Ketika Ifan dan Fian Belajar Berkonflik

Yeni Suryasusanti

 

Sudah hampir setahun ini masa-masa tenang saya karena memiliki kedua putra yang selalu saling menyayangi dan tidak pernah berantem lewat sudah. Sejak Fian menginjak usia 2 tahun, Ifan dan Fian memasuki fase belajar berkonflik :)

Jujur, terkadang dalam beberapa kesempatan saya sampai merasa sakit kepala menghadapi konflik diantara mereka hingga tanpa saya sadari saya sudah bersuara keras kepada keduanya :(

Bagaimana tidak, hampir segala hal dijadikan bahan berantem : pilihan acara TV, pilihan tontonan DVD, pilihan jenis roti jika kebetulan dibelikan berbeda rasa, rebutan main DS dan Wii, Fian yang ikutan belajar mengaji dan belajar pelajaran sekolah jika guru privat mengaji dan les Ifan datang, rebutan tempat duduk di meja makan, jika di mobil Fian yang selalu ingin duduk bersama Ifan di baris paling belakang, sedangkan Ifan ingin Fian di depan bersama saya agar tidak terbebani tanggung jawab menjaga Fian yang memang tidak pernah bisa diam, dst.

Meskipun usia mereka terpaut hingga 8 tahun, ternyata tetap saja konflik terjadi.

Karena pernah mengalami masa saat Ifan sangat menyayangi Fian, awalnya saya sempat kaget melihat perubahan yang terjadi.

“Kog Ifan sekarang nggak sayang lagi sama adek sih bang?” pernah saya reflek bertanya saat melihat raut muka tidak suka yang demikian kental di wajah Ifan dalam suatu konflik.

“Ifan sayang nggak sih sebenarnya sama adek?” ulang saya saat melihat Ifan hanya diam.

“Sayang sih bun, tapi Fian-nya…” sahut Ifan sambil bersungut-sungut.

Masih belum bisa ikhlas dengan perubahan ini, saya sempat mencoba menerapkan beberapa metode bagi keduanya untuk mencoba menghilangkan konflik diantara mereka.

Sebut saja reward and punishment, meminta Ifan lebih sering memeluk Fian, menasehati lebih sering, bahkan terkadang memarahi, semuanya hanya berhasil sesaat, tidak permanen. Konflik tetap saja ada, terutama saat saya tidak berada di rumah.

Secara psikologis saya sempat merasa terbebani, merasa gagal karena tidak berhasil mengembalikan Ifan dan Fian menjadi kakak adik yang selalu saling mencintai, tanpa konflik, seperti sebelumnya.

Kemudian saya mendapatkan informasi sebuah buku yang judulnya menarik minat saya dari Web Percikan Iman (http://www.percikaniman.org/). Saya memutuskan untuk membeli buku yang berjudul “Sudahkah Aku Jadi Orangtua Shaleh?”, ditulis oleh Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari dengan kata pengantar oleh Dr. Aam Amiruddin, M.Si, diterbitkan oleh Khazanah Intelektual.

Setelah membaca buku di atas, Alhamdulillah beban psikologis yang sempat saya rasakan berkurang, bahkan mulai hilang.

Sebenarnya bukan karena buku tersebut berisi sebuah teori baru, justru secara teori memang saya sudah pernah mengetahui bahwa ada masa-masa dimana anak-anak selalu bermusuhan, baik dengan orangtuanya maupun dengan saudara. Namun, yang berhasil mengatasi beban psikologis saya adalah ternyata ada hikmah dibalik setiap konflik pada anak dan ajakan kepada orang tua untuk belajar “bersahabat dengan konflik” jika saatnya tiba.

Berikut saya kutipkan sedikit tulisannya :

Ayah dan Bunda, hampir semua anak yang pernah memiliki saudara pasti pernah merasakan konflik. Konflik ini bentuknya bisa macam-macam, ada yang hanya berbeda pendapat, rebutan barang, makanan, mainan, hingga ada yang melibatkan fisik. Jadi, hampir tidak ada satu pun anak yang bebas dari pengalaman konflik (berantem). Asumsinya, berantem itu seperti sengaja diciptakan Tuhan untuk tujuan baik.

Ya, saya ingin mengatakan kepada semua orang bahwa awalnya konflik itu bagi anak adalah baik. Semua anak pasti akan mengalaminya. Sehebat apa pun orangtua mendidik anak, mereka tidak bisa menghindarkan anak-anaknya dari konflik. Konflik bagi orang dewasa memang tidak baik, tetapi bagi anak, terutama anak-anak usia 12 tahun ke bawah, konflik adalah kebutuhan. Bahkan, seorang pakar tumbuh kembang menganggap anak yang tak pernah bertengkar justru tidak normal. Nah, karena sebuah kebutuhan, pengalaman konflik pada anak-anak akan terus berulang. Meskipun sebagian orangtua tidak menyukainya.

Dari satu pengalaman hidup di masa kecil inilah anak-anak akan (seharusnya) mendapatkan bekal untuk menghadapi konflik hidup di masa depan. Tidak ada satu manusia pun yang terbebas dari konflik. Oleh karena itu, konflik pada anak seperti sengaja diciptakan Tuhan agar mereka dapat belajar cara mengendalikan konflik di masa depan. Ada di antara kita yang memiliki kompetensi hebat di bidang pekerjaan yang digeluti, tetapi karena tidak bisa menghadapi konflik, kita menjadi tak nyaman berlama-lama di tempat kerja.

Konflik pada awalnya adalah baik bagi anak. Konflik berubah menjadi tidak baik saat orangtua tidak bisa mengelola konflik tersebut. Apalagi, jika saat terjadi konflik, orangtua yang selalu menyelesaikan masalah. Akhirnya, anak tidak belajar apa pun dari pengalaman konflik yang mereka alami.

Buku ini menghimbau para orang tua untuk lebih santai menghadapi konflik, tanpa menyurutkan usaha memupuk kebiasaan saling mencintai antara kakak dan adik.

Saya mengikuti anjuran tersebut, dan merasa jauh lebih mudah mengendalikan emosi saat menghadapi konflik antara Ifan dan Fian. Dalam beberapa kesempatan saya bahkan merasa tetap santai dan bisa menghadapi konflik mereka dengan bercanda.

Dalam buku ini orangtua diajak untuk membantu anak belajar mengelola konflik dengan baik, karena konflik adalah sarana yang diciptakan Tuhan untuk anak belajar, yaitu belajar mengelola kehidupan.

Cara-cara yang disampaikan pun cukup memberikan pencerahan. Orang tua diajak untuk bersahabat dengan konflik, melibatkan anak dalam penyelesaian konflik, membuat aturan yang jelas, menetapkan batasan dalam syarat melindungi yang lemah, memfokuskan pikiran anak pada untuk terus saling mencintai dan terus melatih anak-anak bermusyawarah saat mereka mendapati perbedaan dan melatih mereka mengambil keputusan atas perselisihan yang mereka buat.

Alhamdulillah, membaca buku ini semakin membuka wawasan saya tentang pengasuhan anak-anak :)

Beberapa malam yang lalu, seperti biasa konflik terjadi.

Kali ini terjadi pada saat Ifan selesai bermain game “Cooking Mama 2” (game tentang cara memasak mulai dari proses awal memotong hingga seni menyajikan makanan di piring) di DS, Fian meminjam DS untuk juga bermain game yang sama.

Ifan yang sudah berusia hampir 11 th bisa saya kategorikan cukup jago bermain game ini di seluruh fase game, sedangkan Fian untuk anak usia 3 th menurut saya cukup mahir juga, tapi hanya di fase sederhana seperti mengikuti garis untuk memotong dan mengiris bahan, namun untuk yg membutuhkan proses seperti memasak masih belum mengerti.

Malam itu saya sedang menerapkan reward “izin lebih lama bermain facebook di weekend ini jika bisa sayang adik” (biasanya saya meminta Ifan hanya bermain sekitar 1 – 1 1/2 jam, kemudian istirahat dulu, selang beberapa jam baru boleh main lagi, dengan tujuan utama menjaga kesehatan mata).

Saat Fian mengambil DS di meja, Ifan – mungkin karena ingat reward yang dijanjikan jika bisa sayang pada Fian – tidak langsung merebut DS dari tangan Fian, tapi berkata sambil melirik saya, “Ya… Fian nggak usah main deh…”

Saya dengan santai bertanya, “Memang kenapa, Bang?”

“Habis, nanti rekor Ifan terhapus…”

Oh… Ternyata di balik setiap konflik tersembunyi berbagai hal, salah satunya kekhawatiran. Jadi konflik bukan selalu berarti adanya penyakit hati :)

Saya berkata pada Ifan, “Menurut bunda, Ifan tuh jago banget main cooking mama. Buktinya sering dapat nilai 100. Gimana kalo menurut Ifan? Apakah Ifan jago?”

Ifan segera menyahut dengan nada yakin, “Iya.”

Saya bertanya lagi, “Jadi apa yang harus dikhawatirkan?”

Ifan terdiam, terlihat sedikit bingung.

Saya berkata sambil tersenyum, “Fan, orang yang jago itu tidak perlu merasa khawatir rekornya terhapus. Ifan akan selalu bisa membuat rekor baru kapan saja Ifan mau. Rekor itu hanya untuk kebanggaan sementara sampai ada yang mengalahkan rekor Ifan kan? Jadi nggak terlalu penting dong selama Ifan yakin Ifan bisa dan memang Ifan mampu untuk selalu membuat rekor baru…”

Ifan terdiam, terlihat berpikir, lalu ikut tersenyum… dan membiarkan Fian bermain DS… :)

Saya menyadari, perjuangan saya untuk belajar bersahabat dengan konflik masih panjang, karena masa kebutuhan anak-anak untuk belajar berkonflik ini juga masih cukup lama. Namun sejak saat itu, saya belajar mengingatkan diri sendiri akan hikmah dari konflik yang terjadi setiap kemampuan saya bersabar mulai menipis, agar kemarahan saya tidak menjadi penyebab kegagalan Ifan dan Fian belajar mengelola konflik :)

 

Jakarta, 25 Mei 2011

Yeni Suryasusanti

 

20 Comments to "Ketika Ifan dan Fian Belajar Berkonflik"

  1. IWAN SATYANEGARA KAMAH  1 June, 2011 at 14:27

    Ketahuan Om Itsmi sayang Tuhan dan sayang Keluarga. Ciri khas pendeta. Hahahahaha…

  2. Itsmi  1 June, 2011 at 14:20

    yang penting bagi orang tua, dia netral dan jangan berikan mereka solusi. Biarkan mereka belajar mencari solusi dari konflik, orang tua hanya bisa menengahi, supaya tidak ada satu merasa menang atau kalah….. yang sangat penting supaya mereka belajar berkomunikasi jangan sampai fisik yang berbicara….

  3. IWAN SATYANEGARA KAMAH  1 June, 2011 at 13:45

    Konklik sangat menyenangkan dan itu bagian dari rasa cinta. Tanpa konflik artinya kita tak saling kenal. Apalagi cinta. Konflik terjadi pasti dengan dua orang atau lebih yang saling menyayangi.

  4. Yeni Suryasusanti  1 June, 2011 at 13:15

    pam pam, heheheh iya, bener tuh… orang tua malah lama ya kalo berantem
    kembang, atite, selamat menikmati heheheh… saatnya akan tiba nanti
    anoew, wkwkwkwkwk……. nggak ada yg nyerempet ya? :p

  5. anoew  1 June, 2011 at 12:34

    Wah, gk ada kalimat yg nyrempet, jadi susah mau komen hahah..

  6. atite  1 June, 2011 at 12:12

    waduh anakku baru satu sdh suka konflik melulu sama mamanya, terutama pas waktu makan… ha3x…
    salam

  7. kembangnanas  1 June, 2011 at 11:43

    wah, suatu saat aku pasti akan menghadapi azka n rizqi berkonflik…

  8. [email protected]  1 June, 2011 at 11:35

    dunia yang dilihat anak tidak sama dengan dunia yang dilihat oleh orang tua….

    anak kecil bs berantem, 10 menit kemudian, bisa bermain lagi bersama2…
    orang tua berantem…. 10 tahun kemudian jg masih berantem….

    begitukan… =)

  9. Yeni Suryasusanti  1 June, 2011 at 10:40

    HW, iya setuju, sekarang aku udah bisa lebih santai kalo mereka berantem
    aku memang nggak selalu menyalahkan Ifan, tapi kalau sudah main fisik (Fian mendorong, Ifan refleks membalas) ya mau nggak mau secara tenaga Ifan jauh lebih kuat, dan bisa berbahaya…

  10. Handoko Widagdo  1 June, 2011 at 10:04

    Yeni, biarkan anak berkonflik dan mencoba menyelesaikan sendiri. Kadang kita orangtua kurang sabar dan cebderung menyalahkan anak yang lebih besar.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.