Kata-kata Pilihan

Yeni Suryasusanti

 

Suatu malam menjelang tidur di kediaman kami…

Bismikallahumma ahya wa bismika amuut…

Artinya: Dengan nama-Mu ya Allah aku hidup dan dengan nama-Mu aku mati. (HR. Bukhari dan Muslim)

Amin…

 

Mau baca ayat kursi?

Mau…

Dan saya akan membacakan ayat kursi sementara Fian mengikuti setiap ujungnya heheheh…

Selamat bobo, Fian…

Selamat bobo, Bunda…

Mimpi yang indah ya…

Iya, Bunda…

Bunda sayang sekali sama Fian…

Fian juga sayang sama Bunda…

Mau di cium?

Mau…

Dan saya akan mencium kening dan kedua pipinya :)

Demikian ritual sebelum tidur yang setiap malam saya dan Fian lakukan. Demikian juga dengan Ifan, namun jika dengan Ifan maka ayat kursi akan Ifan baca sendiri karena akibat ritual seperti ini Ifan sudah hafal ayat kursi sejak usia 4 th.

Kemudian saya akan memeluk Fian, dan Fian akan mempermainkan telinga saya sambil terus menatap mata saya hingga dia tertidur.

Biasanya saya akan berkata, “Pejamkan mata, Fian…”

Dan Fian pun akan memejamkan matanya rapat-rapat :)

Namun, malam itu sebelum saya sempat menyuruh Fian memejamkan mata, suami saya masuk ke kamar dan melihat mata Fian masih terbuka menatap saya dengan sorot mata sayu tanda sudah mulai mengantuk.

Suami saya berkata, “Tutup matanya, Fian…”

“Duh, pasti kacau nih jadinya…” dalam hati saya berkomentar sambil menunggu reaksi Fian.

Daaaaannnnn……… benar. Fian menutupkan tangan kirinya ke mata dan membukanya kembali sambil berkata gembira, “Ciluuuukkkk…. Baaaaaa!!!!” :D

Dan acara tidur pun tertunda hingga hampir 2 jam karena akhirnya Fian ingin kembali bercanda…

***

Suatu malam di akhir bulan setelah pulang kerja di kediaman seorang teman…

Seorang suami menunjukkan mukena cantik yang baru dibelinya.

“Dik, aku baru beli mukena untuk Ibu. Bagus nggak?”

Sang istri melihat mukena, kemudian dengan nada tinggi langsung bertanya, “Kog Mama (Ibu sang Istri) nggak dibeliin???”

Daaaaannnnn……… sejak saat itu sang suami selalu membelikan hadiah untuk keluarganya tanpa sepengetahuan istrinya karena malas menghadapi ketidaknyamanan yang mengiringinya…

***

Kata-kata yang kita pilih tanpa kita sadari mewakili pribadi kita. Baik itu kata-kata yang keluar setelah melewati proses pemikiran panjang, apalagi kata-kata spontan yang keluar tanpa melewati berbagai pertimbangan.

Sejak SMP dan mengenal kata “Cinta” permainan kata-kata mewarnai hari-hari saya. Entah berapa banyak puisi dan cerita yang tidak pernah dipublikasikan tertulis dan kini entah dimana :D

Saya menjadi orang yang spesifik dengan kata-kata. Dan hal ini – mungkin secara genetis – sepertinya menurun kepada Fian.

Kata “pejam mata” dan “tutup mata” yang memiliki hasil akhir yang sama yaitu “tidak bisa melihat”, berbeda bagi kami berdua karena prosesnya berbeda. “Pejam mata” prosesnya kelopak mata yang menutup, “tutup mata” prosesnya ditutup oleh sesuatu baik itu tangan atau kain :)

Suami saya, rasanya mewakili umumnya para pria, berpikir praktis dan spontan, belum menyadari perbedaan yang akan terjadi akibat dari pemilihan kata-kata yang kurang tepat hingga ketika melihat reaksi Fian yang diluar dugaannya langsung tertawa terbahak-bahak kemudian meminta maaf kepada saya karena sudah merusak ritual sebelum tidur (candaan “tutup mata” ini berlangsung hingga beberapa minggu heheheh).

Teman pria saya diatas, mewakili umumnya para pria yang kurang sensitif, berbicara langsung kepada sang istri tanpa prolog apa pun, menyampaikan niat yang baik telah membeli hadiah bagi Ibu yang sudah sangat berjasa baginya.

Istri teman saya, mungkin mewakili umumnya para wanita yang terkadang memiliki rasa iri dan kurang puas, ingin semua adil antara keluarga suami dan keluarga istri :)

Jika teman saya memilih menyampaikan niatnya sebelum membeli hadiah, dengan kata-kata yang berbeda, mungkin akan seperti ini percakapannya :

“Dik, abang kan baru gajian. Abang ingin membeli mukena untuk Ibu ya?”

“Kog untuk Ibu aja, Bang. Untuk Mama nggak?”

“Untuk mama bulan depannya lagi ya, biar nggak terlalu banyak ngurangi uang belanja untuk rumah…”

Atau mungkin, jika sang istri lebih bijak, menanggapi kata-kata suaminya dia akan berkata :

“Wah…. bagus banget Bang. Ibu pasti senang. Mama juga pasti senang nih kalo abang beliin…”

Dengan pilihan kata yang berbeda dan tentu saja hasil yang juga berbeda, sang istri menyampaikan hal yang sama : “Mama dibeliin juga dong, jangan hanya Ibu yang dibeliin…”

Dan akibatnya sang suami tidak perlu sembunyi-sembunyi jika ingin memberi hadiah kepada keluarganya :)

Kata-kata yang kita pilih juga akan menghasilkan efek yang berbeda jika dilontarkan pada type orang yang berbeda.

Contoh nyata, kata-kata berbau seksis yang dilontarkan kepada 3 tipe wanita akan menghasilkan reaksi yang berbeda:

Wanita pertama, yang memiliki harga diri yang tinggi dan menjunjung tinggi norma agama, akan merasa dilecehkan dan dengan tegas menyampaikan peringatannya.

Wanita kedua, yang terbiasa dengan pergaulan antar pria dan wanita sampai batas tertentu, akan merasa biasa saja dan dengan mudah mengabaikannya.

Wanita ketiga, yang mungkin sedang butuh sanjungan atau perhatian, akan merasa tersanjung dan mungkin malah menikmatinya.

Di bawah ini saya kutipkan beberapa hadist yang saya temukan tentang pilihan kata-kata :

“Barangsiapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaklah berkata benar atau lebih baik diam.” (HR Bukhari Muslim)

“Bahawasanya perkataan Rasulullah SAW itu selalu jelas sehingga bisa difahami oleh semua yang mendengar.” (HR Abu Daud)

“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang diredhai Allah SWT yang ia tidak mengira yang akan mendapatkan demikian sehingga dicatat oleh Allah SWT keredhaan-NYA bagi orang tersebut sampai nanti hari Kiamat. Dan seorang lelaki mengucapkan satu kata yang dimurkai Allah SWT yang tidak dikiranya akan demikian, maka Allah SWT mencatatnya yang demikian itu sampai hari Kiamat.” (HR Tirmidzi dan ia berkata hadis hasan shahih; juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah)

“Aku jamin rumah di dasar syurga bagi yang menghindari berdebat sekalipun ia benar, dan aku jamin rumah di tengah syurga bagi yang menghindari dusta walaupun dalam bercanda, dan aku jamin rumah di puncak syurga bagi yang baik akhlaqnya.” (HR Abu Daud)

“Bukanlah seorang mukmin jika suka mencela, melaknat dan berkata-kata keji.” (HR Tirmidzi dengan sanad shahih)

“Janganlah kalian saling mendengki, dan janganlah kalian saling membenci, dan janganlah kalian saling berkata-kata keji, dan janganlah kalian saling menghindari, dan janganlah kalian saling meng-ghibbah satu dengan yang lain, dan jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR Muttafaq ‘alaih)

Kata-kata yang keluar dari dalam diri kita bukanlah seperti kata-kata yang kita tuliskan dengan komputer, tinggal tekan tombol “delete” maka tulisan tersebut akan terhapus dengan sempurna, seolah tidak pernah ada.

Kata-kata yang keluar dari dalam diri kita ibarat tulisan yang ditulis dengan pulpen atau pensil yang ditekan dengan keras. Bisa dihapus, namun tidak sempurna karena seringkali meninggalkan bekas.

Saya pribadi masih terus belajar agar senantiasa mengeluarkan kata-kata yang benar dan baik dalam segala situasi. Yang paling sulit adalah ketika dalam keadaan lelah, apalagi dalam keadaan marah, dan saya belajar dari setiap kesalahan pemilihan kata-kata yang saya lakukan :)

Namun, jika diawali dengan niat yang bersih dan terus berlatih semaksimal kemampuan kita, semoga kelak kita akan terbiasa mengeluarkan kata-kata pilihan yang benar dan baik, yang terdengar nyaman di telinga orang-orang di sekeliling kita, apa pun situasinya. Insya Allah, Amin… :)

 

Jakarta, 15 Mei 2011

Yeni Suryasusanti

 

 

15 Comments to "Kata-kata Pilihan"

  1. anoew  23 May, 2011 at 18:56

    kata-kata berbau seksis yang
    dilontarkan kepada 3 tipe wanita akan
    menghasilkan reaksi yang berbeda

    Untuk contoh kriteria tiga wanita tersebut, tentu tergantung kepada situasi dan “alam” dimana mereka bergaul.

    Wanita pertama akan tegas-tegas memperlihatkan ketidaksukaannya atas pujian atau godaan yg diterima bila, hal itu diterimanya di muka umum (padahal menurutku aneh karena wanita itu adalah mahluk yg suka “digodain”. Untuk wanita kedua, itu kayaknya jamak, ada dimana-mana. Wanita ketiga, mungkin memang itu sudah jadi tujuannya untuk memperoleh perhatian lawan jenis dan akan membuatnya justru lebih “berharga”.

  2. Yeni Suryasusanti  23 May, 2011 at 18:24

    Anoew : heheheh…. iya, makanya aku tapi sempat berpikir kamu paling suka alinea ini hehehehe…. :
    “Contoh nyata, kata-kata berbau seksis yang dilontarkan kepada 3 tipe wanita akan menghasilkan reaksi yang berbeda:
    Wanita pertama, yang memiliki harga diri yang tinggi dan menjunjung tinggi norma agama, akan merasa dilecehkan dan dengan tegas menyampaikan peringatannya.
    Wanita kedua, yang terbiasa dengan pergaulan antar pria dan wanita sampai batas tertentu, akan merasa biasa saja dan dengan mudah mengabaikannya.
    Wanita ketiga, yang mungkin sedang butuh sanjungan atau perhatian, akan merasa tersanjung dan mungkin malah menikmatinya.”

  3. anoew  23 May, 2011 at 18:18

    Yeni, aku suka kalimat di alinea terakhir dari artikelmu ini. Mantab.

    Untuk yang sekseh-sekseh, terkadang aja sih suka, tapi kok kayaknya sering juga hahah..

  4. J C  23 May, 2011 at 10:39

    Yeni, betul sekali. Salah satu hal yang paling sulit adalah stay positive dalam berkata-kata. Sering emosi dan reaksi impulsif yang lebih mendominasi ketimbang hati yang adem, sehingga sering keluar kata-kata yang tidak positif…

    Terima kasih sharing yang apik ini…

  5. Yeni Suryasusanti  23 May, 2011 at 10:13

    @ Anoew : Biasanya kamu paling suka kata2 “seksis” heheheheh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.