Cinta Itu Manis, Tapi Bukan Seperti Permen Karet

Odi Shalahuddin & Sri Sulandari

 

“Andai aku bukan istrimu… “

“Hm….”

“Andai aku bukan istrimu kita pasti kan sering bertemu.”

“Hm…”

“ Banyak hal bisa kita perdebatkan, tapi banyak juga hal bisa kita rundingkan dengan bebas.”

“Hm…”

“Aku bisa memakimu, menghujatmu, memujimu, atau bahkan memujamu. Aku bisa membuatkan dua cangkir kopi, sepiring mie.”

“Hm..”

“Hanya karena aku istrimu, tak pernah kunikmati segala pikir liarmu, atas nama norma dinding menghadang. Setiap pandang, pertimbangan memberat setiap langkah. Hanya karena aku istrimu, aku sering kehilanganmu. “

“Ah, jangan cengeng seperti itu,”

“Suamiku, aku ingin jadi kawanmu. Sungguh!”

Sang lelaki menghentikan pandangan dari layar monitor. Ia menoleh ke arah Perempuan yang duduk di hadapannya. Di sofa. Di depan meja kerjanya. Berjarak kurang dari empat meter. Ia menutup mulutnya dengan telapak tangan setengah terkatup, dengan siku yang bersandar pada meja. Wajahnya setengah menunduk.

“Ada apa sebenarnya?” lama kemudian lelaki itu bertanya. Matanya memandang perempuan yang menunduk. Jemari tangannya memainkan tali gantungan tas kecil.

”Aku ingin menjadi kawanmu,”

Lelaki itu setengah tertawa.  Meraih gelas berisi air putih dan menyeruputnya hampir separo. Ia berdiri, berjalan mendekati perempuan itu, dan duduk di sampingnya.

”Mau es teh manis atau es jeruk,”

”Aku ingin menjadi kawanmu,”

Lelaki itu merangkul leher sang perempuan. Kepala perempuan itu kemudian bersandar di bahu sang lelaki. Jemari sang lelaki memainkan helaian rambut sang perempuan yang memejamkan mata menikmati peristiwa yang jarang terjadi.

Ya, lelaki itu, suaminya, selalu saja disibukkan oleh pekerjaan. Pekerjaan yang belum tentu menghasilkan uang. Ia bisa habis-habisan membantu pekerjaan kawan-kawannya, bermalam di kantor, dan sering pula bepergian ke luar kota.

”Wah, aku sendiri harus membuat janji bila ingin ngobrol dengan suamiku,” perempuan itu teringat ketika kawan-kawannya terperangah mendengar ucapannya.

”Masak seperti itu? Wah hubungan kalian tidak sehat,” seorang kawannya berkomentar.

”Hm, tidak. Kami tidak pernah ada masalah dan tidak pernah mempermasalahkan. Aku sih maklum saja. Aku percaya kepergiaannya bukan untuk macam-macam,”

”Ah, lelaki jaman sekarang, mana ada yang jujur, Jeng,” kawan satunya lagi menyela.

”Benar, aku percaya dengan suamiku. Aku selalu merindukannya.

Perempuan itu terkejut ketika sebuah tepukan menyadarkan lamunannya. ”Wah, saya kira tidur,” terdengar suara lelaki itu.

”Hm, maaf,”

”Lapar gak? Ayo makan? Sudah jam dua nih,” lelaki itu sambil berdiri.

”Aku tidak lapar,” ucap perempuan itu. Ya, lebih baik duduk berduaan di sini, sesuatu yang jarang terjadi. Rasa lapar bisa tidak terasa, hati terasa berbunga-bunga. Bukankah itu yang lebih berharga?

”Ah, kamu gila!” teringat seorang kawannya mengomentari cerita-ceritanya yang ia ceritakan secara wajar tanpa bermaksud curhat ataupun untuk membuka peristiwa-peristiwa buruk di dalam rumah tangganya. Ia hanya bercerita tentang bagaimana mereka jarang bertemu. Kadang pertemuan hanya sesaat dalam janjian di sebuah mall makan malam bersama anak-anak, setelah itu suaminya sudah pergi lagi entah untuk mengerjakan apa. Ia sendiri tidak pernah bertanya.

”Gila dan bodoh,” seorang kawannya mengomentari lagi.

”Jangan mau ditipulah sama laki-laki,” celetuk kawannya yang lain.

”Kalian ini apaan sih? Aku tidak punya masalah dengan suamiku. Aku cuma cerita kalau kami memang jarang bertemu,”

”Eh, presiden saja tidak sesibuk itu. Coba lihat, acara-acara kenegaraan saja, istrinya selalu ada. Suamimu harus dicurigai tuh. Jangan-jangan dia agen rahasia? Atau teroris? Atau mafia? Nah loh.. Bahaya kalau kamu tidak mengenali dan tidak mengetahui siapa kawan tidurmu itu,”

”Ah, kalian hanya memprovokasi saja,”

Semuanya tertawa. Perempuan itu tersenyum-senyum.

”Lho, kok malah tersenyum saja sih,” lontaran kata suaminya menyadarkan ia bahwa pikirannya tengah  melayang-layang.

”Ayo, jadi makan,”

”Ah, tidaklah suamiku. Aku tidak lapar. Kita berbincang di sini saja ya,” perempuan merajuk.

”Boleh, tapi aku pesankan minum dulu, ya…”

”Teh pahit saja,”

Sang lelaki memencet tombol telpon, memesan dua minuman.

”Ngopi, lagi, suamiku?”

Lelaki itu terkekeh. ”Ya, sahabat sejati,”

”Ya, karena itulah aku mau menjadi sahabat sejatimu. Biar selalu kental dan terasa di mulut dan di hati,” perempuan itu menohok.

Seorang lelaki muda, mengetuk pintu, lelali itu berjalan dan membukakan pintu.

“Makasih, Man,”

Lelaki muda itu menganggukkan kepala setengah menunduk. Mereka duduk, berbincang-bincang santai.

“Suamiku, tak terasa dah begitu lama kita memulai perjalanan ini, jalan lurus datar bersemak ilalang, hampir selalu kita lewati.”

“Ya, kita hampir selalu berhasil melewati. Buktinya kita tidak pernah mengalami situasi buruk ya?”

”Kerimbunan rimba pernah kita hadapi, kehijauan padi juga sering kita nikmati. Tapi tak jarang jalanan juga menanjak-menurun, berkelok, berlubang, dan berbatu. Tikungan pun hadir tanpa memberi tanda. Hiruknya kota hampir selalu kau singgahi. Aahh… Andai kutahu akhirnya.. tak akan kubiarkan kau berhenti di persinggahan lain yang nyata-nyata itu hanya fatamorgana”

Sang lelaki tertawa terbahak-bahak.

“Ah, kamu pasti lagi cemburu ya…? Dari tadi kok pembicaraanmu seperti itu.. Sudahlah, percayalah pada suamimu yang baik nan setia ini,”

”Setia pada setiap hati? Ah, malah bahaya,” perempuan itu dengan senyum..

Lelaki itu tertawa kembali. Mereka hampir berbarengan meraih gelasnya masing-masing.

”Suamiku, cinta itu manis, tapi tidak seperti permen karet. Kamu mau jadi permen karet. Terasa manis dikunyah, tapi semakin lama semakin pahit,”.

”Tapi, kenapa orang-orang malah jadi penasaran dengan permen karet ya…?”

”Hush, maunya karet saja,” perempuan itu sambil berdiri dan merangkul suaminya dari belakang. Tiada kata, hanya goyangan-goyangan sedikit bagai bermain ayunan. Masing-masing larut dalam pikirannya.

Pembicaraan yang tak tuntas? Tapi begitulah hidup. Hidup selalu tak pernah tuntas sebab manusia memiliki akal dan pikiran.

 

Yogyakarta, 18.03.11

NB: Cerpen ini hasil kolaborasi dengan istriku, Sri Sulandari

 

 

19 Comments to "Cinta Itu Manis, Tapi Bukan Seperti Permen Karet"

  1. nining  16 March, 2013 at 16:30

    ceritanya bagus banget….realistis

  2. Odi Shalahuddin  20 May, 2011 at 17:09

    @Mbak Dewi: Ha.h.ah.a.h.ah.a.ha.ha
    @DJ: Wah, sudah bisa jadi postingan kisah yang menarik tuch Pak… Sungguh loh…
    @Handoko: Wah, Pak… tertawa dulu ya… Hi..hi..hi.. Alhamdullillah sudah ada dua Pak. Setelah buat cerpen kan langsung bisa bergegas…
    @Lani: Wah, Mbak…. gak ikutan ah.. daripada dilempar sarung… Nah, Loh..!!!

  3. Odi Shalahuddin  20 May, 2011 at 17:06

    Jipy, bagaimana kabarmu? Semoga sehat selalu ya..
    Amin.. makasih pujiannya loh…

    SAW & Aimee & Kornelya: Wah.. saya jadi merasa tersindir juga nih.. Sampai istri pernah mogok gak mau cerita… biar tahu rasa…. wakakakakak

  4. Odi Shalahuddin  20 May, 2011 at 14:36

    @Kembangnanas: pastilah tidak menyenangkan ya… he.hge.he.h.eh.e.
    @Linda: Seperti karet, tapi bukan permen karet. permen karet bisa dimainkan, tapi setelah itu tinggallah pahitnya saja.. He.h.eh.e.he.h.e
    @Aimee: ha.ha.h.ah.a.h.ah.a
    @JC: Sekalian cara merayu istri… he.he.h.e.h.e

  5. Lani  20 May, 2011 at 09:35

    AIMEE mmg gitulah adanya wanita lbh cereweeeeeeeet! ngaku waelah…….drpd mengko disamber sama kang aki butoooo

  6. Lani  20 May, 2011 at 09:33

    DA……haaaaaah???? hopo tumon komentarmu no 11 kkkkk

  7. Handoko Widagdo  20 May, 2011 at 07:23

    Lha…kapan punya anak jika istrinya diajak buat cerpen

  8. Djoko Paisan  19 May, 2011 at 23:53

    Mas Odi…
    Matur Nuwun mas….
    Cerita yang bagus debgan kata-kata yang menurut Dj. sedikit lucu….
    Lucu…maksudnya, belum pernah terjadi dalam keluarga kami…
    Karena kami jarang sekali berpisah dan kalau ke sawahpun, siang ditelpon atau menelpon, kadang malah dua kali sehari.
    Tapi kasihan juga, kalau istri sampai kangen untuk berbincang dengan suami, baghkan ingin menjadi kawan.
    Tapi berkata jujur itu sangat perlu….. Bahkan sangat penting…

    Jam 5 sore. Harry siap2 pulang dari toko…
    Brrmm, mobil dihidupin n cabut.
    Seblm ke rmh, Harry mampir dl ke Alfamart, beli susu utk anak. Gak
    disangka2, harry ktemu Ria, pacar jaman SMA yg udh 20 thn gak ktemu.
    “Ria kok kamu ada di Jakarta?”
    “Iya mas. Suamiku pindah tugas sebulan lalu, tp dia lg dinas trip ke Afrika
    2 minggu”
    “Wah, jadi kamu di rmh sendirian?”
    “Iya”
    “Tadi kesini naik apa?”
    “Bajaj”
    “Oo.. kalo gitu ku anter aja pulangnya, blanjamu kan banyak. Skalian
    ngobrol2, kangen gak ktemu lamaa bgt”
    “Iya mas, 20 thn ya”
    Dan meluncurlah mereka ke rmh ria. Obrolan di mobil pun smakin seru, ingatin
    saat2 mesra dulu. Gak trasa udh smp dpn rmh ria.
    “Mampir dlu mas, kita lanjutin ngobrolnya di dlm”
    “Okelah klo bgitu”
    Dan obrolan pun lanjut. 1 jam, 2 jam berlalu. Gak trasa, obrolan makin
    mjurus.. dan akhirnya berlanjut ke ranjang. Kangen yg lama tpendam mbuat
    pertarungan 3 ronde tak terasa, smpe harry lupa kalo HP nya kehabisan batre
    dari sore.
    “Waduh! Udh lwt jam 12 mlm nih. Aku plg dlu ria. Istriku pasti nyari2”
    “Lah trus gmn mas?”
    …..mikir bentar…
    “Ria, aku minta bedak baby donk”
    “Ada mas, buat apa?”
    “Adalah..biar aman”
    Dan harry pun plg setelah 1 ciuman mesra yg lama.
    Benar saja, smp di rmh, istri harry msh melek dan pasang tampang garang.
    “INI LAKI SATU KEMANA AJA! DITELPON JG HP DIMATIIN. GAK USAH PULANG SEKALIAN
    NGAPA??!!”
    “Sabar Mah..papa ceritain dulu smp bs plg larut gini”
    “MAU KASIH ALASAN APA LAGI??”
    “Gini Mah.. Tadi papa plg kantor mampir dlu ke Alfamart belikan psanan mama.
    Gak taunya ktemu mantan pacar papa waktu SmA. Trus papa anter plg skalian.
    Trus kami ngobrol2. Trus.. krn asyik, ya lanjut ke ranjang smp lupa waktu.
    Jadinya papa bru plg skrg”
    Istri harry diam…mikir..
    “Gak percaya! Mana sini, liat tangan papa!”
    Harry kasi liat tangannya..
    “PAPA KALO MAU BOHONG KASI ALASAN YG BAGUS KEK! UDAH TUA MASIH SOK LAKU!
    LAIN KALI KALO MAIN BILYARD INGET WAKTU!!

  9. Dewi Aichi  19 May, 2011 at 22:08

    Aimee, karena wanita punya mulut dua he he…makanya banyak cuap cuap.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.