[Serial de Passer] Astari Memuja Pohon Pepaya (1)

Dian Nugraheni

 

Kehidupan terus berjalan. Begitu juga yang terjadi pada Astari yang tinggal bersama dengan kedua Embahnya, Mbah Lukito Kakung dan Mbah Lukito Putri.

Kala itu, Pasar Dungkebo, sedikit demi sedikit mulai kehilangan keceriaannya. Mulai berkurang semangat desah nafas keramaiannya. Yu Tatik, si penjual Lotek dan Rujak, sudah tak ada lagi di pasar itu. Kabarnya, dia buka warung sayuran plus Lotek dan Rujak di depan rumahnya, jadi dia nggak usah jualan di pasar lagi, cukup melayani kebutuhan sehari-hari para tetangganya.

Yu Rumi, Ibunya Suryo, yang jualan tikar juga demikian. Meski masih bertahan di pasar Dungkebo, tapi sering Yu Rumi mengeluh, orang tak lagi berminat membeli tikar pandannya, kecuali bila mendadak ada sripah, orang meninggal, maka mereka membeli tikar pandan untuk alas orang yang meninggal. Katanya, orang-orang jaman sekarang lebih senang membeli tikar plastik di toko Cina, lebih awet, bisa dicuci, dan warna-warninya ceria, membawa suasana semakin indah….

Apalagi dengan Mbah Lukito Putri, yang di pasar itu menjual dan membeli barang-barang bekas, atau, seperti layaknya “pegadaian” tak resmi. Astari tak pernah bertanya, tapi dia bisa memperhatikan, bahwa dari hari ke hari, semakin jarang saja orang yang datang kepada Mbah Putrinya untuk menggadaikan atau menjual barang-barangnya. Katanya pula, mereka sekarang lebih memilih pergi ke Pegadaian yang sebenarnya. Penghitungannya lebih punya standard, dan prosesnya cepat….

Tapi Mbah Lukito Kakung dan Putri tetap tenang menghadapi berubahnya kehidupan. Mereka tetap pergi ke pasar setiap harinya, layaknya orang melakukan pekerjaannya. Dan, Astari pun masih tetap “njujug”, datang ke pasar lebih dulu, bila pulang sekolah. Selanjutnya, seperti biasa, Astari Sang Anak Kandung Pasar Dungkebo akan diperebutkan oleh para pedagang di pasar itu sebagai anak yang pantas menerima cinta kasih mereka.

Pak Minggu dan Bu Minggu, penjual bubur nasi, masih tetap menyisihkan sebungkus bubur gurih untuknya, Yu Sum, masih menawarkan bubur sungsum campur bubur pacar dagangannya, atau, Yu Sanah selalu bilang, “aku sisihkan srundeng buatmu, nanti bawa pulang buat makan sore, ya..”

Tapi Astari tak lagi berlama-lama berada di pasar sepulang sekolah. Saat ini, dia sedang senang-senangnya bermain dengan “geng”nya. Kelompok kecilnya. Salah satu teman dalam gengnya itu bernama Jiweng, gadis kecil kumal berambut kering dan kaku, tak pernah memakai sandal, dan wajahnya tampak seperti anak yang cengeng di waktu masa balitanya, dan itu membekas di wajah Jiweng saat ini, wajahnya tampak cengeng tapi bandel.

Jiweng anaknya Bu Marni, salah satu penjual sayuran yang berjualan di pasar Dungkebo juga. Jadi, sepulang sekolah, Astari akan bertemu Jiweng, kemudian mencari teman-temannya yang lain, Witri, Entik, Wanto, dan Agus, tapi mereka sepakat untuk tidak mengajak Suryo.

Astari sedang menjauh dari Suryo. Bagi Astari, kadang Suryo adalah teman yang tegaan, membuat Astari tidak nyaman. Peristiwa terakhir yang terjadi adalah, ketika Astari dan Suryo, hanya berdua main kelereng, adu “titis”, membidik kelereng dengan kelereng lain secara tepat. Astari sudah minta, “Jangan taruhan ya, kelerengku tinggal dikit..”.

Dan Suryo waktu itu diam saja. Astari menganggap diamnya Suryo adalah sikap setuju, tapi di akhir permainan, Suryo merampas semua kelereng Astari yang dianggapnya kalah. Hanya beberapa kelereng jelek, yang sudah bocel-bocel yang disisakan Suryo buat Astari…

“Kita ke sawah, yok..,” ajak Jiweng.

“Ya, lewat rumah Witri, kita samperin dia dan yang lainnya ya..,” pinta Astari. Jiweng mengangguk.

Begitulah, anak-anak ini berjalan di siang panas menuju sawah. Jiweng mencari telur burung puyuh di sekitar rimbunan semak, Witri “ngincup” kinjeng, menangkap capung, dengan sikap yang sangat hati-hati dengan maksud agar si capung tidak kaget, dan berhasil ditangkapnya.

Wanto mencoba membidik buah mangga dengan ketapelnya, yang pohonnya tumbuh liar di sekitar persawahan, Entik mengumpulkan buah Asam yang berjatuhan karena sudah terlalu matang dan mengering di pohonnya, Agus cuma duduk-duduk saja di pinggir kali Bogowonto dekat sawah sambil memandang jauh ke depan, melamun kiranya, dan Astari berjongkok-jongkok mengumpulkan Bunga Rumput. Bunga Rumput itu akan dikeringkan, dan ditempatkan di sebuah botol kaca sebagai vasnya.

Waktu terus bergulir, bedug Ashar tentunya sudah sejak tadi terdengar. Rombongan kecil ini mulai lelah. Mereka sepakat pulang. Perjalanan pulang pun tidak disia-siakan oleh mereka. Ada saja yang mereka dapatkan di sepanjang jalan. Astari memungut batu berbentuk telor yang sangat halus, baginya itu nampak istimewa dan berharga, dia akan menyimpannya bersama barang-barang mainannya di rumah yang kebanyakan juga merupakan barang-barang bekas, macam kaleng, botol, dan lain-lain.

Wanto berhasil menemukan pohon Duwet, buahnya kecil berwarna ungu, dan lunak bila sudah matang, rasanya cukup manis, atau, rasanya  sepat ketika belum matang benar. Jiweng menemukan rimbun pohon Cimplukan, buah kecil-kecil berbentuk seperti Tomat, dan memetiki buah-buahnya yang sudah agak  memerah.

Ketika tiba di kebun luas milik Pak Joyo, tiba-tiba Wanto berseru sambil menuding sebuah pohon kecil, “hei, pohon coklatnya sudah berbuah…”

Wanto segera mendekat dan akan segera memetik buah coklat yang paling besar, ketika Astari berteriak, “Jangan, itu namanya mencuri, kamu harus bilang dulu sama Pak Joyo, minta sebuah…”

Wanto menyaut dan nekat memetik buah coklat yang menggandul di tangkainya yang kecil, “Ahh, Pak Joyo pelit, mana mungkin dia mau kasih kita ijin petik buah coklat.., biarin aja, tau rasa, dasar orang pelit, biar aja kebonnya dicuri orang..”

Buah coklat memang cukup menarik bagi anak-anak ini. Mungkin karena mereka membayangkan, dan ingin tau, seperti apa rasanya buah coklat itu..? Sebab yang mereka tau, adalah, bahwa Buah coklat itulah yang bakal dibuat permen coklat, yang sering mereka beli di warung-warung.

Tibalah saatnya, buah-buahan itu mereka cuci, dan mereka makan di tepi Mbelik, mata air bening yang sering digunakan untuk mencuci atau mandi penduduk setempat. Bagi Astari, yang paling menarik adalah ketika akan makan buah coklat curian, karena buah-buah lain seperti Mangga, Cimplukan, Duwet, adalah bukan hasil curian. Itu adalah pohon-pohon liar tak bertuan di hutan kecil dekat sawah.

Wanto membelah buah coklat dengan pisau lipat kecil yang selalu dibawanya ketika berkelana ke hutan. “Hmm.., kayak apa rasanya yaa…” gumam Wanto.

“Ayo.., ayo, kita icipin buah coklatnya..” kata Wanto sambil mencukil-cukil biji coklat yang berlapis sesuatu yang agak lunak dan basah, seperti krem Rheumason, balsem panas, kelihatannya. Astari terpekur melihat satu demi satu kawannya mencicipi rasa buah coklat itu. “Agak manis, kok..” kata Jiweng.

“Astari.., ayo, kamu mau cicipi enggak..?” tanya Agus. Astari menggeleng, dan teman-temannya tidak peduli dengan gelengan Astari, dan nggak tau apa yang dipikirkan Astari, bahwa makan buah curian adalah perbuatan tidak baik, bahkan dosa, kata Bu Hamidah, Guru Agamanya di sekolah.

Dan setelah anak-anak kecil ini kenyang makan buah hasil buruan mereka, akhirnya mereka mencuci tangan, kaki, dan muka mereka di Mbelik itu, lalu satu demi satu anak-anak ini pulang ke rumah masing-masing. Ashar telah merambat menuju Maghrib.

(bersambung..)

Virginia,

Dian Nugraheni

Minggu, 1 Mei 2011, jam 2.53 siang

(Sepi menggulung seluruh rasa…)

 

12 Comments to "[Serial de Passer] Astari Memuja Pohon Pepaya (1)"

  1. Handoko Widagdo  14 June, 2011 at 19:21

    Wah ini banyak yang belum tahu rasanya buah coklat. Buah coklat (bukan bijinya) memang enak. Saya sering makan buah coklat saat di kebun. Rasanya manis ada sedikit asam.

  2. probo  14 June, 2011 at 19:04

    Dian…aku ikut nangkap belalang kok nggak diceritakan?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *