PLTN Jepang, Antara Pro dan Kontra

Sakura – Jepang

 

Menyambung tulisan saya di artikel sebelum ini (`Tiga minggu pertama di Fukushima-shi`), kali saya akan lebih membahas mengenai fakta PLTN Jepang yang sebenarnya.

Jepang adalah negara yang sangat minim sumber daya energi fosil (kecuali batu bara), sampai-sampai harus mengimpor minyak mentah dan gas alam dari negara-negara lain, termasuk juga mengimpor uranium, karena persediaan batu bara Jepang hanya dapat mengcover 21-24% kebutuhan listrik Jepang. Dengan miskinnya sumber energi, sejak tahun 1973 pemerintah Jepang lebih meningkatkan pembangunan PLTN, karena biaya energi listrik yang dihasilkan dari nuklir adalah yang terendah dibandingkan dengan sumber-sumber listrik lainnya (solar energy masih menjadi sumber listrik termahal, meski bagi Jepang sekali pun).

Saat ini, sebanyak 24% sumber listrik negara Jepang disupply dari reaktor nuklir. Jepang mempunyai 54 tank reaktor pada 21 lokasi PLTN, di mana 17 lokasi di antaranya terletak di daerah pesisir pantai, termasuk juga PLTN yang sedang dalam sorotan saat ini: PLTN I Fukushima dan PLTN Hamaoka (Shizuoka). Satu PLTN sebagai tank reaktor ke-55 sedang dalam proses pembangunan di Shimane tahun ini. Sampai dengan tanggal 16 Mei ini, dari 54 tank reaktor tersebut yang semula beroperasi, 9 tank reaktor telah mengalami shutdown (4 tank reaktor di PLTN I Fukushima dan 5 tank reaktor di PLTN Hamaoka), sehingga yang masih beroperasi sebanyak 45 tank reaktor.

Dari 54 tank reaktor semula, 29 tank reaktor menggunakan sistem BWR (boiling water reactor), suatu sistem yang sama dengan yang PLTN I Fukushima. Sistem lainnya yang digunakan pada PLTN Jepang adalah PWR (pressurized water reactor) and ABWR (advanced boling water reactor), sedangkan sistem FBR (fast breeder reactor) dan Magnox (yang serupa dengan PLTN di UK), telah distop karena menggunakan radionuclide utama dari plutonium.

Membandingkan dengan sistem di PLTN Chernobyl, di sana menggunakan sistem RBMK (reaktor bolshoy moshchnosti kanalniy, dalam bahasa Rusia) atau High Power Channel-Type Reactors yang juga menggunakan sumber radionuclide dari plutonium. Sebenarnya semua PLTN Jepang yang menggunakan plutonium sudah ditutup. Tetapi melihat efek dari PLTN I Fukushima akibat gempa 11 Maret lalu terhadap masyarakat Jepang, kontra terhadap pemakaian nuklir sebagai sumber listrik di Jepang meningkat menjadi 80%, termasuk aksi demo menentang operasional PLTN Hamaoka, karena dikawatirkan akan menimbulkan efek yang sama dengan PLTN I  Fukushima.

Kontra terhadap PLTN juga sebagai efek dari beberapa kecelakaan yang terjadi sepanjang sejarah PLTN Jepang (akan saya uraikan di bawah ini). Sebanyak 20% yang pro disebabkan oleh alasan bisnis, adalah mereka yang menggunakan energi nuklir bukan sebagai konsumsi rumah tangga, tetapi untuk industri/pabriknya, mereka yang rumah-rumahnya disewakan untuk para pekerja PLTN, dan mereka yang mensupply bahan makanan untuk para pekerja PLTN.

Akibat penutupan 9 tank reaktor pada tahun ini, Jepang kehilangan supply enargi listrik sebesar 9693 MW (4696 MW dari PLTN I Fukushima dan 4997 MW dari PLTN Hamaoka).

Akibatnya, pemerintah dan rakyat Jepang harus melakukan penghematan energi listrik besar-besaran saat ini, terutama untuk menghadapi musim panas nanti (secara khusus saya juga harus melakukan puasa Ramadhan musim panas ini, benar-benar tidak terbayang kalau tidak bisa menggunakan AC, karena panasnya di sini lebih panas daripada di Indonesia). Pemerintah Jepang berencana akan menaikkan harga tarif listrik tahun ini (update dari berita TV tanggal 12 Mei, kenaikan harga listrik sekitar 0.5% sampai 2%).

Untuk masa depan, pemerintah Jepang akan lebih menfokuskan kepada pembangunan energi listrik panas bumi (geothermal), mengikuti jejak New Zealand, karena Jepang juga mempunyai banyak sumber panas bumi dan mengandalkan sumber batu bara saja tentu tidak akan mencukupi.

Beberapa kecelakaan reaktor nuklir Jepang

  1. Tahun 1981: Sebanyak 300 pekerja terekspos radiasi secara berlebihan, setelah batang fuel di tank reaktor pecah selama perbaikan (sayang sekali, informasi lengkapnya susah didapat dari internet).
  2. December 1995: terjadi kecelakaan reaktor nuklir di Manju (propinsi Fukui), setelah terjadi kebocoran sodium yang menyebabkan timbulnya api hingga termperatur naik ratusan Celcius. Reaktor di Fukui ini menggunakan sistem MOX (campuran uranium dan plutonium) di mana radiasi dari plutonium jelas lebih berbahaya dibandingkan uranium.
  3. Maret 1997: terjadi eksplosi dari sampah radiaokatif pada saat pemprosesan ulang. Kecelakaannya terjadi di PLTN Kushima (di propinsi Miyazaki-pulau Kyuushu), mengakibatkan penutupan PLTN tersebut.
  4. Tahun 1999: kembali lagi PLTN Fukui menimbulkan masalah di mana sistem pemasukan fuel tidak berfungsi dengan baik.
  5. 30 September 1999, jam 10.35 am: Terjadi kecelakan di tempat lain, di PLTN Tokai, Ibaraki. Kecelakaan akibat human error di mana mereka kurang  mempunyai qualifikasi dan pengalaman yang cukup. Ketika terjadi pengisian uranium, volumenya melebihi batas critical mass, hingga mencapai 40 liter atau 16 kg U-235. Dua pekerja tewas dan seorang pekerja tercemar radiasi dengan dosis yang sangat tinggi.
  6. 9 Agustus 2004: PLTN di Fukui kembali menimbulkan masalah, 5 pekerja tewas akibat eksplosi uap panas di PLTN Mihama-Fukui. Ini adalah kecelakaan yang terberat hingga telah merenggut korban jiwa.
  7. 6 Juli 2007: Kerusakan tank reaktor akibat gempa bumi di propinsi Niigata 6.8 skala Ritcher, sebanyak 7 tank reactor di Kashiwazaki dan Kariwa (propinsi Niigata) mengamai shut down selama 21 bulan.
  8. 2008: Akibat gempa bumi sebesar 7.2 M di Kurihara (propinsi Miyagi) pada tahun 2008, menyebabkan keretakan pada menara pendingin reactor di PLTN Kurihara, mengabikatkan limbah air mengalami kebocoran dan kerusakan pada batang reaktor.
  9. 11 Maret 2011: Akibat gempa bumi Tokai-Tohoku sebesar 9.0 M, mengakibatkan PLTN I di Futaba (di propinsi Fukushima) mengalami ledakan dan keursakan pada 4 tank reactor (tank no.1-4) yang sampai saat ini masalahnya masih dalam proses penanganan. Sebanyak 140 000 orang penduduk dalam radius sampai dengan 20 km masih dalam proses evakuasi hingga hari ini.

Sampai saat iti, sedikitnya 5 PLTN telah mengalami pembatalan dan shutdown, di antaranya: PLTN Houhoku di propinsi Yamaguchi (tahun 1994), PLTN Kushima di propinsi Miyazaki (tahun 1997), PLTN Ashihama di propinsi Mie (tahun 2000), PLTN Suzu di propinsi Ishikawa (tahun 2003), PLTN Maki di Niigata (tahun 2003) dan kemungkinan 1 PLTN yang sedang dibangun saat ini di Shimane juga akan mengalami pembatalan.

Keadaaan PLTN I Fukushima saat ini

Sampai dengan hari ini (16 Mei), tank reaktor no.1 sudah mengalami melt-down, tetapi tank reaktor no.2-4 belum bisa melt down. Masalahnya, setelah melt down, apakah sampah nuklirnya akan dibuang ke propinsi Omori (Jepang mempunyai tempat pembuangan sampah nuklir di propinsi Omori, di wilayah Tohoku), sedangkan masyarakat Jepang saat ini sedang besar-besaran melakukan kontra terhadap operasional PLTN.

Jepang pernah berpikir untuk membangun fasilitas pembuangan sampah nuklir di bawah tanah, seperti yang dilakukan oleh negara Finlandia, tetapi masalah kembali terbentur kepada penolakan masyarakat untuk pembangunan sistem pembuangan sampah nuklir bawah tanah tersebut.

Menghadapi musim panas tahun ini

Untuk menghadapi musim panas tahun ini, pemerintah Jepang menganjurkan masyarakat Jepang untuk menurunkan satuan Ampere. Secara individual, beberapa hal lain yang dapat dilakukan misalnya: memasang krei di luar jendela kaca, untuk mengurangi panas di dalam ruangan, menggunakan kipas angin (sampai dengan bulan ini, kipas angin di toko-toko elektronik kebanyakan sudah terjual habis), memakai pakaian yang sejuk, dan sebagainya.

 

 

25 Comments to "PLTN Jepang, Antara Pro dan Kontra"

  1. sonny  18 December, 2011 at 13:54

    Sdikit mau ikutan.
    Indonesia harusnya bisa mencontoh Jepang krn dinegara yang rawan gempa itu berani mendirikan 54 PLTN. Di Indonesia kadang juga terjadi gempa, namun tidak sesering di Jepang. Di Indonesia masih banyak lokasi yang aman dari Gempa. Gelombang protes di Jepang, bisa jadi hanya ingin menurunkan konsumsi listrik yang memang sudah cukup atau mungkin berlebih pada skala rumahtangganya. Berbeda dengan Indonesia, selain masih banyak rumahtangga yg blom dapet listrik, listrik yang mengalir dirumah kita pun sangat berbeda jauh dengan di Jepang. Kalo rumah kita mungkin dengan 450/900 watt sudah merasa cukup, lha di Jepang 1 rumah bisa dapet listrik minimal 6000 watt.

    Di Indonesia listrik yg cuma 450/900/1200 itu baru untuk rumah kita, blom lagi kita memikirkan sektor industri yg membutuhkan energi sangaaaaaattt buanyak. Bagaimana Indoensia mau maju kalo cuman begini2 aja. Mau bikin mobil, motor, pesawat, senjata, dan industri besar lainnya tapi energi listrik nggak tersedia. Anak2 Indonesia di pelosok2 nggak bisa belajar karena gak ada penerangan dirumahnya.

    Sementara protes masyarakat hanya didasarkan pada ketidaktauan atau ketidakpahaman tentang teknologi, ditambah lagi dengan ulah provokator dengan tujuan tertentu. Kasian masyarakat yang blom ngerti iptek trus diprovokasi utk menentang program pemerintah mengatasi kelangkaan energi (khususnya listrik).

    Marilah kita belajar dari kecelakaan2 yang terjadi, agar kedepannya bisa diperbaiki dengan sistem keselamatan yang lebih aman. Sehingga kita Indonesia bisa menjadi bangsa yang setahap2 bisa maju mengejar ketinggalannya

  2. sonny  18 December, 2011 at 13:48

    Indonesia harusnya bisa mencontoh Jepang krn dinegara yang rawan gempa itu berani mendirikan 54 PLTN. Di Indonesia kadang juga terjadi gempa, namun tidak sesering di Jepang. Di Indonesia masih banyak lokasi yang aman dari Gempa. Gelombang protes di Jepang, bisa jadi hanya ingin menurunkan konsumsi listrik yang memang sudah cukup atau mungkin berlebih pada skala rumahtangganya. Berbeda dengan Indonesia, selain masih banyak rumahtangga yg blom dapet listrik, listrik yang mengalir dirumah kita pun sangat berbeda jauh dengan di Jepang. Kalo rumah kita mungkin dengan 450/900 watt sudah merasa cukup, lha di Jepang 1 rumah bisa dapet listrik minimal 6000 watt.

    Di Indonesia listrik yg cuma 450/900/1200 itu baru untuk rumah kita, blom lagi kita memikirkan sektor industri yg membutuhkan energi sangaaaaaattt buanyak. Bagaimana Indoensia mau maju kalo cuman begini2 aja. Mau bikin mobil, motor, pesawat, senjata, dan industri besar lainnya tapi energi listrik nggak tersedia. Anak2 Indonesia di pelosok2 nggak bisa belajar karena gak ada penerangan dirumahnya.

    Sementara protes masyarakat hanya didasarkan pada ketidaktauan atau ketidakpahaman tentang teknologi, ditambah lagi dengan ulah provokator dengan tujuan tertentu. Kasian masyarakat yang blom ngerti iptek trus diprovokasi utk menentang program pemerintah mengatasi kelangkaan energi (khususnya listrik).

    Marilah kita belajar dari kecelakaan2 yang terjadi, agar kedepannya bisa diperbaiki dengan sistem keselamatan yang lebih aman. Sehingga kita Indonesia bisa menjadi bangsa yang setahap2 bisa maju mengejar ketinggalannya

  3. Sakura  26 May, 2011 at 07:09

    Makasih Pak Iwan sudah mampir.

    Jujur saya mau kasih penjelasan terbuka, kalau TEPCO (PLNnya) Jepang merupakan sumber salah satu lembaga mewah sumber `korupsi ala Jepang`. Seorang staf di TEPCO yang mempunyai posisi, kalau pensiun, dia dapat uang pensiun 2000 man en (20 000 000 yen) per tahun. Dan boss di TEPSO akan dapat 10 oku en (10 0000 0000 yen..berapa nih saya bingung, pokoke nolnya ada 9 biji). Dengan menfasilitasi pejabat di TEPCO (TEPCO juga yang ngurusi PLTN Jepang) dengan uang segitu banyak, mereka `LUPA` dan `MENGABAIKAN` kepentingan masayrakat umum, mereka mengabaikan antisipasi seandainya terjadi bencana seperti di PLTN I Fukushima saat ini. Karena uang sudah dimakan sama pejabat2 di TEPCO, akibatnya, untuk menanggulangi defisit anggaran di TEPCO saat ini, mau nggak mau rakyat juga yang kena getahnya, yaitu KENAIKAN HARGA TARIF LISTRIK.
    (saya tulis blak-blakan, entar dibaca sama pejabat TEPCO nih…hihihi)

  4. IWAN SATYANEGARA KAMAH  25 May, 2011 at 18:42

    Saya cukup heran dan tidak paham dengan cara berpikir orang Jepang. Setahu saya, Jepang paling responsif dengan segala kemungkinan bencana dan ini sudah terkenal seantero dunia. Ketika mereka membangun begitu banyak rekator nuklir, saya jadi bertanya, apakah mereka tidak menyadari kondisi geografis Jepang yang mudah sekali diombang dan dihempas gempa berikut derivatif bentuk bencananya?

  5. Sakura  24 May, 2011 at 07:17

    Halo semuaaaa….sorry, gomen baru liat artikelnya..hehehe…tengkyuuu udah mampir semua.

    Hahaha…komen-komennya asyik-asyik.

    Saya jadi bingung mau jawab gimana ya, karena saya bukan orang Jepang, saya sih berpendapat berdasarkan fakta, kalau faktanya bagus, ya akan saya bilang bagus, kalau faktanya jelek, ya saya akan bilang jelek, saya nggak memihak Jepang kalau faktanya emang jelek (Dasar nih peneliti, bicara berdasarkan fakta, bukan feeling..hehehe) .

    Yah, beginilah Jepang, kalau menurut saya, agak `kebablasan` dikit dengan PLTN. Emang sih PLTN murah meriah, selama nggak terjadi apa-apa, anjuran saya (ciaahhhh…, semoga semua lokasi PLTN di semua negara, jangan ada penduduknya sampai radius 20-30 km deh.

    BTW Maria Osawa mungkin udah siap-siap dengan kipas angin dari segala penjuru, tapi kayaknya dia sih udah kebal ama panas dan dingin…kwkwkwkwk…

    Secara pribadi, saya nggak takut tinggal di Jepang, seperti pendapat Mbak Dewi, di sini penanganannya sangat bagus, rakyat adalah prioritas, rakyat adalah bos. Dan satu lagi, Jepang adalah negara yang kuat dan tangguh, suatu bangsa yang akan tetap kokoh berdiri dengan badai apapun yang menimpa negaranya.
    Ini yang saya salut dari bangsa Jepang!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.