44 Tahun Yang Lalu

Anwari Doel Arnowo

 

Umur saya waktu tahun 1965 sudah 27 tahun, tinggal di Jakarta, sudah bisa mengabsorb (meresapi) gosip apapun, gosip kelas tukang becak dan gosip produk dari para petugas intel yang bertebaran. Kaum intelekpun juga bergosip dan lebih bernilai seru oleh karena mereka menyebut nama-nama terkenal baik politikus maupun perwira tinggi militer yang begitu banyak. Bukan gampang bagi saya menghafalkan pangkat militer dan istilah-istilahnya yang sering disingkat-singkat.

Ada Kodim, ada Lettu ada PHB dan RPKAD serta ada DenPom dan Koramil. Dengan terpaksa karena ingin juga ikut mendengarkan gosip yang sedang in (populer), maka saya juga terikut menghafalkan kata-kata tersebut yang juga amat berguna untuk “ikutan” bila saat kita  mendengarkan warta berita baik televisi maupun radio. Banyak hari harus kita lalui dengan mendekam di rumah dalam keadaan gelap serta tidak bisa, karena tidak berani, pergi ke luar rumah karena ada jam malam. Siapa bikin jam malam?

Membingungkan sekali, Tentara apa Polisi, yang jelas rakyat harus tetap di rumah masing-masing tidak dibolehkan sama sekali berada di luar halaman. “Musuh” kita tidak jelas. Ada perebutan kekuasaan di tingkat atas dan  ada beberapa perwira tinggi militer yang mati. Tersebar luas bahwa PKI adalah dalang segala-galanya, yakni dalang pembunuhan para jenderal, dalang kerusakan eknomi, kerusakan moral dan melakukan perbuatan amoral. Sukar bagi saya untuk mendapat berita atau gosip yang patut diandalkan kebenarannya.

Banyak yang isinya bombastik, berlebih-lebihan, seakan-akan orang-orang PKI mau menyerbu dan merampok daerah Kebayoran Baru di mana saya bertempat tinggal di jalan Airlangga. Meskipun hal itu tidak pernah terjadi, kita telah  terpaksa wajib berjaga-jaga sepanjang malam sampai pagi, di tingkat RT dan RW. Tidak berani saya menolak dan membolos dari giliran jaga, meski keesokan harinya saya bekerja di Departemen Perindustrian Maritim. Semua orang bisa menuduh orang lain dan dituduh PKI oleh siapapun, hanya karena ada masalah suka dan tidak suka.

Sampai sekarang, keadaan 44 tahun yang lalu, 1965, banyak yang tidak jelas, karena sengaja disamarkan dan kita banyak pula kita yang tidak perduli lagi. Tidak hirau, tidak mau tau dan beranggapan bahwa itu semua kan masalah yang sudah lama berlalu.

Sing wis yo uwis, yang sudah ya sudah.

Seperti begitulah masyarakat kita yang telah melalui masa empat puluh empat tahun lamanya.

(Ilustrasi: http://www.intelligencesquared.com)

Meskipun banyak orang yang mengetaui sesuatu, tetapi amat sedikitlah mereka yang perduli, berani bersuara, memberitakan, merekam dan menulis dalam kerahasiaan. Mereka sadar banyak hal telah tercipta sehingga mereka harus begitu, karena penghalang yang mereka jumpai adalah Pemerintah totaliter dan repressive, orde baru dan para pengikutnya, yang pada saat ini masih menduduki jabatan-jabatan tinggi di pemerintahan.

Pada tanggal 17, 18 dan 19 Juni 2009, saya sempat hadir di sebuah Konferensi di Singapore atas undangan Asia Research Institute and Faculty of Arts & Social Siciences National University of Singapore dan Australian Reasearch Council’s Asia Pacific Futures Research Network (APFRN).

Dengan judul: THE 1965-1966 INDONESIAN KILLINGS REVISITED, di bawah kelola empat governors: Anthony Reid dan Douglas Kammen dari National University Singapore dan Katharine McGregor serta Vanessa Hearman dua-duanya dari The University of Melbourne, konferensi telah dapat terselenggara dengan lancar dan menyenangkan. Hadirin yang terdaftar ada 125 nama dan didatangkan dari banyak negara termasuk Indonesia, juga dari Canada, Australia, belanda dan Amerika Serikat, Nepal, Pilipina. Saya sudah membaca daftar nama-nama yang jelas terdaftar, tetapi saya juga bertemu dengan mereka yang tidak ada di dalam daftar seperti Pak Iwan yang Sekretaris Dua dari KBRI Singapura dan beberapa orang lain. Panitia, meskipun meliputi anak-anak muda mahasiswa maupun lulusan National University of Singapura yang bersemangat dan berkerja professional, dapat memenuhi kebutuhan konferensi  dengan sempurna.

Di dalam suasana konferensi yang diisi oleh para sejarawan yang amat mendalami ilmunya terungkaplah banyak hal yang tidak pernah saya dengar karena memang saya tidak pernah bisa mengaksesnya dari segi sejarah seperti mereka. Maka pencerahan banyak saya dapat dari konferensi ini karena detil dari semua kejadian ini dapat diungkapkan dengan fakta sejarah. Menggunakan catatan wawancara  dengan peralatan mutakhir, pemutaran film yang dibuat dan diprakarsai oleh Bapak Putu Oka Sukanta, yang punya gelar ET, bukannya Extra Terrestrial, tetapi Ex Tapol-Bekas Tahanan Politik, yang telah mendekam di dalam penjara Salemba dan Tangerang selama sepuluh tahun lamanya. Ditangkap tahun 1966 dan dibebaskan serta ditangkap lagi. Pak Putu ini seumur dengan saya yang akan menjadi 70 tahun pada bulan depan. Dia menyatakan bahwa dirinya adalah seorang Ex Tapol yang beruntung.

Sejak dilepaskan statusnya dari tahanan beliau telah berhasil menerbitkan beberapa buku (salah satunya tidak mencantumkan namanya) dan membuat beberapa film, dan berkarya untuk kehidupannya dengan praktik sebagai akupunkturis di sebuah klinik miliknya yang disebutnya dengan Care, Support & Complementary Treatment for HIV/AIDS, Taman Sringanis Foundation–IHPC/ AUSAID. Sambil bergiat seperti ini Pak Putu telah berhasil berkelana ke 18 negara.

Saya berkenalan di konferensi dan berhasil berbicara banyak dengannya, terutama saya terkesan dengan sebuah filmnya yang pendek yang menggambarkan keberhasilan dalam mewawancarai banyak orang bekas korban G-30-S yang mau mengungkapkan sedikit atau malah ada yang banyak, dari pengalamannya masing-masing. Filmnya bagus dan hasilnya sekelas film komersial, saya sendiri bermaksud membeli compact-disknya bila saya ke Jakarta dalam bulan depan.

Apa yang terungkap dari film pak Putu maupun dari hasil wawancara yang dilakukan oleh mereka yang berkebangsaan asing tetapi amat perduli dengan gerak sejarah Indonesia, sungguh menggugah pikiran semua hadirin untuk ikut perduli. Saya sendiri ingin sekali melengkapkan apa yang terungkap di dalam konferensi ini,  untuk keperluan agar bisa dipakai oleh generasi anak-anak dan cucu saya yang telah belajar dari guru-guru yang mengajarkan sejarah sesuai dengan arahan pemerintahan yang dikuasai oleh para petinggi militer dari presiden, menteri sampai gubernur-gubernur sampai lurah-lurah dan aparatnya sekalipun.

Para guru ini telah mengajarkan sejarah dengan arahan yang salah, harus berbohong sepanjang masa. Sejarah yang diarahkan adalah hasil karya dari Brigadir Jenderal Drs. Nugroho Notosusanto yang telah banyak menggunakan penafsirannya sendiri, yang menguntungkan mereka yang menjadi atasan langsungnya

Sampai hari inipun sejarah seperti itu belum berhasil dikembalikan ke yang sebenarnya terjadi. Angkatan Darat amat berkepentingan agar versi yang mereka kehendaki bisa berhasil ditanamkan kedalam otak para keturunan bangsa di masa yang akan datang. “Kejahatan” G-30-S yang selama ini diakui sebagai hal yang benar, menjadi hal-hal yang amat patut diberi tanda tanya besar. Selama para muda usia ini masih teracuni oleh sejarah yang versinya adalah his story, bukan yang seharusnya adalah history, maka harapannya pada saat ini, masih kecil, dalam upaya kita bisa mengalami kesatuan bangsa yang utuh. Terlalu banyak yang ditutupi dan tidak dikatakan karena sejarahnya memang akan bisa mampu mengungkapkan banyak peran tentara kita di masa itu yang amat keterlaluan.

Ada satu bagian dari konferensi yang membicarakan: Colonel Sarwo Eddie’s Travel in Java and Bali September December 1965, yang dikemukakan oleh David Jenkins, seorang yang saya ingat sebagai pelaku media yang pernah dijadikan seorang persona non grata oleh pemerintah orde baru. Di session (pembahasan)  ini David mengungkapkan bahwa pertama-tama Sarwo Eddie datang dengan pasukannya dan bertemu dengan kaum ulama di Semarang dan segera setelahnya terjadilah pembunuhan massal yang tingkatnya mencapai sekitar 1500 orang yang “dianggap” PKI setiap hari. Mungkin ada yang benar-benar anggota  PKI, tetapi hal itu toh tidak pernah dibuktikan apalagi diungkapkan di dalam sebuah pengadilan.

Hal seperti ini bak seperti  photocopy saja terjadi di semua tempat yang dia kunjungi selama sekian lama di Jawa Tengah, di Boyolali dan malah terus ke Yogyakarta.

Selanjutnya cara begini merembet ke Jawa Timur dan Bali. Pembunuhan dilakukan oleh kaum militan agama karena mereka menganggap bahwa komunis adalah musuh Tuhan dan juga musuh agama. Diungkapkan bahwa pembunuhan-pembunuhan yang hebat dan kejam terjadi di mana-mana di hampir seluruh daerah di Tanah Air kita. Pembunuhan ini kalau tidak dilakukan oleh pasukan Sarwo Eddie, maka dilakukan oleh kaum yang diindoktrinasi dan tercuci otaknya.

Kaum Nahdatul Ulama di bagian Utara Jawa Tengah dan Jawa Timur telah melakukan pembantaian dengan kejam dan tanpa perikemanusiaan, tanpa memandang kawan atau saudara. Khusus di dalam sesi ini juga diingat: bahwa Presiden Kyai Haji Abdurrahman Wahid pada masa awal dalam masa pemerintahannya telah menyatakan penyesalannya yang mendalam dan meminta maaf atas nama Nahdatul Ulama terhadap perbuatan-perbuatan biadab seperti itu. Yang disesalkan adalah bahwa perbuatan-perbuatan yang sama dilakukan oleh RPKAD Pasukan Sarwo Eddie dan Angkatan Darat pada umumnya di seluruh Indonesia, terkesan kental sekali dilakukan penyamaran (hazy dan foggy) agar dilupakan dan dianggap tidak pernah ada sama sekali.

Mari kita perhatikan hal-hal di bawah ini:

Diungkapkan oleh sebaian besar sejarawan ahli yang amat mendalami masalah-masalah dan fakta-fakta yang bersifat fitnah, mengungkap sesungguhnya PKI itu sebenar-benarnya tidak tau menau apapun soal dan masalah apa yang ada di internal Angkatan Darat yang menyebabkan terjadinya pembunuhan para jenderal-jenderalnya sendiri.

Diungkapkannya pula bahwa tidak ada satupun jenderal yang disiksa di Lubang Buaya, tidak ada kemaluannya yang dipotong dan disakiti badannya. Mereka hanya ditembak saja.

Diungkapkannya bahwa para Tapol itu ditangkap dan ditahan di dalam penjara selama puluhan tahun, dan diasingkan ke dan di pulau Buru, tanpa diadili dengan layak. Demikian juga terungkap ada banyak yang serta merta dibantai langsung dan dikubur secara massal.

Diungkapkannya bahwa banyak kuburan massal yang yang selama ini telah ditemukan dan didaftar, akan tetapi pada suatu saat nanti di kemudian hari  akan diungkapkan, setelah payung hukumnya sudah ada dan mendukung pengungkapan seperti ini. Juga sudah ditemukan satu kuburan massal yang dikirakan berisi sebanyak lima ribu orang, di Selatan Yogya. Konon menurut penyelidikan para sejarawan telah terjadi pembunuhan wanita-wanita yang dicurigai sebagai anggota Gerwani.

Sungguh disayangkan bahwa saksi-saksi sejarah kelam ini tidak banyak lagi yang masih dalam kondisi hidup sehat karena telah tiada atau telah amat lanjut usia. Pencarian seperti ini, saya diberi-tau, masih menggebu dilakukan oleh mereka yang bersemangat. Mereka ini masih muda usia dan terpelajar, bersedia melakukan hal-hal ini karena demi kebenaran latar  belakang sejarah yang benar demi masa depan Indonesia. Mereka ini bukan hanya yang berkebangsaan Indonesia tetapi banyak yang berkebangsaan bukan Indonesia.

Diungkapkannya bahwa penyiksaan para Gerwani dan para tahanan wanita yang tidak mengerti apa urusannya dia ditahan, tidak lain hanyalah karena pelecehan seksual yang memalukan untuk saya ungkapkan, tetapi dalam salah satu sesi seorang pembicara Annie Pohlman dengan topik berjudul Sexualised Violence agaist Women during the year 1965 – 66 Massacres, telah mengungkapkannya dengan detail sekali.

Di setiap daerah diungkapkan kekejaman militer kita di dalam bertindak kepada penduduk setempat sehubungan dengan tuduhan terlibat PKI:

Di Sumatra Utara (Medan) oleh Tan Yen Ling (National University Singapore)

Di Sumatra Barat oleh Narny Yenny (Univ. Andalas)

Di Lampung oleh Pak Nasir Tamara yang terkenal dan sekarang bertempat tinggal di Singapura

Di Cirebon dan Jawa Barat oleh Laurie Margot Ross dari Los Angeles USA.

Di Solo oleh Theodora Erlijna (Institut Studi Sejarah Indonesia)

Di Sulawesi oleh Taufik Ahmad (Univ. Hasanuddin) yang mengatakan bahwa sampai saat ini sukar dicari datanya karena masyarakatnya yang bangsawan dan kuat beragama memang membenci PKI, jadi seakan-akan dengan mudah disimpulkan bahwa tidak ada PKI di sana.

Di Timor Barat dan Nusa Tenggara Timur oleh Steven Farram (Charles Darwin Univ.)

Khusus mengenai para Bansernya Nahdatul Ulama, ulasan diberikan lumayan detil oleh Greg Fealy (Australian National University dan Katharine McGregor ( The Universiy of Melbourne)

Juga ada dibahas masalah di Blitar Selatan dan Kalimantan.

Hampir seluruh wilayah di Indonesia dibicarakan kelainan dalam bertindak dan tata cara dalam  pendekatan keamanannya oleh TNI Angkatan Darat dalam mengamankan dan tetap menjaga serta memelihara kekuasaan yang ada di dalam tangan mereka.

Pada hari kedua saya sudah mereka-reka apa yang akan memuncak sebagai hasil utama tiga hari kita mengalami upgrading data-data di conference yang istimewa dan penting ini. Ternyata saya menemui beberapa hal yang tidak saya duga. Pembicaraan saya secara bebas pada waktu jeda minum kopi yang dua kali pagi dan siang hari, serta makan siang dengan sekian banyak sejarawan, mereka ini, sebagian besar mengatakan sebagai berikut ini. Mereka adalah sejarawan, bukan politikus, bukan politisi praktis. Apa yang mereka ketaui bukan merupakan hasil rekayasa kepentingan tertentu hingga amat jauh dari niat membalas dendam. Hal-hal yang terungkap di dalam conference mereka biasanya sudah amat mendalami sendiri sebagai hasil research mereka sendiri sebagai ilmuwan, tidak karena mereka menerima keuntungan materi dari kapitalis-kapitalis tertentu.

Hari ketiga atau terakhir didominasi oleh para pembicara Indonesia dimulai oleh Asvi Warman Adam, yang amat mengkhawatirkan masalah pengajaran sejarah. Diungkapkan bahwa pelurusan sejarah telah diupayakan oleh sebuah team pemerintah yang telah terbentuk pada pemerintahan Presiden Megawati Sukarnoputri dengan pimpinan Dr. Taufik Abdullah. Menrut pengamatannya hasil kerjanya telah dibukukan, akan tetapi pengesahannya dilakukan dengan penandatangan oleh Dr. Taufik Abdullah, yang tidak kunjung membububuhkan tandatangannya.

Diah Ariani Arimbi (Univ. Airlangga) mengambil judul: History is Not on Her Side” Discourses of G-30-S and the Killing Aftermath in Contemporary Indonesian Literary Writings

Pembicara-pembicara berikutnya pak Nurkholis (KOMNAS HAM – Indonesian National Commission of Human Rights) menerangkan peran Komnas Ham terhadap penyelidikan mengenai Pembunuhan Massal 1965-1966.

Winarso dari Sekretariat Bersama Korban 1965-66 yang berusaha menyatukan oraganisasi-organisasi para korban yang banyak itu untuk menjadi suatu kekuatan yang kuat.

Giliran Pak Putu Oka Sukanta menerangkan mengenai jalan hidupnya selama ditahan dan setelah bebas dengan tarantuk-antuk berusaha tetap suvive, karena KTPnya dicap ET. Dia ditangkap karena dianggap sebagai anggota LEKRA yang dikatakan juga adalah afiliasi PKI. Banyak mereka yang mengetaui dan mengalami , mengatakan bahwa bukan LEKRA yang mengakui menjadi bagian dari PKI, tetapi mungkin sekali PKI-lah sebagai sebuah Partai Politik  berkekuatan besar, “mengangkat anak” Lekra dan menjadikanya berada di dalam lindungannya. Berbelit-belitnya cara pikir militer, yang sering terlihat amat tidak masuk di akal sehat mengait-ngaitkan sesuatu yang kecil-kecil, menjadi sesuatu yang cukup besar untuk dijadikan musuh keamanan, dan pada giliranya: ditingkatkan lagi menjadi musuh nasional.

Korban sebagian besar adalah rakyat kecil yang tidak tau apa-apa. Ayah pengemudi mobil saya adalah seorang petani  biasa, buta huruf, ditangkap karena dianggap sebagai anggota BTI (Barisan Tani Idonesia). Petani biasa, bukan orang berada, buta huruf, menjadi musuh yang berbahaya bagi Negara?? Di sekeliling saya juga terjadi pembersihan dari sisa-sisa PKI, dari mereka yang dicurigai sekecil apapun sampai mereka yang dicegah menjadi pegawai negeri dan menjadi Taruna Akademi Militer Nasional. Orang yang lengkap kartu identitasnya, secara berseloroh, justru mereka yang sebenar-benarnya mungkin orang PKI. Tetapi kalaupun benar mereka PKI, kadar atau tingkat seperti apa sehingga mereka harus mengalami siksaan fisik maupun batin yang luarbiasa seperti diungkapkan? Apalagi juga disertakan juga semua keturunan langsungnya maupun yang ada di garis mendatar dari hubungan familinya.

Saya ingin agar semua ini bisa jelas dalam suatu kejujuran sehingga anak cucu saya dan juga anak cucu para pembaca, akan bisa mendapatkan masukan yang benar dalam mendidik keturunan-keturunan saya dan anda yang terlahir di masa generasi berikutnya.

Tidak ada satu orangpun yang bisa berbohong secara terus menerus.

Saya ingat Ex Menteri Penerangan bernama Mashuri SH, Ketua RT di daerah rumah kediaman Suharto di sudut Jalan Irian dan Jalan Agus Salim, Menteng. Dialah yang telah digosipkan menyelamatkan Suharto karena memberitaukan adanya pembunuhan para Jenderal pada tanggal 30 September 1965, telah minta berhenti dari jabatannya sebagai Menteri Penerangan. Dalam sebuah media pernah saya baca: kepada salah seorang temannya, dia mengatakan sebabnya dia minta berhenti: “Saya tidak tahan kok setiap hari diminta untuk berbohong terus-menerus.”

Di tingkat Menteri ada cerita seperti itu, kebohongan telah demikian kronisnya sehingga sejarah ingin dirubah menjadi persepsi kepentingan pribadi, bukan sebagai fakta.

Saya simpulkan amat menonjol perlunya diadakan pertemuan-pertemuan yang sifatnya bisa mengungkapkan sejarah-sejarah kelam akibat perbuatan manusia tidak jujur yang selama ini telah dengan sengaja dibiarkan terjadi. Saya kira meskipun sudah empat puluh empat tahun berlalu, kita tidak terlambat. Teruskan dan pastikan kita akan mampu menghasilkan sesuatu yang layak dan pantas.

 

Anwari Doel Arnowo

Singapura  - Sabtu, 20 Juni 2009 – 21:24

 

 

28 Comments to "44 Tahun Yang Lalu"

  1. Anwari Doel Arnowo  25 May, 2011 at 19:08

    Saya kutip sebagian dari tulisan: ………..sekian banyak sejarawan, mereka ini, sebagian besar mengatakan sebagai berikut ini. Mereka adalah sejarawan, bukan politikus, bukan politisi praktis. Apa yang mereka ketaui bukan merupakan hasil rekayasa kepentingan tertentu hingga amat jauh dari niat membalas dendam. Hal-hal yang terungkap di dalam conference mereka biasanya sudah amat mendalami sendiri sebagai hasil research mereka sendiri sebagai ilmuwan, tidak karena mereka menerima keuntungan materi dari kapitalis-kapitalis tertentu.
    Jadi mas Iwan S. Kamah mengatakan yang sudah ya sudah, itu sejalan dan ini amat pribadi. Yang lain yang ingin meneruskan niat untuk menganut history (bukan HIS STORY) ya silahkan saja.
    Sekali lagi it is a free world.
    Pendapat saya tercantun ada “TERTERA” di dalam kata-kata yang memenuhi kaidah: BETWEEN THE LINES, artinya tidak tertulis tetapi tertuang diantara kata-kata. Sudah begitulah isi hati saya.
    Salam saya,
    Anwari Doel Arnowo – 2011/05/25

  2. Itsmi  25 May, 2011 at 18:57

    Iwan, kamu benar tidak perlu lagi bersikap demikian tetapi traumanya sudah terlalu dalam…… juga jangan lupa umur mereka……

  3. IWAN SATYANEGARA KAMAH  25 May, 2011 at 18:51

    Benar Om itsmi…masih banyak.Tetapi kini sudah tidak punya alasan untuk bersikap demikian. Banyak orang yang lebih kejam dari mereka malah senang-senang tanpa hukuman.

  4. Itsmi  25 May, 2011 at 18:48

    Iwan, rasa takut masih ada sampai sekarang, banyak dari mereka sampai sekarang tidak berani ke Indonesia, kasihan loh benar….. apalagi nasionalisme nya mereka tinggi dan umur juga sudah tinggi…….padahal cita cita mereka ingin injak tanah air dan ketemu teman dan famili….

  5. IWAN SATYANEGARA KAMAH  25 May, 2011 at 18:37

    Satu dari pelarian itu adalah sahabat keluarga kami Om Djawoto yang lama bermukim di Belanda, sebelum lama menetap di Beijing dan Prancis. Ketika Soeharto mempersilahkan para tapol pulang dengan syarat, kami tetap takut menghubungi teman-teman keluarga kami.

    Jadi benar bahwa Soeharto meyebarkan rasa takut.

  6. anoew  25 May, 2011 at 18:35

    Artikel yg luar biasa!!

  7. Itsmi  25 May, 2011 at 18:33

    Banyak pelarian pelarian atau korban th 65 lari ke Belanda dan mahasiswa-mahasiswa yang kuliah di luar seperti Rusia dan Eropa timur lainnya, banyak yang tinggal di Belanda.

    Dulu karena saya mau mengenal Indonesia, bukan hanya membaca buku buku tetapi juga pergi ke pertemuan pertemuan dan banyak mendengar cerita cerita dari mereka….. juga ada beberapa profesor yang mendalam mengenai kasus 65

    Sedangkan ortu saya mengenai hal ini hanya membisu.

    Makanya saya tau dalam pelaksanaan 65 hal ini agama juga memegang peranan tetapi bukan karena agama sampai jadi begini………

    Jadi JC, saya mengerti pemikiranmu dengan pra sangka kamu………..

  8. IWAN SATYANEGARA KAMAH  25 May, 2011 at 17:28

    Om Anwari yang saya hormati. Membaca tulisan ini saya seperti membaca dan mengenang ayahanda kami. Dia memang tidak separah seperti sahabat-sahabatnya yang dtahan tanpa pengadilan di Pulau Buru. Misalnya, Pak Tom Anwar (pemimpin redaksi Bintang Timur) dan Joesoef Isak (pemilik penerbit Hasta Mitra yang mempopulerkan Pramoedya.

    Bagi keluarga kami, peristiwa 1965 adalah malapetaka yang membuat perubahan besar yang membuat sengsara kluarga kami. Saya tetap menganggap Soeharto adalah dalang dari semua kejadian ini. Namun kami tetap tidak menyimpan dendam dengan rejimnya yang membuat kesengsaraan banyak orang.

    Ya sudah…yang sudah biarlah sudah berlalu… Masa lalu biarlah menjadi pelajaran dan pengalaman sangat berharga. Yang kami miliki hanya masa depan…

    Terima kasih.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current ye@r *

Image (JPEG, max 50KB, please)