Tak Tergantikan

Yuni Astuti

 

Aku terbangun di pagi hari tatkala HU-ku memanggil. Aku berjalan keluar pelan-pelan menuju sumur yang terletak di luar rumah. Gelap. Air di rumah simbah masih sangat dingin, angin yang berasal dari pepohonan di sekitar sumur pun berkesiuran seolah mengajakku bercengkrama. Lolongan anjing tetangga membuatku merasa seperti sedang berada di tengah hutan yang jauh dari rumah.

Hmm..sumur di luar begini emang nyeremin, banyak pohon pula! Tak seperti di rumahku, rumah simbah memang di-desain seperti ini. Kebanyakan penduduk desa juga membuat sumurnya di luar rumah.

Selesai urusanku dengan aktivitas rutin itu, aku kembali ke kamar dan… tidur lagi!

“Pagi ini kita ke Kaliurang kan Yun?” tanya Nana, temanku yang tengah duduk di ruang tengah sambil menikmati bakmi yang dibeli Lik Inah di pasar Ngangkruk tadi pagi.

Aku masih meringkuk di kursi seraya mengalihkan pandang ke jam dinding, “Baru jam delapan. Ntar aja ya jam Sembilan?” cengirku.

Liburan semester ini aku dan Nana berlibur di tempat simbah. Kemarin sore kami baru pulang dari Parangtritis dengan baju yang sudah basah kuyup karena kami puas bermain ombak. Hasilnya, pakaian kami penuh pasir putih yang cukup membuat kami kerepotan ketika mencucinya.

Tepat pukul Sembilan, aku, Nana dan Rubi segera menuju Pojok Benteng untuk melanjutkan ke Mirota campus. Perjalanan memakan waktu cukup lama, melalui jalan ke Kaliurang yang udaranya semakin dingin. Di tempat tinggalku, udara sejuk seperti ini tak akan bisa didapatkan. Kuhirup udara itu dalam-dalam, segar memenuhi rongga dada dan kubiarkan mengembara di dalam tubuhku menciptakan aliran darah yang menyehatkan.

Tlogo Muncar di dalam hutan wisata Kaliurang itu mengingatkanku pada air terjun di Curug Cigumawang yang ada di tempat tinggalku. Kulihat ke atas dan… subhanallah indah sekali paduan sempurna itu. Gunung-gunung yang mengokohkan bumi, ditumbuhi pepohonan hijau yang menyejukkan, mata air sumber kehidupan dan semuanya…hingga tangan-tangan jahil tak bertanggung jawab merusaknya kini.

Mendaki tak sampai ke puncak, jadi tak sempat menyaksikan puncak Merapi. Dari jauh, asapnya tampak menggumpal bagai awan dan menampilkan kesan menakutkan bagi yang memercayai mitos tentang tiga tempat, yakni gunung Merapi, Pantai Selatan dan Keraton. Katanya jika Merapi meletus, tidak akan mengenai Pantai Selatan. Padahal letaknya berdekatan. Keraton juga aman. Ah, aku tak mengerti mengapa demikian.

Melihat sekawanan kera yang berloncatan dari dahan ke dahan, dan begitu jinak membuatku merasa terhibur. Biasanya di tempat tinggalku, kera-kera hanya dijadikan pertunjukan topeng monyet. Itu pun monyet yang kurus-kurus! Berbeda dengan yang di sini, mereka gemuk-gemuk. Apalagi ketuanya, yang sempat menghadang kami ketika hendak turun. Ia berteriak-teriak diikuti kawanan lainnya. Kami khawatir kera-kera itu akan menyerang kami, apalagi sekarang sudah sore. Langit mulai gelap.

“Duh… gimana dong!” Rubi heboh sendiri. Kami tak berani melewati kera-kera itu, takut mereka menerkam kami.

“Cobain aja yuk?” aku berjalan ke depan, pelan-pelan mencari jalan yang agak jauh dari kera yang ukurannya paling besar di antara kera-kera lainnya. Nana dan Rubi mengikuti meski agak ketakutan. Kami pun berhasil melewati mereka dengan aman.

***

Kami pulang tepat saat pintu hutan wisata ditutup. Perjalanan kembali ke Malioboro membutuhkan waktu dua jam lebih. Jadi kami sampai saat azan maghrib berkumandang. Tak ada lagi angkutan yang menuju rumah simbah kalau sudah petang begini. Akhirnya selepas sholat, kami asyik berjalan-jalan di Malioboro. Dengan tenang karena ada seorang teman yang tinggal di dekat situ, berharap dia akan bersedia menampung kami bertiga.

Namun…

“Apa Mbak? Mbak lagi ada di Sleman? Gak bisa nampung kami?” aku panik saat berbicara dengan Mbak Lily di telepon. Nana dan Rubi juga tampak khawatir.

“Ya udah deh Mbak….nanti kami ke sana…” kataku lemah sebelum mengakhiri percakapan dengan salam.

“Kenapa Yun?” tanya Nana.

“Kita tetep ke asrama temennya Mbak Lily, tapi…gak tahu ah! Jalannya berliku-liku dan sekarang udah jam Sembilan malem! Ngantuk bin lelah….”

“Jadi…? Kita sekarang tidur di mana???” Rubi tampak kelelahan. Maka kami pun masuk ke halaman DPRD Yogya yang masjidnya sudah dikunci. Kami duduk di pinggir mobil yang sedang diparkir. Para anggota dewan sedang rapat hingga  malam menjauh.

“Duh, kalau asmaku kumat gimana neh? Aku gak bawa obat!” tiba-tiba Rubi membuat aku dan Nana kaget.

“Kamu asma, Rub?” tanyaku. “Walah! Gimana dong?”

Dia memejamkan mata. Haduh… ntar aku bisa dimarahin Mbah Harjo kalau sampai cucunya ini kumat. Aku juga belum izin sama Lik Inah kalau malam ini aku tidak pulang? Hm…aku minta dijemput saja sama Mbak Fitri atau Mbak Titi. Ternyata mereka juga tidak mungkin ke Malioboro malam2 begini. Aku pun termenung…

Nyanyian para seniman Malioboro masih terdengar. Tadi, kami makan nasi kucing lesehan sepiring bertiga. Minum tape panas yang lumayan menghangatkan badan, dan mendengarkan banyak pengamen yang kadang marah kalau tidak deberi uang. Hufh… aku jauh dari rumah. Jauh dari tempat orang-orang terdekat. Nyak Babeh gak tahu kalau anaknya sekarang sedang kedinginan di luar rumah. Kelaparan. Ngantuk. Yah, persis gelandangan yang gak punya rumah. Tapi…betapa aku bersyukur…

Di luar sana, masih banyak orang yang benar-benar gak punya rumah. Bener-bener kedinginan tiap malam, kelaparan, dan berbagai rasa yang tentunya tidak nyaman. Beralas bumi, beratap langit, itulah yang kini kurasakan. Dengan rasa takut kalau Rubi kambuh. Ya Allah, jangan Kau biarkan dia menderita karena asmanya kambuh….

Usul-usul gila pun keluar dari kepala Nana dan Rubi. Nana mengajak kami ke stasiun Tugu dan tidur di sana. Sementara Rubi mengajak kami jalan kaki sampai Parangtritis. Gila! Jauh banget Rub!

“Terus gimana dong???” Yah, kata ini yang selalu keluar dari bibir kami. Akhirnya kami duduk di teras samping DPRD. Dan…tidur di sana! Hingga pukul 12-an, ada satpam yang menghampiri kami. Tanya ini itu dan bahkan menelepon Mbak Titi. Karena malam telah sangat tinggi, akhirnya kami tidur di dalam mushola DPRD. Hm…hangat! Apalagi dikasih makanan oleh salah seorang anggota dewan. Malam itu juga kami makan dan memuaskan cacing2 dalam perut kami. Tidur dua jam cukup. Sebab saat azan subuh, kami bangun dan bersiap-siap melanjutkan perjalanan.

Alhamdulillah Rubi nggak kambuh. Dia pulang ke Parangtritis sendiri pagi itu. Sementara aku dan Nana, berjalan kaki menyusuri Malioboro yang sudah mulai sibuk dengan banyak pedagang sarapan dan mainan anak-anak. Melihat banyak fenomena yang membuatku terhenyak. Dan cukup membuatku merenung. Mungkin yang aku lihat berikutnya akan kuceritakan lain kali karena sangat banyak serpihan yang belum kususun. Intinya, seharian itu kami mendapat banyak pelajaran berharga. Dan aku tak makan sama sekali! Sampai pulang malam dan barulah Lik membelikanku mie ayam. Nyumm… akhirnya ketemu juga sama makanan! Alhamdulillah…

 

Jogja, 10-11 Juli 2007

 

 

10 Comments to "Tak Tergantikan"

  1. yuni  3 June, 2011 at 09:49

    iya, ini pengalaman yang tak akan terupakan banget dehhhhhh. namanya juga masa lajang. karena udah nikah, jadinya aman rek

  2. kembangnanas  1 June, 2011 at 11:51

    hwaaaa, gk kebanyang menggelandang kek gitu…

  3. Dewi Aichi  30 May, 2011 at 21:30

    Pam, apanya dan bagian mana yang ngeri..? Wah….wong mengasikkan gitu lho..

  4. [email protected]  30 May, 2011 at 11:13

    ngeri….sekaligus….mengasikan…

  5. J C  30 May, 2011 at 10:33

    Memang tak tergantikan dan tak terlupakan…

  6. Dewi Aichi  30 May, 2011 at 07:29

    Yuni, justru pengalaman seperti itu yang tak akan terlupakan. Asik banget, dan tempat tempat itu tidak asing bagiku..! Pas mau ke hutan wisata, melalui pintu masuk, ada 2 pohon besar, diantara ya ada goresan kenangan, sudah 20 tahun yang lalu, ketika aku balik lagi Mei 2009 , iseng nyari nyari goresan itu..udah ngga ada wong pohonnya sudah membesar he he…

  7. Djoko Paisan  29 May, 2011 at 21:24

    Mbak Yuni…
    Kasihan amat, sampai seperti glandangan…..
    Padahal di Malioboro, ada Hotel Garuda , Ibis Hotel juga murah,malah bersampigan dengan Mal…. atau lebih murah lagi itu Batik Palace…. sekarang sudah ada poolnya….
    Mengapa tidak telpon bu GuCan, kan bisa dicarikan hotel, atau malah boleh nginap dirumahnya….
    Olehnya, lain kali kalau jalan ( apalagi bawa Rubi yang bengek ) , jangan jauh-jauh, di Maliobor saja sudah cukup rame….
    Biasanya kami 3 hari hanya untuk jalan-jalan di Jogja saja. Pagi ke Malioboro, siang kembali ke Htel istirahat dan sore je Malioboro lagi, sampai malam….

    Salam manis dati Mainz….

  8. Handoko Widagdo  29 May, 2011 at 14:17

    Naik pramek saja ke Solo

  9. Lani  29 May, 2011 at 10:54

    waaaah……pengalaman mengasyikkan ato sebaliknya yah?

  10. Sumonggo  29 May, 2011 at 10:24

    Pengalaman tak tergantikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.