Melapangkan Hati

Galuh Chrysanti

 

Kicau burung mulai terdengar. Bu Romlah bangun dan bergegas melakukan aktivitas hariannya. Pertama direndamnya semua baju kotor, agar nanti mudah untuk dicuci. Setelah itu ia mulai menyapu hingga rumah tampak bersih dipandang mata.

Usai menyapu, Bu Romlah mulai memasak  sarapan untuk seluruh anggota keluarga. Masakan matang, ia pun segera menyiapkan anak-anaknya untuk berangkat sekolah.

Setelah anak-anak berangkat, ibu yang terampil ini segera mencuci pakaian dan menjemurnya. Lalu menyiapkan makan siang sekaligus makan malam.  Masakan matang, Bu Romlah bersiap untuk menyetrika baju-baju yang telah kering.

Sore hari ketika anak-anak pulang sekolah, Bu Romlah kembali sibuk. Terus beraktivitas hingga malam menggelar gelapnya.

Di pembaringan, Bu Romlah berbisik pada suaminya, “Mas, hari ini aku bekerja dari pagi hingga malam, tapi kenapa ya saat bekerja rasanya kok sumpek, lesu, dan tidak bersemangat?

“Aku memahami perasaanmu, Dik,” kata sang suami menjawab lembut sambil mengulum senyum, ”Bagaimana tidak? Seharian engkau bekerja di dalam rumah, tapi dari pagi hingga petang kau lupa membuka jendela-jendela rumah kita ini…”

*****

Sahabat, kisah Bu Romlah yang tidak membuka jendela rumahnya ketika bekerja serupa dengan kita yang sehari-hari beraktivitas tanpa sebelumnya membuka jendela hati kita, melapangkan hati kita.

Bekerja di dalam rumah yang jendelanya tertutup tentu banyak kendalanya: gelap, udaranya pengap, hingga rumah pun terasa sempit. Dan mereka yang berada di rumah tersebut otomatis akan merasa lebih lesu dan tidak bersemangat, hati pun tidak gembira.

Lapang hati bukan sekedar dibutuhkan ketika kita memaafkan seseorang. Lapang hati juga penting dilakukan ketika kita melakukan tiap aktivitas kita sehari-hari.

Mengerjakan pekerjaan yang kita lakukan dengan hati yang terbuka lapang akan sangat berbeda dibandingkan jika kita melakukannya karena semata-mata keharusan ataupun rutinitas.

Melapangkan hati untuk setiap  aktivitas yang akan kita lakukan akan memompa energi ekstra, memantik rasa riang, membuat kita tak terlalu terusik oleh aneka gangguan, memacu kita untuk melakukan yang terbaik. Bahkan untuk sebuah aktivitas yang sesungguhnya tidak terlalu kita sukai sekalipun.

Namun jika membuka jendela rumah berarti membuka daun jendela lebar-lebar, membuka jendela hati berada dalam tataran niat, membuka jendela yang tak terlihat. Jika ukuran jendela rumah terlebar adalah hanya satu meter, maka jendela hati kita tak terkira lebarnya. Ridho dan ikhlas adalah kuncinya :)

Hati kita yang sesungguhnya, sebetulnya lebih luas jika hanya dibandingkan dengan lapangan bola. Bukalah jendela itu sahabat, lapangkan hatimu untuk setiap amanah dan untuk setiap pekerjaan yang harus dilakukan.  Dan selamat menikmati keceriaan dalam segala kegiatan hari ini.

 

 

10 Comments to "Melapangkan Hati"

  1. nevergiveupyo  29 May, 2011 at 08:46

    wah.. keren sekali. untung pagi2 mbaca ini..mumpung belum terlalu telat..bisa diaplikasi ah… mengawali minggu depan apalagi… wah….
    makasih mbak galuh renungannya.

  2. EA.Inakawa  29 May, 2011 at 03:39

    setuju dehhhhhhh melapangkan hati kita membuat KITA lapang dada,lapang dada membuat kita rendah hati & mulya. Esok pagi ketika TUHAN membuka jendela surga diatas langit sana akan kupanjatkan doa,ya Tuhan lapangkan hati & anugerahkanlah kesehatan kepada semua para sahabat di Baltyra, salam baik

  3. Daisy  28 May, 2011 at 19:51

    Mari melapangkan hati

  4. Handoko Widagdo  28 May, 2011 at 17:37

    Maaf mudah diucapkan sulit dilakukan

  5. Sumonggo  28 May, 2011 at 12:35

    Jangan lupa melapangkan hati kita di lapangan bola malam ini …. pilih Barcelona atau MU?

  6. Lani  28 May, 2011 at 12:10

    kang anu…..kayak gak tau aja, buto kan sukanya merenung-renung dilampu merah…….hehehe

  7. anoew  28 May, 2011 at 12:05

    Halah Buto merenung, jangan lama-lama merenung di lampu merah..

  8. Lani  28 May, 2011 at 11:56

    AKIIIII BUTO…….ngintili aku to????? hahaha

  9. J C  28 May, 2011 at 11:48

    Satu lagi renungan apik di penghujung pekan…

  10. Lani  28 May, 2011 at 11:44

    satu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.