Sekaligus Dua (1)

Galuh Chrysanti

 

BALIKPAPAN, 2002

Seorang perempuan muda tampak sabar menanti antrean di sebuah Puskesmas, seraya bergegas maju ke bagian pendaftaran ketika akhirnya namanya dipanggil.

“Sakit apa, Mbak?” tanya sang petugas tanpa menatap yang ditanya sama sekali.

Ngga sakit, Bu, cuma mau periksa hamil,” jawabnya.

“Oh, sudah terlambat (haid) berapa lama?” tanya petugas lagi.

“Belum terlambat, Bu,” perempuan itu menjawab lugu, membuat Ibu petugas terpaksa mendongakkan kepala, keheranan.

“Lho, belum terlambat kok mau periksa,” suaranya terdengar agak kesal. Maklum, antrean masih panjang sekali. “Sampeyan nikahnya sudah berapa lama?” Kali ini suaranya yang makin meninggi mulai menarik perhatian pasien lain.

“Mm.. satu minggu, Bu,” jawab sang perempuan muda malu-malu, diikuti riuh tawa pasien lain.

Sang Ibu petugas cuma bisa menjawab dengan tarikan nafas, entah apa yang dipikirkannya. Sebuah tepukan di bahu membuat perempuan muda itu menengok, tangan dari seorang Ibu bersosok gemuk dengan mimik wajah menahan tawa mendarat di bahunya. Katanya, “Mbak, baru nikah seminggu mah ngga usah periksa hamil dulu, apalagi belum terlambat haid,” sambil terkekeh Ibu itu melanjutkan, “Santai aja, Mbaak…”

Perempuan muda itu aku, delapan tahun yang lalu. Tinggal di Balikpapan setelah pindah dari Jakarta begitu usai menikah, mengikuti suamiku bertugas di sana.

Memang masih lugu. Belum paham tentang reproduksi wanita sama sekali. Hanya tahu bahwa begitu menikah, maka seorang perempuan harus siap setiap saat untuk menjadi calon Ibu…hehe..

 

INGIN JADI IBU SEJAK DI BANGKU KULIAH

Jujur, aku lebih dulu ingin punya anak dibandingkan ingin menikah. Kerinduan ingin jadi ibu bahkan sudah muncul sejak aku masih duduk di bangku kuliah.

Sedari mahasiswa, aku sudah sering membeli majalah untuk pasangan muda, majalah tentang anak. Ketika memilih proyek untuk tugas kampus (aku kuliah di jurusan arsitektur), sedapat mungkin aku selalu memilih tugas yang bersinggungan dengan dunia anak seperti taman bermain, penitipan anak, sekolah, dan lain-lain.

Itulah sebabnya, satu minggu pasca menikah aku sudah bergegas ke Puskesmas, penasaran apakah perutku sudah berisi janin atau belum.

Akan tetapi takdir berkata lain. Setelah menghabiskan berbungkus-bungkus testpack uji kehamilan, setahun pun berlalu tanpa ada tanda garis dua merah muda tanda positif hamil di strip penguji itu. Aku pun bersama suamiku memeriksakan diri ke dokter spesialis kandungan.

Namun walaupun sudah menjalani pemeriksaan laboratorium lengkap yang berkaitan dengan kesuburan serta menghabiskan biaya yang tidak sedikit, dokter  belum juga dapat mendiagnosa kenapa aku belum hamil.

Hatiku mulai ketar-ketir. Apalagi di tahun kedua pernikahan, aku tidak haid selama hampir satu tahun. Walaupun berharap haidku terlambat karena positif hamil, jauh di dasar hatiku aku menyadari, tidak haidnya aku ini bukan karena hamil tetapi justru karena adanya suatu penyakit. Bagaimana tidak, berat tubuhku bertambah hingga 20 kg dalam satu tahun. Perutku membesar tanpa berisi bayi. Alangkah sedih hatiku.

Aku pun mencoba mencari second opinion pada dokter lain. Dokter yang memeriksa diriku lagi-lagi belum dapat mendiagnosa secara pasti penyakitku. Namun beliau menyarankan agar aku berhenti bekerja sebagai arsitek. “Mungkin Ibu terlalu lelah,” katanya. Kalimat yang kuakui ada benarnya. Pekerjaanku memang mengharuskanku pergi ke proyek pembangunan yang menuntut stamina yang tinggi.

Aku hanya diam saja dalam perjalanan pulang ke rumah. Rasanya sangat sedih, hatiku pilu hingga nyerinya terasa sampai ke ujung jari. Suamiku sih cukup pengertian, tapi aku yakin sebetulnya dia juga sudah rindu suara dan tawa anak kecil mewarnai rumah kami.

 

MERAMAIKAN RUMAH DENGAN ANAK TETANGGA

Tapi sedih tidak boleh dipelihara terlalu lama. Walaupun belum punya anak, rumah kami selalu ramai didatangi anak tetangga. Maklum, suamiku kadang pergi keluar kota hingga berhari-hari. Jadilah anak-anak tetangga suka kuundang main ke rumah untuk menemaniku.

Maka jangan heran kalau di rumahku kala itu sudah ada krayon, mainan, buku cerita anak-anak, dan lain-lain. Bahkan pintu rumah dan dinding rumahku pun dihiasi gambar hasil karya anak tetangga.

Aku tidak selalu hapal nama dan wajah ibu-ibu tetangga di kompleks perumahanku. Tapi kalau yang disebut nama anaknya, hmm, otomatis aku pasti ingat wajah ibunya yang mana.

Kadang rumahku bahkan juga jadi tempat penitipan anak kalau ibu-ibu mereka harus pergi ke pengajian. Jangan ditanya repotnya, sampai aku sempat terpikir, “Mungkin ini sebabnya Allah belum memberi aku anak, belum tentu aku mampu jika harus mengurus anak seperti ini terus 24 jam sehari, tujuh hari seminggu tanpa hak cuti sama sekali.” Jadi tersenyum sendiri aku membayangkan kesibukan sebagai ibu yang pasti tiada henti.

 

DOA BERUJUNG RENCANA SOLUSI

Kalau aku pulang ke rumah Mama di Jakarta, aku selalu menyempatkan diri memeriksa ke dokter spesialis kandungan. Ternyata aku mengidap myom, kista, sekaligus toksoplasma. Namun sebetulnya bukan karena tiga hal di atas aku belum juga hamil. Ada sesuatu hal lain yang mengganggu siklus hormonalku, hanya saja sampai saat itu mereka belum memiliki cukup data yang membuat mereka dapat menyimpulkan,apa penyebab utama aku belum juga dapat mengandung.

Ketika  kembali ke Balikpapan, aku mendapat amanah  menjadi kepala sekolah TK dan Playgroup yang baru dibuka. Wah, senangnya bukan main. Setiap hari bisa bertemu anak-anak. Makin terkikis kesedihanku karena belum dikaruniai anak. Hanya satu fakta yang membuatku belum bisa berlapang dada jika Allah memang tidak menghendaki aku dan suamiku mendapatkan keturunan.

“Ya, Allah, jika kami kelak memang tidak dikaruniai keturunan, lalu siapa yang mendoakan kami kalau kami sudah tidak ada lagi?” pemikiran yang cukup menggangguku. Berhubung yang positif tidak subur itu adalah diriku, kasihan dong suamiku, ‘terpaksa’ tidak ada yang mendoakan karena istrinya tidak dapat memberikan anak? Begitu nalarku yang sederhana.

Di atas sajadah aku kerap bertanya pada Rabbku, “Ya Allah,  hamba yakin… kalau Engkau sudah menghendaki, dalam sekejap mudah  bagiMu membuatku positif hamil. Hamba ridho apapun kehendakMu, Insya Allah. Tapi bagaimana dengan suamiku? Kan beliau normal, apakah beliau harus menanggung kenyataan bahwa tidak ada yang mendoakan juga kalau beliau tiada nanti? Sedang hidup ini kan cuma sekali ya Allah?”

Sungguh saat itu aku merasa berlaku tidak adil pada suamiku, kalau gara-gara aku, beliau jadi tidak punya ahli waris yang akan mendoakannya di alam kubur nanti.

hmm, rencana solusinya kira-kira apa ya… tunggu bagian kedua ya?

 

 

15 Comments to "Sekaligus Dua (1)"

  1. Lani  1 June, 2011 at 12:52

    KANG ANUUUUUU dingklik maning………dingklik maning heheheh

  2. anoew  1 June, 2011 at 12:41

    Mudah-mudahan bukan akibat memakai KB Dingklik.

  3. Kornelya  31 May, 2011 at 21:49

    Galuh, anak akan didapatkan pada waktunya. Santai saja, sa’at diharap-harap kadang ngga datang, setelah santai dan pasrah malah akan diberi , siapa tahu kembar pula. Salam.

  4. Linda Cheang  31 May, 2011 at 16:59

    selamat berikhtiar…

  5. Sasayu  31 May, 2011 at 15:58

    Idem sm JC, pasti dptnya kembar malahan. Solusinya sekarang sudah banyak, tinggal duit di kantong aja cukup atau ga. Bisa IVF (in Vitro Fertilization)/bayi tabung, bisa juga pake surrogate. Yang ga mau menikah dan mau punya anak, bisa adopsi, kalo tetep mau hamil ya bank sperma udah tersedia. Ya hanya saja, secara etika dan budaya, masih banyak orang yang belum siap. Banyak cara menuju ke Roma…hohohoho.

    Sasayu sendiri, masih jauhhhh…dulu dari kecil malah sudah tidak ingin menikah, lagian masih muda ini, masih mau belajar dan menambah pengalaman. Terimakasih artikelnya, ditunggu yang kedua

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.