Pohon Sirsak, Mama dan Mengukir Prestasi Baru

Galuh Chrysanti

 

Akhir pekan yang lalu saya berakhir pekan di rumah Mama. Mamaku ini sebetulnya dokter medis, tapi setelah di usia beliau yang 66 tahun ini beliau mendalami pengobatan herbal, terutama dengan mahkotadewa. Waah, malu kalau melihat Mama masih rajin belajar. Membaca diktat-diktat tebal tentang tanaman obat, menghapalkannya #enggakguebanget :)# , menerapkannya dalam mengobati pasien, dan lain-lain. Semangat belajar yang luar biasa.

Di teras belakang rumah Mama yang asri—maklum, penuh dengan aneka tanaman obat—saya membuka-buka majalah Trubus edisi terbaru dan menemukan laporan khusus tentang khasiat daun sirsak. Ternyata, sirsak yang biasanya hanya saya nikmati jus buahnya memiliki aneka manfaat yang tak terduga.

Sebagai contoh, di Brazil, bunga sirsak dipakai untuk mengobati penyakit bronchitis, di Amazon biji sirsak digunakan untuk mengobati masuk angin, di Madagaskar daun sirsak dimanfaatkan untuk mengobati penyakit lever, sedang di Indonesia dan Peru, bijinya dimanfaatkan oleh para pelaku pertanian organik untuk diolah sebagai pestisida nabati untuk mengatasi berbagai organism pengganggu tanaman, dan lain-lain.

Tapi yang paling menakjubkan adalah manfaat daun sirsak sebagai sebagai penumpas sel-sel kanker. Hal ini adalah karena sirsak mengandung senyawa aktif bernama acetogenin. Senyawa ini ternyata mampu mengenali dan membedakan antara sel kanker jahat dan sel normal pada tubuh manusia. Target sasarannya jelas, yaitu hanya sel kanker. Berbeda dengan kemoterapi yang seringkali juga melemahkan sel-sel yang normal.

Acetogenin ini bekerja dengan menghambat ATP, sumber energi sang sel kanker. Akibat penghambatan ini, sel kanker menjadi tidak dapat berkembang. AgrEvo Research Center di Amerika Serikat bahkan membuktikan bahwa daun sirsak dapat membunuh sel-sel kanker usus besar 10.000 kali lebih kuat dibandingkan dengan adriamycin dan kemoterapi. Kabar yang tentunya sangat menggembirakan bagi sahabat dan kerabat kita yang mengidap kanker di seantero penjuru dunia.

Di Trubus sendiri dibahas berbagai testimoni pengidap kanker yang sembuh karena mengkonsumsi daun sirsak. Bahkan ada di antara mereka yang sudah stadium tiga! Subhanallah.

Sahabat, sirsak tentu bukan tanaman yang asing bagi kita semua. Bahkan mungkin ada diantara kita yang pekarangannya menjadi tempat tumbuh tanaman multi manfaat ini. Akan tetapi, sejauh mana kita sudah  memanfaatkan khasiatnya yang luar biasa?

Pohon sirsak entah sudah berapa lama berada di bumi kita ini. Namun khasiat pamungkasnya baru terungkap sekarang, seiring dengan intensitas penelitian manusia atasnya.

Menutup majalah Trubus, saya jadi terpikir tentang diri ini. Sirsak saja setelah diteliti ternyata memendam manfaat yang dashyat, apalagi manusia, sebagai khalifah Allah, mahlukNya yang paling sempurna?

Tiap diri kita menyimpan potensi yang sangat dashyat, yang tidak akan kita ketahui kecuali kita mengeksplorasi aneka potensi itu dengan sebaik-baiknya. Bagaikan sirsak sang penumpas sel kanker yang dahulu hanya populer sebagai jus buah saja.

Sebetulnya semua sudah Dia sempurnakan dalam diri kita. Namun apakah kita sudah memaksimalkan seluruh kemampuan kita?

Tidak pernah terlambat untuk memiliki sebuah cita-cita baru, merengkuh kesempatan baru, mencoba aneka bakat yang Dia berikan untuk kita. Dan kita tak akan tahu sejauh mana kemampuan kita sebelum kita bergerak dan memberanikan diri mencoba. Ketika kita memberdayakan seluruh potensi kita, kita akan tenggelam dalam syukur karena menyadari, betapa banyak ternyata yang bisa kita lakukan, yang selama ini mungkin tidak pernah kita kerjakan.

Mama banting setir ke pengobatan herbal di usia beliau yang 66 tahun. Hari-hari beliau masih diisi dengan belajar, seminar, menghapal, membuat catatan, dan lain-lain.

Ibu Mooryati Soedibyo memulai usaha jamu dan kosmetika tradisionalnya di usia 45 tahun. Berawal dari meracik di garasi rumah, kini produk beliau telah diekspor ke kurang lebih 20 negara di seluruh penjuru dunia. Nama beliau berada di urutan ketujuh dalam daftar 99 wanita paling berpengaruh di Indonesia 2007.

Seorang teman di dBC network tempat saya kini bergabung, mencapai posisi senior manager dalam waktu lima bulan saja dengan income jutaan di usianya yang 63 tahun. Jangan lupa bahwa dBC network 85% bergerak di dunia maya! (btw, yang mau ikutan bergabung, kutunggu di  inbox yaa ;).

Sedang sahabat yang membaca notes ini, sangat kuyakin 95% masih tergolong usia  muda ^__^

Berapa pun umur kita, yakinkah kita bahwa kita betul-betul sudah mengenali semua potensi yang dibekaliNya dalam diri kita?

Bayangkan jika kita tidak menyadarinya. Bisa-bisa kita menolak suatu peluang karena mengira diri ini tidak bisa, tidak berbakat, bahkan sebelum kita mencobanya.

Berhentilah sejenak, Sahabat. Lihat dan kenalilah diri kita dengan seksama. Then push your limit. Sungguh, semua sudah ada dalam diri ini. Teruslah menggali, teruslah mengeksplorasi kelebihan diri. Semakin banyak kita mengenali potensi diri dan berkarya, semakin besar manfaat kita untuk keluarga dan sesama manusia. Selamat mengenali, melejitkan potensi, dan mengukir prestasi baru ^_^

#versi singkat tulisan ini telah dimuat di Group Pohon Inspirasi dengan judul Belajar dari Pohon Sirsak.

 

18 Comments to "Pohon Sirsak, Mama dan Mengukir Prestasi Baru"

  1. Saras Jelita  8 June, 2011 at 10:50

    Dulu waktu rumah di Fatmawati luas berhalaman kami punya juga Ponon Sirsak ini Galuh ta share yahhhh thanks banget sudah berbagi nich…

  2. Sirpa  7 June, 2011 at 23:41

    Mau dong Nangka Belanda nya ….

  3. kembangnanas  7 June, 2011 at 09:27

    wah ternyata byk manfaatnya

  4. Sakura  7 June, 2011 at 09:27

    Sirsak ya? oke oke akan kuingat, semoga suatu saat kalau sudah punya research foundation sendiri aku mau berkutet juga dengan antioksidannya.

  5. atite  7 June, 2011 at 02:18

    wah buru2 rajin makan sirsak sblm penyakitnya datang… ha3x..
    salam

  6. Linda Cheang  6 June, 2011 at 23:49

    gara-gara buat obat kanker, bikin Pohon Sirsak jadi ngetrend, harga buah Sirsak jadi meroket, sekilogram mencapai Rp 15.000 di pasar tradisional, sudah gitu stoknya tidak ada pula. Walah!!!

    btw, aku juga konsumen Mahkota Dewa. Dari pohon yang ditanam sendiri, buahnya direbus sendiri. Hasilnya, kista di rahim saya hilang, bersih.

  7. Djoko Paisan  6 June, 2011 at 22:46

    Sayang di Mainz, belum pernah ketemu buah sirsaak….

  8. Dewi Aichi  6 June, 2011 at 21:39

    Aku punya nih pohonnya, di Jogja tapi. Cuma ya selama ini sekedar untuk buah saja, kasiat buah ini aku tidak tau, sekarang jadi sedikit lebih tau. Seperti apotik hidup di pekarangan, banyak sekali manfaatnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.