Piala Pertama

Wesiati Setyaningsih

 

Sabtu, 14 Mei 2011. Tak pernah kukira menjadi hari yang bersejarah. Bukan hanya karena SOCRATES debate club mendapat piala pertama setelah dua tahun malang melintang dalam semua kompetisi debat bahasa Inggris, tapi ternyata juga membawa kesadaran yang demikian besar untuk diriku.

***

Cerita berawal dari informasi dari pak Dadi TU yang menanyakan apakah SMA 9 akan mengirim lomba debat di STIKUBANK Semarang atau tidak. Aku bingung. Tidak ada surat masuk, tiba-tiba diminta mengirim peserta. Biasanya, tanpa surat akan susah minta uang pendaftaran ke pihak sekolah. Dan lagi tahun lalu penyelenggaraan di STIKUBANK ini sungguh ‘payah’. Para jurinya, dosen-dosen yang aku tidak yakin apakah mereka kompeten dalam hal debat atau tidak, tidak ada adjudication, juga sistemnya malah seperti lomba pidato per tim.  Setiap tim anggotanya 3 orang, dan ini ciri debat Autralasian, tapi panitia ngeyel itu model British. Aku sempat ngomel-ngomel pada ketua panitia waktu itu.

Tapi entah kenapa aku penasaran. Kenapa harus menghakimi mereka, karena dulu penyelenggaraannya kacau, berarti tahun ini juga kacau? Kenapa tidak membuka diri terhadap kemungkinan mereka kali ini menyelenggarakan dengan lebih baik (inilah pelajaran “mengamati dan tanpa penilaian” itu diuji). jadi aku menelpon nomer telepon yang diberikan pak Dadi.

Dari panitia mereka berjanji bahwa penyelenggaraan kali ini berbeda dengan tahun lalu. Dan lagi kali ini sistem yang mereka gunakan adalah sistem British. Baru kali ini ada lomba debat bahasa Inggris dengan sistem British. jadi aku terpaksa sms-an dengan panitia untuk minta informasi tentang sistem ini. Karena pemberitahuannya telat, aku tidak sempat ikut technical meeting segala.

Akhirnya dengan permakluman bahwa kami bisa membayar uang pendaftaran saat lomba, dan mereka memberikan power point sistem lombanya, aku mantap mengirim satu tim. Vicky dan Cicot (namanya sebenarnya bagus : Christy, tapi entah kenapa dipanggil Cicot) yang akan maju, karena satu tim terdiri dari dua orang.

***

Dalam lomba debat sebelumnya di UKSW, aku agak kecewa karena ternyata anak-anak yang maju tidak punya kesadaran untuk mencari materi sendiri dan mencetaknya supaya bisa dibaca dan kalau perlu didiskusikan bersama. Maka kali ini aku buka semua link yang sudah disarankan teman-teman SOCRATES lewat inbox dan aku cetak sekalian. Lalu aku berikan kepada Vicky dan Cicot untuk dibaca. Sebenarnya motionnya sudah pernah kami bahas sebelumnya. Tapi tetap saja kami perlu membahas lagi. Mereka sudah agak lupa. Bersyukur motionnya cuma 8 jadi agak mudah mendiskusikannya.

Harinya tiba. Kami semua berangkat dari sekolah naik taksi. Kebetulan di saat yang sama aku harus membawa Intan dan River untuk ikut lomba pidato bahasa Inggris yang diadakan DISPORA di SMA 1. SMA 1 dan STIKUBANK Mugas cukup dekat. Jadi bisa sekalian. Pagi itu setelah anak-anak bersalaman dengan kepala sekolah untuk minta doa restu, kami berangkat.

Aku dan Intan turun di SMA 1, sementara Vicky dan Cicot aku beri uang untuk pendaftaran dan sementara berangkat sendiri ke STIKUBANK. Setelah River datang naik motor sendiri, Intan dan River aku tinggal untuk menyusul Vicky dan Cicot. Sistemnya prelim round dengan 3 kali round, lalu dari 3 kali round itu diambil 4 yang terbaik untuk ditandingkan di final dan dicari 3 juara.

Berangkat tanpa target, Vicky dan Cicot bermain seperti biasa. Mereka sudah biasa ikut lomba dan sudah sehati. Vicky selalu jadi speaker pertama, Cicot berikutnya karena jiwa ‘ngeyel’nya membuat dia ingin selalu melakukan rebutt (bantahan).

***

Tiga ronde berjalan. Di ronde ketiga mama dan kakak Vicky ikut datang. Di ronde ketiga, papa Vicky ikutan datang. Setelah ronde ketiga Cicot keluar dengan galau setengah mati. Dia bilang dia harusnya bilang ‘agree’, tapi dia salah ngomong ‘disagree’. sebagai tim closing goverment yang mengusung motion “the house would support abortion on demand’, memang harusnya dia ‘agree’ (setuju). Kalau ternyata bilang ‘disagree’, itu namanya gol bunuh diri.

Sudahlah. Semua sudah berlalu. Buat apa disesali. Sekarang tinggal menunggu siapa saja yang bakal maju ke final. Aku sudah tidak berharap apa-apa. Dua ronde awal sepertinya rankingnya tidak terlalu bagus. Di ronde ketiga Cicot sudah melakukan kesalahan.

Sudahlah. Semua ini cuma untuk mencari pengalaman. Maka ketika panitia membacakan tim yang maju final, aku tidak terlalu memperhatikan. SMA Theresiana sudah disebut. lalu SMA 3 (Smaga), lantas SMK 7 (Stemba : STM pembangunan, namanya di waktu lalu). Ketika kemudian panitia menyebut SMA 9, aku memandang Vicky dan Cicot.

“Hah, itu tadi kita? Apaan itu?”

“Aku sudah mengira…aku sudah mengira..” Vicky menggumam.

“Bu, itu kita masuk final..” Cicot berbisik tak yakin.

Hah? Masuk final? What?

Setelah beberapa menit dalam kebingungan, barulah kami bersorak-sorak… hehe..telat..!

Lalu dimunculkan penilaian sebenarnya. Tabel berisi ranking dalam setiap ronde, lalu ranking secara keseluruhan.

“Bu, kita di ranking 3! Di bawahnya Smaga dan Stemba…”

GOD…thanks a lot… semua senang. Keluarga Vicky ikut girang.

***

Final.

Motion release… NUKLIR! Itu motion kesukaan Vicky. Dulu waktu lomba debat di UNDIP ada motion ini juga, meski tidak persis. Tapi dia sempat membeli buku tebal tentang nuklir di Iran segala. Sudahlah. Aku percaya mereka mampu melakukan yang terbaik.

Dan benar. Vicky dan Cicot mampu melakukan semua tanpa beban. POI (interupsi) yang disampaikan tim lain bisa dijawab dengan baik oleh Cicot. Aku bangga pada mereka.

***

Pengumuman.

Mungkin para adju berdebat cukup sengit di dalam ruangan karena pengumuman membutuhkan waktu yang cukup lama. Cicot sudah mengeluh kelaparan. Nafsu makannya memang luar biasa. Heran saja badannya tetap saja kurus. Di dekat tempat duduk kami ada dos snack, entah punya siapa…

“Don’t even think about it..” kata Vicky ketika Cicot meliha dos snack itu penuh harap.

Dia sudah tau Cicot bakal nekad ngembat dos snack yang entah punya siapa itu.

“Tapi aku laper banget, ” kata Cicot.

“Sudahlah. ambil aja… you have to be crazy enough to be SOCRATESIAN..” kataku.

Kalau club debat kami namanya SOCRATES, maka anggotanya adalah SOCRATESIANS. bisa-bisa aku aja…:D

Ternyata masih ada lemper dan risoles di dalam dos itu. Dengan tenang Cicot makan dua makanan itu. Lalu dia mengulik kacang bawang yang masih ada di dos itu.

“Lumayan. Kacangnya masih ada…” katanya.

Tapi kemudian Cicot tertawa tertahan.

“Bu, kacangnya ternyata sudah dimakan yang punya tadi. udah bukaan kok…” aku ngakak. Vicky juga.

Lami bertiga terpingkal-pingkal lama ketika kemudian pengumuman mulai dilaksanakan.

SMA 9 disebut pertama kali…! Well, itu berarti juara 3..wow…bagus banget. Tim stemba yang duduk di depan kami tersenyum cerah. Kalo belum disebut itu berarti juara 2 atau satu. Tapi ternyata yang disebut kemudian adalah SMA Theresiana sebagai juara 2 dan SMA 3 sebagai juara satu.

Dan selesailah sudah. Kami pulang membawa piala. Piala pertama….

THANK YOU GOD…

***

Begitulah.

Acara malam itu diakhiri dengan makan di pizza hut ditraktir mama Vicky. Kami semua senang. Dan itu semua seperti bukti Tuhan padaku bahwa apapun yang aku inginkan pasti tercapai. Hanya saja Tuhan yang mengatur waktunya. Terngiang kata-kata ibuku waktu aku mengeluhkan hal-hal yang menurutku kurang mendukung kiprahku dalam membimbing anak-anak dalam debat bahasa Inggris ini.

Kata beliau “uwis lah..entuk2anmu ki opo? Percuma mulih sore terus..” (Sudahlah. apa yang kamu dapat? Percuma pulang sore terus). Maksudnya, berhenti saja ngurusin debat bahasa Inggris ini. Tapi bukannya menyerah aku malah klub yang tadinya cuma informal, aku ajukan untuk jadi salah satu ekstra kurikuler tahun ini, dan disetujui.

Waktu itu aku hanya bisa menjawab ibu, bahwa kalau semua orang berpikir seperti itu, siapa yang akan membantu anak-anak yang ingin ikut lomba? Banyak anak-anak yang sudah ikut kursus bahasa Inggris di luar dan kegiatan semacam ini menjadi ajang buat mereka untuk menguji diri. Kalau lantas aku juga mundur, siapa yang akan membimbing mereka dalam lomba debat yang menarik ini?

Aku tau semua orang pasti bisa mempelajari urusan debat ini. Tapi toh nyatanya meluangkan waktu untuk hal seperti ini tidak semua orang bersedia. Aku bukan sedang mengatakan bahwa hanya aku yang bisa melakukan semua ini. Bukan. Tapi sepertinya aku ditempatkan di sekolah ini, ya untuk melakukan tugas ini. Membimbing anak-anak yang berpotensi untuk menunjukkan potensi mereka. Jadi aral apapun sudahlah. Itu cuma bumbu.

Maka sejak itu, apapun masalahnya, meski penuh keringat dan airmata, tetap saja aku bertahan. Tak ada alasan untuk mundur, mengeluh, putus asa, tetap saja ada. Biasanya kalau pas begini, EMTI, teman yang membantuku merintis SOCRATES ini dan sekarang sedang kuliah lagi di India, akan menghibur untuk meredakan diri dulu. (I miss EMTI). Dan benar, setelah semua reda, aku kembali lagi. Aku seolah berkata pada Tuhan, “okey God, try me. I won’t resign…” dan memang selalu seperti itu yang aku lakukan. Saat aku mendapat masalah apapun dalam hidup ini, aku berkata pada Tuhan, “TRY ME…I’LL STAY REMAIN..”

Dan Tuhan memang cuma menguji. Seberapa pantas aku mendapat penghargaan. Setelah DIA merasa aku sudah cukup pantas, maka hadiah itu tak akan kemana. Aku meminta, tapi hanya Tuhan yang tahu waktunya.

***

Maka ketika keluarga Vicky usul untuk menduplikat piala itu, aku ikutan. Vicky heran, buat apa? Tapi biar saja. Dia mungkin tak paham. Piala itu akan menjadi sebuah kenangan monumental akan sebuah keteguhan hati. Bahwa Tuhan akan selalu memberikan semua yang kita inginkan. Kita boleh putus asa. Kita boleh saja merasa Tuhan belum juga berbaik hati pada kita. Tapi akhirnya, kita tetap harus percaya…

SEMUA INDAH BILA SUDAH SAMPAI SAATNYA…

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian “kesasar” menjadi guru. Mencoba mendobrak “pakem baku” proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya.

Sering dianggap “off-track” bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

10 Comments to "Piala Pertama"

  1. wesiati  30 May, 2011 at 12:32

    heheh…makasih untuk comment2nya ya…. sungguh senang tulisan saya diapresiasi begini. well, tulisan ini sebenarnya tentang keteguhan hati. menang kalah, itu memang jalannya. tapi tetap bertahan di jalur yang sama yang kita rasa benar, memang butuh kekuatan yang luar biasa. apalagi untuk orang yang ‘mutungan’ kaya saya.
    @pak han : benar. itulah hikmahnya.
    @sumonggo : terima kasih ya… meski enggak menang, mereka tetap jagoan sebenarnya.
    @daisy : yang penting sama2 9 heheheh…
    @sasayu : ah, biasa aja. asal rajin baca materi. gampang kok. apalagi di website udah ada ideadebate.com. ada semua tuh disana. heheheh..
    @pak joko : yah, seseorang mungkin diingat karena keteguhan hatinya. sepertinya begitu. saya juga diingat murid2 saya kok. wakakakkakak…..
    @fia : makasih.
    @JC : jeneng aslimu sopo mas? heheheh..mari berkenalan (lagi)
    @mbak dewi : ga mungkin deh kalo boncengin aku naik sepeda. aku gemuk lho. sikile methekol sik… wwkwkkw..makasih ya mbak dewi…

  2. Dewi Aichi  30 May, 2011 at 06:21

    ada adegan lucunya juga ya he he he…mengambil snack orang yang sudah sebagian dimakan saking laparnya. Tapi salut sama bu guru Wesiati…atas keteguhannya membimbing dan mendampingi anak anak…

  3. Dewi Aichi  30 May, 2011 at 06:08

    14 Mei juga hari bersejarah buatku, yaitu kelahiran anakku yang pertama, dan mungkin yang terakhir he he…

    Debat memang membutuhkan orang orang yang pandai berdiplomasi, berargumentasi, dan pengendalian emosi tingkat tinggi. Susah ini.

    mas JC, weleh…jangan jangan pernah boncengan sepeda waktu mau kuliah sama Wesiati wkwkw…

  4. J C  28 May, 2011 at 11:38

    Mbak Wesiati senang membaca cerita seperti ini dari kampung halaman. Menurut Dewi Aichi, ternyata selain kita satu angkatan SMA dan kuliah, almamater univ juga sama hanya beda fakultas…hehehe… senang membaca prestasi dan lomba-lomba seperti ini banyak diadakan di Semarang sekarang…

  5. Fia  27 May, 2011 at 23:33

    Selamat utk bu wesiati&socratesians
    Tetep smangat, terus berkiprah&dedikasi
    Smoga pialanya tertulis sbg tinta emas perjuangn&proses jalani kehidupan

  6. Djoko Paisan  27 May, 2011 at 21:03

    Matur Nuwun mbak Wesiati…

    Piala yang baik adalah kalau kita di disenangi / dikenang sesama dan bisa menjadi contoh yang baik.
    Seperti Gandi, ibu Theresa , Paus Paul Johanes 2 dan yang lainnya yang mana pialanya tidak dari logam, tapi diukir dengan tinta emas disetiap hati manusia….

    Yang dari logam itu hanya memakan tempat dan sarang debu saja….
    Apalagi kalau sudah masuk jadi jago debat….
    Jadi NATO….!!! No Acktion…Talk Only….!!!

  7. Sasayu  27 May, 2011 at 16:05

    Debat, waduh, rada syusahh iniii…selalu kagum sama orang2 debat, jago ngomonggg…pintar karena harus menganalisa dan memanipulasi motionnya…

  8. Daisy  27 May, 2011 at 11:23

    SMAku dulu juga SMA 9, tapi sepertinya bukan SMA 9 yang mbak maksud hehe

    Selamat untuk keberhasilannya

  9. Sumonggo  27 May, 2011 at 09:29

    Selamat datang para jago debat

  10. Handoko Widagdo  27 May, 2011 at 09:25

    Selamat. Semua indah pada waktunya

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *