Kerudung Merah

Ida Cholisa

 

Aku menghitung hari. Sebentar lagi cuti mengajarku habis. Rangkaian kemoterapi yang menyakitkan telah selesai aku jalani. Aku harus kembali mengajar!

Aku berdiri di depan cermin. Kuperhatikan wajahku yang masih terlihat kuyu. Efek kemoterapi telah menyisakan banyak perubahan pada diriku. Alis mataku gundul, bulu mataku menghilang, terlebih rambut kepalaku, rontok tak berbekas. Aku mirip Upin Ipin, tokoh film kartun yang sangat disukai anak-anakku. Hm.

Ada beberapa menit aku berdiri di depan cermin. Tubuh gagahku lenyap sudah. Pasca diangkatnya payudara kananku, maka pakaian apapun yang kukenakan terasa sangat tak indah. Miring sebelah. Aku tersenyum. Inilah aku, “cancer survivor” yang akhirnya harus hidup dengan satu payudara. Tak mengapa. Aku tak sedih karenanya. Hanya satu yang membuatku berpikir; masih nyamankah aku berseragam safari seperti yang biasa aku kenakan selama ini?

Ternyata tidak. Kondisi dada yang tak lagi simetris membuatku susah mengenakan seragam formal. Aku butuh pakaian yang membuatku leluasa bergerak. Hingga akhirnya gamis menjadi pakaian yang sangat aku suka.

“Jangan dulu bawa motor. Pakai ojeg kalau mau ngajar.” Demikian suamiku mengingatkanku. Aku pun mengiyakannya, mengingat baru beberapa bulan aku menjalani operasi pengangkatan payudara. Efek yang kurasakan usai menjalani operasi, tangan kananku tak lagi sekuat dulu. Cepat lelah, dan aku sering merasakan nyeri dan “cenat-cenut” di lengan kananku. Bahkan aku sering merasakan sakit pada daerah bekas operasi, punggung hingga tangan.

Kondisi tak nyaman ini tak lantas membuatku bermanja diri. Aku tetap aku yang dulu. Aku yang pekerja keras dan hampir tak pernah menyia-nyiakan waktu. Meski separah apapun efek kemoterapi yang aku jalani, aku tetap mengayunkan tangan dan kaki, mengerjakan semua pekerjaan rumah seolah tak ada apapun yang melanda diri. Hanya saja, aku mesti menjalani cuti mengajar dikarenakan kondisi badan tak memungkinkan. Rangkaian kemoterapi membuatku jatuh sakit berulangkali.

Detik-detik mengajar semakin dekat. Inilah saatnya aku kembali ke habitat asal; dunia mengajar. Gelisah merayapi hati. Aku harus bergantung pada orang lain? Aku harus diantar suami menuju tempat kerja? Ataukah diantar tukang ojeg saja? Tidak. Semua pilihan terasa sangat tak nyaman. Aku harus melakukan semuanya dengan tanganku sendiri. Aku tak ingin bergantung pada orang lain.

Kunaiki sepeda motorku. Dengan sisa kekuatan yang aku punya, kulajukan sepeda motor seolah tak ada yang kurasa. Pelan-pelan, sembari kunikmati pemandangan pagi. Ya, pemandangan semrawutnya jalan yang selama enam bulan tak pernah aku lihat, sejak aku mengajukan cuti karena pengobatan kemo dan operasi.

Saat itu duniaku hanya rumah dan rumah sakit. Dunia yang sempit bagi raga yang tengah sakit. Duniaku yang dahulu dipenuhi kesibukan serasa tercabut begitu saja. Sakitnya efek kemoterapi bahkan pernah membuatku hampir menyerah. Dukungan suami dan anak-anak serta para sahabatku yang pada akhirnya mampu membangunkan kembali semangat besarku. Hingga akhirnya mampu kulewati perjuangan demi perjuangan yang melelahkan dan menyakitkan.

Aku tiba di sekolah, disambut salam dan jabat hangat rekan-rekan serta ratusan muridku. Aku tiba kembali di rumah keduaku, rumah tempat berkumpulnya para guru dan ratusan siswa yang haus mencari ilmu.

“Eh, Bu Ida. Sudah sehat?” Pak Dhani, guru Fisika berkulit bersih itu menyapaku.

“Alhamdulillah, berkat doanya.” Aku membalasnya. Senyum tersungging di mana-mana, senyum indah yang lama tak kulihat. Senyum para sahabat…

***

Aku memasuki ruang kelas. Mata-mata bening menatapku, disusul salam sapa yang menyentuh hatiku. Kutatap mereka satu persatu. Ada kerinduan yang mengharu biru. Para muridku.

“Good morning, students….”

“Morning, Mom….”

Kutebarkan pandangan. Wajah-wajah yang sekian waktu lalu pernah mengisi hatiku, kini tampak jelas di depan mataku. Ah murid-muridku, I miss you…

“Pemanasan” sebelum materi inti pun aku lakukan. Anak-anak antusias mendengar ceritaku. Ya, cerita bertabur motivasi hidup yang kerap aku lemparkan pada mereka. Bahkan terkadang cerita konyol yang membuat mereka tertawa.

Intermezo, cerita ringan yang ternyata sangat disukai para murid. Kuingat betul bagaimana  mereka memintaku untuk bercerita di kelas saat materi telah usai. Begitu cerita konyol aku keluarkan, meledaklah tawa mereka. Haha. Mereka bilang aku jutek, ternyata aku pandai bercerita juga. Hm, belum tahu, ya?

“Mom, dikemo itu disinar, ya?” Randi, murid lelaki yang agak-agak nyleneh bertanya kepadaku. Rambutnya tampak acak-acakan. Seragam yang ia kenakan nampak kusam. Ah murid yang satu ini memang terkenal kurang rapi. Kelebihannya, ia siswa berotak encer. Hormat pada guru, supel pula!

“Beda, Randi. Dikemo itu diinfus menggunakan cairan kemo yang sangat keras. Kalau disinar itu diradiasi namanya.”

Ia manggut-manggut.

“Enak nggak Mom dikemo?” kembali ia bertanya. Teman-temannya sontak koor menyorakinya.

“Huuuuuuu…..”

Aku tertawa.

“Enak. Mau nyobain?”

“Hiiii……!” ia bergidik.

“Mual muntah ya, Mom?” sambung Nandine, siswi  berjilbab mantan ketua OSIS.

Aku hanya tersenyum. Efek kemo, hm…., terlalu sulit untuk diceritakan…

Aku melanjutkan ke sesi belajar. Para siswa nampak kecewa. Ceritaku sengaja aku putus di tengah jalan.

“Open your English book, please…!” aku mengomandoi mereka. Satu persatu para siswa itu  membuka buku paket Bahasa Inggris dan LKS di atas meja belajar mereka. Sejurus kemudian kelas pun riuh rendah oleh diskusi tentang materi pelajaran.

Sembilan puluh menit kemudian, aku pun keluar ruangan. Kembali menuju ruang guru untuk beristirahat sejenak sebelum mengajar ke sesi berikutnya.

“Capek, Bu?” Bu Intan, sahabat karibku, meyapaku saat ia melihat aku kerenggosan.

“Nggak sih, cuma ngos-ngosan rasanya…”

Ia tertawa.

“Sama saja itu…., ngos-ngosan karena kecapekan…”

Aku tertawa.

“Iya…, sejak sakit, kekuatan badanku tak lagi sepert dulu. Gampang lelah. Apalagi tangan kananku sering pegal dan terasa nyut-nyut.”

“Itu tandanya Ibu mesti banyak istirahat.” sambung Bu Intan.

Aku hanya mengangguk kecil. Anggukan yang sebenarnya tak berarti apa-apa. Sebab pada kenyataannya, aku bukanlah perempuan yang senang memanjakan badan. Aku perempuan yang terbiasa bekerja keras.

Maka sakit dan apapun bukan penghalang bagiku untuk tetap mengerjakan banyak pekerjaan. Cuti mengajar selama enam bulan telah aku lewati. Maka kini saatnya aku kembali mengaktifkan diri, mencerdaskan para anak negeri. Yup, mengajar ratusan siswa dengan beragam karakter yang terkadang menguras emosi dan tenaga…

“Dari tadi kalian tidak memperhatikan Ibu.  Apa yang sedang kalian bicarakan?” Sedikit kutahan emosi saat kudapati beberapa murid asyik mengobrol saat aku menerangkan materi. Ini adalah hari ketiga aku mengajar di kelas XII IPA 2.

Mereka diam. Menunduk kepala mereka. Dengan sisa tenaga yang kupunya, kembali aku menerangkan materi “expression”. Memberikan mereka penjelasan dan contoh ungkapan tertentu, kemudian memberi tugas pada mereka untuk membuat dialog dalam bentuk role play.

Saat mereka mengerjakan instruksi yang kuberikan, aku merasa tenagaku lelah tiada tara. Terkadang rasa nyeri masih melintas di bagian dada dan lengan tangan. Aku memang telah berhenti menjalani serangkaian kemoterapi. Tapi aku diwajibkan untuk melakukan kontrol rutin tiap dua bulan sekali.

Aku melangkah keluar kelas. Bel pulang telah berbunyi. Saat kulangkahkan kaki menuju ruang guru, kudengar tapak kaki mengikutiku. Kutoleh kepalaku. Nampak tiga siswi berusaha memburuku.

“Mom, maafkan kami, ya?”

Aku menghentikan langkahku.

“Kami melakukan kesalahan, mengobrol saat Ibu menerangkan. Kami janji nggak akan mengulangi lagi.”

Aku tersenyum.

“Ibu tak melarang kalian mengobrol. Tapi lihat tempat dan situasi, ya? Kalian tahu, Ibu menerangkan sekuat tenaga di antara agar kalian bisa mengerti apa yang Ibu terangkan. Dan tentunya kalian tahu, Ibu habis sakit. Tak mudah bagi Ibu untuk mengeluarkan suara sekeras mungkin agar bisa didengar siswa yang duduk di bagian belakang. Sementara kalian justru membuat berisik kelas, mengobrol tidak pada tempatnya. Bukankah itu mengganggu kegiatan belajar-mengajar? Ibu terganggu, teman-temanmu pun terganggu.”

“Iya, Mom. Kami mengaku salah. Maafkan kami.”

Mereka menjabat dan mencium tanganku, mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Aku kembali melangkah ke ruang guru. Saatnya aku pulang. Tiba-tiba bayangan dua anakku melintas. Kids, wait for me….

***

Sabtu pagi. Aku tengah merampungkan novel ketigaku, “Perempuan dengan Satu Payudara” yang bakal ditebitkan bulan ini. Saat jari jemariku asyik mengetik huruf demi huruf, telingaku dikejutkan dengan uluk salam di pintu pagar rumahku. Kubuka pintu pagar, dan menyembullah wajah-wajah yang sangat aku kenal, wajah-wajah muridku…

“Happy birthday, Mom….”

Aku terkesiap. Ulang tahun?  Tahu dari mana anak-anak itu kalau hari ini hari ulang tahunku? Hm…, seumur-umur aku tak pernah merayakan pesta ulang tahun…

“Semoga panjang umur dan sehat selalu ya, Mom…”

Aku terharu menerima kue tart yang telah mereka persiapkan untukku. Ah anak-anak…, ada-ada saja ide mereka…

“Mom, ini kado kecil dari kami. Tanda cinta kami pada Mom, mudah-mudahan Mom berkenan menerima. Jangan dilihat dari harganya ya, Mom…” Ilham, sang ketua kelas menyerahkan sebuah kado kepadaku.

Kuterima bungkusan kado berwarna merah marun itu. Satu persatu siswa menyalami dan mengucap selamat serta mendoakanku.  Kuterima kado itu. Kuucap terima kasih pada murid-murid yang kusayang itu.

Saat mereka berlalu dari rumahku, aku buka bungkusan kado itu. Terbelalak mataku. Sehelai kerudung nan cantik menyembul dari kotak kado. Kerudung indah berwarna merah. Kerudung yang teramat aku suka. Di dalam kotak itu, kutemukan rangkaian kalimat yang tertata rapi. Kalimat cinta dari para murid, kalimat bertahta terima kasih atas bimbingan yang kuberikan pada mereka selama ini.

“Mom, kami semua cinta Mom. Jangan sakit lagi ya, Mom? Terima kasih atas bimbingan Mom selama ini. Semoga Mom suka dengan kado kami. We love you, Mom…” (Students of XII IPA 2)

Senin pagi, aku kembali mendapati kado di atas meja kerja di ruang guru. Kado dengan kertas pembungkus bergambar bunga. Kubuka dengan hati-hati. Ah…, kerudung berwarna merah kembali menampakkan diri. Dari siapa ini?

Kubaca sehelai surat yang menyertai kado tersebut.

“Untuk Mom yang kusayangi,

Kami tahu warna merah adalah warna yang kau sukai. Kami sering melihatmu mengenakan baju berwarna merah. Maka ijinkan kami memberimu hadiah sederhana, sebuah kerudung merah yang semoga membuat wajah Mom semakin bertambah cerah.

Dipakai ya, Mom? Kami ingin melihat Mom mengenakan kerudung pemberian kami, kerudung  tanda cinta dari kami…

Salam, Astrid, Nunik dan Siera.

Tiga murid itu, Astrid, Nunik dan Siera adalah anak-anak yang kemarin aku tegur saat mereka mengobrol ketika aku sedang menerangkan pelajaran. Ah anak-anak itu ternyata menaruh perhatian besar kepadaku…

***

Hari ini acara pelepasan siswa kelas XII. Murid-murid yang pernah memberiku kado kerudung merah akan meninggalkan sekolah tempat mereka menuntut ilmu. Sejenak hatiku digenangi rasa rindu. Murid-murid yang kusayang akan meninggalkanku…

Aku mengenakan baju perpisahan berwarna merah marun. Hari ini aku akan meluncur ke sebuah gedung di mana acara pelepasan siswa dilaksanakan. Aku bingung, kerudung mana yang cocok dipadukan dengan pakaian merah marun ini?

Tiba-tiba aku teringat kerudung merah yang diberikan para muridku. Ada dua kerudung merah yang diberikan oleh mereka, kerudung merah hati dan merah marun. Aha, ini dia, kerudung merah marun yang sangat match dipadukan dengan baju yang akan kukenakan…

Gedung di mana acara pelepasan siswa itu dilaksanakan telah penuh oleh undangan. Aku memasuki ruang gedung, mengambil tempat duduk tak jauh dari barisan siswa kelas XII yang berpakaian kemeja dan baju kebaya. Betapa gagah dan anggunnya anak-anakku.

Acara demi acara berlalu, kini tiba pengumuman para siswa yang berhasil masuk perguruan tinggi melalui jalur prestasi. Hatiku bergetar menyaksikan para muridku, beberapa di antaranya murid-murid yang telah memberiku kerudung merah marun, menerima sertifikat tanda mereka diterima masuk perguruan tinggi negeri. Tak terasa air mataku menetes satu demi satu. Rasa bahagia sekaligus bangga menyelinap di sudut hati.

Dalam barisan guru, aku bercampur baur menyalami ratusan muridku. Mata kami sembab oleh air mata, air mata keharuan dan kesedihan karena tibanya saat perpisahan. Saat-saat seperti ini adalah saat yang paling mengharukan…

“Mom…..”

Aku terkesiap. Beberapa wajah yang sangat aku kenal menjabat dan mencium tanganku, serta memelukku.

“Doakan kami ya. Mom…”

Aku mengangguk.

“Mom jangan sakit lagi, ya? Sehat selalu ya, Mom?”

Titik keharuan kembali menyelinap di sudut hatiku. Wajah-wajah bening itu terlihat gembira, saat mereka melihat kerudung merah itu bertengger manis di kepalaku. Ya, kegembiraan yang sama seperti yang aku rasakan, bahwasanya aku, sang penderita kanker payudara stadium 3 B yang telah menjalani serangkaian kemoterapi dan operasi, ternyata masih diberi kesempatan melihat murid-muridku mendapat kesuksesan di hari spesial ini….***

(Bogor, Mei 2011)

 

 

17 Comments to "Kerudung Merah"

  1. EA.Inakawa  29 May, 2011 at 04:31

    aduh….jd ikutan sedih gue,ini pengalaman yg sama dengan ibu saya. Thx atas ceritanya,salam baik

  2. Saras Jelita  26 May, 2011 at 22:32

    Ocha n Ibu Ida, kadang wanita takut ya dibilang tdk sempurna krn tdk memiliki Payudara atau Rahim, kadang mereka jadi tidak mempunyai akal yg sehat mempertahankan itu hanya demi takut dibilang tidak sempurna. Jadi heran deh sebenernya apa sih kesempurnaan seorang wanita (atau manusia itu?)?

    Demi kesehatan (diri saya) finally saya dengan BAHAGIA mengangkat rahim (bahasa kerennya Hysterectomy) saya gara2 2 kali mengalami opersi Mioma (bahsa enaknya Miom). Ini membuat teman2 wanita lingkungan kantor dan sahabat2 diluar kantor terkejut dan (dalam hati mrk) menyayangkan mengapa saya terlalu cepat mengabil keputusan untuk Hysterectomy

    Tuhan Yesus memberikan saya otak dan kepandaian (untuk berpikir), DIA juga memberikan saya teman2 dan Keluarga mensupport saya untuk menjalankan Hysterectomy demi kesehatan dan itu dia…..KANKER mengapa juga saya harus memelihara penyakit didalam tubuh saya. Ibu Ida, singkat cerita saya akhirnya 2 tahun yang lalu menjalankan operasi Hysterectomy, hidup sekarang lebih ringan karena udah nggak mikir lagi sewaktu2 Mioma akan tumbuh lagi (didalam rahim saya).

    Yang lebih membahagiakan lagi sekarang saya sudah tidak meresakan sakit (mules2 diperut) dan beli softex lagi deh tiap bulan………….HOOOREEEEYyyyyyyy

    Keep on semangat Ibu Ida, GOD BE WITH YOU

  3. Yeni Suryasusanti  26 May, 2011 at 09:11

    baru baca…. dan teringat sahabat yang gagal melewati kanker payudara, dan tante saya yang survive juga dengan pengangkatan sebelah payudara…
    semoga cepat pulih Ibu Ida !
    salut untuk anda !!

  4. IWAN SATYANEGARA KAMAH  25 May, 2011 at 18:15

    Ida adalah nama yang berasal dari nama Jerman. Maknanya kurang lebih “industrious”. Jadi Ibu Ida pasti tangguh dan tabah sesuai namanya.

  5. Ocha  25 May, 2011 at 16:39

    Bu ida… tulisan ibu membuat saya jadi ingat ibu mertua di rumah.
    Beliau juga cancer survivor, rahimnya telah diangkat stadium 3C.
    Saya masih ingat betul, 2hari menjelang operasi pengangkatannya, di dalam lemari pakaian rumah sakit, saya menemukan sebuah buku bersampul koran, ternyata buku itu berisi ulasan tentang perjuangan melawan kanker.
    Padahal saat itu, ibu dan kami semua belum tau kalo miom yang akan diangkat sudah berubah menjadi kanker ganas.
    Ibu bilang, ya jaga2 aja kalo memang hasil PA nya kanker, dan buku itu kalo tidak disampul koran, nanti bikin orang kasihan lihat kondisi ibu..
    Oh.. ibu, i love you fulllll……
    Semangatmu, menginspirasi hidupku…

  6. Dewi Aichi  24 May, 2011 at 21:48

    Emil..iya ya…aduhhh…sampe ikut sembab mataku karena nangis…

  7. Emilia  24 May, 2011 at 10:36

    Salut buat bu Ida…. dg semangatnya yg luar biasa itu ….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.