Sky Burial: Budaya Pemakaman Tibet

Handoko Widagdo

 

Setiap suku, etnis dan bangsa mempunyai budaya masing-masing. Budaya terbentuk dari interaksi mereka dengan alam, dengan sesama, dan dengan komunitas lain yang berhubungan dengan mereka. Demikian pula dengan budaya memperlakukan keluarga yang meninggal dunia.

Masing-masing suku, etnis dan bangsa mempunyai cara memperlakukan jenazah dari keluarga mereka yang telah tiada. Kebanyakan dari kita memperlakukan jenazah dengan cara mengubur atau mengkremasi (diperabukan). Namun ada etnis, suku yang memperlakukan jenasah secara berbeda. Suku Toraja, misalnya, menempatkan jenazah di gua-gua di tebing.

Orang Trunyan di Bali meletakkan begitu saja jenazah di bawah pohon. Orang Nepal membakar jenazah dan melarungnya ke sungai (kadang-kadang tubuh jenazah tidak terbakar sempurna). Orang Tibet juga mempunyai cara memperlakukan jenazah, yang menurut kebanyakan orang (diluar Tibet), sangat berbeda. Bahkan beberapa pihak mengatakan cara penanganan jenazah ala Tibet itu ekstrem. Orang Tibet melakukan sky burial, yaitu memotong-motong jenazah untuk selanjutnya diberikan kepada burung.

Sebelum membahas sky burial ala Tibet, baiklah kita memeriksa apakah memberikan jenazah kepada binatang ini hanya terjadi di Tibet? Ternyata tidak. Di Jawa, pada jaman Majapahit, memberikan jenazah kepada binatang adalah lazim. Catatan Ma Huan (pelayaran Ceng Ho) ke Majapahit pada tahun 1413 dan tahun 1431, menyebutkan bahwa: “Jika mereka mempunyai ayah atau ibu yang akan meninggal dunia, putra-putri mereka bertanya apakah setelah meninggal nanti jasad mereka akan dilalap anjing atau dimakan api atau dibuang ke air…” (Tan Ta Sen, Cheng Ho-Penyebar Islam dari China ke Nusantara, halaman 235).

Memang jenazah di jaman Majapahit tidak diberikan kepada burung, melainkan kepada anjing. (Saya yakin praktik memberikan jenazah kepada anjing di jaman Majapahit adalah ajaran yang dibawa oleh Agama Budha (Tibet?) yang masuk ke Majapahit.)

Menurut berbagai pihak, budaya memotong-motong mayat dan memberikan kepada burung di Tibet sudah ada sebelum mereka memeluk Agama Budha Tibet. Hal ini disebabkan karena orang Tibet hidup di bukit-bukit dimana pohon sudah tidak tumbuh lagi. Akibatnya mereka tidak bisa membakar mayat karena sulit mencari kayu.

Pada umumnya bukit-bukit dimana mereka tinggal mempunyai lapiran tanah yang sangat tipis, antara 2 cm sampai 20 cm saja. Setelah lapisan tanah yang tipis tersebut adalah bebatuan yang sangat keras. Dengan tipisnya lapisan tanah dan kerasnya batu, mereka juga sulit untuk menguburkan mayat. Membiarkan mayat membusuk begitu saja bisa berakibat penyakit bagi yang masih hidup.

Akhirnya mereka menemukan cara untuk ’menghilangkan mayat’, yaitu dengan cara memotong-motongnya dan kemudian memberikan kepada burung untuk memakannya. Mengapa harus dipotong-potong? Dengan memotong-potong, maka burung menjadi lebih mudah untuk segera menghabiskannya. Dengan demikian tidak ada sisa yang bisa membusuk.

Setelah Agama Budha masuk ke Tibet, alasan melakukan sky burial menjadi ada unsur nilainya. Berikut adalah pernyataan teman saya seorang warga Tibet yang sekarang menjadi warga Amerika:

Sky burial is concept and practice of Tibetan Buddhism. That is a great sacrifice and contribution. Tibetan believe after death, people’s soul or spirit will reincarnate but body is useless. Some of them believe that if the body can feed other creatures, it is a whole body sacrifice and benefit for others.

In Bible, Paul said offering yourself  as a living sacrifice that will please God. It has similar  meanings but there are some difference. Offering yourself to God in Bible means to  give your wholeness to God including your body, mind, soul and spirit.  But Tibetan believes soul or spirit can be separated from your body. That why Tibetans do not care much physical or material well-being, instead they care much spiritual life and where their soul will go, that also is one of reason  why Tibetan bear suffering and put hope in next life.

Apakah semua jenazah bisa diperlakukan dengan cara sky burial? Ternyata tidak. Untuk melakukan sky burial sangat tergantung dari banyak hal. Berikut pernyataan teman saya dari suku Tibet yang dibesarkan di kelompok nomad:

Tibetan burial culture has long story. What I know there are 4 different burial systems.

  1. Water burial which means the dead body put in the river
  2. Soil burial which means bury under the ground
  3. Fire burial which means burning with fire wood, (special quality of wood with written gold, silver and nature dye)
  4. Sky burial which means the dead body given to eagle or hawk. There are special men who work on that, we call them Dhomthan.

So how we choose the different burial types will be decided by different region, how the people dead (killed by other or by him/herself, dead by sickness and etc), how old and the most important one is Lama. The Lama or monk who are with high consciousness and astronomy will be make final decision to choose the type of burial.

Teman saya yang dibesarkan di komunitas nomad menyatakan bahwa sekarang ini kebanyakan orang Tibet tidak lagi secara umum melakukan sky burial. Jika memungkinkan, jenazah akan dikubur atau dikremasi. Namun demikian, jika pemimpin agama (Lama) menyatakan bahwa si-mati harus diperlakukan dengan cara sky burial, maka upacara khusus akan dilakukan.

Bagi kita mungkin sky burial terlihat kejam. Tapi bagi mereka yang melakukan, cara ini adalah cara yang paling khidmad untuk memperlakukan jenazah keluarganya. Bagi mereka mengubur atau membakar mayat mungkin juga dianggap kejam. Jadi, setiap budaya mempunyai tata nilainya sendiri-sendiri.

Dapat disimpulkan bahwa sky burial awalnya adalah karena alam yang menciptakan. Kemudian, setelah Agama Budha masuk, sky burial dihubungkan dengan nilai-nilai Agama Budha. Dan akhirnya, sky burial menjadi upacara memperlakukan jenazah secara ekslusif.

Pictures: exclusive by HGPI, Bali & France

Persiapan dengan jenazah

 

Dilepaskan dari kafan

 

Jenazah diatur letaknya

 

Penyayatan

 

Ditumbuk

 

Dipotong-potong

 

Here they come…

 

Sempurna sudah

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia.

Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

67 Comments to "Sky Burial: Budaya Pemakaman Tibet"

  1. Handoko Widagdo  13 April, 2014 at 15:16

    Terima kasih RFT. Demikianlah sesungguhnya Baltyra. Blog ini memang untuk berbagi.

  2. Rachmat F.Tristian  9 April, 2014 at 21:17

    wah keren sekali ini blog nya mas, saya jadi mengetahui beragam kebudayaan yang ada di dunia. makasih mas infonya ( ^_^ )

  3. Handoko Widagdo  8 June, 2011 at 09:16

    Maeza, wah penting itu untuk ditulis. JC pasti punya foto-fotonya. Ayo tulis ya…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *