[Serial de Passer] Astari Bertanya Tentang Bapaknya

Dian Nugraheni

 

Ada rasa berat di hati Astari bila memasuki kamar ini. Dua tahun yang lalu, bila Astari pulang sekolah, Ibunya masih akan ada, duduk di depan mesin jahit tangan, yang diletakkan di sebelah tempat tidur. Begitu sayangnya Ibunya pada Astari, hingga pekerjaan menjahitpun dilakukannya di kamar, sambil menunggui Astari tidur, atau belajar.

Astari ngungun, termangu, memandang mesin jahit Ibunya. Dulu, Ibunya selalu menjahit baju-baju perempuan kecil, untuk dijual di pasar. Tapi kalau ada yang Astari suka, boleh juga diambil untuk dipakai sendiri. Hanya itu pekerjaan Ibunya untuk mencari nafkah.

Astari membuka lemari pakaian Ibunya. Dilorotnya sebuah kebaya hitam berserat benang-benang emas. Dicobanya, mematut-matut di depan cermin, masih kegedean, dilepasnya, dan dilemparnya ke tempat tidur.

Tiba-tiba terdengar suara riuh rendah di halaman rumah sebelah, rumah Mbah Parno. Astari beranjak ke jendela, dan memandang keluar, “Ohh, orang-orang yang habis derep, panen padi di sawah..” Mereka ini adalah buruh yang diminta oleh Mbah Parno untuk memanen padinya di sawah yang katanya ada 5 hektar, begitu Astari pernah dengar.

Para buruh tani itu duduk-duduk di tanah, ngobrol melepas lelah, menuntaskan keringat, yang perempuan sambil nyusur, alias makan kinang, yaitu sirih yang dibumbui injet, kapur basah yang lembek.

Bila daun sirih bercampur injet itu dikunyah, akan mengeluarkan warna merah, katanya, rasanya pahit. Mereka menunggu mbah Parno keluar rumah untuk memeriksa hasil panen. Nantinya, para buruh ini akan diberi bagian 1/5 dari padi yang berhasil dipetiknya tadi.

Astari keluar, mendekat pada para buruh tani itu. Kemudian ikutan jongkok, memainkah ombyokan padi yang bertundun-tundun di halaman. Kemudian, perhatiannya tertumbuk pada seorang Paman penjual dawet. Kala itu, es batu masih langka, jadi,dawetnya ditempatkan pada sebuah gentong, atau guci tanah agar awet ademnya. Sedangkan santan dan juruhnya, sirup gula Jawa, ditempatkan pada dua buah stoples. Astari mengeluarkan 2 uang logam dua lima perak.

“Paman, apakah aku boleh beli dawet sepuluh perak..?”

“Boleh, Nduk.., kamu mau bawa gelas sendiri, atau pakai gelas Paman..?” tanya si Penjual.

“Pakai gelas Paman saja..” sebab Astari tau, dia akan kena marah bila Embahnya tau dia jajan sembarangan, “Dawet itu airnya mentah, dari sumur langsung tuang, kamu bisa sakit perut..” gitu Mbah Putrinya pernah bilang.

Paman Dawet mengangsurkan gelas pada Astari, Astari meneguknya dengan nikmat. “Hmm..enak bener kok..adem..” batin Astari.Cepat-cepat dihabiskannya segelas dawet berwarna hijau itu. “Makasih ya, Paman..”

“Ya, Nduk..” sahut si Paman Dawet tersenyum.

Astari sedang duduk di lincak, bangku bambu yang ada di halaman rumah Mbah Parno, ketika Entik, cucu perempuan Mbah Parno menghampirinya. Astari terkejut bercampur kagum, Entik membawa boneka perempuan, besar, hampir sebesar bayi betulan. Rambutnya kuning, seperi gambar iklan di kaleng roti Khong Guan. Matanya biru, seperti mata perempuan yang ada di buku modeblat, buku model baju milik Ibunya. Hmm, ini boneka londo pasti, batin Astari.

Dengan gaya pongah, Entik memamerkan bonekanya, “Bonekaku baru.., kamu nggak punya kan..? Ini yang beli Bapakku. Bapakku baru pulang dari Jepang. Bapakku kerja di Kapal..”

Ohh, ternyata Entik punya Bapak selain Mbah Parno Kakung, tapi selama ini Astari tak pernah melihatnya ada di rumah tetangganya itu. Rupanya pergi naik kapal lama sekali, dan pulangnya membawa oleh-oleh boneka..

Astari mengulurkan tangan, ingin menyentuh boneka itu, tapi Entik segera menepisnya, “Ehh, jangan pegang, tanganmu kotor, nanti rusak. Kalau rusak, kamu nggak bakal bisa ganti..Ya, kan..? Siapa yang mau belikan, kamu kan nggak punya Bapak..”

Astari merasa mukanya panas, tapi badannya dingin menegang, “Aku punya Bapak, kok, itu Mbah Lukito..” kata Astari polos.

“Ha..ha..ha..ha.., bodoh, mbah Lukito itu Embahmu, bukan Bapakmu. Kata Ibuku, kamu nggak punya Bapak..”

Astari kembali menegang, tapi perasaannya mengatakan, lebih baik dia pulang. Maka, tanpa sepatah kata pun, Astari pulang. Masuk kamar. Terdiam. Menatap wajahnya di kaca, yang didapatinya adalah wajah yang hampir menangis.

Kemudian Astari memeluk leher mesin jahit Ibunya, serasa sedang memeluk leher Ibunya, menangis sesenggukan… Astari sangat merindukan Ibunya ada di dekatnya, ketika perasaannya sedih seperti ini.

*******************

Layaknya, anak-anak pada jaman itu, akan bermain berkeliaran di luar rumah. Menjelang Ashar atau bahkan Maghrib, baru pulang. Astari sekarang 8 tahun, sudah naik kelas 2 SD. Tempat mainnya tidak hanya di seputar pasar.

Astari pun, terkadang begitu. Kali ini, dia main bersama Suryo, anak lelaki Yu Rumi, yang umurnya kira-kira setahun lebih tua darinya. Suryo kelas 3 SD. Kali ini Suryo mengajaknya bermain di sepetak tanah datar yang ada di sebelah asrama Polisi untuk main kelereng.

Begitulah, akhirnya beberapa anak lain datang bergabung. Yang laki-laki ikutan main kelereng, yang perempuan hanya jongkok-jongkok memperhatikan. Hanya Astari anak perempuan yang ikutan main kelereng. Karena dia berkeinginan untuk mengalahkan Suryo hari ini. Kemarin dulu, semua kelerengnya diambil Suryo, karena Astari kalah. Hanya disisakan satu kelereng bening bermata merah, itu adalah gacuknya, kelereng jagoannya yang digunakan untuk membidik kelereng lain.

Suasana riuh rendah tak terkendali..dasar anak-anak, belum mampu berpikir, apakah dia mengganggu orang lain atau tidak, yang ada, adalah senang.

Astari sedang jongkok bersiap membidik gacuk Suryo yang berwarna bening bermata hitam, ketika seember air tiba-tiba mengguyur badannya dari arah belakang. Kontan anak-anak tunggang langgang kabur, hanya Astari yang sedang gelagepan mengelap mukanya, sebelum menyadari apa yang sebenarnya terjadi.

Dari arah jendela, Pak Tulus, seorang Polisi Lalu Lintas bertampang angker berkacak pinggang, “Dasar anak-anak nggak dididik oleh Bapak Ibunya.., bisanya bikin rame di rumah tetangga.., hayo.., pergi sana..pergi..!” teriaknya.

Hanya Suryo yang tinggal di situ bersama Astari yang klebus, basah kuyup. Suryo menarik tangan Astari, dibawanya berjalan cepat-cepat, menjauh dari arena.

Astari menangis. Matanya terasa pedas. Astari menduga, yang disiramkan tadi adalah seember air bekas cucian piring. Air yang membasahi kepalanya menetes di mukanya, memedihkan matanya, dan ada sepotong cabe nyangkut di lengan bajunya, rambutnya pun terasa berminyak.

“Pulanglah, mandi.. Jangan nangis.., bukan kamu yang salah..bukan kamu yang gaduh.., besok kalau kita main kelereng lagi, jangan di asrama polisi ya.., nih aku kasih kelereng, semua buat kamu” kata Suryo pelan sambil memaksa Astari menerima seplastik kecil kelereng.

Astari pulang, menyelinap ke kamar mandi, dan mandi keramas. Masuk ke kamarnya, dan kembali memandangi cermin.

Matanya memerah. Hidungnya memerah. Dadanya terasa sakit. Kesedihannya kali ini lebih terasa nelangsa baginya.. Wajah terang Astari meredup. Ada sinar-sinar yang tercuri dari matanya. Ada yang mulai hilang dari bibirnya..senyumannya.

*****************

Hari ini, Astari dan Suryo main di pasar. Tapi Astari banyak diam. Nggak mau bermain. Menolak ditawarin makan apa pun, oleh Yu Sum atau Pak Minggu. Astari malah main ke kios Mbah Sanah, Nenek Tua penjual daging sapi yang tidak seberapa banyak dagangannya. Sebenarnya yang dijual bukan daging sapi, hanya thethelan, atau sisa-sisa potongan daging yang kecil-kecil bakal dibikin kuah sop.

Tapi Mbah Sanah punya dagangan istimewa, yaitu mata sapi. Astari suka membuka-mbuka kelopak mata sapi itu, dan memegangi tengah mata sapi yang empuk.

“Ke kali yok, mancing..” ajak Suryo.

“Nggak ah, aku mau tidur di kios Ibumu.., aku ngantuk,” kata Astari.

Akhirnya Suryo menemukan kawan main lainnya, Wandi, anak kampung belakang pasar. Astari beringsut ke kios Tikar Pandan Yu Rumi.

“Ngopo Nduk.., kok diam saja dari tadi.., kamu sakit po..?”tanya Yu Rumi sambil meraba dahi Astari.

Astari tetap diam, hanya menggeleng. Kemudian diambilnya bantal milik Yu Rumi, dan membaringkan tubuhnya, tapi matanya tidak terpejam.

“Yu Rumi, apa anak harus punya Bapak..? Apakah Embah Kakung saja nggak cukup..?” tanya Astari.

Yu Rumi nampak kaget, “Lha kena apa to kok tiba-tiba kamu nanya begitu..?”

Kemudian Astari menceritakan, soal hinaan dari Entik, hardikan Pak Tulus, dan satu lagi, kalimat dari Yu Kasman, tetangga yang sangat judas dan berlidah tajam. Tak ada angin tak ada hujan, Yu kasman bilang begini, “Ibumu wes bali rhung..? Ibumu lagi golek lanangan liyo, to..? Bapak karo Ibumu kuwi pegatan..”

“Pegatan itu apa, Yu Rumi..?” tanya Astari lagi.

Yu Rumi memandang sedih pada Astari, anak kecil ini sebenarnya belum perlu menanyakan hal-hal yang seperti ini. Dan Yu Rumi pun menyadari, dalam 2 tahun sepeninggal Ibunya, Astari berangsur-angsur menjadi lebih pendiam, tak pernah lagi jalan berjingkat setengah berlari, apalagi bercanda-canda dengan Mbah Kakungnya.

“Sudah, jangan kamu pikirkan apa kata orang. Sekarang, pikirkan saja pelajaran sekolahmu. Sekolah yang pintar ya, nanti Ibumu pulang, akan senang, karena Astari pintar, meski belajar sendiri..” rayu YU Rumi.

Tapi Astari memaksa Yu Rumi untuk menceritakan, Astari menangis merengek-rengek, memegangi tangan Yu Rumi, memintanya untuk bicara. Astari yakin, Yu Rumi lah orang yang banyak tau, orang yang paling tepat untuk dia bertanya…

“Oalah, Nduk.., Nduk.. Srinthil itu, Yu Kasman itu, memang dari dulu ngiri sama Ibumu. Begini, pegatan itu berpisah, tidak bersama lagi, karena Bapak dan Ibumu bertengkar.., tapi Yu Rumi yakin, Nduk, Bapakmu pun sayang padamu…”

“Kenapa aku belum pernah melihat wajah bapakku, Yu Rumi..? Di mana dia sekarang..?”

“Karena Bapak dan Ibumu pisah ketika kamu masih bayi, baru lahir, kemudian kamu dan Ibumu, ya tinggal sama Embahmu itu, mbah Lukito. Bapakmu ada di Semarang. Dia naik mobil Jip. Bapakmu orang kaya…”

Astari terhenyak. Otaknya yang masih kecil dipaksa untuk memahami kalimat-kalimat orang dewasa. Dan tiba-tiba kepalanya pening, pipinya basah oleh air mata yang tak diundang… Yu Rumi membelai-belai rambutnya…

Salam de Passer, to be continued…

 

 

Catatan:

londo = Belanda, bule
wes = sudah
bali = pulang
rhung = belum
lagi = sedang
golek = mencari
lanangan = lelaki
liyo = lain
pegatan = cerai

 

Virginia

Dian Nugraheni,

Di sini tanggal 5 Mei 2010, jam 7.57 sore

(Aku sedang kedinginan…)

 

 

17 Comments to "[Serial de Passer] Astari Bertanya Tentang Bapaknya"

  1. probo  25 May, 2011 at 09:12

    All my frens di baltyra, makasih banyak share nya yaa..nambah semangat buat ngelanjutin kisah Astari,…, smoga bisa dinikmati yaa.
    harus dong…tetap semangat membantu astari menapaki hidupnya yang penuh onak dan duri…..

    tentang ending…….saya sendiri dualisme nih, kalau happy andeng, seneng sih…tapi kayaknya terus ilang……..
    kalau sad ending……bisa mewek terus……tapi juga cepat ilang….kalau ending menggantung….nah ini nih RACUN bener….nggak ilang2 biar puluhan tahun

    saya amat terkesan dengan cerpennya Tuti Nonka (kalau tak salah), yang judulnya ‘Sepatu Merah yang Hilang’ (kalau tak salah lagi hehe), jengkel, anyel, penasaran…….kenapa tidak ‘dipertemukan’ kakak adik yang terpisah belasan tahun itu……..

    jadi terserah saja deh…..asal lanjut terus…….

  2. Dian Nugraheni  25 May, 2011 at 05:22

    @Sesayu…, he2..penasaran yaa..moga2 saya masih bisa lanjutin critanya yaa..ditunggu aja..InsyaAllah…
    @Pak Djoko Paisan, masukannya diperhatikan, Pak, smoga ke depan nasib Astari makin membaik yaa..
    @EA Inakawa.., mesin jahitnya masih ada lho..di rumah leluhur astari…he2..salam baik juga yaa..
    @Kornelya, hampir semua perceraian di Indonesia tanpa obligasi Child Support..ini berarti turut serta mempercepat hancurnya generasi selanjutnya…smoga terjadi pencerahan di kemudian hari….
    @JC, makasih banyak yaa,,,,
    @Aime, iya sedih, tapi nggak apa kan, nanti2 astari akan semakin kuat jiwanya dengan banyaknya badai yang menerpa hidupnya…
    @Hennie, sedihnya masih cukup panjang deh…tapi, memang ada kok orang2 yang bernasib seperti Astari, dalam hidup yang sebenarnya…he2..
    @Sakura, makasih banyak, say…saya berusaha menulis dengan sederhana, biar nggak mbulet…he2…
    @Linda Cheang, he2.., iya, injet, Astari tau dari Mbahnya, modeblat, Astari tau dari Ibunya yang dulu kursus menjahit…
    @[email protected], moga2 cerbernya masih terus berlanjut ya, itu artinya, saya harus kejar-kejaran, ehh, kejar tayang bikin kisah selanjutnya..thanks semangatnya ya..
    @Dewi, apakah Dewi satu angkatan dengan Astari..he2…, Iya Wie, kenyataannya, memang hidup itu kadang nggak fair, anak2 yang harusnya ceria, banyak juga yang harus menaggung beban jiwa sedari dini…
    @Anoe, wahh, nggak tahan terharu ya..he2..kalau gitu, lanjoot nginangnya yaa…
    @Probo, selanjutnya Astari akan belajar dari ketidakberuntungannya, mensiasati hidup, agar bisa lebih menikmati hidup…maunya..he2..smoga yaa..
    @nevergiveuoyo, jangan nangis…he2…
    @Imeii, requestnya, makasih yaa, suatu saat nanti, Astari pengen juga happy2…he2..

    All my frens di baltyra, makasih banyak share nya yaa..nambah semangat buat ngelanjutin kisah Astari,…, smoga bisa dinikmati yaa.

    Makasih juga buat Redaksi yang sudah kasih ilustrasi gadis kecil berbaju merah di tengah hujan…memang akan ada adegan semacam yang di foto itu…he…InsyaAllah…sampai jumpa lagi di serial berikutnya yaa..salaaaam….

  3. Dewi Aichi  21 May, 2011 at 22:50

    Dian, ceritamu ini membuatku kembali ke masa tahun 70-an, ketika kita sama sama melewatkan masa kanak kanak, gambaran situasi dalam cerita ini sungguh membuatku terharu. Tapi kisah yang dialami Astari sangat sedih, anak sekecil itu harus kuat mendengarkan omongan omongan orang dewasa.

  4. anoew  21 May, 2011 at 22:13

    Daripada ikutan sedih, saya lebih suka memperhatikan simbah-simbah lagi nginang (untung nginang ra karo singsot), kok kayaknya kompak betul..

  5. probo  21 May, 2011 at 19:26

    aduh Astari…….malang benar kamu ndhuk….

  6. nevergiveupyo  21 May, 2011 at 18:16

    saya koq juga ikut mewek ya??
    sedih….

  7. Imeii  20 May, 2011 at 02:39

    sedih.. bikin mewek.. ditunggu lanjutannya, kalo boleh request, minta happy ending ya

    wah udah berabad rasanya ngga dengar kata ‘gacuk’ (bikin senyum)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.