Puisi-puisi Curhat

Odi Shalahuddin

 

Sampai sekarang, saya sama sekali tidak memiliki keberanian untuk membuat sebuah tulisan bernama puisi. Puisi adalah sesuatu yang tidak terjangkau dalam kemampuan saya. Saya tidak memiliki kesadaran untuk membangun bentuk lahir dan batin puisi itu. Secara lahir bagaimana topografinya, diksinya, imajinya, kata-kata kongkretnya, bahasa figurative atau kiasannnya, ataupun versifikasinya. Secara batin juga belum lekat untuk membangun tema, rasa, nada, dan amanat/tujuan dari puisi itu.

Puisi adalah sesuatu yang agung. Puisi adalah rangkaian kata-kata yang terpilih. Puisi, menulis sesuatu dengan singkat dan padat, penuh substansi, tapi bisa mengabarkan tentang dunia, dengan beragam makna, tersirat ataupun tersurat. Sungguh saya tidak mampu.

Jangankan menulis, membaca puisi saja saya tidak yakin memiliki kemampuan. Saya pasti akan gagap, misalkan untuk melakukan penilaian terhadap majas yang digunakan dan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam bahasa puisi.  Saya hanya bisa merasakan bahwa puisi yang saya baca itu enak, mengalir, membangun imajinasi saya tentang sesuatu dan merasa mendapatkan pencerahan atas sesuatu.

Karena puisi menurut saya itu sesuatu yang sulit, maka saya tidak berani untuk menulis puisi. Akhirnya saya menulis, menulis tentang sesuatu yang akan saya tulis karena didorong oleh pikiran atau rasa tertentu yang menggairahkan untuk dituangkan ke dalam tulisan. Dengan kata lain saya ”Curhat”. Saya kira tidak berdosa kalau orang curhat melalui sebuah tulisan.

Keinginan membuat puisi tentu saja ada, seperti saya tuangkan dalam curhat saya:
AJARI AKU MENULIS PUISI

Ajarilah aku
Menulis puisi
yang bisa menggoda rasa

Sungguh,
Aku belum mampu
Jadi,
Ajarilah aku,
Yogyakarta, 10 Pebruari 2010

Sehubungan dengan curhatan-curhatan ini, maka saya mencoba menyibak kembali segenap kenangan. Tulisan curhat pertama, kalau tidak salah ingat, saya buat ketika saya duduk di kelas empat SD. Judulnya kolam. Saya tidak ingat persis keseluruhan isinya. Tapi ada baris yang tidak pernah terlupa, karena tulisan dalam baris itu  saya ditertawakan oleh bapak Saya.

Saya punya kolam di depan rumah

Banyak isinya, misalnya gurameh, belut, lele

Bapak saya terus mendorong agar saya mencoba menulis lagi. ”Tulis saja yang akan kamu tulis”. Memang saya terus menulis. Menulis sebagai curahan hati.

Pada saat itu, kawan-kawan di sekolah dan para sahabat pena yang mendapatkan ”curhat” saya sering mendorong agar mencoba mengirim ke Majalah ”Bobo” ”Kawanku” atau ”Adinda” yang pada masa-masa itu menjadi bacaan bagi kami, anak-anak. Tapi saya tidak melakukan.

Pada saat SMP, di tahun 1985, sebagaimana remaja lainnya, tentulah menulis curhat bisa menjadi bagian dari kesehariannya. Suatu hari, ketika saya tengah berjalan menuju rumah seorang kawan, ada seekor anjing hitam menghadang. Saya berhenti, anjing itu mendekat dan menginjaki ranting-ranting kering. Beruntung ada orang lewat dan mengusir anjing itu.

Pengalaman itu saya tulis, dan saya kirim ke sebuah majalah pelajar. Diterima. Isinya saya lupa, tulisan yang saya beri judul ”Kehidupan”, saya lupa keseluruhannya, yang saya ingat hanya bait pertamanya saja:

ranting kering

terinjak

anjing hitam

berpatahan

….

Pada saat SMA, saya juga masih sering menulis. Ada beberapa yang masih tersimpan hingga saat ini. Keuntungan pada masa itu yang memaksa saya harus menulis, saya mengelola buletin ”Aspirasi Remaja” yang terbit rutin setiap sebulan sekali dengan oplah 1,000. Distribusi buletin ini ke berbagai kelompok teater di daerah-daerah pelosok pedesaan di wilayah DIY dan Jawa Tengah.

Pada saat berhasil membuat jaringan himpunan dari berbagai kelompok teater desa itu di tahun 1987, saya menulis lagi:

”Telah Sampai Muara”

Telah sampai muara
Laut bebas di muka
Mari kuat misteri
Dalam pertarungan nasib
Mulai bersama, kibar bendera

Saya masih saja terus menulis. Apa yang saya rasakan, apa yang saya lihat, dan apa yang saya impikan. Ketika melihat anak jalanan di Malioboro, saya menuliskannya:

Biarkan Dia
Biarkan malam ini dia lelap dalam nyanyian
Menyatukan gairah dan mimpi-mimpi
Hidup bergoyang hanyut dalam syair


Biarkan malam ini dia lelap dalam puisi
Mencabik kata koran alas tidurnya
Mencari makna dimengerti
Bagi hidup kaumnya

Biarkan malam ini dia lelap tersorot lampu jalan
Menghirup udara hitam

Lihat, ada senyum dalam lelapnya

(1987)

Perbincangan dengan kawan-kawan tentang masa depan dan saling mengolok dimana saya menjadi obyek utama olokan (karena saya orang yang sering bolos dan diramalkan tidak akan lulus), saya menulis demikian (saya posting, dan saya kaget luar biasa karena masuk menjadi salah satu yang terpopuler. Apakah karena judulnya):

Malam itu aku bersenggama dengan mimpi-mimpi

Ya, malam itu,
Aku ada dalam mimpi
Mimpi ada dalam aku
Melesat aku menembus lorong waktu
Aku tidak merasa menjadi aku
Aku cumbui mimpi
Bermain cinta hingga puncak orgasme
Aku tidak merasa menjadi aku
Spermaku lahirkan mimpi-mimpi baru
Menciptakan berjuta kisah
Aku tidak merasa menjadi aku

(1987)

Memasuki tahun 90-an, saya masih saja melakukan curhat dengan menulis dan menulis. Curhat tentang apa saja. Curhat yang saya simpan sendiri atau saya bagikan kepada teman-teman dekat. Ketika kawan-kawan ingin membuat antologi puisi saya selalu menolak untuk terlibat, kecuali satu yang tidak bisa ditolak dengan dasar solidaritas, yaitu  kumpulan puisi ”Menggugat pembangunan” yang kalau tidak salah di tahun 1991. Selebihnya tulisan lebih saya pandang sebagai curhat saja.

Pada tahun-tahun itu saya malah lebih asyik dan percaya diri dengan Cerita Pendek. Walaupun tidak pernah menghasilkan sebuah karya yang bagus, setidaknya pada periode akhir 1993-1995, telah menghasilkan lebih dari 100 cerpen dan 50-an diantaranya pernah mejeng di berbagai media lokal dan nasional. Sayang pada masa itu seluruh media belum memiliki website, sehingga kesulitan jejak untuk mendapatkan dokumentasinya.

Kembali ke tulisan curhat, sampai saat ini-pun saya masih melakukannya. Berikut beberapa curahan hati saya:

MENGENANGMU

(untuk Bapak)
mengenangmu,
seperti air mengalir dari gunung
lewati batang-batang bambu terbelah
gemericiknya berirama
bersama dedaunan yang menari
angin bermain, semut beriringan

dan
aku
tak henti kepakkan
sayap
sayap
melayang
memainkan ruang
waktu

mengenangmu
seperti berselancar pada dunia maya
tuts-tuts tertekan, melempar cepat diri kita
pada sudut ruang dimana bebas memandang
merasa diri merdeka sebagai manusia
walau kadang
salah arah
karena
peta wajah
tersamar
dan tak satu
: kloning

mengenangmu
tak ada yang salah
dan tak bisa dipersalahkan

11 Pebruari 2010

 

MAAF

:Bagi istriku

20 tahun jalan bersama
sejak awal pengakuan
menempuh perjalanan
tak tahu kapan dan dimana
berakhir

ikatan terjalin
mencumbui hari-hari
semakin sempurna
telah terlahir
anak-anak kita

Pada titik ini
membuka rekaman
dan kutahu
ku tak pernah merayu
apalagi memujamu

Sungguh
tak berani kukatakan
kau bagaikan bintang
karena kutahu itu tak kan teraih
tak berani kukatakan
kau bagaikan matahari,
karena kutahu
panasnya tak sanggup tertahan
tak berani kukatakan
kau bagaikan bulan
karena kutahu
cahayanya hanya bayang
tak berani kukatakan
kau bunga aku adalah kumbang
karena aku terlalu bodoh
untuk menghayati diri sebagai bunga dan kumbang

Padamu,
kulihat hanya dirimu
bukan membangun bayang
seperti apa dan siapa
untuk itulah aku mencinta

Maafkan aku istriku,
bila aku tak mampu membangun imajinasimu
tentang keindahan cinta
hidup menjadi biasa-biasa saja
dan tak salah bila tumbuh prasangka
memang aku tak pernah sempurna
tapi yakinlah…

Suatu hari kau pernah berkata:
“keyakinan dibangun
dari mata dan rasa
Sesekali berkatalah
biar kutahu…”
pinta sederhana
tak terpenuhi pula

Pada sisi lain
terlalu banyak salah terbaca
dan kau-pun ringan memaafkannya

semakin sempurnalah
ketidaksempurnaanku

Maafkan,
maafkan aku
istriku…

Yogyakarta, 4 Oktober 2009

 

HILANG RASA
beku
cair
uap

membeku?
mencair?
menguap?

apa?
tak tahu

dimanakah diri?

dingin-panas
angin lewat
cahaya menyapa
bumi-langit
tanah-air-udara-api
terbelah
lupa diri

api kangen panas
tanah kangen batu
air kangen gelombang
udara kangen angin

aku kangen apa?

apalah rasa
semuanya tak berasa

Yogyakarta, 27 Desember 2009

 

 

12 Comments to "Puisi-puisi Curhat"

  1. Linda Cheang  25 May, 2011 at 10:59

    Mas Odi, saya, mah, baru bisa bikin puisi justru kalo lagi dibikin kesel, hehehe. Kalo lagi hepi, malah enggak bisa, lah, Bisa diketawain Si Hoki, tuh.

  2. atite  24 May, 2011 at 11:35

    mas Odi… saya rasa semua puisi memang haruslah ‘curhat’… kl ‘curpik’ (curahan pikiran, he3x… mau diembel-embel kata2 manis kayak apapun tetap terasa beda… org yg tidak berbakat seperti saya, seumur hidup cuma dpt sekali masa untuk bs menulis puisi tanpa berupaya, setelah masa itu lewat mau jungkir balik jg saya hampir tidak bs lg menulis puisi…
    terima kasih buat puisi ‘Maaf’nya
    salam…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.