Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Antara Makan dan Makan

Wednesday, 18 May 2011

Viewed 3362 times, 1 times today | 52 Comments |

Tammy – Sydney

 

Waktu teman dan kerabat tau kalau aku akan ke Shanghai bulan September lalu, reaksi mereka selalu sama: “Mau lihat Expo ya?!”

Aku jawab, “Nggak kok. Ya kangen Shanghai aja, terutama makanannya. Nggak ada rencana ke expo.”

“Loh ke Shanghai waktu expo kok nggak liat Expo. Rugi!”

Duh capek deh! Lah wong kami berdua (aku dan suami) nggak tertarik pergi kok. Memang mau lihat apa sih? Lihat bangunannya yang katanya unik-unik, tinggal klik di internet kan juga bisa. Ngapain capek-capek keliling tempat expo yang ajubilah gedenya itu. Lagian jauh-jauh hari sebelum berangkat aku sudah buat jadwal acara selama 2 minggu. Sudah penuh, nggak ada ruang buat ke Expo.

Di Shanghai ketemu teman-teman juga begitu, semua bilang: “You have to go to the Expo.” Bahkan ada yang menawari kami tiket. Kami jawab: “We’lll see. We have a lot of things to do in our list. If everything is done and we still have time, we’ll go.”

Akhirnya, malam terakhir kami di Shanghai, aku dan suami pergi juga. Tapi perginya sudah jam 7 malam. Nyampai di dalam kira-kira sudah jam 8. Aku sebenarnya masih nggak niat, karena seharian habis belanja. Kaki sudah capek. Tapi temanku yang nemani aku shopping maksa-maksa aku harus pergi. Akhirnya janjian ketemu di tempat Expo sama suamiku (dia nggak  ikut shopping, nunggu di hotel).

Kami masuk ke 3 pavilion. Sudah cukup deh. We lost interest. Akhirnya hanya duduk-duduk ngobrol bertiga. Aku dan suami nggak habis pikir kok banyak yang bela-belain ngantri sampai berjam-jam hanya untuk masuk pavilion. Waktu itu karena kami perginya sudah malam, jumlah pengunjungnya sudah berkurang.

Juga karena waktu itu aku lagi hamil, kami nggak perlu ikut antri, bisa langsung masuk. Temanku langsung berkicau karena menyesal. Katanya kalau tau begitu, dia sudah maksain aku dari awal-awal pergi sama dia, jadi dia nggak perlu antri. Dia ingin sekali masuk ke pavilion UAE dan China, tapi dua kali pergi dia belum berhasil masuk, karena antrinya bisa 3-4 jam. Hmmm… antri sembako di Indonesia kayaknya lebih cepet deh.

Bisa dibilang kami ke Shanghai kali ini mainly adalah untuk  makan dan shopping. Jauh-jauh hari sebelum berangkat, aku sudah bikin daftar kebutuhan shopping, juga restoran dan makanan yang aku kangeni. Jadinya aku bikin jadwal tiap hari ke mana dan makan di mana. Jadwal acara sebisa mungkin dibuat menurut letak restoran yang akan kita datangi.

Dari daftar makanan yang aku bikin, ada satu tempat yang akhirnya nggak sempat dikunjungi. Ada satu tempat yang tutup, entah pindah ke mana. Ada satu tempat lagi yang menunya berubah total, jadinya burung dara goreng yang sudah terbayang-bayang di pikiran nggak jadi kesampaian masuk perut. Banyak sih restoran lain yang jual burung dara goreng, tapi burung dara di restoran ini adalah favoritku.

Ada satu makanan yang aku cari-cari tapi nggak nemu, yaitu jianbing (baca: cienping). Bisanya dijual di pagi hari di jalanan. Karena mereka jualannya pake gerobak, rada susah juga nyarinya kalau mereka pindah.

Jianbing adalah pancake, kelihatannya dari tepung beras. Cara bikinnya: tepung dioles ke hot plate, telur dipecah di atasnya. Kemudian diolesi saus taoco dan sambal, dibubuhi daun bawang, daun ketumbar, dan cacahan sayur asin. Terakhir diberi kripik (seperti kulit pangsit goreng) dan digulung. Hmmm…. yummy benar. Satu gulung biasanya 2 yuan. Untuk sarapan sudah kenyang banget.

Satu restoran yang masuk dalam top list kami adalah restoran masakan Hunan yang berciri khas pedas. Restoran ini selalu ramai. Kalau kita datang setelah jam 6, pasti harus antri. Tiap kali ke sana kami selalu bingung mau pesan apa, karena semua enak-enak. Makanan top dari restoran ini adalah pork ribs in spicy cumin. Mereka juga ada beberapa versi spicy fish head yang pedasnya benar-benar mantap! Tapi waktu itu aku nggak pesan fish head, jadi nggak ada fotonya.

Aku juga suka dessert yang mereka punya, yaitu ronde isi black sesame seed paste yang dimasak dengan kuah tape ketan. Lagi-lagi, waktu itu kami nggak pesan dessert. Makan berdua pesan 4 masakan rasanya sudah cukup deh.

Waktu kami masih tinggal di Shanghai, banyak sekali keluarga suami yang berkunjung. Kami rada bingung mau ngajak mereka makan di mana, karena kami berdua suka makan pedas. Jadi taunya ya restoran Hunan atau Sichuan yang ciri masakannya pedas. Sementara keluarga suamiku sama sekali nggak bisa makan pedas.

Satu-satunya restoran yang makanannya nggak pedas dan termasuk favorit kami adalah kedai waralaba yang menjual guotie (baca: kuodie), yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan menjadi pot stickers.

Dulu satu porsi isinya lima biji, harganya 3 yuan. Aku kalau makan di sana selalu pesan guotie 2 porsi plus hot and sour soup (= 6 yuan). Dengan 10 yuan aku sudah kenyang. Tapi kemudian harganya naik. Satu porsi guotie sekarang 3.5 yuan. Jadinya sekarang kalau ke sana bayarnya nggak genap.

Ada juga restoran vegetarian yang termasuk favorit suamiku. Keluarga suamiku yang kami ajak ke sini sampai nggak percaya kalau ini adalah vegetarian. Apapun yang ingin mereka tiru, rasa dan penampilannya sangat mirip aslinya. Contohnya, yang mereka namakan “ayam” juga ada “kulitnya”, yang namanya “eel” juga ada “sayapnya”.

Masakan Sichuan yang paling terkenal mungkin adalah potongan daging ikan yang dimasak dalam kuah pedas (namanya shui-zhu-yu). Bumbu paling utama adalah dry chilli, chilli oil, dan Sichuan peppercorn  yang banyaknya sak gombyok. Pada saat dihidangkan, biasanya si pelayan restoran membantu kita menciduk cabai yang mengambang di permukaan.  Selain ikan, biasanya di dalam kuah juga ada sayurnya. Yang paling umum adalah sawi putih (Chinese cabbage).

Kalau ke Sichuan restoran, kami hampir selalu pesan masakan ini. Namun dua minggu di Shanghai, kami nggak pesan masakan ini sama sekali, karena di Sydney ada restoran Sichuan yang rasanya otentik dan mereka juga menyajikan shui-zhu-yu. Tapi dulu aku pernah motret, dan untuk ilustrasi, seperti ini lah modelnya:

Dan-dan-mian (baca: tan-tan-mien) juga termasuk salah satu masakan Sichuan yang paling umum, yaitu mie pedas dengan daging dan sayur asin cacah.  Biasanya dihidangkan dalam porsi yang sangat kecil dan dihidangkan sebagai masakan terakhir, sebelum dessert.

Kami lebih suka kalau mie ini dihidangkan bersama dengan masakan yang lain. Jadi tiap kali pesan harus ngomong sama waiter/waitressnya. Demikian juga kalau pesan nasi putih juga begitu. Kalau nggak ngomong, biasanya nasi putih nggak datang-datang, karena kebiasaan mereka nasi putih dihidangkan terakhir.

Bagi mereka  nasi putih hanya untuk mengisi perut kalau semua makanan sudah habis tapi perut masih kurang kenyang. Tentunya ini hanya kebiasaan di restoran. Perlu diingat, kebiasaan makan di restoran adalah “new culture”. Dulu waktu China masih miskin, mana sanggup rakyat biasa makan di restoran.

Kalau orang China makan rame-rame di restoran, biasanya ada salah satu yang mentraktir. Dan biasanya kalau pesan makanan nggak kira-kira banyaknya. Yang keluar ikan dan sayur semua, nggak pakai nasi, karena menurut mereka: “malu-maluin dong tamu disuguhi nasi. Kalau mau makan nasi mah, mereka bisa makan di rumah.”

 

Berikut adalah masakan lainnya yang sempat aku foto. Ini berarti makannya hanya berdua sama suami. Karena kalau makan sama teman atau gerombolan sama orang lain, aku sungkan mau motret. Susah menjelaskan buat apa motreti makanan. Hehehe…

By the way, karena dulu suamiku sering business trip ke India dan selalu diinapkan di Grand Hyatt, jadinya suamiku dapat poin banyak banget di member card-nya. Dan penderitaan suamiku itu (dia paling nggak suka ke India) finally paid off. Sebagian poinnya kami gunakan untuk menginap di Park Hyatt yang terletak di Shanghai Financial Tower (3rd tallest building in the world at the moment).

Waktu makan siang di sana, aku kaget sekali saat disodori chips (kripik). Bukan karena disodori gratis, tapi karena ada Krupuk Udang!!! Aku yakin seyakin-yakinnya bahwa ini krupuk udang dari Indonesia! Waduuuhh bangganya! Rasanya ingin banget ke dapurnya dan ngomong sama chef-nya: “I know where the prawn chips come from!” Norak deh!

Last but not least, satu momen yang paling kunanti-nanti waktu di Shanghai adalah mengunjungi sosok yang namanya telah aku pakai selama bertahun-tahun. Dia kami hibahkan ke orang lain karena tidak bisa kami bawa ke Australia. Walaupun saat ini kami sudah punya dua yang lain, namun fotonya tetap menghiasi dinding rumah. Dan tetap saja aku sering kangen. Tapi yang terpenting adalah ada orang yang mencintai dan merawatnya. Dia kelihatan happy and healthy. For me, seeing her again was the highlight of the trip.

 

 

Share This Post

Posted by Wednesday, 18 May 2011 on 09:30.

Categories: Food. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

52 Responses to “Antara Makan dan Makan”

Pages: [6] 5 4 3 2 1 »

  1. 52
    KADEK'S Says:

    NYAM…NYAM..

  2. 51
    Tammy Says:

    Aimee, JC: aku gak ikut2 rebutan sandal.

    ISK: hehehee… kenapa ya yg enak2 itu mesti bikin penyakit.

    SU: wah gampang banget nih nyenengin SU, diliatin foto aja udah bilang ditraktir. kalo gitu, you owe me one, ok? hahaha….

Pages: [6] 5 4 3 2 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)