[Serial de Passer] Astari dan Sepeda Mini Barunya

Dian Nugraheni

 

Beberapa hari setelah Astari tau tentang Bapaknya, dari cerita Yu Rumi, tiba-tiba saja Astari sakit panas. Suhu badannya sangat tinggi. Meski sudah diberi obat oleh Dokter Topo di Rumah Sakit Umum, panasnya belum reda juga. Malah Astari tertidur, tanpa terbangun sedikitpun, sejak semalam.

Mbah Lukito Kakung dan Putri terduduk di kursi di depan tempat tidur tempat Astari tergeletak. Mbah Lukito Kakung mengawasi dada Astari, hatinya sedikit tenteram ketika menyadari bahwa, masih ada tarikan nafas di dada cucu kesayangannya. Mbah Lukito Putri mengganti kompres campuran air dan perasan jeruk nipis, yang ditempelkan di dahi Astari.

Astari tidur panjang…

Sudah 15 jam Astari tertidur tanpa terjaga, ketika Yu Rumi datang, dan menangis tertahan-tahan sambil memegangi tangan Astari, “Nduk..tangiiii.., bangun..sudah siang.., ini Yu Rumi bawakan Sawo kesukaanmu.., bangun, Nduk…”

Astari mimpi panjang…

Bertemu Ibunya, berjalan-jalan di padang rumput yang banyak bunga berwarna merah jambu.., bersuka ria. Tapi kemudian Ibunya menghilang, Astari serasa dilempar ke lorong panjang yang kosong, ia ketakutan, dan memanggil-manggil Ibunya.

Astari menggeliat kecil, matanya sedikit demi sedikit terbuka, “Ibuuu…, Buuu..” Astari mengira, yang ada di dekatnya adalah Ibunya. Bukan.., itu Yu Rumi…

“Yu Rumiiii…, Yu Rumiii…, huuuu…Ibuku mana, Yu…” Astari menangis pilu…

“Ya, Nduk.., aku Yu Rumi, ayo, bangun.., minum teh anget ya..” kata Yu Rumi sambil mencoba menyuapi teh anget dengan sendok ke mulut Astari, tapi Astari menolak, matanya mengatup kembali sambil menangis.

“Wes, jangan nyari-nyari Ibumu, ya, Nduk.., nanti Ibumu di sana juga akan terasa, dia akan sedih mikirin kamu..kasihan Ibumu juga kan..? Sudah, kamu di sini ada Mbah, ada Yu Rumi, ada semua orang yang sayang sama kamu. Ibumu akan pulang, tapi tidak sekarang..jangan sedih ya..” kata Yu Rumi sambil berurai air mata.

Sedikit demi sedikit, Astari mulai sadar, bahwa sejak 3 hari lalu, dia sakit, dan sekarang, dia bangun dari tidur, entah berapa lama, dan di kamarnya, ada Embah Lukito Kakung, Putri, Yu Rumi, Suryo, dan Pak Mahmud, Bapak Suryo.. Ada apa gerangan, kok semua orang ada di sini…

“Kung, aku mau mandi, sumuk.., panas..” pinta Astari.

“Kamu sedang sakit. Kamu baru tidur lamaaa…sekali, sejak semalam..baru bangun, jangan langsung mandi.., badanmu baru saja agak adem. Kamu harus minum yang banyak, ya..” kata Mbah Lukito Kakung.

“Nanti, Uti lap aja badanmu pakai waslap, ya..biar seger..” kata Mbah Lukito Putri.

Suryo, lagi-lagi memberikan seplastik kecil kelereng, tampaknya masih baru, “Nih, buat kamu, tadi aku beli limapuluh rupiah..”

Tangan lemas Astari terjulur, “makasih, ya..”

Astari merasa, bahwa berteman dengan Suryo, cukup lucu. Bila main kelereng hanya berdua, Suryo tak peduli bahwa Astari adalah perempuan, lebih kecil, dan lebih tidak mahir membidik kelereng. Daya kompetisi Suryo sangat besar, maunya, Astari selalu kalah darinya. Tapi kalau Astari sedang tidak beruntung, seperti misalnya diguyur air oleh pak Tulus, atau dinakali teman lain, atau sedang sakit begini, Suryo akan tampak sangat memperhatikannya…

Tiba-tiba, pintu depan diketuk. Mbah Lukito Kakung bergegas keluar membukakan pintu, “Wahh.., ada tamu jauh.., kok pas bener datangnya.., pantesan Burung Prenjak pagi ini terus-terusan berkicau, kiranya mau ada tamu. Silakan duduk…”

Setelah berbasa-basi sedikit, Mbah Lukito Kakung bicara sangat pelan, “Itu, Astari, anakmu sedang sakit.., panas, baru saja terbangun, semalaman tidur tanpa nglilir…”

Kemudian, semua orang keluar menemui tamu itu, kecuali Suryo. “Kenapa kamu sakit..?” tanya Suryo.

“Ya nggak tau, sakit, ya sakit aja..” jawab Astari sambil memandangi kaus kakinya yang bolong di ujung jari jempol kakinya.Entah kenapa, dia senang ada Suryo di dekatnya. Tapi Astari juga tidak punya banyak kata untuk berbasa-basi…

Tanpa gaduh, rombongan Mbah Lukito Kakung Putri, Yu Rumi dan Pak Mahmud, dan satu tamu laki-laki tengah baya masuk ke kamar. Astari duduk bersandar bantal di ujung tempat tidur, sedang menghitung kelereng yang masih sangat baru, masih bening, yang dibawa Suryo untuknya.

Mbah Lukito Kakung duduk di pinggir tempat tidur, bicara pada Astari, “Astari, kamu kepengen ketemu Bapakmu, to..? Ini, tamu ini, adalah Bapakmu…, namanya Pak Rusti…”

Tubuh Astari menegang, spontan dipegangnya tangan Mbah Lukito Kakung, wajahnya nampak ketakutan, mukanya disembunyikan di dada Mbah Kakungnya. Beberapa saat kemudian, masih mengkeret memeluk mbah Lukito Kakung, Astari mengintip, memandang tamunya yang bernama Pak Rusti, yang katanya adalah Bapaknya.

Otaknya yang masih kecil dengan cepat mengidentifikasi… Rambutnya berombak, sama dengan Astari. Hidungnya agak mekar, serupa punya Astari, kulitnya putih bersih dengan pipi kemerahan, tak ada yang beda dengan Astari, bibirnya tipis memerah…laki-laki itu seperti orang luar negeri. Astari seperti melihat wajah yang banyak mirip dengan dirinya.

Dia mulai percaya bahwa lelaki itu, adalah Bapaknya, yang belum pernah dilihatnya semenjak lahir. Tapi Astari masih takut, dan dia tak mau lepas dari Mbah Kakungnya. Yu Rumi, tak berhenti menangis, dan menyembunyikannya di balik sapu tangannya …

Pak Rusti mencoba mendekati Astari, dia mengeluarkan banyak oleh-oleh. Buah-buahan yang belum pernah dilihatnya, Apel merah, sangat merah, juga ada buah bentuknya seperti bohlam lampu, berwarna hijau kekuningan, namanya buah Pir, buah Anggur merah dan hijau, sekotak coklat dengan tulisan bukan bahasa Indonesia..semua itu tidak dijual di toko-toko di kotanya, bahkan di Toko Asia, yang cukup lengkap dengan dagangan impor seperti Coca Cola dan Sprite, pasti tak ada…

Dengar-dengar, Pak Rusti akan menginap 2 malam di rumahnya. Astari merasa canggung, dan tidak mau mendekat bila tidak didampingi Mbah Kakungnya.

“Astari, katanya kamu pengen sepeda mini.., besok sepeda mininya diantar kemari, Bapak sudah pesan di toko Nyoo..” kata Pak Rusti.

Astari ngelendot Mbah Kakungnya, kemudian tersenyum memandang wajah tua Mbah Lukito, “Iyo, Nduk..Bapakmu membelikanmu sepeda mini..”

Mendengar penegasan dari Mbah Lukito Kakung, Astari merasa senang, dipeluknya erat-erat Mbah Kakungnya, “Lho.., sana bilang terimakasih sama Bapak.., kok malah ngruntel Simbah ki piye..” kata Mbah Lukito Kakung sambil ketawa.

Begitulah, Pak Rusti harus bersabar, bila ingin mendekati Astari, anaknya, harus pintar-pintar mencari kesempatan. Dan itu hanya terjadi bila Astari ada dengan Mbah Kakungnya, barulah Pak Rusti bisa sedikit demi sedikit berbicara dengan Astari. Ada rasa gembira yang dalam melihat Putrinya, yang baru dilihatnya lagi, semenjak lahir 8 tahun lalu. Tapi, kemudian mata Pak Rusti meredup, ada sedih yang tertimbun di matanya.

Sama-sama canggung, itulah yang ada antara Astari dan Pak Rusti. Komunikasi yang ada lebih terasa sebagai basa-basi antara dua orang yang baru saling kenal. Astari sering mencuri-curi pandang pada Pak Rusti, dan menyimpulkan, bahwa wajah Pak Rusti, sama sekali lain dengan kebanyakan laki-laki di kampungnya, yang berkulit hitam, atau coklat. Pak Rusti berkulit bersih, dan penampilannya sangat rapi. Baunya wangi…

Namanya juga nggak mirip dengan laki-laki di kampungnya, Bejo, Jumadi, Tarno, Suryo, Mahmud.., ya.., namanya Rusti.., agak lain. Tapi, pikir Astari, agaknya Pak Rusti tampak terlalu tua untuk jadi bapaknya. Dibandingkannya dengan Pak Mahmud, bapaknya Suryo tampak lebih muda daripada Pak Rusti…hmm..

Besok siangnya, benarlah, ada becak datang membawa sepeda mini warna hijau muda..sangat muda. Tak ada satu pun temannya yang punya sepeda mini dengan warna seperti ini, kebanyakan berwarna biru atau merah. “Sengaja Bapak pilihkan warna hijau, karena Bapak suka warna ini, dan Bapak yakin, kamu juga akan suka.., gimana? Suka..?” Astari mengangguk-angguk senang..

“Ayo, bukalah plastiknya, kita pasang pedalnya, kita paskan tinggi sadelnya..” ajak pak Rusti. Baru kali ini, pak Rusti berhasil berduaan dengan Astari…

“Kemari, Nak..peluk bapak sebentar, Bapak kangen..” kata pak Rusti. Astari terdiam. Pak Rusti maju selangkah, berjongkok, dan memeluk badan Astari yang mungil. Pak Rusti menangis…

Pak Rusti segera menguasai dirinya, beberapa saat kemudian, “Nahh, sudah selesai, cobalah..apakah sadelnya ketinggian..?” tanya Pak Rusti. Astari mencoba, dan menggeleng. “Pas..?” tanya Pak Rusti kembali. Astari mengangguk.

Astari sudah mahir bersepeda, Suryo yang mengajarinya di tanah lapang dekat tangsi tentara dekat rumahnya. Dan sore ini, seakan lupa baru sembuh dari sakit, bagaikan karnaval, Astari dan kawan-kawannya berkumpul di lapangan rumput, bersepeda bersama.., ada Suryo, Wandi, Entik, Witri, dan masih banyak lagi…

Hari besoknya, ada mobil Jeep panjang di depan rumah. Kiranya, ada orang yang menjemput Pak Rusti. “Astari, mau ikut Bapak ke Semarang ? Naik mobil.., kamu akan senang, Nak..” ajak Pak Rusti.

Astari duduk mendekap lengan Mbah Lukito, menggeleng-geleng.., “Kung, aku nggak mau ikut Pak Rusti..” kata Astari.

“Tidak, Rusti, biarkan Astari di sini sama aku. Aku akan mengurus Astari semampuku. Kalau kamu sempat datang, datanglah kemari, tengok anakmu. Tapi bukan berarti kamu boleh membawanya begitu saja…” kata mbah Lukito Kakung pada Pak Rusti, pelan, tapi tegas.

“Injih, Pak, saya memang sadar, saya tidak bisa ambil Astari begitu saja. Saya pun sudah berpikir, Ibunya juga pasti tak akan membolehkan Astari pergi dengan saya…” jawab pak Rusti.

Sekali lagi, Pak Rusti berjongkok, tangannya meminta Astari mendekat. Astari diam tak bergerak, tapi Mbah Kakungnya mendorong halus tubuh Astari, diberikannya pada pak Rusti.., dan pak Rusti memeluknya sangat erat..”Bapak akan usahakan sering kemari, Nak.., kalau Astari pengen apa-apa, tulis surat pada Bapak, ya..?” Astari hanya diam…

Siang itu, Pak Rusti kembali pulang ke Semarang. Ada tangis yang disimpan di dada pak Rusti. Ada sesal yang dia tak tau bagaimana mesti menebusnya. Bahkan Pak Rusti baru tau dari Mbah Lukito Kakung, bahwa Suci, istri yang sudah diceraikannya, ada di Jakarta saat ini. Banyak tanya berkecamuk di batinnya. Yang nampak adalah, wajahnya memuram. Seribu kata andai menari-nari di benaknya..

Di sisi lain, Astari masih terkagum-kagum pada sepeda mininya. Rasanya tak percaya, tiba-tiba punya sepeda mini seperti milik teman-temannya yang lain.Dia tak perlu lagi merendah-rendah pada Entik untuk minta dipinjami sepeda mini. Bahkan kemudian, Entik sering mengajak Astari main bersama, sejak Astari punya sepeda mini.

Dari beberapa jarak, Mbah Lukito Kakung memandangi cucunya, sambil menghirup asap rokoknya, ditemani segelas kopi hitam dan alunan gending Jawa dari radio transistornya. Apa pun, Mbah Lukito memanjatkan puji syukur pada Gusti Allah, yang sudah menentukan jalan hidup manusia, termasuk menentukan jalan hidup cucunya, Astari yang sekarang menjadi cucu, sekaligus anak bagi Mbah Lukito Kakung Putri…

Salam Sepeda Mini Baru…

 

Virginia,

Dian Nugraheni,

Tanggal 13 Juni 2010, jam 8.36 malam,

(Ingin kulukis langit muram dengan warna-warni cat airku…)

 

 

14 Comments to "[Serial de Passer] Astari dan Sepeda Mini Barunya"

  1. Dian Nugraheni  4 June, 2011 at 03:03

    Dewi…wahhhh, jangan2 dirimu Astari yaa, karena ntar dewasanya, Astari berada di suatu negara empat musim dalam kisah “Awan-awan Di Belahan Bumi Utara…”…he2…(ambil gagang sapu, wong meh nyapu…hixixixixi)

  2. Dewi Aichi  3 June, 2011 at 05:25

    Dian….terima kasih, telah mengakat kisah nyataku ini ke baltyra…..(wkwkw….mesthi langsung ngambil gagang sapu nih yg punya tulisan).

  3. Dian Nugraheni  3 June, 2011 at 04:48

    Buat teman2 di Baltyra yang ngikutin kisah Astari, sabar yaa, tahankan dulu sedihnya, memang demikian adanya kisah si Astari kecil, tapi ntar juga ada banyak perkembangan..karena Astari anak yang cerdas hati dan selalu mau berpikir, mempelajari hidup dari pengalaman2nya…

    Okay…jangan pada nangis yaa…(meski aku nulisnya juga.., sering sambil nangis..he2… )..

    Astari kirim salam penuh cinta untuk teman2 di Baltyra…

    Terimakasih yaa…buat semuaaaa….nyaaaaa….!!

  4. Handoko Widagdo  27 May, 2011 at 08:22

    Astari….piye to nduk….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.