Laut, Bulan dan Kamu

Wesiati Setyaningsih

 

bulan bulat besar. seperti lingkaran besar berwarna kuning di sebuah bidang kelam tanpa tepi.

aku dan kamu.

dan air laut yang saling memburu menuju pantai.

“adakah cinta yang tak berakhir seperti air laut yang setia menuju tepian?”

kamu diam. lama.

“kamu hanya bisa memahami air ketika kamu menyentuhnya” katamu akhirnya.

“temukan sendiri jawabnya dalam hidupmu. aku tak tahu. dan kalaupun aku tau, belum tentu kamu percaya kalau kamu kuberitahu…”

kini aku terdiam.

cahaya-cahaya berpendar dari lampu hotel sekitar pantai.

“suatu saat aku akan kembali ke sini. berada di hotel2 itu…”

kamu tertawa.

“boleh saja. mimpikan apa saja. apapun yang membuatmu bahagia…”

“bukankan mimpi selalu membuat kita bahagia?”

“ya…saat bermimpi kamu pasti bahagia. bagaimana ketika mimpi itu menjadi nyata. akankah kamu sama bahagia?”

“apakah tidak selalu?”

kamu tersenyum. senyum paling indah di muka bumi.

“bisa jadi kamu sudah berubah pikiran ketika mimpi itu datang padamu menjadi realita..”

“itulah kenapa kamu mestinya berani menerima segala resiko yang harus kamu hadapi ketika mimpi itu menjadi nyata”

matamu menuju hatiku.

“apa yang kamu mimpikan saat ini?”

apa yang aku mimpikan saat ini? aku tercenung. adakah?

kamu mengarahkan muka ke laut. seolah tahu aku tak bisa menjawab pertanyaanmu.

“bukankah saat ini sudah demikian indah?” gumammu.

aku lega. aku tahu kenapa aku tak bisa menjawab pertanyaanmu. aku begitu bahagia dengan saat ini. apalagi yang aku impikan? laut, bulan, kamu. bukankah itu sempurna?

“bersamamu aku tak ingin apa-apa lagi. aku sudah sangat bahagia…”

kamu tertawa. jemarimu mengacak rambutku.

“bahkan tanpaku kamu juga mestinya tetap bahagia. bahagialah bersama dirimu sendiri. bukankah kamu dan dirimu tak pernah terpisahkan?”

aku dan diriku. kamu sungguh ajaib. aku tak pernah sadar bahwa aku selalu bersama diriku. dan kamu mengatakannya dengan sambil lalu.

***

angin terus merayap. tak terdengar tapi tajam meresap. dingin. aku masih ingin belum beranjak. laut, bulan dan kamu. terlalu sempurna untuk diakhiri segera….

 

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

14 Comments to "Laut, Bulan dan Kamu"

  1. wesiati  12 June, 2011 at 13:04

    terima kasih banyak atas comment2nya. ini salah satu ‘serial’ dari tulisan ‘aku dan kamu’ yang pertama.

  2. anoew  23 May, 2011 at 18:25

    Pakdhe Dj & Lani, woalaaaaah opo tho ikiy kok jadi pacar saya yg nungguin bulan?

  3. Lani  23 May, 2011 at 02:03

    MAS DJ……hahaha gak cm pacar yg telat datang bulan bikin mumettttt………..mungkin istri telat klu anak udah ber-kesebelasan jg bs bikin mumet…….dan jd bulan2-an……….kkkkkkkk

  4. Djoko Paisan  23 May, 2011 at 00:18

    Yu Lani…..
    Lha kalau pacarnya mas Anuuu terlambat datang bulan, kan gawat…..
    Bisa-bisa, mas anu jajdi bukan-bulanan…..hahahahahaha….!!!
    Olehnya Dj. bilang, lebih baik berenang di Cibulan

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *