Catatan Mr. Big Luggage (1)

Yang Mulia Enief Adhara

 

Butiran keringat menitik
Bersatu dengan penatnya tubuh
Namun tak mampu memadamkan semangat
Perjalanan panjang …
Bersama sanggar tari Mimi Rasinah
Memberi cerita tersendiri

Sebelum keberangkatan, info yang gw dapat sungguh tidak jelas, namun tekat sudah terlanjur bulat dan akhirnya Kamis pukul 7 pagi ditemani koper 75 liter, gw menuju stasiun Gambir. Di jalan tol yang macet gw mendapat kabar kereta tidak jadi yang jam 9.00 pagi namun jam 11.00.

Kepalang tanggung untuk kembali, argo taxi menunjukan angka 40.000an tanpa ampun. Gw melanjutkan saja menuju stasiun. Mulailah gw menunggu rombongan lain tiba. Stasiun Gambir bukanlah tempat seperti sarana umum di luar negri yang serba terencana. Koper 75 liter baru terasa merepotkan saat gw harus menuju lantai 3 dimana peron berada. Sarana umum di Indonesia semua minus.

Informasi yang tidak akurat membuat gw membawa sweater, jas hujan, sepatu blah blah dan itu adalah kesalahan gw yang tidak mencari tahu akan situasi lapangan yang sebenernya. Entah kenapa di stasiun itu gw baru menyadari koper gw begitu besar …. so big. Jerat penyesalan mulai mengisi relung hati … but the show must go on. Jam 10an mulailah muncul Yanti, Va & Dini anaknya lalu Chus dan semua tertuju pada koper gw yang …… (males gw lanjutinnya).

Kami telah berada dalam Cirebon Express yang nyaman dan akhirnya kami tiba di stasiun Jati Barang. Pikiran ini masih penuh suasana mistis yang gw terima melalui SMS and ini semua terjadi karena gw baru kali ini berada di Pantura. Jemputan tiba sekitar 20 menit kemudian, ini menunjukan panitia tidak terorganisir dengan baik. Banyak sekali ketidak pastian yang kami terima mulai info, ticketing sampai waktu.

Kediaman alm Mimi Rasinah yang sekaligus sanggar begitu ramai, dan kami menikmati latihan yang nampaknya disiapkan untuk perjalanan 3 kota.

Pas menampilkan tarian penutup yang disebut ‘gandrung’ dan gw so in love ….. musik yang nge-beat plus gerakan yang full power membuat gw menyukai bener tarian ini. Acara dilanjutkan dengan pemotretan aneka benda berkaitan dengan Mimi Rasinah dan gw melihat topeng berusia 300 tahun. Magis sekali suasananya, aroma menyan dan suasana oldies begitu kuat. Selanjutnya gw mengikuti rombongan ziarah ke makam leluhur juga ke makam Mimi yang lokasinya tak terlalu jauh dari sanggar.

Ketidak siapan panitia terlihat saat tiba menentukan penginapan untuk kami, akhirnya rombongan cewek berada di hotel dan gw + Labu stay di sebuah kantor EO. Kantor itu berbentuk rumah tidaklah kumuh namun juga tidak diurus secara benar. Melihat kasur yang sepertinya ‘nasty’ membuat gw memilih begadang. Mayan buat upload album Tales From Indramayu dan lagi lagi gak on time panitianya.

Katanya gw dijemput jam 5 nyatanya mendekati jam 6.30 gw baru dijemput. Feeling gw udah gak enak, maka gw bawa baju seadanya dan gw jejalkan ke backpack gw so ucapkan selamat tinggal pada koper 75 liter. Mas Labu stayed karena dia harus mengerjakan hal lain.

Yanti dan Va juga pendukung acara sudah berada di bus, bus itu dari luar cukup bagus namun ternyata tidak ber AC, hanya memiliki jendela bagian atas yang bisa dibuka dan it’s not good. Tapi I’m so excited aja sih jadi gak terlalu mikirin walau badan gw becek. Bayangkan kalo gw bawa my luggage, apa gw gak dikutuk orang satu bus hahahaha…

Tiba di Cirebon hanya satu jam dan langsung merapat di Panggung Budaya Grya Ciayumajakuning yang berada di Jl. Siliwangi. Tak lama rombongan menuju makan Sunan Gunung jati yang sumpah ya buat gw emosi jiwa. Selain panas di sana banyak PUNGLI dan dilakukan orang-orang yang belagak SUCI. Ada saja duit sumbangan dan itu tiap jengkal dan MAKSA !!! Mulut gw yang pedas bak dicabein rupanya gak berguna di sini, mereka tetep aja ‘ngerampok’ gw. Acara yang lebih tepat disebut ritual kejawen itu berjalan sekitar 30 menit dan kami kembali ke lokasi pertunjukan.

Para pendukung acara berdandan dan akhirnya pertunjukan dengan promosi minim itu digelar. Kenapa minim informasi? Acaranya bagus dan gratis pula. Gw wawancarai beberapa anak SMU ( yang datang sebagian hanya pelajar SMU ) dan mereka rata rata mengenal siapa itu Mimi Rasinah ( Mimi maksudnya Ibu atau Emak ). Gw begitu terpesona tarian ‘Udang’ dan Gandrung yang dipersembahkan Mimi Wacih dan Early yang begitu power full. Irama gamelan, suling dan kendang begitu penuh harmony. Pantas diberi banyak jempol karena memang indah.

Kami meninggalkan Cirebon pikul 17.00 menuju demak, Va dan putrinya kembali ke Jakarta. Perjalanan masih panjang, macet di Brebes saja 2 jam namun entah kenapa gw biasa saja, tidak muncul rasa marah atau kesal. Gw berganti baju wajib yaitu kaos yang gw gunting lengannya, lalu gw makan nasi goreng pake tangan dilanjutkan finger licking good dan baru dicuci dengan sisa air mineral jatah gw. Pengalaman unik buat gw, tissue basah gak tersedia di Brebes, so what gitu loch !

Kami tiba di Demak jam 2.00 dini hari. Parkiran sepi dan di situ banyak penjual ronde, ohhh sexy food …. I like it dan gak lama kita digiring ke sebuah wisma yang jaraknya hanya beberapa meter dari lokasi manggung. Akhirnya ada juga tempat buat ‘naroh’ badan. Sayangnya air di Demak itu payau, alias antara asin dan tawar plus butek, tapi ya sudahlah enjoy ajah.

Pentas di kota ke dua ini meriah sekali, walau tarian Gandrung di cut karena waktu yang tak memungkinkan, namun penonton puas. Dari hasil wawancara merekla ingin ‘goro-goro’ dibuat bahasa Jawa Tengah agar mereka paham, sedangkan asal rombongan dari Pantura membuat mereka berbahasa paduan Jawa dan Sunda. Dan sore itu gw akhirnya jumpa dengan mbak Pinky dan Ikha yang sebelumnya sudah gw wanti wanti membawa banyak camilan, yeah gw pengen aja berbagi dengan crew yang sepertinya mulai lelah dan menurun kualitas manggungnya.

Perjumpaan singkat itu bukan sia-sia, setidaknya kami jumpa pada akhirnya, bukan sahut-sahutan sebatas di FB saja. Dan akhirnya kami dipisahkan oleh waktu, rombongan segera menuju Majalengka. Baju gw udah terakhir artinya gw gak ganti baju grrrrrr, I miss my luggage dan di dalamnya masih buanyak baju yang bersih dan siap digunakan, but only trouble is, koper itu ada di Indramayu, so far away from me.

 

Note Redaksi:

Welcome Enief Adhara! Selamat bergabung…make yourself at home. Ditunggu tulisan-tulisannya yang lain ya… Terima kasih kepada Dewi Aichi yang mengenalkan Enief ke Baltyra…

 

12 Comments to "Catatan Mr. Big Luggage (1)"

  1. Enief Adhara  5 June, 2011 at 22:49

    Hallo semua, saya terharu sekali karena sambutan kawan2 begitu hangat. Terima kasih kepada Redaksi yang sudah memberi kesempatan saya untuk turut berkreasi disini, terima kasih kepada mbak Dewi Aichi yang sudah mengenalkan saya pada BALTYRA dan juga kepada teman teman yang merespon dengan sangat positive tulisan saya …. salam kenal ya

  2. Enief Adhara  5 June, 2011 at 22:32

    wah aku terharu sekali lho, sambutan teman teman disini begitu positif, terima kasih untuk redaksi yang sudah menerima kehadiran saya dan yang pasti mbak Dewi Aichi yang membuat saya hadir dikeluarga besar BALTYRA, juga semua teman teman disini ….. salam kenal semuanya

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.