Meluluskan Tradisi Bercerita

Prasodjo Chusnato Sukiman

 

“Aku kadang berpikir bahwa perasaan malu, yang biasa, tanpa sebab, sama kuatnya dengan perasaan-perasaan kita yang lain dalam menghalangi kita bertindak baik dan mendapatkan kebahagiaan sejati” — C.S Lewis 

Kali pertama diterbitkan, novel Primary Colors (Random House, 1996) telah mengguncang publik pembaca lantaran ia begitu fasih dan tangkas menceritakan seluk-beluk kisah Bill Clinton dalam bursa pemilihan presiden tahun 1992. Novel satir ini semakin menjadi perbincangan hangat dengan penulisan kata ‘anonymous’ sebagai penyamar nama penulis novelnya. Setelah semester perdana terbitannya beredar, keluarlah nama Joe Klien sebagai nama pengarang yang sesungguhnya. Sebagai seorang penulis, Klien — seorang jurnalis dan kolomnis politik Newsweek– punya banyak alasan untuk menyamarkan identitasnya. Sebagai anonim ia merasa nyaman saat menulis, dan yang paling utama ia mempunyai alasan terhindar dari sebab yang akan merusak reputasinya. 

Mengapa ada kenyataan seseorang enggan menuliskan nama aslinya, meski untuk karya aslinya sendiri? Penyamaran identitas seperti ingin menampik kenyataan penulis saat ini punya kesempatan menjadi penampil. Klien dan deretan anonim lainnya adalah contoh penulis yang justru menghindari jelajah identitas yang mudah ditandai (signified). Mereka seperti ingin “bersembunyi” dari paparan Anthony Giddens yang berargumen bahwa identitas diri tercipta dari kemampuan untuk mempertahankan narasi tentang diri, dan membangun perasaan yang konsisten perihal kesinambungan biografis.

Selain Klien dengan tema besar berlatar politik Amerika, kita masih bisa berjumpa dengan tema yang dekat dengan keseharian kita. Sekadar menyebut beberapa contoh, kita bisa “menikmati” kisah pecandu obat-obatan terlarang (Go Ask Alice), juga kisah seorang remaja yang hamil di luar nikah (Annie’s Baby), dan yang terbit belakangan Love Me Better : Kisah Nyata Seorang Wanita yang Terperangkap Kekerasan dalam Rumah Tangga-Sebuah Graphic Memoir (GPU, 2006). Masih begitu banyak judul buku lain berupa novel (fiksi), atau memoar yang mengatasnamakan “anonim” sebagai bentuk pertanggungjawaban sebuah karya.

Berbeda dengan Primary Colors yang mengemas kegaduhan kampanye Clinton dalam sebuah novel fiksi, tiga contoh buku yang tersebut di atas adalah contoh anonim yang rela membongkar buku harian (diary) mereka untuk dibaca orang banyak. Mereka hanya segelintir orang yang ingin keluar dari kungkungan tradisi identitas yang akan merekatkan hasil tulisannya sebagai sebuah rujukan subyektif. Mereka lahir karena ingin menuliskan kisah sejati, kendati mereka bukanlah sosok yang bermain di garis panggung terdepan (somebody). Mereka adalah orang kebanyakan (nobody) yang merasa berkepentingan menyebarkan kisah mereka dengan pendekatan intimate tanpa harus kehilangan pembatasan identitas diri. Mereka adalah bagian dari pencerita tangguh yang ingin menuliskan kisah mereka dengan spirit untuk meluluskan tradisi bercerita tanpa tekanan. Dan sebagai ganjarannya, mereka terhindar dari sangkaan; apa yang pembaca pikirkan tentang penulisnya.

***
Dalam sampul buku tertera nama Rosalind B. Penfold sebagai penulisnya. Menjelang penutup buku di halaman akhir tertulis kalaulah Rosalind B. Penfold adalah nama samaran. Ada ratusan ribu “Rosalind B. Penfold” di seluruh dunia yang akan mengen
ali diri mereka sendiri dalam kisah ini, petikan dalam buku ini menjadi penuntas spirit bercerita lebih pantas dihargai ketimbang menelusuri identitas yang terbalut dalam nama samaran (security). 

Sebut saja namanya, Roz, perempuan lajang usia 35 tahun yang bahagia dan punya karir sukses. Kebahagiaannya bertambah satu lagi ketika berjumpa Brian, seorang duda beranak empat. Seperti nama penulisnya, nama-nama pelaku lain yang berserakan dalam kisah ini juga nama yang telah disamarkan. Terbagi dalam lima bagian inti, cerita Roz adalah kisah sejati seorang perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga.

Di bagian pertama, “Mulai: Bulan Madu” menggambarkan bagaimana cinta adalah tema paling pekat yang melumuri perjalanan awal Roz dan Brian. Roz memilih tinggal bersama Brian dan meninggalkan karir yang tengah menanjak di puncak kesuksesan. Perlahan tapi pasti, Roz mulai merasai sesuatu yang mengganjal. Dan ini yang membuatnya gamang untuk memilih antara: keluar dari masalah atau tetap berada dalam pilihan hidupnya saat ini.

Pada bagian selanjutnya, “Tersesat: Jekyll & Hyde” dan bagian “Terluka: Bertahan” melukiskan bagaimana kenestapaan mulai mewarnai kisah Roz. Pada dua bagian inilah penggalan kisah yang paling sarat dengan perlakuan Brian pada Roz yang penuh kekerasan. Roz mengalami revolusi tindakan Brian yang brutal, penyiksaan fisik dan psikis, hardikan serta hinaan, dan tentu saja pelecehan seksual. Roz terombang-ambing tanpa pernah punya kesempatan keluar dari masalah. Kelak menjelang di bagian akhir kisah dijelaskan bagaimana rentetan perlakuan Brian pada Roz adalah sebuah fenomena psikologis yang disebut sindrom stockholm, di mana Roz sebagai “tawanan” melakukan strategi bertahan hidup dengan cara memahami Brian dengan mengatisipasi kebutuhannya, dan terjerat secara emosional.

Diawali dengan kalimat, “Diriku sudah habis…” (hal. 169) bagian “Keluar: Melepaskan” seperti ingin menyadarkan kepada pembaca inilah babak berikutnya dari kehidupan Roz. Pada bagian ini, Roz mulai melakukan reaksi kesadaran. Satu per satu rentetan peristiwa mulai terbongkar. Brian yang tidak hanya doyan menyiksa dan berperangai buruk. Ia ternyata juga peselingkuh sejati Kendati kebusukan demi kebusukan Brian mulai disadari bukan berarti penderitaan Roz berakhir sampai di sini. “…Aku tak bisa jauh darinya. Aku ditarik kekuatan yang lebih kuat daripada aku… seperti tarikan magnet… seperti kekuatan pasang…” (hal. 220). Brian adalah sosok yang ia cintai sekaligus yang paling ia takuti. Brian adalah hantu yang tak bisa ia gubris begitu saja. Roz berusaha membelah gelombang yang telah mengombang-ambing hidupnya selama ini. Keluar dari rumah dan setelah tiga bulan tidak melakukan kontak membuat Roz mulai menemukan dirinya kembali.

***
Berbeda dengan Go Ask Alice dan buku-buku memoar sejenisnya lainnya, Love Me Better adalah sebuah memoar yang ditulis dalam bentuk novel grafis. Salah satu ciri dari novel grafis adalah adanya ambisi sastrawi yang sedikit membedakan dengan komik biasa. Dalam beberapa terbitan novel grafis, kehadiran Love Me better menambah khazanah pustaka novel grafis yang telah ada. Ia lahir sebagai novel grafis yang mengangkat tema keseharian, yang sampai kini masih nyata dan banyak dijumpai di sekitar kita. 

Buku setebal 257 halaman ini seperti ingin membuktikan kekuatan sebuah gambar sama kuatnya dengan kata-kata. Digambar sendiri oleh penulisnya, sehingga membuat potongan-potongan gambar itu punya kekuatan penceritaan yang lugas sekaligus menyembulkan gaya yang intim. Pilihan warna hitam putih juga berdampak gambar yang tertuang adalah sebuah sketsa yang penuh guratan garis-garis yang secara natural, sekaligus mampu menampilkan sisi kejiwaan penulisnya.

Penulis yang menyamarkan namanya dengan sebutan Rosalind B. Penfold ini telah mendirikan sebuah yayasan yang bergerak untuk memberikan kekuatan bagi korban kekerasan dalam rumah tangga. Di awal tulisan ini saya memetik kalimat masyur dari pengarang C.S. Lewis, yang juga telah menginspirasikan kekuatan menulis bagi si Rosalind yang anonim itu. Bahwa dengan memutuskan rasa malu itu berarti ia telah meluluskan tradisi untuk bercerita, dan menuliskan sebuah kisah yang dapat membantu orang lain. *** [email protected] Holistic Writer

CATATAN:
Artikel ini adalah resensi buku dari novel grafis yang berjudul “Love Me Better”, yang pernah dimuat di harian Kompas beberapa tahun silam. Meski “usang”, saya masih ingin berbagi, semoga bermanfaat.

DATA BUKU

Judul buku: Love Me Better : Kisah Nyata Seorang Wanita yang Terperangkap Kekerasan dalam Rumah Tangga-Sebuah Graphic Memoir

Penulis: Rosalind B. Penfold
Penerjemah: Dini Pandia
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2006
Tebal : 257 halaman
Judul buku: Love Me Better : Kisah Nyata Seorang Wanita yang Terperangkap Kekerasan dalam Rumah Tangga-Sebuah Graphic Memoir 

Penulis: Rosalind B. Penfold
Penerjemah: Dini Pandia
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2006
Tebal : 257 halaman

 

 

12 Comments to "Meluluskan Tradisi Bercerita"

  1. Handoko Widagdo  26 May, 2011 at 07:58

    Ayla, asal bukan TIWUL

  2. Anastasia Yuliantari  24 May, 2011 at 10:32

    Nek nama samaranku TIYUL nanti malah disangka TUYUL, deh…..hehehehe.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.