Syair Indah di Malioboro

Alfred Tuname

 

Dari mana kumulai cerita ini jika bukan lewat bahasa. Dengan bahasa saya membiarkan pikiran saya berkencan dengan alur narasi filsuf Ferdinand de Saussure, Frederich Nietzsche dan Ludwig Wittgenstein bahwa bahasa bukanlah sarana yang netral. Bahasa selalu menampilkan kembali realitas terkorup. Bahasa selalu terbatas. Sayangnya, itulah ambang batas kemampuan manusia untuk menata kembali realitasnya. Saya pun banyak mencumpai bahasa dalam samar-samat kota Djogja.

Antara Mrican dan Maliboro adalah kisah perjalan sentimental antara saya dan lorong-lorong kota ini. Tetapi saya tidak sendirian. Saya dan seorang saudara. Kami seperti rasul yang berjalan berdua menuju Emaus dalam kisah Kabar Gembira. Hari menjelang malam. Angkutan umum mengantar kami, mengutip Doel Sumbang dan Nini Karlina, di ubun-ubunnya kota Djogja, Malioboro. Trans Jogja adalah angkutan publik yang cukup nyaman yang ditawarkan negeri yang bejuluk “kota berhati nyaman” ini.

Djogja masih sangat aman untuk setiap orang yang ingin sejenak bernafas legah dan/atau mengais harapan. Aman sebab negeri Ngayogyakarta menawarkan apa saja dibutuhkan. Jelas semua itu tetap dalam koridor membangun bangsa Indonesia yang maju dan beradab.

Setan Juga Manusia

Sebagai ikon budaya, Djogja punya gedung untuk menampung setiap orang yang ingin mengekspresikan rasa seninya. Gedung Bentara Budaya. Gedung ini penting untuk merefleksikan jejak-jejak kehidupan manusia, insan berbudaya. MH Nurul Huda (Kompas, 27 November 2004) pernah menulis bahwa “masalah kebudayaan menyangkut penghayatan dan pengalaman masyarakat terhadat lingkungan sekitar, terutama terahap hidupnya”.

Dan malam itu kami mampir ke tempat ini, Gedung Bentara Budaya. Melihat dan sedikit mereka-mereka makna di balik lukisan-lukisan yang sedang dipamerkan di gedung itu. Lukisan bertemakan kucing. Entah mengapa kucing dan ada apa dengan kucing. Hanya kurator handal yang bisa melihat itu secara clara et distanta.

Saya mencoba membuka tirai intuisi. Mungkin sang pelukis sudah membaca realitas bangsa ini. Terlalu banyak “tikus” yang berkeliaran di negeri ini. “Tikus” yang tidak hanya malam tetapi juga siang hari mencuri (nihil preadae in publicum, perampokan jarang terjadi secara terang-terangan) dan memakan roti kesejahteraan umum. Dan sesama “tikus”, mereka saling menolong dan tidak saling mendahului. Karena itu negara ini butuh “kucing”. “kucing” yang kuat dan punya integritas. “Kucing” yang negarawan.

Dengan demikian, mereka dapat menangkap dan mengadili “tikus-tikus”. Tanpa sikap negarawan, “kucing” lambat laun akan bersahabat dengan “tikus”. Dan “kucing” akan rescue  exsolvere commodo suo et non iustitia (membesaskan –“tikus”- demi kepentingan pribadi, bukan demi keadilan). Inilah skema makna yang terbersit di benak saat saya melihat lukisan itu. Dalam sekelumit bentuk dan gradasi warna, ungkapan Leonado da Vinci mungkin ada benarnya bahwa “lukisan lebih filosofis, lebih dekat dengan kebenaran ketimbang puisi”. Atau jangan-jangan lukisan juga puisi hanya dalam bentuknya yang lain.

Lalu ikut menyaksikan pentas teater teman-teman mahasiswa dan komunitas teater. Malam itu, ada pementasan naskah teater “de’ dhemit meeting” penulis Joko Umbaran. Teater ini bercerita tentang para setan yang melakukan sidang. Setan dari barat dan timur berkumpul di suatu tempat favorit, kuburan. Sidang mereka, katanya, lebih demokratis dari pada sidang manusia. Semua anggota setan diberi kesempatan yang sama. Perbedaan pendapat tidak membuat mereka bertengkar apalagi kegaduhan di ruang sidang seperti manusia.

Tema sentral teater “de’ dhemit meeting” adalah eksistensi setan. Pembicaraan tentang eksistensi ini muncul lantaran dilema keberadaan mereka antara manusia dan Tuhan. Sebenarnya, setan sangat senang sebab banyak manusia yang mudah terhasut oleh para setan dan semua algojo. Sayangnya, mereka tersinggung sebab manusia mulai menjadi setan lebih dari setan itu sendiri. Bahkan setan pun dikambing-hitamkan atas perbuatan mereka. Setan pun sangat tersinggung dengan para koruptor yang justru lebih kesetanan dari setan an sich. Para koruptor lebih berhasilkan menyengsarakan banyak manusia di kerajaan dunia ini. Dan ternyata, setan juga manusia yang punya sikap cemburu.

Sementara itu, setan pun ingin melakukan subversi terhadap Tuhan. Mereka melawan Tuhan dengan melakukan ekspansi besar-besaran terhadap manusia. Manusia ditarik sebanyak mungkin untuk menjadi pengikut-pengikutnya. Setidaknya kerajaan surga semakin terdesak oleh ekstensifikasi kerajaan neraka.

Teater ini dimainkan oleh aktor-aktor yang berbakat dengan penjiwaan peran yang sangat baik. seting panggung membantu suasana “kesetanan”. Dan menurut saya, pesan dalam teater terebut adalah korupsi merupakan tindakan paling keji di dunia ini. Bahkan, korupsi merupakan tindakan yang paling dibenci oleh Tuhan dan sekaligus setan. Teater “de’ dhemit meeting” bersasarkan pada penyadaran akan bahaya korupsi sekaligus melakukan kritik keras terhadap para koruptor. Dan mungkin sebelum Tuhan dan setan mengadili mereka, arwah para koruptor itu akan dikumpulkan di Singpura sebab banyak koruptor khususnya koruptor Indonesia senang melindungi diri dari jeratan hukum di Singapura.

 

Ada Cerita di Jalan

Jalan Malioboro tidak pernah sepi. Setiap malamnya selalu punya cerita. Lampu-lampu jalan yang tertata rapi menerangi pemuda-pemudi yang berusaha mengahapus malam. Mereka tidak bermalas-malasan. Mereka hanya menguapkan penat sisa irisan tumpuk rutinitas dan tugas. Tak ada yang peduli meski mereka saling memperhatikan. Mereka bermain, berlari, duduk dan berdiri dalam keunikan mereka masing-masing. Sementara corong-corong kamera merekam cerita yang tak terbahasakan.

Andong sudah tak ada lagi di jalan Malioboro malam itu. Hanya tersisa amisnya kencing-kencing kuda yang bersenyawa dengan dinginnya angin malam. Becak-becak menepi di sudut-sudut jalan dengan mata sang pemiliknya yang tak lagi belalak. Cahaya di mata mereka sudah lelah menunggu. Tapi mereka tak menyerah apa lagi menyerah pada zaman yang menindasnya.

Angkringan Tugu (angkringan sebelah utara stasiun Tugu) juga tak sepi. Suara pemuda-pemudi tak mau kalah pada sambaran deru kereta api. Gerombolan anak muda bercengkrama, bercerita, bernostalgia dan berdendang. Nasi kucing dan kopi jos membuat raga tak loyo. Di ujung sana, ujung jalan Mangkunegara berdiri tegak sahabat muda sejajar dengan tegaknya Tugu Djogja. Mereka sedang mengabadikan kisah mereka, memorizing moment, dengan simbol kota Djogja. Jepret sana, jepret sini.

Kisah tentang Djogja selalu tidak pernah berakhir (never ending). Selalu ada syair yang indah di ubun-ubun kota ini. Syair tentang persaudaraan, persahabatan, percintaan dan keindonesiaan. Djogja, Indonesia kecil yang mewartakan kepada negara dan bangsa Indonesia akan indahnya hidup bersama dalam damai. Djogja tetap istimewa dan istimewa juga orangnya.

Salam Djogja pro penetapan!!!

Djogja, 27 Mei 2011

Alfred Tuname

 

 

26 Comments to "Syair Indah di Malioboro"

  1. Odi Shalahuddin  4 June, 2011 at 05:12

    Yogya, berjuta karya tercipta, berjuta kenangan tercatat, sejarah demi sejarah, menjadi selalu hangat terkenang, tak mungkin dapat dilupa…

  2. ratman aspari  2 June, 2011 at 14:20

    BNI-nya sponsor opo yo……..

  3. J C  2 June, 2011 at 11:20

    Jogja tempat yang tak terlupakan…hehe…kota dengan kenangan tidak enak, walaupun aku mengakui Jogja sungguh menarik dan eksotis…(dan tetep komenku adalah kebanyakan traffic light, lamanya merah dan ijo tidak imbang… )

  4. nevergiveupyo  2 June, 2011 at 07:49

    DA : iya.. banyak banget sih jepretan orang lain yang juga mirip jepretan saya itu… lha gimana enggak, kalo malam di sekitar perempatan itu malah jadi “pameran” kamera digital dan lensa2…..
    gerimis pun orang2 tetap kesitu..apalagi cerah ceria….

  5. Dian Nugraheni  2 June, 2011 at 05:17

    Pas kuliah di Jogja, aku cupu banget, alias culun minta ampun, nggak pernah jalan2, dll, bahkan, 6 tahun di Jogja, kalau ditanya jalan Mangkunegaran, misalnya, sampai hari ini aku nggak ngerti..sering dipertanyakan, benarkah aku pernah tinggal di Jogja selama 6 tahun..padahal beneran dweehh, aku memang di Jogja selama 6 tahun..ha2..maapkan daku Jogjaku lah yauwww…thanks Alfred…hixixixixi..jadi geli sndiri nih…

  6. Dewi Aichi  1 June, 2011 at 22:02

    Nev…iya, jepretan BNI itu mirip jepretanmu yg dulu itu..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.