30 Hari Keliling Sumatra

Tantripranash

 

Judul Buku       : 30 Hari Keliling Sumatra

Penulis              : Ary Amhir

Penerbit            : Through  The Glass Art Foundation

Tahun terbit      : I (Maret 2011)

Tebal                : 150 halaman

Keliling Sumatra selama 30 hari, Apa anehnya? Setiap orang bisa melakukannya bila punya dana dan waktu. Seorang perempuan melakukan perjalanan sendirian? Juga tak ada yang istimewa dengan hal ini. Namun Ary Amhir membuat bukunya berbeda dengan remah-remah cerita jelata yang dikumpulkan selama masa perjalanannya.

30 Hari Keliling Sumatra hadir apa adanya, sederhana, tanpa basa-basi namun memikat. Membuat kita tak perlu mengerenyitkan dahi waktu coba memahami apa maksud tulisannya. Ia bicara kenyataan yang ditemui dalam perjalanannya walau terasa pahit sekalipun. Termasuk tentang beberapa budaya tradisional yang tergusur atas nama modernisasi, misalnya musik tradisional Sumatra gondang sabangunan yang tersingkirkan oleh pertunjukkan organ tunggal, atau tentang para pelestari tradisi Opera Batak yang sulit melakukan kaderisasi. Ada juga tentang nasib orang melayu yang terpinggirkan.

Ary pun kerap berusaha memaknai kearifan lokal yang selama ini sering dipahami secara hitam putih saja oleh orang luar seperti kebiasaan para lelaki kumpul-kumpul di warung kopi di daerah Aceh, tentang budaya ngulak bakung di Prabumulih, atau tentang budaya membeli lelaki di Pariaman.

Lelaki yang dipinang dengan sejumlah uang – khusus Pariaman dan Padang – ini akan menghidupi dan menjaga istri dan keluarganya. Dia akan memberi istrinya keturunan yang bakal melestarikan orang-orang Pariaman (hal.11). Ah, andai kita pahami adat minang dalam bentuk lain, kita temukan juga indahnya. Terlebih mampu membaca yang tersirat (hal 12).

Beberapa legenda lokal daerah tertentu tak luput menjadi perhatiannya. Selain itu ada pula hal-hal menarik lainnya seperti kisah jatuhnya tembakau Deli yang terkenal di pasar dunia, perbandingan etos kerja dan kesejahteraan petani karet dengan petani sawit di Sumatra, sampai kisah korban gempa di Sumatra Barat yang selamat.

Tak semua bencana alam dengan mudah menghancurkan moral seseorang. Bahkan mungkin malah menguatkan hidup mereka (hal.16).

‘Travel Writing’ adalah salah satu genre sastra yang memang memiliki peminat tersendiri. Mungkin ada yang masih ingat buku yang sempat terkenal di era 80-an, catatan perjalanan HOK Tanzil. Tanzil banyak menyorot mengenai kuliner dan perihal akomodasi, dari keliling Indonesia sampai ke banyak negara lainnya.

Sayang sekali dokumentasi pelengkap pada buku Ary dicetak dalam hitam putih, meski penulisnya juga memberikan lampiran foto-foto berwarna dan postcard dalam lembaran yang terpisah. Tentu foto yang dicetak berwarna akan lebih informatif dan menambah daya pikat buku ini, karena seringkali sebuah buku catatan perjalanan menginspirasi pembaca untuk datang ke suatu tempat baru atau bahkan dijadikan buku panduan untuk pergi ke suatu wilayah tertentu (wikipedia).

Di bagian tengah sampai akhir, Ary Amhir makin menunjukkan kemampuannya bermain kata-kata. Kisah hari ke-25 – Foto Tua Bapakku begitu menghayutkan.

Tak ada dendam di hatiku, tak ada tangis memercik mataku. Dunia berputar dan kumulai perjalanan pertama, keliling Bali, Lombok, Sumbawa dan berakhir di Flores Kucari makna sebuah tangis. Bapak yang membuatku terus mencari makna tangis bagi setiap orang yang kujumpai di setiap perjalanan (hal 118 – 119).

Tak semua orang mampu melakukannya sebaik Ary Amhir. Butuh kepekaan dan empati untuk dapat menangkap makna lakon manusia yang ditemui dan merangkainya menjadi suatu kisah yang enak dibaca. Tulisan dalam buku ini mengalir bagai air. Tak memaksa dan tak berpihak. 150 halamannya menjadi pelepas dahaga sesaat dari kehausan yang panjang.

*****

 

18 Comments to "30 Hari Keliling Sumatra"

  1. tantri  14 June, 2011 at 07:38

    @Kembangnanas : bisa hubungi penulisnya … tuh AH ada di bawah

  2. kembangnanas  10 June, 2011 at 14:23

    wah makasih resensinya mba tantri, sayang di palembang tuku buku sedikit sekali, gk lengkap pula.

  3. tantri  10 June, 2011 at 13:23

    Nah tuh sdh muncul … catatan iseng aja bisa jadi buku …itu keren Mbak !!

  4. AH  10 June, 2011 at 09:33

    makasih resensinya mbak tantri, saya jadi malu. buku saya nggak ada apa2nya, sekedar catatan iseng :-p~~

  5. tantri  9 June, 2011 at 08:33

    @ Mbak Lani : gretongan emang paling enak …
    @ Pak DJ : ini buku karyanya Mbak Ary Amhir (suka nulis di Baltyra juga) … saya cuma coba resensikan saja

  6. tantri  9 June, 2011 at 08:26

    @ Mas JC : semoga penulisnya segera “mencungulkan diri” kembali di sini
    @ Pak Handoko, [email protected], Saras, Atite, Mbak Linda Cheang : cari … cari … cari … terus dibeli :
    @ Osa : kan sering menulis di sini juga
    @ Pak Iwan : kalau bisa lebih singkat jadi 3 hari nanti bisa muncul buku baru

  7. Djoko Paisan  9 June, 2011 at 02:20

    Mbak Tantri….
    Terimakasih ya…
    Maaf Dj. kok malah tidak mudeng…..
    Apa ini pengalaman mbak Tantri selama 30 hari keliling Smatra.
    Kok tidak diceritakan ketemu gajah dan Nuchan…e…maaf, maksud Dj. ketemu macan…???

    Salam damai dari mainz….

  8. Lani  9 June, 2011 at 00:48

    AKI BUTOOOOO………laaaaah, woro2 ngasih tau org lain JANGAN CARI TP BELI……ternyata tuh baca komentarmu no 1…..kamu sama aja…….beli duoooonk jgn cari hahahahah

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.