[Serial Masa Terus Berganti] Kopi Cemen

Dian Nugraheni

 

Ngopi, atau minum kopi, kopi hitam tentu saja, adalah kenikmatan tersendiri yang berhasil aku resapi. Sebelumnya, aku adalah pemuja berat minuman teh. Teh tubruk, teh botol, teh kotak, lemon tea…pokoknya teh.

Pernah di pagi yang sejuk, tiba-tiba saja aku ingin duduk di sebuah dangau di sawah, sambil minum kopi, dan udud… Terbayang betapa kerennya. Betapa nikmatnya, tanpa satu orang pun yang mengganggu.

Yaa, akhirnya pagi itu, dengan mengendarai si Red Ngatini, Katana Merahku, seorang diri, aku menyusuri ujung kota guna mencari sawah. Akhirnya, aku dapatkan sawah yang sangat luas di pinggir jalan desa. Segera kuparkir Red Ngatini dengan rapihnya di sisi kiri jalan kecil itu.

Turun, kutenteng botol kaca berisi kopi hangat dan X-mild mentholku. Thingak-thinguk di pinggir pematang, berharap ada Pak Tani atau Bu Tani, atau Mas Tani, atau Mbak Tani yang berada di situ. Maksudnya pengen pamit, nunut duduk di dangau sambil menikmati suasana, barang 15 menit…

Tapi karena nggak ada seorang pun, aku bilang sendiri, pamit, “Kulonuwun…, nderek ngaso teng gubug, njih…sekedap kemawon…Maturnuwun….” (“Permisi…., ikutan istirahat di dangau, yaa..sebentar saja.., terimakasih…”)

Hmm, dangau ini benar-benar indah, duduk di bangku bambu yang sudah kuning menua, lepas sepatu kets bututku, duduk bersila, menyeruput kopi dari botol, dan sebatang demi sebatang X-Mild menthol menyegarkan mulutku…serasa…, mendapatkan sepotong surga yang selalu kubayangkan. Betapa tidak, duduk menikmati pemandangan sawah yang indah, sambil ngopi dan udud,…adalah sepotong surga juga kan..?

Tiba-tiba, datang serombongan Petani, laki-laki semua. Mungkin mau panen, soalnya padi sudah menguning. Dan dengan sopan aku menyapa mereka, “Sugeng enjang, Pak.., nderek ngaso sekedap, pareng to Pak..?” (“Selamat pagi, Pak.., ikutan istirahat sebentar, boleh kan pak..?”)

Si Bapak Tani, salah satu dari rombongan Petani itu, dengan pandangan tajam menatap botol kopiku, tersenyum dengan terpaksa dan menjawab, “Monggo kemawon…” (“Silakan saja…”)

Meski aku merasa jawaban itu agak nggak tulus, tapi, aku tetep maksain hati ini untuk berpikir positif, bahwa sikap kaku Pak Tani itu, mungkin karena sedikit kaget, tiba-tiba ada tamu tak diundang di dangaunya. Maka, aku teruskan dengan sulutan batang berikutnya, sembari pikiran mengembara ke mana-mana, bermimpi menjadi penulis terkenal yang diwawancarai wartawan Kompas…ha2..

Sekitar sepuluh menit kemudian, ada seorang Pak tani yang menghampiri, mungkin dialah pemilik sawah ini, sambil bawa sabit padi, menhampiriku di dangau, aku agak mengkeret, “Ya, Pak..kados pundi..?” (Ya, pak..bagaimana..?”)

“Panjenengan mau mabok apa, bawa inuman duduk di gubug sawah saya..?” tanyanya menyelidik.

“Mboten Pak, niki kopi…, monggo menawi bade dipun pirsani…” jawabku. (“Enggak Pak, ini kopi, silakan kalau mau diperiksa…”)

Kemudian Pak Tani membaui botolku, pastilah bau Nescafe…ha..ha… Dia manggut-manggut senang. Kemudian bilang, “boleh saya leren, istirahat sebentar, duduk sambil udud sama Panjenengan..?

Jawabku, “Wahh, ya boleh Pak, monggo.., lha ini kan sawah Panjenengan, saya yang nunut ngaso..”

Akhirnya aku berdua dengan Pak Tani yang sudah agak sepuh ini, duduk sekitar 20 menit, udud bersama, dan aku banyak bertanya tentang padi. Pak Tani menjawab dengan antusias.

Pembicaraan aku tutup dengan berkata, “Maturnuwun sanget, terimakasih banyak, Pak Marto, sudah diperbolehkan duduk di dangau, malah ditemeni ngobrol segala… Kapan-kapan boleh nggak saya duduk di sini lagi..?”

“Woooh, ya buuuoooleeeh to, silakan kapan saja. Kalau mau mampir, itu rumah saya di ujung jalan, nanti biar digorengkan singkong sama istri saya…”

“Maturnuwun sanget, Pak… Pamit rumiyin kawulo…” kataku sambil meninggalkan dangau… (“Terimakasih banyak, Pak…. Pamit duluan saya…”)

Itu adalah beberapa tahun yang lalu…

Sekarang, aku berada di sebuah negara, di bagian utara di bumi ini, empat musim bergantian sambung menyambung menandai semakin berjalannya usia. Aroma sate terganti dengan aroma keju, aroma singkong goreng terganti dengan aroma Kue Pie…, tapi yang tetap ada adalah aroma kopi…, karena orang-orang di Amerika ini, begitu gandrung dengan kopi…Pagi, siang, sore, hawa panas, dingin atau hujan atau angin, tetaplah kopi yang ditenteng di tangan sambil jalan kemana pun….

Tapi kopiku tak lagi hitam.., kini kesukaanku adalah Columbian Decaf, kopi Colombia yang sudah diproses sehingga kadar “kopinya” menjadi sangat rendah, yang dipadu dengan Hazelnut Milk.., nampak kecoklatan, harum sangat aromanya…, tapi bukan aroma macho.., melainkan aroma paling cemen jika dibanding dengan jenis-jenis kopi yang lain…Ini karena sekarang lambungku sudah rusak, tak mampu menerima kopi yang macho, atau bakalan maag kumat kalau dipaksakan.

Menjadi keseharian bagiku sekarang, ngopi Cemen ini… Apa karena kebanyakan minum kopi Cemen, maka sekarang aku menjadi ikutan Cemen dan Cengeng..? ha..ha..ha…

 

Virginia,

Dian Nugraheni,

Senin, April 11, 2011,

(Ketika ketidakadilan semakin meraja…)

 

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

25 Comments to "[Serial Masa Terus Berganti] Kopi Cemen"

  1. Dewi Aichi  3 June, 2011 at 05:22

    Kok ming njur see you, ngga sopan…mana kopinyaaaaa…?

  2. Dian Nugraheni  3 June, 2011 at 04:44

    haii..teman2 di baltyra…maaf..baru bisa nengok nih..(sambil cincing jarik tergopoh2..,ngos2an habis lari panjaaaang…he2..), thanks bangets semua haha hihi-nya di sini…
    Berharap suatu hari bisa beneran kopi darat sambil ngopi sama teman2 di baltyra..(sapa tau kan, jadi nyata, wong kaos baltyra aja bisa sampai Virginia, he2.., nyambung gak ya..) ..dari yang model kopi cemen sampai kopi macho yang bikin musmeth (mumet, pusing)…he2…

    Seee….Uuuuuu..Allll…aaaannnnnd…thanksssss…agaiiiin..!!

  3. Djoko Paisan  31 May, 2011 at 00:25

    IWAN SATYANEGARA KAMAH Says:
    May 30th, 2011 at 11:06

    Kopi itu ciptaan alam paling mengasyikkan. Saya berterima kasih kepada seseorang yang tak sengaja memberikan tanaman ini kepada kambingnya, lalu sang kambing menjadi segar, di sebuah daerah di Ethiopia bernama Kaffa. Dari sini muncul istilah tanaman Kaffa yang kemudian kita sebut coffe atau kopi. Di AS pada masa 1990-an orang menyebutnya NKOTB. Sedangkan di sini disebut NGOPI alias ngopi.

    Muncullah istilah fotokopi, copywriter atau copypaste (kopi campur pasta). Bahkan banyak org ndeso di Jakarta ingin mencoba Coffeshop, yang akhirnya mencret, karena minum kopi sama sop.

    Mas Iwan…..
    Hahahahahahahahahaha…….
    Kopi sama sop ya…..????? Palng bisa……
    Untung Dj. tidak doyan kopi, jadi ya tidak kepingin, tapi menhirup aroma kopi memang suka.
    Sama dengan mengirup aroma Parfüm, kan tidak harus diminum…..hahahahahahahaha….!!!!

  4. IWAN SATYANEGARA KAMAH  31 May, 2011 at 00:08

    Aichi, emang NKOTB itu grup musik. Sengaja, karena sempat nonton anterin ponakanku yg ABG wkt itu Feb 1992..

  5. Lani  30 May, 2011 at 22:31

    AKI BUTOOOOOOOO Wis pokok’e KOPI adalah ritual wajib tiap pagi. Apalagi barusan dapat kiriman KOPI KONA…wis nikmat tenan… (gratis lagi…huahaha… )
    —————

    halaaaah iki wong ancen, mbok gak usah woro2 disini to…….kasian yg lainnya mengko meri……blaiiiiiiik aku dioyak-oyak pake apem, dingklik, sapu, gergaji dll……..dst………..dsb……..hahaha………romo RAPPER udah nyampe Kona dia koar2 nelpon aku………cm miss call hehehe………roger meneh ah………it’s almost next month…….cihuiiiiii mengko tak japri wesssss……..

    dasar wong ediaaaaaaan, jelas barang gratisan semua org jg mau……..nek ora gelem ada yg salah dgn tombol dikepalanya…………wakakak…………

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *