Nilai Bahasa Indonesia Jeblok?

Daisy

 

Kebahagiaan seorang guru adalah ketika muridnya bisa berhasil dalam pencapaian prestasi tertentu.

Sebenarnya aku nggak tahu bisa menyebut diri sebagai seorang “guru” atau tidak, karena aku cuma pengajar privat. Tapi, hari ini aku ikut senang karena muridku yang pelajar SMA telah berhasil lulus UNAS.

Syukur pada Tuhan, Andi, sebut saja namanya itu, muridku yang sedikit sableng dan selama ini agak ogah-ogahan belajar itu nilai rata-ratanya cukup memuaskan.

Tapi sayang, ada “cacat” di nilainya. Jika nilai-nilai mata pelajaran lain berkisar di angka tujuh dan delapan, untuk BI dia dapat nilai empat.

Dia bilang, “Semua anak-anak nilai BI-nya emang jelek, Mbak.”

”Ah, masa sih?”

***

Nilai memang bukan segala-galanya untuk tolak ukur seseorang pandai atau nggak. Tapi, aku penasaran juga, kenapa sih nilai BI muridku termasuk kategori rendah.

Iseng-iseng aku cek berita tentang kelulusan siswa SMA/ SMK. Ternyata benar, nilai BI banyak yang nggak bagus.

Ada beragam faktor penyebabnya. Salah seorang pejabat Diknas salah satu kota di Indonesia memberi pernyataan: “Kalau menurut analisis saya, anak-anak sepertinya masih shock pada ujian hari pertama, mungkin terlalu tegang. Jadi, Bahasa Indonesia yang diujiankan pada hari pertama nilainya tidak begitu baik.”

Alasan lain yang saya temukan: “Bahasa Indonesia ditempatkan siswa sebagai kurang favorit, setelah mata pelajaran eksakta dan ilmu sosial lain. Kondisi ini diperparah karena Bahasa Indonesia di beberapa sekolah di daerah diajarkan oleh guru di luar bidang studi rumpun bahasa, antara lain dari bidang hukum, agama, olahraga, sejarah, bahkan matematika. Persoalan guru Bahasa Indonesia tidak hanya pada soal kuantitas saja, tetapi lebih pada kualitas.”

Penggunaan bahasa gaul atau yang anak ABG sekarang sebut ”bahasa alay” juga memperjelas bahwa BI yang baik dan benar sudah jarang digunakan.

***

Kadang aku juga iseng-iseng mengisi soal-soal BI, emang susah. Hehe. Kadang ngerasa malu, aku ini orang Indonesia apa bukan sih? Kok ngerjain BI aja ngerasa kesusahan?

Padahal waktu jaman sekolah dulu, bagiku BI ini pelajaran termudah (atau aku yang menggampangkan ya?). Bahkan seingatku, kalau besoknya ada ulangan BI, aku dan teman-temanku menyambutnya dengan santai, tak seheboh jika mau menghadapi ujian Matematika, misalnya.

Hasilnya? Hmmm, kayaknya lumayan-lumayan aja kok. Bahkan kalau ujian dulu, kok rasa-rasanya nilai BI-lah yang paling berjasa mendongkrak nilai rata-rata. Tapi, kenapa sekarang justru nilai BI yang bikin jeblok nilai rata-rata ya?

 

Note Redaksi:

Selamat datang dan selamat bergabung, Daisy! Terima kasih sudah memutuskan tidak menjadi silent reader lagi dan mengirimkan artikel pertama. Ditunggu artikel-artikel yang lainnya. Make yourself at home.

 

 

60 Comments to "Nilai Bahasa Indonesia Jeblok?"

  1. Swan Liong Be  24 May, 2011 at 18:02

    @ Djoko, itu dengan nilai “2” menurut pendapatku harus dibedakan juga dengan vaknya. Kalo ada vak yang keliatan sulit bagiku maka kalo dapßet angka 2 sudah senang sekali rasanya, lha wong sulit jadi tidak menduga kalo toch dapet angak bagus. Lain halnya kalo vak ujiannya sebetulnya menurut aku mudah dan bisa dapet nilai 1 koq “hanya” dapet angka 2 , ya tentu kecewa banget.
    @ Atite: Bener,ada orang tua yang sok omong inggris dengan anaknya, ngotot supaya anaknya bisa omong bahasa asing sehingga bahasa indonesianya dilupakan.

  2. Djoko Paisan  23 May, 2011 at 23:01

    Bu GuCan….
    Di Indonesia, ada atau tidak, nilai 10+ , maksudnya diatas 10.
    Karena Dj. baca, bu GuCan tulis nilai 10 = nilai sempurna.
    Di Jerman ada nilai 1+ ( nilai 1 di Jerman = nilai 10 di Indonesia. )
    Mengingat saat ujian SD, Dj. dapat nomor dua dan teman perempuan dia yang menang, dapat nomor satu.
    Saat di sekolah, kami diskusikan lagi, soal-soal ujian….
    Pemikiran Dj. saat itu sedikit lain dari pemikiran teman perempuan yang menang dan mendapat nomor satu.
    begitu juga lain dengan pemikiran guru, bahkan juga lain denga cara pikir peneliti hasil ujian……
    Sewaktu guru kami mengakui hasil jawaban yang Dj, berikan ( yang saat ujian dianggap salah ), maka guru kami menghadap PD dan K…. Akhirnya jawaban Dj. dipakai sebagai jawaban yang lebih benar….
    Sehingga saat itu, jadi guyonan para guru, yang mana meraka katakan, seharusnya Dj. dapat nilai 11.
    Hahahahahahahahaha….!!!
    Anak Dj. si Dewi dan si Bagus ( Daniel ) sudah beberapa kali dapat nlai 1+
    Jadi kami juga cukup bangga. Olehnya tahu lalu, Dewi Lulus kuliahnya dan Daniel lulus SMA nya, maka kami hadiahi, liburan ke Indonessia…

    Lain dengan kakanya ( si Dewo ) sejak SD kalau pulang dengan nilai 3 sudah senang dan senyum-senyum…
    Dia selalu blang, pokoknya tidak tinggal kelas…Nilainya selalu pas-pasan….
    Kalau Dewi, nilai 2 sudah nagis dan ngmel sendiri…..hahahahahahaha….!!!
    Nah ya anak memang lain-lain, tapi kami sebagai orang tua, sayang kepada semuanya…
    Salam manis dari Mainz….

  3. probo  23 May, 2011 at 22:36

    teman guru B Indo tempat saya ngajar, pernah jingkrak2 kegirangan, karena 3 siswanya mendapat nilai 10 untuk Bahasa Indonesia. hal yang langka bukan?
    dan teman tadi , biasanya memberi hadiah pada siswa yang mendapat nilai sempurna tersebut….tentu dari kantong sendiri. itu juga berlaku untuk mapel lain, biasanya gurunya menjanjikan ‘hadiah’, tentu harus jujur, bukan hasil nyontek.
    sekolah kami bukan sekolah favorit, jadi harus kerja keras, dan kreatif tentu, agar siswa2nya ‘bisa’, kebetulan sebagian besar ekonominya juga pas-pasan. adalah biasa guru (sebagian saja tentu) merogoh kocek untuk membantu siswanya.

  4. Fia  23 May, 2011 at 21:13

    Slm knal daisy&warga baltyra
    B.indo mmg mjd matpel yg biasany dpt nilai unas paling jeblok Mnurutku pnyajian soal yg panjang (palagi brupa crita) sering mBuat anak tdk teliti dr bbrp jawbn mirip2 Sy biasany mSarankn
    1.apa yg dTanyakn soal
    2.berikn garisbawah pd kata yg mbedakn diantara pilihn jawabn
    3.saat mjawab hrs bs cari alasan knapa bukan (atau knapa ya)
    Sy sendiri mngalami ksulitn mngajari Anak Berkebutuhan Khusus yg metode blajarny cnderung hafaln bukn pngertian
    omg2 sy jg pngajar privat ^_^

  5. atite  22 May, 2011 at 00:19

    Menurut pengalaman pribadi, kadang pengajarannya juga yg tidak kreatif sehingga anak2 sekarang tidak bs melihat keindahan & kegunaannya menggunakan bahasa yang baik & benar. Krn diremehkan guru2 jadi putar otak bikin soal2 yang maut biar pelajarannya dianggap sulit. Penekanannya kadang pada benar salah teorinya bukan ketrampilan penggunaannya. Padahal di jaman bangsa krisis indentitas begini semestinya bahasa Indonesia bisa dimanfaatkan & kembali naik daun. Kl saya jalan di mall2 banyak ortu skrg jg sok mendorong anaknya menguasai bahasa asing, sebetulnya kl baik & benar tidak masalah, tp yg saya dengar suka bikin sakit kuping, kayak baru bbrp jam yg lalu ada ibu2 ngomong begini : “…Justin, sit. “, (terus anaknya yg lain ribut2) “…you stop!”, (terus sambil nunjuk si Justin) “…you talk!”… Ngomong sama anak kayak ngomong sama guguk! huahahaha…
    salam…

  6. Lani  21 May, 2011 at 23:41

    sampai lupa……..SALAM KENAL DAN SELAMAT GABUNG DI BALTYRA……….

  7. Lani  21 May, 2011 at 23:40

    yg jelas bahasa Indonesia sekarang bikin aku mumet………hehehe…….kudu nututi sampai ke-ponthal2…….kdg banyak yg kg mudenk………apalagi bhs text messaging……..ampyuuuuuun full singkatan……..nggarahi bludregku kumat…….wakakaka…….lbh jelas lagi melalui komentarku aja udah bosonya campur2 rak nggenah……halah namanya boso santai binti suka2 waelah………Daisy?????

  8. Djoko Paisan  21 May, 2011 at 23:32

    Daisy Says:
    May 21st, 2011 at 08:13

    @Pak Djoko: saya pernah membaca beberapa huruf alfabet di negara lain ada yang lebih dari 26, apakah di sana begitu?

    Kalau ditambah dengan Ä ( ä ) , Ü ( ü ) dan Ö (ö ) , memang benar jadi tidak hanya 26 tapi menjadi 29 huruf.
    Dan kalau ditambah dengan ß malah jadi 30 huruf.
    Tapi huruf huruf itu bisa juga diganti, misalnya Ü ( ue ) , Ö ( oe ) , Ä ( ae ) atau ß ( ss )
    Contohnya…. ein Kloß makanan dari rito atau kentang yang bentuknya seperti bola tennistidak bisa diganti dengan ( ss ) , tapi “Straße” bisa diganti dengan kata “Strasse”.

    Anehnya dalam pelajaran bahasa Jerman, huruf-huruf itu dianggap tidak mutlak sebagai huruf di alpebet.
    Karena bisa dgant dengan huruf yang lain.

    Okay, hanya itu yang Dj. tau, maklum, hanya lulusan SMP…..hahahahahahaha…..!!!
    Tapi ada di key boerd di Lap Top….hahahahahahaha…..!!!

  9. Linda Cheang  21 May, 2011 at 23:07

    karena gurunya mungkin tidak setegas guru-guru lulusan Sekolah Guru zaman dulu yang memang mantap…

  10. probo  21 May, 2011 at 19:19

    daysi, yang saya tahu untuk SMP, ada beberapa materi, yang tidak boleh diajarkan lagi secara eksplisit, seperti beberapa teori kebahasaan, tapi ternyata keluar di soal. jadi kompetensi dasar, dan standar kompetensinya (halah…pakai istilahnya pun sudah dibuat ribet……beda jauh dengan jaman dulu, ada TIK dan TIU) tidak dituntut, tapi …ah embuhlah Daisy…..
    yang pasti juga, ada guru yang lupa memberitahu manfaat belajar bahasa (dan lainnya) kepada anak didik, yang mengakibatkan mereka mengikuti pelajaran dengan sekedarnya, tidak ada keingin-tahuan yang tinggi, saya pun dulu sempat berpikir, bahasa sendiri kok dipelajari, kan sudah bisa……karena tidak diberi tahu manfaatnya, serta peluang ke depan kalau meguasai pelajaran tersebut…..
    salam…..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.