note Redaksi:

Selamat bergabung menjadi salah satu dari 200 lebih penulis di Baltyra. Akhirnya nyemplung juga menulis menjadi penulis yang ke 272. Ditunggu artikel lainnya…

 

 

24 Comments to "Repotnya Pindahan"

  1. kembangnanas  18 May, 2011 at 09:03

    imeii >> makasih ya, aku berharap bgt smua bisa nyaman di sana, walo kadang aku sendiri kdg merasa gk nyaman
    pampers >> pindahan itu bnr2 buat repot.
    yu lani >> hehehe aku lbh seneng mbaca drpd nulis yu, kesed soale
    mba nunuk >> huehehe gk kebayang itu yg nyemplung kolam renang, apa ya gk masuk angin kademen

  2. kembangnanas  18 May, 2011 at 08:57

    om buto >> hahaha iya kii, mumpung gelem…
    pak iwan >> weks, abis itu kita jd DPO ya

  3. kembangnanas  18 May, 2011 at 08:54

    nia >> makasih ya, smoga anak2 kerasan di sana.
    pak hand >> wah pak, kulo agak trauma je dg jembatan itu, ada temen yg terjun di sana, jd klo gk perlu2 bgt gk akan deh lewat sana, palagi sampe berhenti. Gk deh…

  4. Kornelya  17 May, 2011 at 20:58

    Mba Kembangnanas, selamat buat kelahiran anaknya. Pindah-pindahan memang tidak mudah, keblinger. Saya tidak tahu apakah di Jakarta ada Ikea?. Furniture dari Ikea mudah dibongkar pasang, kemasannya juga rapih hemat tempat dan biaya ongkos pengiriman. Salam, semoga berhasil mendapatkan baby sitter yang baik untuk brand new baby.

  5. EA.Inakawa  17 May, 2011 at 03:11

    Yaaaa pindahan emang repot……selamat atas kelahiran baby nya,smg jd anak yg soleha,amin. salam baik dari Kinshasa.

  6. Djoko Paisan  17 May, 2011 at 00:42

    Mbak Kembang Nanas….
    Selamat sebagai penukis 272 di BalTyRa…
    Dan selamat atas kelahiran putranya, semoga sehat semuanya ya…
    Kalau mau caru assisten, itu yang di Kona sudah siap…
    jangan ding, nanti pura-putanya jadi gemblung semua…..hahahahahaha…..!!!
    Salam manis dari Mainz..

  7. Dewi Aichi  16 May, 2011 at 22:24

    Oya, selamat atas kelahiran anak yang kedua ya…

  8. Linda Cheang  16 May, 2011 at 22:19

    selamat pindahan, je, hehehe

  9. Dewi Aichi  16 May, 2011 at 22:13

    Kembangnanas, aku percaya betapa repotnya, karena aku mmengalaminya sendiri, bukan antar pulau lagi, tapi antar negara. Pindahan pertama, tahun 2006. Aku mulai lagi hidup dari nol, karena barang aku tinggal di Jepang . Kedua ya tahun 2009, aku pindah ke Brasil , mulai dari nol lagi. Dan repotnya lagi, aku membeli barang2 semua baru, hanya kupakai kurang dari 2 tahun. Trus aku pindahan ke Brasil ini.

  10. Dewi Aichi  16 May, 2011 at 22:08

    Huahahaha…ngakak dengan komen no 2 dan 3….!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.