Membuat dan Dibuat Patah Hati

Daisy

 

Patah hati, siapa yang pernah mengalaminya? Entah kenapa, aku yakin kalau semua orang di dunia ini pernah patah hati. Maksud aku dalam urusan hubungan kasih sayang antar sesama manusia, tentu saja.

Selain itu, aku juga percaya kalau semua orang pernah membuat patah hati orang lain. Jadi sama saja, kita pernah patah hati, tapi juga pernah memupuskan harapan orang kepada kita.

Ya, ada beberapa kasus membuat patah hati orang yang mungkin tidak disengaja. Tapi, bisa jadi ada yang bangga sudah membuat banyak orang patah hati. Meski sampai sekarang aku pun tidak mengerti bagaimana rasanya kebanggaan yang seperti itu.

Berbicara tentang membuat orang patah hati mengingatkan aku saat duduk di bangku kelas tiga SMP dulu. Saat itu ada seorang teman yang ”menembak” aku untuk dijadikan pacarnya. Kebetulan dulu, aku tomboy dan cenderung tidak peduli dengan makhluk bernama cowok. Rasanya aneh saja saat ditembak.

Singkat cerita, aku menerima cowok itu. Besoknya, kebetulan Sabtu malam Minggu, kami janjian untuk ngedate pertama kali. Tapi waktu itu, sejujurnya kalau ditanya apakah aku cinta atau tidak kepadanya, sepertinya aku nggak bisa menjawab. Aku suka sih sama dia. Orangnya baik, lumayan ganteng, pintar pula. Tapi, entahlah, dengan segala kelebihan yang dimilikinya itu tetap tak membuatku menjadikannya sosok yang spesial. Dia, sama saja seperti teman-temanku yang lain.

Ketika janjian untuk bepergian bersama itu, aku cuma setengah hati menyepakatinya.

Benarlah, saat hari H dimana kami janjian, aku yang tak seberapa peduli dengan janji dengan dia tidak berdandan layaknya seorang gadis yang mau pergi kencan dengan pacarnya. Bahkan saat dia menjemputku di rumah dengan sepeda motor milik papanya, aku masih memakai celana pendek dan kaus oblong sambil bermain bulu tangkis di lapangan dekat rumah.

Dengan lugunya aku bertanya, ”Lho, jadi pergi ta?”

Dia menjawab, ”Iya.”

”Aku pakai baju ini saja ya?”

Aku malas berganti pakaian. Dia pun sepertinya tidak keberatan. Ya sudah, aku naik ke boncengannya.

Ternyata dia membawa aku ke rumah seorang teman yang di sana sudah ramai orang berkumpul. Rata-rata membawa pasangan. Rasanya aku berada di tengah-tengah Alien saat itu. Mereka ngomong apa, aku tidak mengerti sama sekali. Topik terbanyak yang dibicarakan adalah perihal kami bisa jadian.

”Pacarku” mengatakan ke semua orang di sana kalau sandal yang dipakainya baru saja dibelinya dan kemeja yang dipakainya adalah kemeja terbaik. Mendadak aku melihat penampilanku sendiri, kucel. Berkeringat pula karena sebelumnya bermain bulu tangkis. Tapi, yang lebih membuatku tidak nyaman, mereka berbicara seperti orang dewasa. Apa itu cinta-cintaan? Aku sama sekali tidak mengerti.

Sepulang dari tempat kumpul-kumpul itu, aku memikirkan keputusanku untuk pacaran. Rasanya aneh. Benar-benar aneh. Itu bukan diriku. Harusnya anak seumuranku belajar dan bermain, bukannya berpikir tentang sebuah hubungan.

Akhirnya, besok, besok, dan besoknya aku bersikap cuek kepada ”pacarku” itu. Dia, aku putuskan sepihak tanpa alasan yang jelas. Kebetulan kami beda sekolah, jadi lebih mudah bagi aku untuk tidak berinteraksi bersamanya.

Meski demikian, rasa bersalah itu kemudian muncul. Apalagi saat SMA aku sudah mengenal cinta monyet yang bersemi, melihat beberapa teman patah hati karena diputus oleh pacarnya. Aku teringat saat aku memutuskan pacar sehariku itu, kejam sekali sepertinya. Semenjak saat itu aku bertekad, kelak pacar pertamaku akan jadi suamiku.

***

Waktu berlalu, aku tidak punya pacar lagi sesudahnya. Selain karena prinsip yang sudah aku buat,  menurutku pacaran belum terlalu penting. Aku juga paling malas kalau harus bermanis-manis di hadapan laki-laki yang bukan siapa-siapaku. Orang pacaran kan biasanya ingin selalu disayang, jadi dia akan berbuat apapun untuk selalu disukai pacarnya. Misalnya, potong rambut atau memakai pakaian yang sesuai keinginan pacar. Aku sih malas menjadi begitu.

SMA dan kuliah masih berprinsip no man, no cry. Begitu kerja, ada seorang teman laki-laki yang aku anggap baik. Dia mengajakku berhubungan serius, apalagi kalau bukan menuju pernikahan. Hubungan kami berlangsung singkat. Karena suatu sebab aku dan dia berpisah. Cukup membuat aku patah hati, lebih parah lagi merusak hubungan pertemanan kami yang lumayan lama.

Awalnya aku masih berusaha keras menyelamatkan rencana kami, tapi ternyata dia tidak membantuku sama sekali. Akhirnya, selama satu dua tahun kami masih saja sengit-sengitan jika berbicara. Aku menyalahkannya karena dia tidak mau memperjuangkan aku. Aku sangat membencinya.

Hingga pada suatu hari, berkat media Facebook aku bertemu kembali dengan pacar sehariku. Dulu, aku tidak sempat meminta maaf kepadanya, maka kumanfaatkan jejaring sosial itu untuk berbicara lagi dengannya. Meminta maaf atas kelakuanku yang dulu sangat buruk kepadanya. Aku juga turut senang, sekarang dia sudah memiliki seorang istri yang cantik serta anak yang lucu.

Di luar dugaan dia mengatakan kepadaku bahwa itu cuma masa lalu. Masa-masa dimana kami semua masih mencari jati diri. Intinya, dia memaafkanku. Orang yang pernah aku patahkan hatinya memaafkanku. Lega dan bahagia sekali rasanya, berkurang satu beban.

Kemudian aku teringat kepada mantan calon suamiku, apakah dia juga merasakan beban yang sama dengan yang pernah aku pikul. Sebuah rasa bersalah. Apakah setiap orang yang dengan sadar membuat patah hati orang akan selalu merasa bersalah? Entahlah. Tapi, semenjak saat itu aku berusaha keras memaafkan orang pernah membuatku patah hati.

***

Tidak ingin mengulang kegagalan yang sama, aku menjadi lebih berhati-hati. Ini aku lakukan supaya aku tidak menyakiti hati orang ataupun disakiti lagi oleh orang lain. Bagiku sebuah hubungan adalah sesuatu yang tidak bisa dilakukan dengan coba-coba. Entah aku yang terlalu serius atau bagaimana, tapi aku juga menjadi begitu berempati kepada orang-orang terdekatku yang mengalami patah hati.

Suatu hari seorang teman laki-laki marah kepadaku karena dia membaca SMS-SMS-ku di handphone mantan pacarnya. Memang SMS-SMS itu cuma bercanda, tapi kalau dibaca oleh orang yang tengah dibicarakan (teman laki-laki) itu akan terasa kejamnya. Kalau Bahasa Jawanya, kami ngrasani teman laki-laki itu.

Bubarnya hubungan teman-temanku ini memang agak kurang baik. Teman laki-lakiku meninggalkan si perempuan untuk menikahi gadis lain. Tetapi, menjelang pernikahannya si laki-laki ini masih saja menarik ulur perasaan mantannya. Bagi aku yang sama-sama perempuan tindakan laki-laki ini masuk kategori kejam sekali. Kenapa dia tidak bisa memegang komitmen memakai kaca mata kuda untuk calon istrinya saja. Lebih menjengkelkan lagi si laki-laki ini pernah mengatakan kepada aku, kalau mantannya ini bersedia, dia mau poligami.

Aku jelaskan baik-baik, memang SMS-SMS itu bunyinya seperti itu karena aku ingin membuatnya nampak kejam di hadapan si teman perempuan yang juga mantannya itu. Aku bilang, aku tidak ingin mengadu domba siapapun. Aku ingin membuat teman perempuanku ini melupakan si laki-laki. Kutegaskan juga kepadanya, kalau dia sudah berniat jadi tokoh antagonis yang meninggalkan si mantan, ya jadilah tokoh antagonis yang sempurna. Kejam, ya kejam saja sekalian. Dia yang meninggalkan, tapi kok masih sering memberi perhatian.

Temanku yang perempuan ini juga nampaknya masih berharap banyak pada si laki-laki. Bahkan katanya dia rela merendahkan harga dirinya, memohon-mohon supaya tidak ditinggalkan. Aku melihat kebegoannya sama persis denganku dulu, saat masih berharap banyak pada yang dulu, meski sudah jelas-jelas dikecewakan. Sedih.

”Sadar donk!” Teriakku dalam hati maupun lisan. Tapi, dia tak mendengar. Cinta membuatnya buta.

Tidak ada lagi yang bisa aku lakukan, selain berdoa yang terbaik untuk keduanya. Terutama untuk teman perempuanku, juga untuk mereka yang pernah tersakiti hatinya. Semoga mereka menemukan pengganti yang lebih baik dari Tuhan.

 

Teman, pernahkah kau sadar dirimu itu indah

Pernahkah kau dengar kata manis untukmu

Seandainya engkau tahu…

(Engkau-Konig)

 

 

47 Comments to "Membuat dan Dibuat Patah Hati"

  1. Daisy  8 June, 2011 at 07:01

    @Kembangnanas: iya, ntar juga sembuh kalau jatuh cinta lagi hihi

    @Geovanie: itu kan masa lalu, ya sudahlah, yang penting masa sekarang
    btw, aku juga sudah lupa berapa banyak yang sudah kubuat patah hati (dont believe me )

  2. Geovanie  7 June, 2011 at 19:00

    masih ‘mending’ pacarannya dapet 1 hari, saya dulu cuma ‘setengah’ hari. setelah itu masih ada 2-3 ce yang saya gantung perasaannya. I’m really a bad man.

  3. kembangnanas  1 June, 2011 at 11:39

    patah hati? ah, biasa… paling juga nangis2 bombay sehari 2 hari, dan kelak suatu saat kita pasti akan menertawakan kejadian yg membuat sakit hati itu… biasanya sii aku gitu…

  4. Itsmi  31 May, 2011 at 13:41

    Daisy, jempol untuk kamu karena kritikit saya kamu ambil secara sportif jadi tidak emosional menanggapnya. mengenai reflex maksud saya kamu sudah terbiasa dengan Tuhan sampai setiap kasus ada Tuhan dan akhirnya Tuhan yang menentukannya semua itu sangat bertolak belakang dengan pemikiran dan tindakan.

    selamat merenung…

  5. Lani  31 May, 2011 at 13:40

    ALHAMDULLILAH asyiiiiiiiiik, aku ketemuan ama 2 cah bagus……..hehehe sapa takut?????? aku dikempit ditengah ya wakakakak………foto ber 3 sambil nyruput kopi…….pie Ham?

  6. ilhampst  31 May, 2011 at 13:38

    Keknya yang ambil pernah belajar sama Romi Rafael dan Dedi C tuh )

  7. Daisy  31 May, 2011 at 10:54

    @Mas Ilhampst: maksudnya dulu dirimu pernah dibuat patah hati sama Deddy Corbuzier?
    “Tatap mata saya!” (belekan mode on) ^_^V

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.