Senja di Chao Phraya (19)

Endah Raharjo

 

Bab 3: Menghalau Mendung Langit Jogja (10)

“Kenapa di hotel? Mau sampai kapan?” tanya Om Taryo, adik bungsu ayah Laras.

“Osken merasa lebih nyaman di hotel. Cuma semalam. Besok sehabis subuh kami berangkat ke Jakarta, nyewa mobil dengan supir. Langsung ke Cengkareng. Nginap semalam di airport hotel lalu paginya ke Bangkok. Saya sowan Om Taryo sekalian mau nitip mobil. Ini kunci rumah saya, yang ini kunci rumah Bapak.”

Laras menyerahkan kunci mobil dan dua kunci rumah ke tangan sang paman. “Juga koper ini, Om.” Ia menyentuh koper hitam seukuran dos mi instan yang berisi beberapa dokumen penting, barang2 penuh kenangan dengan suaminya dan sedikit perhiasan.

“Cuma ini? Motor Angka? Barang-barang lainnya?” Om Taryo sengaja tidak menanyakan Osken. Ia tahu keponakannya sedang mengalami masa sulit. Hal terbaik untuk menolongnya adalah menghargai keputusannya tanpa banyak bertanya.

Laras mengangguk, “Ya, cuma ini. Barang-barang apa? Paling cuma TV, mesin cuci, kulkas dan barang-barang dapur…” ia tertawa kecil, “Kalo laptop semua kami bawa. Di gerbang masuk perumahan ada posko, ada bapak-bapak yang giliran jaga. Motor dititipkan mereka sekalian dipakai ronda. Ini beberapa nomer telpon penting,” ia mengangsurkan selembar kertas berisi daftar nama dan nomer telpon.

Sang paman yang hanya tujuh tahun lebih tua darinya itu mengamati lembaran kertas sebentar, lalu menaruhnya di atas meja telpon dan menindihnya dengan bolpen.

“Kami cuma seminggu di Bangkok.”

“Sudah matur Bapak dan Ibu?” Om Taryo menatap mata Laras lekat-lekat. Keponakannya itu mengangguk. Ingin sekali lelaki itu bertanya dan mengatakan sesuatu, namun ia menahan lidahnya. Ada hal-hal yang sebaiknya tak perlu diucapkan atau ditanyakan.

“Bapak awalnya marah. Minta supaya kami kumpul di Bandung saja. Tapi akhirnya menyerahkan semua putusan ke saya,” jelas Laras. “Ibu sempat histeris, dikiranya saya mau lari…” ia mendengus, “Sudah saya jelaskan kalau kami nggak akan melakukan hal-hal konyol. Kami tidak memaksa Mega dan Angka. Mereka justru yang membujuk saya. Tadi pagi di koran dan radio sudah diumumkan kalau sekolah dan kampus diliburkan 10 hari.”

“Ya. Makanya tantemu dan anak-anak langsung ke Surabaya. Ikut-ikutan ngungsi…” Om Taryo yang beristeri perempuan asal Surabaya itu tertawa, “Oh, ya… kalau mau minum bikin sendiri ya, tapi nggak ada makanan karena Sumi juga minta mudik.”

Matur nuwun, Om. Saya langsung saja ke hotel. Tadi Angka mau saya ajak tapi dia ingin nemani Mega yang lagi tidur. Semalam cuma tidur dua jam. Dia sempat histeris tadi malam. Salah saya. Harusnya kemarin sebelum gelap kami sudah turun.” Laras terdengar sangat menyesal.

Om Taryo memesan taksi lewat telpon. Sepuluh menit kemudian supir taksi membunyikan klakson. Paman dan keponakan itu berpelukan. “Kamu ati-ati, ya. Jaga anak-anak. Jaga diri baik-baik.” Lelaki yang usianya sebaya Osken itu mengantar keponakannya hingga ke halaman. “Laras,” panggilnya sebelum perempuan yang tampak sedikit kurus itu masuk ke dalam taksi. “Sampaikan salam Om untuk Osken, ya.”

Laras berbalik untuk memeluk pamannya sekali lagi. Om Taryo mengawasi taksi itu hingga berbelok di tikungan. Dibandingkan dengan keponakan-keponakan perempuannya yang lain, sejak kecil Laras lebih mandiri. Selama ini ia selalu memberi contoh baik pada dua adiknya, menjadi kebanggaan orangtuanya. Kalau ia memilih Osken, pasti ia punya alasan yang kuat.

Ia sendiri sudah dua kali mencoba mencarikan pengganti Danang, suami Laras yang meninggal di usia muda. Namun tidak ada yang cocok. Laras memuja suaminya, lelaki yang memberi keleluasaan pada istri untuk bekerja ke luar negeri beberapa kali setahun, yang pandai memasak dan tak minta diladeni, yang berselera humor tinggi, yang cerdas dan berkharisma meskipun tidak berlimpah materi.

Beberapa kali Om Taryo mencoba meyakinkan Laras, bahwa lelaki seperti Danang itu sulit dicari, satu dalam sejuta, dan mereka sudah hidup bahagia dengan istri masing-masing. Sikap Laras bisa ia duga. Katanya ia memilih menjanda selamanya dari pada harus bersuamikan lelaki yang suka mengatur istri dengan dalih menjadi imam keluarga, padahal suka berulah sekehendak hati, selalu minta dilayani meskipun sang istri ikut menopang ekonomi keluarga dengan tetesan keringatnya.

***

Dari kamar hotel di lantai lima Laras menyibak gorden warna kulit jagung. Sabtu pagi itu abu Merapi masih menyiram bumi Jogja, namun tak terlihat mendung bergelayut di lengkung langit. Bersembunyi di balik tabir abu vulkanik, sang fajar mengintip di antara atap-atap rumah penduduk.

Pelan-pelan Laras melipat mukena yang baru saja ia pakai. Perempuan itu meraih jepit rambut yang tadi ia letakkan di meja kecil bulat, tak jauh dari jendela. Rambut panjangnya ia jepit jadi satu di belakang tengkuk sambil menghirup aroma parfum Jadore yang masih tersisa di helai-helainya.

Sinar matahari yang menyorot lemah menerobos bagian kaca jendela yang gordennya terbuka, pantulannya yang keemasan hinggap di wajah Mega.

“Mega… bangun… sudah jam 5.” Laras menyentuh pelan pipi anaknya. Semalam mereka tidur seranjang. Angka bersama Osken tidur di kamar sebelah. Pintu yang menghubungkan dua kamar itu dibiarkan terbuka agar mereka merasa berada di dalam satu ruangan.

Laras melihat anak sulungnya menggeliat bersamaan dengan munculnya bayangan tubuh Osken di tembok di belakang ranjang. Lelaki itu sudah bangun sejam yang lalu, tak sabar ingin mendekap kekasihnya yang tak lama lagi akan ia bawa menjauh dari bencana, bersama dua anaknya yang dengan senang hati menerimanya sebagai bagian keluarga.

Dalam remang cahaya pagi bercampur dengan bias sinar lampu di langit-langit hallway yang semalaman dibiarkan menyala,  siluet tubuh Osken dan Laras yang saling berpelukan terlihat bagai sebuah karya lukis yang romantis.

***

“Kami sudah check-in, Pak. Nunggu boarding,” ujar Laras tenang, siap mendengar apa saja yang akan diucapkan sang bapak. Cukup lama hanya terdengar dengungan pertanda sambungan telpon belum dimatikan. Terdengar suara tak jelas di latar belakang, seperti suara adik bungsu Laras diselingi suara ibunya. Ah. Pasti bapak menghidupkan speaker ponselnya agar semua bisa mendengar aku bicara, pikir Laras.

“Itu Ibumu. Masih belum ikhlas. Adikmu sedang menenangkannya. Kamu hati-hati, ya. Tolong… Bapak mau bicara dengan Osken.”

Laras menyerahkan ponselnya pada lelaki yang duduk di sebelahnya. Mega menatap mereka berganti-ganti sementara Angka tenggelam dalam buku baru yang dibelikan Osken.

Yes, Sir. It’s Osken.” Lelaki yang 25 centimeter lebih tinggi dari Laras itu bangkit dari duduknya, berjalan menjauhi sofa, menuju salah satu sudut executive lounge yang hanya berisi tujuh orang termasuk dirinya. Wajahnya sangat serius, tubuhnya tegak lurus, seperti sedang berusaha mempertahankan diri karena diserang. Lima menit kemudian tangan kirinya yang tidak memegang ponsel berkecak pinggang, namun suaranya tetap rendah, sehingga tak menarik perhatian. Laras tahu kalau lelaki yang tutur katanya lembut itu sedang bersitegang dengan lawan bicaranya.

“Ma, Eyang pasti marah sama Osken, ya…” Mega menutup laptop lalu beringsut mendekati Laras.

“Ya. Tidak apa-apa. Kami udah siap dimarahi….” Senyum Laras lembut menenangkan. “Mama tidak akan menyerah… kecuali…”

“Kecuali apa, Ma?”

“Kecuali kamu dan Angka juga tidak setuju.”

Mega menoleh ke arah adiknya yang terhisap masuk ke dalam buku yang dibacanya. “Angka suka sama Osken, katanya orangnya asyik, suka becanda, keren, nggak kayak bapak-bapak umumnya…” Mega meraih lengan ibunya lalu mendekap lengan yang lebih kecil dari miliknya itu. Laras tidak memerlukan penjelasan lebih dari itu untuk merasa lega.

“Maafkan Mama, ya…” bisik Laras, “Mama akhir-akhir ini egois, cuma mikirin diri sendiri. Sampai lupa sama Pramatya. Apa kabarnya?”

“Panggilannya Pram, Ma.” Tawa geli menyembur dari mulut Mega. Sudah beberapa saat gadis itu tidak mendengar ibunya menanyakan Pram. Beberapa kali pula ia bercanda dengan Tante Wari, adik Laras yang tinggal di Bandung, kalau ibunya sedang mabuk asmara sampai rela bersaing dengan anak gadisnya.

Laras ikut tertawa, “Apa yang lucu?”

“Yaaa… kirain Mama lupa aja kalau punya anak cewek yang mulai pacaran…” Tawa Mega makin keras. “Mentang-mentang yang lagi puber kedua…” ledek Mega.

***

Pukul 12.25, empat puluh menit sebelum Airbus A330-300 itu tinggal landas, para penumpang diminta menaiki pesawat. Formasi kursi kelas ekonomi dalam kabin pesawat jenis ini adalah 2-4-2. Maskapai yang mereka tumpangi melabeli deretan kursi dengan huruf AB-DEFG-JK. Osken memilih kursi 18A dan 18B untuk Mega dan Angka. Untuk dirinya dan Laras ia memilih tempat duduk satu baris di belakang mereka,  19A dan 19B. Ia ingin punya privasi untuk berbincang tentang banyak hal dengan ibu dua anak yang ingin dinikahinya itu.

Osken sibuk membantu Mega dan Angka memasukkan ransel mereka ke dalam overhead compartment, juga mengeluarkan beberapa barang yang akan mereka perlukan untuk membunuh waktu tiga setangah jam di udara. Laras tersenyum-senyum memandang lelaki yang belum pernah menikah itu bersemangat mengurusi dua anaknya yang sebenarnya sudah tidak perlu bantuan untuk hal-hal semacam itu.

Thank you,” bisik Laras begitu Osken selesai dengan dua anaknya dan duduk di sampingnya.

Osken balas menatap sepasang mata coklat tua yang begitu dekat dengan sepasang mata hijaunya. “Aku yang berterimakasih, Laras. Kamu sudah memberiku kesempatan untuk berbuat sesuatu untukmu dan anak-anakmu. Rasanya berbeda dengan mengurusi keponakan-keponakanku. Aku belum pernah merasakan nikmatnya menjadi ayah, dan kamu telah memberi kenikmatan itu.”

Tangan kiri Osken menggenggam tangan kanan Laras segara setelah seatbelt-nya terpasang. Mereka saling membelai dengan tatapan mata, tak peduli ada puluhan penumpang yang berderet di lorong, antri menuju kursi mereka di belakang.

Pesawat telah mengudara dengan sempurna dan lampu tanda kenakan sabuk pengaman telah dipadamkan.

“Apa tadi kata Bapak?” Laras tak ingin menunggu lebih lama lagi untuk bertanya meskipun ia sudah bisa menebak inti persoalannya.

Well…” Osken menghembuskan nafas sekeras yang ia bisa sambil melepas sabuk pengaman. Lengan kursi ia tarik ke belakang agar ia bisa duduk lebih leluasa dan lebih dekat dengan Laras. “Kalau kita ingin menikah dengan restu orang tuamu, ada syarat yang harus kita penuhi… lebih tepatnya, syarat yang harus aku penuhi….” Berkata begitu Osken meremas jemari Laras. “Kamu pasti tahu. Mereka ingin aku menjadi Muslim sebelum menikahimu,” lanjut Osken.

“Apa ini tidak terlalu serius dibicarakan di pesawat?” bisik Laras dalam satu tarikan nafas, menyurukkan kepala mungilnya ke bahu lelaki yang duduk di samping kirinya.

“Kamu yang bertanya….”

“Kita punya waktu seminggu bersama. Kita akan mencari cara bersama-sama. Paling tidak, menurutku, anak-anakku sudah bisa menerimamu. Berteman dengan mereka dulu. Itu dulu yang penting.”

“Aku suka itu… aku senang mengenal mereka lebih dekat lagi. Kita akan tinggal di rumah yang cukup besar. Ada meja pingpong, ada kolam renang, ada beberapa sepeda. Kita akan bersenang-senang,” kata Osken. Wajahnya membayangkan rumah milik sahabatnya sejak SMA, Mary Jane, seorang ekspatriat yang menikahi lelaki Thailand. Kebetulan mereka sedang bermain ski di pegunungan Alpen, sehingga ia bisa meminjam rumahnya. Kalau pun mereka sedang berada di Bangkok, di rumah itu ada cukup kamar untuk mereka berempat.

“Laras, kamu sebaiknya kuberi tahu,” ucap Osken setengah merenung, “Aku butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan anak-anakmu. Kemarin itu suasana darurat. Aku mengandalkan insting saja, seperti kalau sedang bekerja. Aku tidak yakin bisa bersikap layaknya seorang ayah dalam suasana normal. Tapi aku akan berusaha.”

Laras mengangguk-angguk tanda ia memahami kegundahan Osken.

“Aku sudah tidak tinggal dengan orang tua sejak seusia Mega dan hidup berpindah-pindah selama 22 tahun ini. Aku hampir tidak pernah memikirkan keluarga, hanya mengurusi pekerjaanku dan orang-orang yang berhubungan dengan pekerjaanku. Kalau ada anak-anak, mereka selalu berkaitan dengan pekerjaanku, tidak pernah ada hubungan personal… Dengan keponakan-keponakanku… yaaa… hanya bertemu setahun sekali.”

“Aku tahu… Mega dan Angka bukan anak-anak lagi.”

“Aku tidak bicara soal usia, Laras. Aku melihat hubunganku dengan mereka, karena mereka anak-anakmu. Kalau kita menjadi keluarga, aku harus bisa menjalankan fungsi seorang ayah…” Ia bahkan menghindari menyebut kata ‘menikah’.

“Kamu akan baik-baik saja. Kita akan baik-baik saja,” Laras meyakinkan Osken.

“Mau aku ambilkan sesuatu?” Osken berdiri, membuka overhead compartment untuk mengambil majalah yang ia taruh di dalam duffel bag. Laras menggeleng, menunjukkan buku yang ia selipkan di kantung kursi di depannya.

Sejak meninggalkan Jogja, Osken berusaha menjadikan urusan Laras dan anak-anaknya sebagai urusannya juga. Bukan hal yang mudah karena ia tidak terbiasa mengurus keluarga. Sesekali perhatiannya justru dirasakan agak berlebihan oleh Laras dan Mega, sehingga mereka sering menggodanya. Namun Angka menikmati perhatian itu, yang membuat Laras sangat lega.

Dengan buku tergeletak di atas pangkuan, Laras menyandarkan kepalanya ke pundak lelaki yang duduk di sampingnya sambil asyik membaca majalah berita. Wajah keduanya memancarkan rasa bahagia karena berhasil menghalau mendung yang menghalangi cakrawala. Pandangan ke depan menjadi lebih jernih, meskipun mereka tahu, sewaktu-waktu badai bisa saja datang menyerbu.

***

Someone told me long ago, there’s a calm before the storm.
I know, and it’s been comin’ for some time.
When it’s over, so they say, it’ll rain a sunny day.
I know, shinin’ down like water.

I want to know, have you ever seen the rain?
I want to know, have you ever seen the rain
comin’ down on a sunny day?

Yesterday, and days before, sun is cold and rain is hard.
I know, been that way for all my time.
‘Til forever on it goes through the circle fast and slow,
I know, and it can’t stop, I wonder.

I want to know, have you ever seen the rain?
I want to know, have you ever seen the rain
comin’ down on a sunny day?

 

Bab 3 “Menghalau Mendung Langit Jogja” berakhir di sini. Terima kasih untuk semua pembaca yang setia mengikuti kisah Osken dan Laras. Jangan lewatkan kisah mereka di bab terakhir: “Bulan Setengah Purnama di Atas Chao Phraya”.

 

 

29 Comments to "Senja di Chao Phraya (19)"

  1. Dewi Aichi  27 May, 2011 at 07:23

    Saw…aku ngguyu kemekelen mbayangke awakmu koyo cah cilik, memelas tenan ha ha ha….ora mudheng soal dingklik ha ha ha….saiki wis ngerti to?

  2. saw  27 May, 2011 at 06:21

    mbak Lani : aku mbuka wis bengi mbak,.. sampe kepingkel2 juga aku. Kok dadi eling Ludrukan …

  3. Lani  26 May, 2011 at 22:36

    SAW, ER tuh udah dijawab ama aki buto secara langsung……..jd semoga skrng udah ngerti, mudenk, apa, kisah, riwayat, dibelakang DINGLIK wakakak……msh kemekelen aku moco meneh……dasar aki buto…….mmg ajaib dia……ngangeni mmg……hahahah

  4. Endah Raharjo  26 May, 2011 at 17:02

    Oalaaaaahhh… lha sore-sore kok malah do dolanan dingklik, ono sing ancik-ancik, ono sing kejedug, ono sing kesandung…. dingklik ajaib nggone sopo yo? hohohohohoooo…

  5. saw  26 May, 2011 at 16:24

    mbak Lani,.. aku berlang kali tanya lho, tapi ga pernah ada yg mau naggepin. padahal aku serius. hiks

  6. Lani  26 May, 2011 at 16:22

    SAW……mo tau soal DINGKLIK????? monggo meguru dan tanya sama aki butoooooooo………krn sumbernya dr aki…..dan aki pakar bikin dingklik…….pake dingklik…….kejedug dingklik……..wakakakak………..

  7. saw  26 May, 2011 at 16:18

    sak umur2, dolan di baltyra segitu rupa, kok aku ra mudeng blass sama istilah dingklik. Trus dingklik kok iso ndadekno kejeduk?

    mbok yo para pakar berkenan bagi2 ilmu ..

  8. Lani  26 May, 2011 at 16:06

    KANG ANUUUUUU, AKI BUTOOOOOO………baru tau to????? klu subo gemblung bar kejedug DINGKLIK njur warassssssss wakakakak……makane aku syukuri waelah…….kejedug dingklik……..kkkkkk

  9. anoew  26 May, 2011 at 15:57

    Ternyata banyak yg kejedug dingklik hari ini..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.