Tak Kan Selamanya

Wesiati Setyaningsih

 

Maam, besok Aji & Kiky mau ikut DMUN,simulasi sidang PBB di Undip. Dimana delegasi yg lolos nantinya bakalan diikut sertakan dlm sidang serupa di Harvard – US.

Kami mohon doa restunya agar diberi kelancaran & kemudahan dalam mengikuti event ini.

Trimakasih Maam, luv u always.. :)

Aku membaca wall post ini pagi-pagi. Karena terbangun dan tidak mudah untuk tidur lagi aku memutuskan untuk bangun sekalian dan membuka fesbuk. Melihat comment di sana sini, ikutan comment lagi, dan lalu tertumbuk pada sebuah wall post.

Aku tak ingin terlalu banyak mengenang masa lalu, tapi Aji dan Kiki, dua nama itu terdengar seperti puisi di hatiku. Aku telah menjadi pengamat jalan hidup mereka dan aku seperti dihamparkan pada dogma bahwa hidup itu tak akan sama. Selalu ada harapan, selalu ada masa depan yang lebih baik. Tak pernah ada yang tetap dan karenanya bahkan sebuah kepedihan yang menoreh tajam pun akan segera lenyap. Berganti sebuah kebahagiaan yang akan datang bila kita berani terus maju dan memungutnya di depan kita.

Begitulah. Aku pertama kali mengajar di tahun 2006, setelah pindah dari tempat kerja sebelumnya. Ada 3 kelas yang aku ajar, semuanya kelas satu. Mereka pendatang baru di sma 9, begitu juga aku. Kami sama-sama baru. Aku terkaget-kaget dengan anak jaman sekarang yang jauh berbeda dengan anak jamanku. Anak sekarang lebih ekspresif.

Aji dan Kiki berada di kelas yang sama. Dulu mereka dari smp yang sama, sehingga mereka duduk sebangku waktu itu. mereka pandai dalam bahasa inggris. pronounce mereka cukup bagus. andai waktu itu aku sudah membina klub debat bahasa Inggris, mungkin mereka sudah aku tarik untuk ikutan.

Seperti halnya anak sekarang, mereka gemar berteriak-teriak. itulah yang mereka lakukan tiap pagi, memanggil namaku. Waktu itu aku diberi tugas tambahan sebagai pengelola UKS, karena guru baru belum dipercaya untuk menjadi wali kelas. Waktu itu UKS masih berada di ujung lapangan (sekarang sudah menjadi ruang guru) sementara kelas mereka berada di ujung lain lapangan upacara sma 9 yang cukup luas itu.

Tiap pagi mereka duduk-duduk di selasar yang menghadap ke lapangan dan meneriakiku tiap kali aku datang pagi-pagi dan membuka UKS yang juga menjadi ruang kerjaku. Tiap pagi mereka baru berhenti memanggil-manggil kalau aku sudah melambaikan tangan. Saat istirahat mereka seringkali mengunjungiku di ruang uks. Ngobrol ini itu atau curhat tentang apapun (waktu itu banyak anak-anak yang juga sering masuk UKS untuk sekedar ngajak ngobrol).

Waktu berjalan. Tahun pelajaran belum usai. Tiba-tiba ada masalah. Kiki tidak mau sekolah lagi! Aku tidak tahu permasalahan sebenarnya, tapi dia sama sekali tidak mau berangkat sekolah karena tidak mau bertemu salah satu guru. Aku sempat datang ke rumahnya, untuk membujuknya masuk sekolah lagi. Sebenarnya aku tidak punya kewenangan untuk mendatangi rumahnya. Aku bukan wali kelas kiki, ataupun guru BK. Aku hanya menyesalkan kalo Kiki tidak mau sekolah lagi.

Sore itu aku ke rumah Kiki tanpa hasil. Aku membujuk dan menangis, tapi Kiki tetap pada keputusannya. Akhirnya, aku serahkan pada Tuhan. aku bilang pada Kiki,

“Baiklah. tidak apa-apa. kesuksesan tidak hanya didapat dengan sekolah di sma 9,”

Aku pulang dengan tangan hampa dan hati hancur.

Lebih hancur lagi karena aku setelah itu, aku pernah melihat Kiki di taman jalan bersama beberapa anak yang menurutku tidak terlalu baik untuk dijadikan teman. Tapi sudahlah. Biar Tuhan yang urus. Teman-teman sekelasnya tiap kali masih datang ke UKS untuk memberi kabar tentang Kiki. Tak ada yang bisa kulakukan, jadi aku hanya bisa berdoa agar Kiki baik-baik saja.

*****

Setahun hampir berlalu. Ulangan kenaikan sudah dilaksanakan dan aku telah berada di ruang rapat pleno kenaikan. Ini rapat kenaikan yang pertama kali aku hadiri. Aku benar-benar baru di sini. Anak yang nilainya kurangnya cukup banyak, hanya disebutkan nomor absennya saja. Hingga aku tidak tahu bila ternyata salah satu yang tidak naik itu adalah AJI!

Aku menyesal tiada henti setelah pleno berakhir dan mengetahui bahwa salah satu anak yang akhirnya tidak naik itu Aji. harusnya aku bisa berbuat sesuatu dan aku malah ngobrol dengan teman guru di dalam rapat tadi. Aku masih menyesali diriku sendiri bertahun setelahnya dengan kalimat “I must have done something..!”

Tapi mungkin itulah jalan Tuhan. Aji tidak naik kelas ke kelas dua bersama anak-anak yang memang sangat sering tidak masuk sekolah. Hanya Aji yang sebenarnya tidak layak untuk tidak naik kelas karena dia anak yang rajin dan juga pengurus OSIS bidang kesenian. tapi begitulah. Tuhan sedang ingin menunjukkan sesuatu pada aku, pada Aji dan mungkin pada semua orang yang mau mengamati semua ini.

Setelah penerimaan rapor, aku sempat menangis semalaman karena terus menyesal. Ini pengalaman pertamaku menjadi guru dan harus dihiasi hal-hal dramatis yang tak kukira sebelumnya.

*****

Kepedihan dan masalah memang tak perlu ditangisi. Karena seperti ketetapan dalam kehidupan ini : tak ada yang tetap. Kita cuma harus berani melangkah maju. Dan itulah yang dilakukan Kiki dan Aji. Kiki akhirnya mengulang bersekolah di SMK Grafika dan Aji mengulang di SMA Don Bosco. Aku cukup senang mendengarnya. Dan tahun kedua itu aku mulai dipercaya mengajar kelas dua.

Hidup terus berjalan. Aku kagum dengan Aji dan Kiki yang berani melangkah maju setelah apa yang mereka alami, juga kepada keluarganya yang mampu mengambil hikmah dari sebuah kegagalan yang memalukan untuk terus membawa putra putrinya maju ke depan.

Lewat fesbuk aku tahu, tahun lalu Aji dan Kiki lulus SMA dan diterima di UNDIP. Aji masuk jurusan hukum dan Kiki masuk jurusan komunikasi. Kegiatan mereka di kampus juga mereka tulis di status jadi aku tahu bahwa mereka aktif di kegiatan kampus mereka.

*****

Begitulah, dalam hidup ini tak ada yang tetap. Dan bila kita percaya itu semua, maka tak ada yang bisa disebut anugerah atau musibah karena keduanya sama. Terima saja dengan sama senangnya. Semua itu hanya situasi hidup yang terus berubah, seperti panas berganti hujan dan sebaliknya. jalani saja, amati saja, dan nikmati saja sepenuhnya. Karena setelah itu berlalu, tak ada lagi yang sama.

Pagi ini aku membuka wall fb dan menangis haru membaca wall post dari Aji dan dicomment oleh Kiki. Tuhan seolah memintaku melihat sebuah bukti satu lagi, bahwa apa yang aku yakini bahwa hidup ini terus berjalan dan dalam sepanjang perjalanannya selalu berubah, itu benar. Ibarat kita naik bis, dalam perjalanan pemandangan di luar selalu berubah dan tak ada yang sama.Yah, begitulah hidup. Jadi memang tak ada alasan untuk berdiam, merenungi dan menangisi yang telah terjadi. Hanya butuh keberanian untuk maju dan memungut kesuksesan yang sudah disiapkan Tuhan di depan, setelah berbagai aral dan kesulitan. Percayalah.

Pagi dini hari ini, aku berterima kasih pada Tuhan yang telah menunjukkan semuanya dan semoga tulisan ini bermanfaat untuk banyak orang.

 

Salam bahagia selalu.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

62 Comments to "Tak Kan Selamanya"

  1. nia  9 June, 2011 at 07:09

    huahahha… pagi2 ngakak baca komen yu Lani… ‘jangan gitu’ bumbune opo???

  2. wesiati  8 June, 2011 at 22:03

    mas aji wis bobok…. ojo bengak bengok to mbak…mimpi buruk kae wonge…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.