Yang Sakit Siapa, Yang Nungguin Siapa

Ida Cholisa

 

Halah. Duduk diam tidur di rumah sakit itu nggak enak rasanya. Jenuh tiada tara. Bayangkan. Aku perempuan gila kerja tiba-tiba harus berdiam di ranjang pesakitan untuk beberapa lama. Alangkah betenya.

Begitu operasi selesai dilakukan, aku berdiam semalaman. Efek obat bius membuatku lumayan kelimpungan. Esoknya, mulailah aku belajar menggerakkan tangan. Miring ke kiri atau kanan, meski terasa sakit bukan kepalang. Bagaimana tidak, selang drainase darah yang menancap di dada seakan tersodok tiap kali aku menggerakkan kaki dari pembaringan. Tapi tetap saja kugerakkan, perlahan demi perlahan.

Yup, hari kedua pasca operasi aku mulai jumpalitan. Berjalan ke sana ke mari dengan membawa “buntut” selang dan alat penampung darah atau cairan. Yang penting selang infus telah tercabut, maka aku bebas melangkahkan kaki ke mana aku suka. That’s why, kumanfaatkan momen ini sebaik-baiknya untuk mengirup udara kebebasan…

Pukul o4.30 aku telah mengelap diriku dengan air hangat. Sholat shubuh meski dengan berbaring di ranjang. Pukul 05.00 aku mengendap-endap keluar ruangan. Bersama ibuku, kususuri selasar rumah sakit. Terus berjalan di pagi buta. Hm, segar tiada tara…

Aku berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Melewati gedung demi gedung. Hingga matahari meninggi, kembalilah aku menuju teras ruang perawatan. Duduk dan senam tangan sebentar. Sarapan pagi dan minum obat, kemudian “ngacir” keluar. Bergabung bersama para penunggu pasien di teras depan.

Adikku datang. Ia melapor bahwa para suster mencariku, untuk mengukur tensi darahku. Kukatakan biarkan saja. Tak berapa lama, seorang suster hilir mudik di dekatku. Tangannya memegang alat penampung cairan. Kebingungan dirinya. Kusapa ia.

“Sus, cari Bu Ida, ya?”

“Iya, di mana, ya?”

“Saya orangnya, Sus….”

“Ooooooh…..”

“Ukur dulu cairannya ya, Bu?” Ia membuka penutup botol penampung yang terpasang dengan selang drainase darahku, kemudian menampungnya di tempat penampung yang telah dipersiapkannya.

“Sudah ya, Bu?’ Dan suster muda itu pun berlalu…

Siang makin menanjak. Kembali aku menuju ruang perawatan. Tak betah diriku berbaring di ranjang. Kududukkan pantatku di kursi hitam. Hahhh…., legaaaa….

Adikku berganti posisi. Ia duduk di ranjangku, sambil membaca koran. Sore makin membayang. Datang sang suster. Melompat adik perempuanku.

“Bukan aku pasiennya, Sus! Itu, yang lagi duduk….”

Sang suster tertegun melihatku.

“Oh…, Bu Ida??? Maaf ya Bu…”

Haha! Berapa suster yang kecele akibat doyan “melancongku”. Sementara pasien-pasien lain tenang berbaring, aku melompat ke sana ke mari bak kutu loncat….

Hm, tak enak rasanya jadi pesakitan….

***

Bogor, Januari 2011

 

11 Comments to "Yang Sakit Siapa, Yang Nungguin Siapa"

  1. bagong julianto  3 June, 2011 at 15:18

    Memang nano-nano kalau mbezoek…..
    Ada kawan yang suka mbanyol…..
    Ada yang serious….
    Tapi kalau yang sakit sakit saja cengengesan, itu bagus….
    Pasti cepat sembuh……

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.