Sekaligus Dua (2)

Galuh Chrysanti

 

“Bagaimana ini ya, Allah solusinya? Laa haula wala Quwwata illa billaah…” kuresapi sambil terpejam kalimat indah itu, sungguh tiada daya dan kekuatan kecuali dariNya, semata dari Dia yang Maha Segala-galanya.

Kuajak hatiku berbicara. Apalagi kuyakin, hati adalah sumber kontak kita dengan Allah. Berdialog dengan hati adalah memimpin hati agar selalu mencari hikmah dan berpikir positif, insya Allah. Berdialog dengan hati juga jauh lebih nikmat jika dibarengi dengan berdoa padaNya.

Meneropong hidupku ke belakang, lika-liku yang sudah kulalui, sangat nyata adanya bahwa setiap episode hidup kita adalah ujian.

Ujian hidup memaksa kita giat berdoa, karena selalu merasa butuh padaNya. Aku juga merasa, solusi hidup yang kita mohon padaNya lewat doa kita sesungguhnya bukanlah tujuan yang sebenarnya.

Ketika kita punya hajat pada Allah, maka aku percaya, yang harus kita mohon bukan hanya hajat itu sendiri, tapi juga mohon keyakinan dari sisiNya, mohon dapat memandang keagunganNya, keluasan kekayaanNya, ke-MahaPenyayangan-nya, sehingga hati kita tentram dan jauh dari ragu.

Masakah kita hanya sibuk pada problem kita sendiri, sedangkan seluruh langit dan bumi sibuk bertasbih memujiNya?

Bagiku, doa adalah sahabat sejati ujian hidup. Sedang ujian itu sendiri adalah caraNya membuat kita dapat belajar mengenaliNya, mengenali diri sendiri, mengenali untuk apa sesungguhnya Dia menciptakan kita, serta memahami hikmah terdalam tentang apa yang dimaksud dengan beriman padaNya, insya Allah.

Kutemukan bahwa beriman pada Allah itu antara lain artinya adalah haqqul yakin, bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, bahwa Allah pasti akan menolong kebaikan, bahwa pertolonganNya sungguh dekat.

Haqqul yakin bahwa Dia hanya menghendaki kebaikan bagi hambaNya, haqqul yakin bahwa segala sesuatu hanyalah ujian dari sisiNya, dan sungguh telah diatur dan diukur dengan sangat teliti olehNya.

Haqqul yakin bahwa dunia sungguh sesaat dan akhiratlah negeri yang kekal, dan bahwa di balik setiap musibah insya Allah tersembunyi hikmah dan barokah yang banyak.

Beriman padaNya adalah haqqul yakin, bukan lagi ilmul yakin, bukan lagi ainul yakin, insya Allah.

Maka ku berdoa padaNya, mengerahkan seluruh harap dan keyakinan, menitipkan segala kekuatiranku, “Allah, bila seorang hamba sudah menggantungkan hidup padaMu, layakkah ia takut, sedang Engkau Maha Menjaga dan Maha Melindungi? Pantaskah hamba itu sedih, sedang Engkau Rahman dan Rahiim, dan Maha Luas RahmatMu? Bolehkah ia ragu dan kuatir, sedang Allah tempatnya bergantung adalah Maha Kuasa atas segala sesuatu? Rabbi, kepadaMu-lah berakhir segala urusan. Rabbi hablii minash shoolihiin, Rabbi hablii minash shoolihiin.”

Bukankah Allah sendiri yang mengatakan, sesungguhNya pertolonganNya sungguh dekat. Tidaklah mungkin dia menyalahi janjiNya bukan?

Tak dapat kupungkiri, rasa takut, rasa cemas dan kuatir kadang masih menyelinap  memaksa masuk ke bilik hatiku. Tapi insya Allah rasa itu selalu kukembalikan padaNya, kutitipkan padaNya, layaknya murid TK yang menitipkan tasnya yang berat pada ibundanya hingga ia dapat santai melenggang tanpa digelayuti beban yang tak sanggup dipikulnya.

Usai dialog dengan Allah dan juga dengan hatiku, kuputuskan untuk menyimpan sebuah solusi untuk kami, khususnya untuk suamiku.

Pertama adalah mengadopsi anak jika tahun kelima pernikahan kami belum juga dikaruniai momongan, kedua adalah mengijinkan suamiku menikah lagi jika pada tahun ketujuh Allah belum juga menghendaki kehamilanku. Insya Allah. Keputusan yang sungguh berat, tapi rasanya berpihak pada keadilan hingga cukup melegakan hatiku.

 

TERYATA POLIKISTIK OVARIUM

Tahun ketiga pernikahan aku kembali memeriksakan diri di Jakarta. Alhamdulillah akhirnya Dokter dapat menyimpulkan bahwa aku mengidap polikistik ovarium, diluar myom, kista dan toksoplasma yang memang sudah ketahuan sejak awal. Polikistik ovarium adalah penyakit hormonal yang menyebabkan dinding ovarium menebal sehingga tidak dapat dilalui sperma. Akibatnya, sperma tidak dapat bertemu dengan sel telur dan tidak memungkinkan terjadinya pembuahan. Aku pun menjalani berbagai macam terapi, mulai dari obat-obat telan, suntik, hingga laparoskopi atau ‘menembak’ dinding ovarium agar dapat ditembus sperma.

Setelah ovariumku berlubang, aku diberi obat oleh dokter agar ovarium mengeluarkan ovum pada tanggal-tanggal tertentu. Obat tersebut membuat kepalaku sangat sakit dan badan meriang tak terkira. Padahal pada tanggal-tanggal yang telah ditentukan tersebut aku diharuskan berikhtiar lahir bersama suamiku. Hanya zikir dan berdoa kepadaNyalah yang mampu memberiku tekad dan kekuatan. Fisikku betul-betul ambruk hingga mandi junub pun aku tidak kuasa. Dan lagi-lagi berakhir dengan strip test pack menunjukkan satu garis merah saja.

Tahun keempat aku belum juga hamil. Setelah melihat segala hasil pemeriksaanku, dokter mengambil blanko resep dan menuliskan sesuatu di atasnya. Dirobeknya dan diberikannya padaku. “Silakan dibaca resepnya, Bu,” katanya.

Kubalik kertas itu, tulisan yang sama sekali tak kusangka, “Al Furqon 74?” tanyaku penuh tanda tanya.

“Kita sudah berupaya maksimal, Bu, tinggal menunggu Dia berkenan mengabulkan,” Dokter itu tersenyum.

Campur aduk rasaku sewaktu pulang. Sedih karena rasanya harapan semakin menipis, namun sekaligus ‘lega’ karena nyata bahwa tugasku sekarang ‘hanya’ tinggal pasrah padaNya. Pasrah karena memang sudah tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain berdoa.

Dalam kepasrahanku, akhirnya kusampaikan pada suamiku. “Mas, aku punya usulan, begini nih…,” Lalu kupaparkanlah rencanaku tentang adopsi anak jika tahun kelima tidak juga hamil, dan ijin buat suami menikah lagi kalau tahun ketujuh pun masih demikian.

Suamiku hanya senyum-senyum saja, walau aku tak dapat meraba hatinya. “Masa sih kamu rela kalau aku menikah lagi?” tanyanya.

“Yaa… bagaimana lagi, supaya adil buat kita semua… walau jika boleh memilih, kepinginnya tentu sebelum tahun ketujuh aku sudah hamil duluan, hingga Mas tak perlu nikah lagi,” jawabku pasrah walaupun rasanya masih tercemari rasa harap dan cemas.

 

TAHUN KELIMA PERNIKAHAN

Awal tahun kelima pernikahan, aku mulai mencari informasi adopsi. Temanku bilang, “Bagaimana kalau ke rumah sakit bersalin, menanyakan pada perawat di sana?”.

Selain ke rumah sakit, aku pun memasang mata di koran-koran lokal Kalimantan Timur, siapa tahu ada berita tentang bayi yang ditelantarkan dan membutuhkan kasih sayang orang tua.

Di saat yang sama, aku sedang membutuhkan asisten rumah tangga. Keteteran juga rasanya kalau apa-apa dikerjakan sendiri. Apalagi sekolahku baru dirintis, kadang aku bahkan harus pulang malam. Hanya saja di  Balikpapan memang agak sulit mencari asisten rumah tangga yang mau menginap di rumah.

Pada suatu pagi, Mamaku dari Jakarta menelepon. “San, ada yang cari kerja nih, bisa kerja rumah tangga dan mau dibawa ke Balikpapan.”

Alhamdulillaah, aku mau deh. Tolong dia boleh tinggal di rumah Mama dulu, yaa… dua minggu lagi aku danMas Iman ada jadwal ke Jakarta.”

“Oke deh,” kata Mamaku, “Tapi…”

“Tapi apa, Ma?”

Dia lagi hamil tiga bulan, suaminya pergi meninggalkan dia dan dua anaknya yang lain. Jadi dia mau nawarin anaknya sekalian untuk kamu asuh. Mau ngga?” sungguh sebuah jawaban yang mengagetkanku. “

Masya Allah, Mama…berita kayak gini kok ngomongnya biasa aja siih?”

“Ya, emangnya mestinya gimana?” kata Mamaku.

Dalam hati aku berpikir, aku sudah merencanakan berkeliling ke penjuru rumah sakit  di Balikpapan, menelusuri berita tentang bayi sampai ke Samarinda, ternyata calon anakku Alhamdulillah didatangkan Allah ke rumahku sendiri? Subhanallah, Allah memang selalu punya kejutan manis..

“Jangan senang dulu, “ kata Mama, “Coba kau tanya dulu sama Mas Iman, bersedia ngga mengadopsi anak? Ngga setiap orang lho siap mental untuk mengangkat anak…”

Usai mengucap salam, kututup gagang teleponku. Benar bahwa aku sudah pernah menyampaikan ke suamiku gagasan tentang mengadopsi anak ini, tapi jangan-jangan suamiku tidak terlalu serius menanggapinya. Aku yang sudah biasa punya murid ratusan dan semua kuanggap anak sendiri, tentu insya Allah akan mudah menerima kehadiran calon anak adopsi kami. Bagaimana dengan suamiku ya, apakah dapat berpikir sama?

Kuceritakan pada suamiku berita dari Mama ketika beliau pulang. “Ini kan masih di perut, bagaimana nanti kalau terlahir kurang sempurna dan lain sebagainya, apa kamu sudah siap?” tanya kekasihku itu.

“Hmm, benar juga, Mas Iman,” pikirku. Tapi sebetulnya yang kupikirkan bukan fisik calon anak kami ini, melainkan hal lain yang menurutku lebih sulit. Begini, ibu anak ini kan dalam kondisi sulit, anak sudah dua, akan tiga insya Allah. Sementara suaminya pergi meninggalkannya. Apakah di dasar hatinya, ada rasa tidak rela terhadap tumbuhnya janin ini di rahimnya? Sesuatu yang wajar adanya pada kondisi dia, tentunya. Bagaimana kiranya karakter anak yang tumbuh di rahim ibu yang untuk sementara belum berlapang dada menerima kehadiran si kecil? Apakah aku sanggup mengemban amanah mengasuh anak ini? Demikian pikirku.

Tapi aku insya Allah sudah mantap menganggap telepon dari Mamaku tadi pagi sebagai jawaban Allah atas doaku. Alhamdulillah, senangnya bukan kepalang. Suamiku akhirnya setuju saja. Hari-hari berikutnya aku sibuk mencari wawasan tentang hukum adopsi menurut Islam. Jangan sampai sesuatu yang sudah sangat dipermudahNya, tidak kubawa di atas jalanNya yang lurus.

Satu bulan kemudian Rati, ibu calon anakku, hadir di kehidupan kami di Balikpapan. Kupenuhi dia dengan makanan bergizi, kucoba bimbing hatinya agar senantiasa berprasangka baik pada Rabb-nya.

Rutin kami memeriksakan kandungannya  ke dokter atau bidan, Alhamdulillah kondisinya selalu sehat. Sampai menjelang hari kelahiran, kurasakan aku yang lebih ‘dagdigdug’ dibanding dirinya. Tiap hari aku mencek ulang isi tas keperluan melahirkan, kuatir ada yang tertinggal.

Akhirnya hari itu tiba. Rati merasa mulas sekali dan minta di antar ke bidan. Suamiku mengambil cuti, bersamaku menunggui proses kelahiran anak kami.

Menurut Rati, dari tiga anaknya, Hani-lah yang paling sulit proses kelahirannya. Hilmiya Hani Sakiinah, nama yang kami berikan untuk putri tercinta kami. Arti Hilmiya adalah sabar dan cerdas, kami harapkan ia dapat menyikapi takdir hidupnya dengan sabar dan cerdas. Hani Sakiinah artinya adalah penuh kebahagiaan dan ketentraman. Amiin, semoga nama ini jadi doa yang di-ijabahNya.

Rati masih lemas usai melahirkan, aku sedang tak enak badan. Batuk tiada henti. Takut menulari Hani, aku lebih banyak istirahat di kamar tidur  klinik. Suamiku-lah yang menunggui Hani di box bayi. Esoknya teman-temanku datang menjenguk. Wah, senangnya rasanya sama seperti ibu yang baru melahirkan.

Dua minggu setelah Hani lahir, kami berencana untuk mengadakan akikah untuknya. Tapi sakitku tak kunjung sembuh, radang di leherku terasa sangat menyakitkan. Aku pun pergi ke Dokter THT. Kata Dokter, “Bu, sepertinya Anda sudah resisten terhadap obat yang Anda minum, ini saya beri antibiotik yang keras ya, Bu… cuma jangan diminum kalau Ibu sedang hamil, ya.”

Aku tersenyum-senyum saja.

Namun entah kenapa, waktu  menebus obat itu, sekalian juga kubeli test pack penguji kehamilan. Yang murah saja, yang enam ribuan.

Sebetulnya aku tak merasakan tanda-tanda hamil, yang kurasakan adalah tenggorokan yang terus meradang. Akan tetapi,  kalau ternyata aku hamil, kasihan juga kan anakku harus ikut minum antibiotik yang keras itu. Jadilah kubeli test pack kehamilan itu, walau yang termurah karena bagiku toh pengecekan dengan tes uji instan ini hanya ‘formalitas’ belaka.

Di rumah, kucelupkan strip penguji itu ke wadah urin, lalu aku mandi. Sehabis berpakaian, kulihat lagi hasil tes itu. Dua strip? APA? Dua strip? Langsung kuambil bungkus testpack di tempat sampah di kamar mandi. Bukankah dua strip itu artinya? Tuh kan benar, dua strip itu artinya hamil. Hey, salah lihat ngga sih aku? Bergegas aku keluar memanggil adikku yang kebetulan sedang menginap.

“Din, bener ngga sih ini dua strip? Alhamdulillaahalhamdulillaah…eh, semoga hasil ini ngga salah.” Wah, campur aduk-lah perasaanku. Tapi aku tak  langsung memberitahu suamiku yang sedang di luar kota, kasihan beliau kalau hasil ini ternyata salah.

Langsung kutelepon dokter untuk membuat janji konsultasi. Samar kudengar adikku meledek, “Horeee, ngga jadi dimadu deeeh, ha ha ha…”.

Kata dokter sore harinya setelah membaca hasil USG, “Tiga minggu ya, Bu, usia kehamilannya?”

“Lho, kok malah Dokter yang tanya?,” tanyaku gugup sekaligus gembira. “Berarti benar saya hamil, Dok?”

“Memangnya Ibu belum tahu?” Dokter ini malah balik bertanya kembali, “Ibu memang hamil tiga minggu. Anak keberapa, Bu?” tanyanya tenang. Kontras dengan perasaanku yang seperti ingin jungkir balik saking senangnya.

Belum cukup kegembiraanku, dokter berkata lagi, “Ada keturunan kembar-kah, Bu? Sepertinya Ibu mengandung anak kembar, tapi untuk lebih akuratnya, bulan depan Ibu kontrol ke sini lagi ya.”

Subhanallah, bagaimana ya melukiskan perasaanku kala itu? Hamil tiga minggu ketika Hani-ku baru berusia dua minggu? Dengan kemungkinan kembar pula!

Bahkan karena terlalu gempitanya hatiku, ketika keluar dari ruang dokter aku sampai lupa mengancingkan rokku yang langsung melorot ketika aku berjalan. Untung aku selalu memakai celana panjang di dalam rokku. Membuat para suster tersenyum, geli sekaligus ikut bahagia. “Selamat, ya, Bu,” kata mereka.

Rasanya ingin aku mengabarkan pada dunia, bukan mengabarkan bahwa setelah menunggu hampir enam tahun, akhirnya aku kemungkinan akan punya anak sekaligus tiga. Akan tetapi mengabarkan pada mereka, betapa pemurahnya… betapa pemurahnya Allah kita itu, maka bermohonlah selalu, padaNya!

 

Catatan :

Kandunganku akhirnya tidak jadi kembar. Kata dokter, yang satu ternyata cuma selongsong telur saja. Hani dan Fatih hanya berjarak delapan bulan, hingga Hani sempat minum air susuku lima kali kenyang  sebagai syarat ia sah menjadi saudara sepersusuan Fatih. Ah, Dia memang sangat teliti mengatur segala-galanya, Subhanallah. Kami masih berhubungan baik dengan Rati, bahkan Fatih pun ikut-ikutan memanggilnya Ma’e, sebagaimana Hani memanggil Rati.

Dan kini, alhamdulillah hani dan fatih sedang menunggu kelahiran adik mereka  yang kini telah enam bulan di rahimku, doakan ya teman-teman, kelahirannya lancar dan semua sehat :)) amiin.

 

17 Comments to "Sekaligus Dua (2)"

  1. lina  17 March, 2014 at 20:00

    رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ
    “Ya Tuhanku janganlah engkau biarkan aku hidup seorang diri dan engkaulah pewaris yang paling baik.” (QS.Al-Anbiya:89) آمــــــــــــــــــين يا رب العالمين ya Allah smpai trharu baca ceritanya mbk semoga ª̤Ќϋ ∂άϞ suami jg diijabah doa2 kami,kami yakin Allah sudah menentukan waktu trbaik n trindah buat kam bisa menerima amanahNya,kalaupun tdk dikasih smg kami senantiasa ikhlas tas taqdir kami gk didunia toh diakherat kan peroleh jawaban n balasan ts doa2 yg blm trkabul n keikhlasan n keistiqomahan kami,Allah Allahq Robbq apapun kelak satu pinta kami kuatkn hati kami,ikhlaskn,semoga iman kami kian bertambah n brtambah,kami pasrah apapun keputusanMu آمــــــــــــــــــين يا رب العالمين

  2. kembangnanas  6 June, 2011 at 08:15

    wah selamat mba, smoga bayi n ibunya sehat. tapi heran jg ya, knapa sakit radang tenggorok sll diresep antibiotik?

  3. Kornelya  3 June, 2011 at 22:43

    Galuh, selamat. Semoga adik Hani dan Fatih, lahir kedunia dengan selamat, sehat , sempurna.

  4. Sierli  3 June, 2011 at 18:30

    Santi, selamat yaaa atas kelahiran Hani dan Fatih, daaaaaan selamat juga atas kehamilan yang sekarang. GBU

  5. Dewi Aichi  3 June, 2011 at 07:30

    Galuh..ikut bahagia dengan kehamilanmu dan juga anak anakmu yang sekaligus dua he he…ngga jadi di madu horee,…(ikutan adikmu lho)…

  6. nevergiveupyo  3 June, 2011 at 07:05

    wah..selamat ya mbak. memang benar semua akan indah pada waktu-Nya…
    selamat untuk buah hatinya dan untuk si dedek yg sebentar lagi mencerahkan keluarga mbak…

  7. Daisy  3 June, 2011 at 06:19

    Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang – orang yang bertaqwa…
    aamiin Allahuma aamiin

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.