Sebuah Renungan dari Kata “Kehilangan”

Yeni Suryasusanti

 

Ketika sebuah kalimat terucap, “Saya mengalami kehilangan nih…”

Seringkali tanggapan pertama atas kalimat tersebut adalah munculnya raut wajah prihatin, dan baru kemudian diikuti dengan kalimat susulan, “Kehilangan apa?”

Kehilangan. Hanya sepatah kata biasa, namun sering kemunculannya disambut dengan prasangka.

Selama ini lebih sering disetarakan dengan kesedihan bahkan kerugian, dan terkadang katanya diikuti dengan kerinduan atau kekecewaan yang mendalam.

Lima tahun yang lalu saya merasakan pilunya hati ‘kehilangan’ putri tercinta. Meskipun akhirnya mendapatkan putra pengganti yang luar biasa, ternyata tetap belum mampu menepis kerinduan yang terkadang datang mendera.

Dua hari yang lalu seorang keponakan menangis ‘kehilangan’ kucingnya, yang akhirnya kemarin ditemukan terkurung di rumah tetangga. Meskipun hanya seekor binatang peliharaan saja, tapi ternyata ‘kehilangan’nya mampu menimbulkan rasa sedih yang demikian nyata.

Berjuta orang pernah mengalami ‘kehilangan’ tempat tinggal akibat bencana. Meskipun telah mendapatkan bantuan dana dan akhirnya bisa kembali membangun rumah untuk keluarga, namun ternyata tetap tidak cukup untuk menghapuskan trauma.

Beberapa sahabat pernah merasakan ‘kehilangan’ cinta dari belahan jiwa karena munculnya godaan orang ketiga. Meskipun Allah tetap mempersatukan mereka dalam ikatan keluarga, namun ternyata kata maaf tidak semudah itu bisa memupus luka.

Kita semua pasti pernah ‘kehilangan’ kesehatan pada suatu masa, dan saat itu mungkin tak putus berdoa untuk kesembuhan raga. Namun ketika kesehatan kita kembali seperti sediakala, kita terkadang lupa untuk bersyukur kepada-Nya dengan melakukan pola makan dan hidup yang sehat demi menjaga kesehatan kita…

Ya, ‘kehilangan’ seringkali kita analogikan sebagai penyebab penderitaan.

Padahal menurut arti kata, kehilangan hanyalah merupakan perubahan dari ‘ada’ menjadi ‘tiada’.

Jadi sebenarnya bisa juga disetarakan dengan kebahagiaan bahkan keberuntungan, yang seharusnya diikuti rasa syukur yang demikian mendalam.

Ketika dikelilingi sahabat dalam duka, saya ‘kehilangan’ rasa sepi.

Ketika si kucing kembali, keponakan saya ‘kehilangan’ rasa sedih.

Ketika terjadi bencana, kita ‘kehilangan’ kesombongan kita.

Ketika kekuatan cinta diuji, kita ‘kehilangan’ kesulitan untuk khusyu beribadah dan berdoa kepada Ilahi.

Ketika sakit mendera dan kita menjalaninya dengan ridha, Insya Allah kita ‘kehilangan’ serpihan dosa…

Ah, terkadang mungkin kita sendiri yang membuat kebahagiaan seperti enggan untuk datang. Mungkin salah satunya karena kita lebih sering berprasangka buruk bahkan memberikan label negatif pada sekedar kata ‘kehilangan’…

Sehingga kapanpun kata ‘kehilangan’ terdengar, kita langsung merasa bahwa kebahagiaan juga akan bubar…

Padahal jika kita mau melihat dengan lebih jeli, setiap ‘kehilangan’ yang kita alami sebenarnya bisa jadi membawa kebahagiaan untuk diri. Entah di masa kini, ataupun nanti…

Karena sesungguhnya kebahagiaan itu ada di setiap hati yang selalu bersyukur atas segala ketentuan Ilahi…

Renungan menjelang tidur tadi malam.

 

Jakarta, 20 Mei 2011

Yeni Suryasusanti

 

 

 

12 Comments to "Sebuah Renungan dari Kata “Kehilangan”"

  1. Yeni Suryasusanti  30 May, 2011 at 14:02

    Oom DJ, ya, dari tidak ada menjadi ada namanya anugrah
    memang terkadang lewat mimpi kita mendapatkan hidayah…

    Dewi, thanks

    JC, yes, life goes on

  2. IWAN SATYANEGARA KAMAH  30 May, 2011 at 10:41

    Karena semua wujud di alam semesta adalah enerji, maka ada hukum kekekalan enerji. Enerji tidak akan pernah hilang. Hanya berubah wujud.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.